My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Protes



Faisal tidak tau, kalau Abhimanyu pun juga diam diam memperhatikan Indira yang begitu asyik bercerita dan tertawa dengan teman temannya.


Abhimanyu pun tersenyum mendengarkan setiap kali Indira yang bercerita yang begitu ceria. Bahkan dirinya bisa berhasil membuat teman-teman nya tertawa.


Walaupun acara nya begitu sederhana. Namun momen keakraban dan kebersamaan pun terasa hangat. Para keluarga masih sedang berkumpul saling mengobrol di taman belakang. Suasana malam nampak sejuk, dengan pemandangan kolam renang, dan di hias lampu kecil warna warni.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Indira yang masih berkumpul bersama teman-teman nya di dalam kamar, tiba-tiba saja merasa perutnya merasa tidak nyaman. Saat Indira melihat tanggal di handphone miliknya, raut wajah Indira sedikit berubah.


Indira segera mencari cari sesuatu di dalam tasnya, namun Indira terlihat kebingungan.


"Elo kenapa Dir?" tanya Gea.


"Ada masalah sedikit, ngomong ngomong ada yang punya pembalut kah.? Biasa seperti nya tamu datang di saat waktu nya kurang pas,"


"Yah,, gue gak bawa. Gue baru selesai Dir kemarin," ucap Alin.


"Sama Dir, gue baru kelar 3 hari yang lalu," timpal Gea. "Hanna lo bawa gak?" tanya Gea ke Hanna.


"Gue gak bawa, soalnya tamu gue biasa nya di Minggu ke 3," jawab Hanna.


"Ya ampun gimana ya, gue ke luar dulu ya, mau tanya mamah. Kali aja mamah bawa.?" Yang lain pun mengangguk .


Indira pun berjalan menghampiri mamahnya yang berada di luar. Mamah Diana masih asyik berkumpul dengan mamah Anissa dan keluarga.


"Mah, Mamah punya roti.?" Sambil berbisik.


Mamah Diana nampak bingung, buat apa putri nya menanyakan roti, padahal tadi habis makan cukup banyak.


"Roti?" tanya mamah Diana, dengan heran.


"Roti apa si sayang. Bukannya kamu habis makan ya, ko nanya roti.?"


"Bukan roti yang di makan maksud aku mah. Tapi, emmmm .... Pem*alut." Dengan berbisik kepada mamah Diana.


Papah Benny, Mamah Anissa dan Abhimanyu pun menatap Indira dan juga mama Diana yang saling berbisik.


"Mamah gak bawa sayang, 'kan sudah selesai di awal bulan kemarin," nibir Indira terlihat memanyunkan bibirnya.


"Ada apa Diana?" tanya mamah Anissa.


"Ini Indira lupa gak bawa pemb*lut, kamu bawa tidak Nis, kalau bawa pinjam dulu." Ucap mamah Diana.


Indira memejamkan matanya, karena posisi nya Abhimanyu menatapnya. Dirinya sangat malu, di saat seperti ini sudah dua kali kepergok olehnya .


"Coba sebentar tanteh liat ya sayang, semoga ada," jawab mamah Anissa, Dira pun mengangguk.


Mamah Anissa pergi menuju kamarnya, dan di ikuti olah Indira di belakangnya. Kini mamah Anissa membuka tasnya, ternyata hanya ada 1 pemb*lut.


"Sayang, cuma ada satu aja. Maaf ya nak."


"Ya ampun tanteh 1 aja juga sudah terima kasih banget. Aku pinjem dulu ya tanteh, nanti aku ganti."


"Gak usah sayang pakai saja, tanteh baru selesai soalnya, untungnya masih ada,"


" Terimakasih ya tanteh." Mamah Anissa pun mengangguk. "Kalau begitu aku permisi ya tanteh."


"Iya sayang. "


"Indira pun pergi menuju toilet, setelah selesai dengan urusannya. Indira keluar dan mencoba mencari kakaknya. Namun sangat di sayangkan, kakak nya sudah tertidur. Karena waktu pun juga sudah cukup malam, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Indira pun melangkah mencari papah. Namun ternyata mereka masih mengobrol, Indira dengan perasaan tak enak hati menghampiri mamahnya kembali


"Mamah, kira kira di tempat seperti ini, masih ada toko atau warung yang buka tidak ya?" tanya Indira yabg berbisik.


Dan itu di dengar oleh Abhimanyu. Namun Abhimanyu hanya diam seakan dirinya tidak mendengar percakapan antara Indira dan mamahnya.


"Mamah tidak tau sayang, kenapa memangnya.?"


"Aku ingin membeli roti untuk salinannya, takut TB."


"TB, apaan tuh, Mamah gak ngerti sayang?"


"Huuufffhh... Tembus Mamah." Indira pun menjelaskan, membuat Mamah Diana hanya tersenyum mendengarnya.


"Mamah kan enggak tau sayang, dan Mamah juga gak tau kalau disini masih ada warung atau toko yang buka. Memang tidak bisa besok pagi ya?"


"Enggak bisa Mah," Indira dengan wajah memelas.


"Minta anterin kakak saja sana, untuk temani kamu.!"


"Kakak tidur mah, aku tidak tega membangunkan kakak."


"Ini loh Abhimanyu, Dira lagi berhalangan dia ingin mencari toko atau warung yang masih buka, untuk mencari sesuatu. Cuma Faisal tidur ingin minta anterin adiknya."


"Ya sudah biar saya saja yang antar Dira keluar, kebetulan saya juga ingin membeli sesuatu."


"Memang masih ada yang buka di tempat seperti ini Abhi, Tanteh takut ngerepotin kamu loh.?"


"Tidak apa-apa Tanteh, lagian kasian kalau om Benny yang antar Dira. Mereka kan jarang bertemu, biarkan mereka mengobrol di sini . Lagian tempat nya lumayan jauh dari sini, biar saya yang jalan."


"Yasudah terima kasih ya."


"Sama sama tante, memang Dira ingin membeli apa.?"


Saat mama Diana ingin menyebutkan apa


yang Dira butuhkan. Indira pun langsung menyambar pembicaraan mamah Diana.


"Dira ikut saja mah, dengan pak Abhimanyu. Tidak mungkin kan Dira sebutin merek nya apa dan ukurannya berapa. Pak Abhimanyu pun juga tidak akan tau ."


"Iya juga ya, yasudah kamu ikut, tapi kalian hati hati ya.! Soalnya sudah malam, Abhimanyu saya titip Dira ya sama kamu.?"


"Siap tanteh, kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum...."


"Waalaikumsallam..."


Abhimanyu pun melangkah dan di buntuti oleh Indira di belakangnya. Mamah Diana masih memandangi dua orang yang berbeda usia tersebut.


Kini Abhimanyu dan Indira berada di dalam mobil. Pemandangan yang gelap gulita hanya di terangi oleh lampu di sisi kiri kanan dan cahaya yang minim.


Tak ada pembicaraan di dalam mobil, sejak keluar halaman Vila. Indira hanya memanyunkan bibirnya saja, dengan kondisi nya saat ini. Dengan jalan yang sunyi, sepi gelap. Ada rasa takut yang sebenarnya Indira rasakan, namun Dira tidak menunjukkan rasa takut nya.


"Pak Abhimanyu betah banget si berdiam seperti itu. Tanpa berbicara, apa enaknya coba diam seperti patung." Tak ada jawaban dari Abhimanyu.


Yang terdengar hanya suara deru mesin mobil saja, dan pandangan Abhimanyu masih lurus menatap jalan yang terlihat sepi.


"Hallo,,,, Pak Abhimanyu. Indira bertanya loh, kenapa diam saja. Dingin banget si tuh muka, kaya es balok. Padahal tadi di depan mamah, pak Abhimanyu begitu ramah. Kenapa sekarang diam seperti hantu. Iiihhh.... Hantu..." Indira menengok kiri kanan jalan, dan bergidik ngeri.


Abhimanyu pun masih bersikap santai, walaupun sebenarnya ingin tertawa. Tapi dirinya berusaha menahan tawanya melihat sikap Indira yang seperti itu.


"Kenapa kalau saya hantu, kamu takut. Saya pikir gadis berisik seperti kamu, tidak pernah takut oleh apapun.?" Dengan senyum ngeledek .


"Wah, memang gadis seperti saya tidak boleh takut apa.? Saya juga manusia kali pak, masa enggak boleh punya rasa takut."


"Bukan enggak boleh punya rasa takut. Saya kira kamu gadis yang pemberani, dan kuat, ternyata kamu penakut juga ya?"


"Pak saya bukan penakut, hanya saja kalau keadaan seperti ini sedikit takut, saya perjelas hanya sedikit takut. Bukan berarti penakut loh, saya hanya membayangkan kalau ada hantu atau orang jahat di sekitar sini pak, seperti yang di film film horor pak.?"


"Dasar otak kamu itu sudah terkontaminasi dengan film film. Sudah jangan berpikiran yang tidak-tidak. Lagian ya dari tadi kamu panggil saya dengan panggilan Pak Abhimanyu. Sejak kapan saya menikah dengan ibu mu.?" Protes Abhimanyu, dan Indira pun tercengang mendengarnya.


"Saya tidak salah dong, ' kan memang pak Abhimanyu itu guru saya. Masa saya di larang manggil pak, terus say panggil apa?" Tanya Dira dengan sedikit kesal.


"Ini tuh di luar sekolah, Indira, bisa kamu panggil dengan sebutan lain. Saya berasa tua tau gak, setiap kali kamu panggil pak.?"


"Memang tua," Jawab Indira dengan suara yang kecil, namun masih bisa di dengar oleh Abhimanyu.


Cekiiit.... Abhimanyu menghentikan mobilnya dengan mendadak, lalu menatap Indira dengan tatapan tajam.


"Kamu bilang saya apa tadi.?" Dengan raut wajah yang menyeramkan, Indira merasa bergidik melihatnya.


"Hihihi.... Bercanda pak, maaf. Pak Abhimanyu gak tua ko, pak Abhi ganteng banget." Jawab Indira dengan wajah meringis, dan itu membuat Abhimanyu ingin sekali tertawa melihat sikap Indira. Namun Abhimanyu berusaha menahan tawanya.


Abhimanyu masih menunjukkan wajah dingin nya. Indira masih menundukkan wajahnya saat mendapatkan tatapan menyeramkan dari Abhimanyu.


"Terus pak Abhimanyu mau di panggil dengan sebutan apa?"


Abhimanyu memposisikan dirinya kembali, dengan pandangan fokus ke arah depan.


Dengan bibir yang tersungging senyuman, mendengar pertanyaan Indira.


"Terserah, tapi jangan panggil pak jika sedang di luar sekolah. Jika di sekolah saya tidak keberatan, tapi ini di luar sekolah."


"Om aja ya, biar seperti Gea dan yang lainnya.?"


"Terserah." Jawab nya dengan singkat.


Indira hanya memanyunkan bibirnya, mendengar jawaban Abhimanyu yang begitu singkat.


'Dasar orang gak jelas, di panggil pak dia protes. Di panggil om dia jawabannya hanya terserah. Gue berasa lagi sama om om. Ampun dah aah.." Ucap Indira dalam hatinya.


Bersambung