
Dua Minggu kemudian.
Hari ini Gea sedang di sibukkan dengan mata kuliah, yang padat. Saat berada di kampus, ia mendapatkan kabar, kalau teman-temannya ingin mengadakan makan bersama.
Sepulang kuliah Gea hendak meluncur ke kediaman Indira. Saat melewati lampu merah, ada mobil dari arah berlawanan berkendara dengan sangat cepat.
Brugh!
Gea tertabrak, dan mobil itu melarikan diri. Karena tempat itu sepi, sampai tak ada yang menolongnya tertindih oleh motornya.
"Toooolloooong !" teriak Gea.
Gea merasa kesakitan, dan sulit untuk mengangkat kakinya dari motornya. Lalu tiba-tiba ada motor dan mobil berhenti di dekatnya.
Dua orang yang berboncengan menghampiri Gea.
"Gea elo kenapa?" tanya seseorang yang menggunakan motor ternyata temannya.
Lalu dua orang itu membantu motor yang menindih kakinya Gea. Lalu seorang pria yang keluar dari dalam mobil menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Korban tabrak lari Mas, " jawab dua orang temannya Gea.
"Saya dokter, biar saya antar kerumah sakit." katanya orang itu.
Gea pun dilarikan kerumah sakit, dengan di antar orang yang mengaku dokter. Pria itu mengobati kaki dan luka- lukanya, setelah itu di berikan perban bagian kaki, agar tidak terkena debu dan semakin parah.
Setelah luka-lukanya terobati, pria itu tersenyum menatap Gea.
"Pasti kamu tidak hati-hati saat mengendarai motornya," Gea yang sedang merasa nyeri di bagian kakinya menatap dengan wajah tak suka.
"Kalau dokter tidak melihat kejadiannya secara langsung, jangan asbak ( asal tebak)!" jawabnya dengan ketus, dan itu membuat dokter itu justru tersenyum mendengarnya.
"Yang mengendarai mobil itu aja yang *ila. Di jalan kampung main ngebut, di kata itu jalanan kakek moyangnya. Udah menabrak, kabur!" cerocos Gea, dokter itu masih mendengarkan gerutunya.
"Iya saya minta maaf, sudah asal bicara," bicaranya dengan nada lembut. Membuat Gea menjadi diam.
"Kamu Gea kan? Keponakannya Rendra? Sorry maksudnya Abhimanyu," ucap nya membuat Gea menatap dengan tatapan menyelidik.
"Dokter kenal om Abhi?" tanya Gea, dan pria itu mengangguk.
"Saya Yoga, temannya om kamu. Saya pernah melihat kamu, saat di pernikahan teman saya Faisal, saat itu," jelas dokter , dan Gea tersenyum mendengarnya.
"Ow di pernikahan kak Ical," timpal Gea dan Yoga pun mengangguk. "Kalau begitu saya ucapkan terimakasih sama Dokter, sudah menolong saya. Sudah mengobati luka saya juga,"
"Iya sama-sama, kalau begitu biar saya antar kamu pulang ?" tanya Yoga, membuat Gea menoleh ke arahnya.
"Tidak usah Dok, biar saya pulang sendiri saja. Takut merepotkan Pak Dokter," Gea merasa tak enak hati, karena tadi sempat kesal dengannya.
"Gak sama sekali. Karena saya juga akan sekalian pulang, rumah saya hanya berbeda dua rumah dari Om kamu. Atau kamu mau saya antar kerumahnya?" tanya Yoga, Gea nampak berpikir.
"Ya sudah kalau seperti itu, maaf sudah merepotkan pak Dokter." Yoga tersenyum mendengar jawaban Gea, yang menerima tawarannya.
"Santai aja. Yasudah karena kaki kamu lagi sakit, saya bantu kamu pakai ini." Kata Yoga sudah memegangi sebuah kursi roda.
"Tapi ..." Gea menghentikan ucapannya.
"Jangan tapi-tapian! Ayo saya bantu kamu!" ucap Yoga sudah berdiri di sampingnya.
"Bagaimana bantu sayanya Dok?" tanya Gea, Yoga pun tersenyum.
"Sini tangan kamu!" pinta Yoga agar tangan Gea menyentuh tangannya.
Yoga tersenyum saat tangan gadis itu sekarang berada padanya, lalu ia lingkari di lehernya. Dengan sigap, dirinya mengangkat Gea ala bridal style.
Apalagi dengan wajah dokter yang terlihat begitu tampan, membuat pipinya terlihat seperti tomat. Yoga tersenyum saat melihat keponakan sahabat itu terlihat tersipu malu.
Kini Gea sudah berada di dalam mobil, Yoga mengantarkan pulang kerumah Abhimanyu. Mobil pun sudah berada di
halaman rumah Abhi.
Dira yang mendengar suara mobil di halaman rumahnya, lantas keluar, dan melihat siapa yang datang.
"Siapa yang datang sayang?" tanya Abhi. sedang mengajak main Shira.
"Tidak tau Mas? Tapi sepertinya dia dokter Yoga, teman kamu yang rumahnya di sebelah," ucap Dira.
Abhimanyu penasaran, lalu membuka pintunya. Alangkah terkejutnya bahwa Yoga memapah Gea berjalan, Abhi pun langsung mengoper Shira kepada Dira.
Abhimanyu segera menghampiri mereka,dan terlihat khawatir. "Ada apa ini?" tanya Abhi. "Lepasin tangan kamu, biar saya yang membantunya!"
Yoga pun melepaskan tangannya dari Gea, dan menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya membawa keponakannya masuk. Ia pun menyusul di belakangnya.
Kini Gea sudah bersandar di sofa dengan di bantu Abhi. "Gea elo kenapa?" tanya Dira terlihat khawatir.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Gea, kenapa bisa seperti ini, dan sama elo Ga?" tanya Abhi beruntun.
"Sabar bro, satu-satu dulu kalau mau nanya!" jawab Yoga dengan wajah sok cool.
"Cepetan loe bilang, jangan bertele-tele!" Abhi dengan nada kesal.
"Om jangan marahi pak Dokter, dia gak salah. Tadi di jalan ada orang mengendarai mobil dengan kencang, lalu dia menabrak aku dan pergi begitu saja. Lalu temanku dan dia datang, menolongku." Jelas Gea, membuat Abhi diam mematung.
"Tuh dengar pak guru, keponakannya bilang apa! Gue berhenti, karena rasa manusiawi gue, sebagai dokter untuk menolong sesama," kata Yoga.
"Sorry bro, gue gak bermaksud buat nuduh elo. Tapi gue khawatir aja sama Gea." Menepuk pundak Yoga.
"Woles bro," Yoga tersenyum.
"Kamu juga Ge. Kalau ada apa-apa, hubungin keluarga, om atau Dira!" kata Abhi dengan tegas.
"Iya Om maaf," wajah Gea menunduk.
Yoga melihat Gea, di tegur Abhi nampak tak tega. "Jangan di marahi pak guru, kasian dia! Udah kesakitan nahan perih lukanya, kena sembur dari Om nya."
"Gue bukan marah sama Gea, hanya khawatir sebagai om kepada keponakannya. Lagian dia keponakan gue yang deket dengan gue, pasti gue takut dia kenapa-kenapa." Kata Abhi, Yoga hanya menganggukkan kepalanya, karena mengerti maksud temannya.
"Sudah-sudah yang terpenting Gea sudah di sini." Dira menatap sahabatnya yang kini menjadi keponakannya. "Ge, elo mau beristirahat di kamar?"
"Gak aah ... gue mau di sini aja Dir! Sambil nunggu anak-anak datang!" pinta Gea.
Yoga merasa tak enak hati, karena Abhi akan mengadakan acara di rumahnya.
"Sorry, kayanya kalian mau ada acara. Kalau begitu gue pamit ya Ndra." Pamit Yoga.
"Ngapain sih balik, rumah elo deket juga!Sini aja bareng-bareng, temani gue!" Pinta Abhi.
"Iya Mas Yoga, di sini temani ayahnya Shira, dia sendiri. Lagian kita hanya ingin makan sama-sama aja ko, gak ada acara apapun." kata Dira, membuat Yoga menganggukkan kepalanya, dengan ajakan Indira untuk gabung menemani Abhi.
"Ya sudah, terimakasih sebelumnya ya Dir," ucap Yoga dan Dira mengangguk.
Akhirnya Yoga masih berada di rumah Abhi, mengobrol dan mengajak Shira berceloteh. Sesekali tatapannya bertemu dengan Gea, dan itu membuat mereka tersenyum.
Abhi yang diam-diam memperhatikan mereka berdua hanya tersenyum. Apalagi dengan sikap temannya itu, yang begitu bersemangat mendekati Gea dengan terang-terangan.
Bersambung....