
Mereka berdua pun melangkah ke arah kiri, untuk mencari Abhimanyu dan Faisal. Dan benar saja, dari kejauhan Indira melihat 2 pria yang berdiri menatap arah laut. Dan Indira mengenal 2 pria itu, tanpa pikir Indira pun menghampiri nya.
"Hanna, itu mereka. Yuk kita ke sana,!" ajak Indira.
"Aah... Iya, elo benar Dir, ya udah ayo kita ke sana,?" Indira pun juga mengangguk.
Indira dan Hanna pun kini semakin dekat dengan Abhimanyu dan Faisal. Faisal pun menoleh ke arah belakang, benar saja kalau Indira dan Hanna berada di belakangnya.
"Kalian berdua di sini, aku nyariin kalian loh?" Tanya Indira.
"Iya kami lagi ingin di sini, mengingat waktu kakak dan suami kamu pernah mengunjungi pantai malam hari."Faisal pun tersenyum kepada Indira dan Hanna.
Faisal pun melihat Hanna yang memberikan senyuman manisnya kepada nya. Dan untuk saat ini, Faisal mendapatkan ide untuk mengajak Hanna untuk ikut bersamanya, agar Indira dan Abhimanyu dapat berbicara berdua.
"Dek, kakak boleh pinjam teman kamu kan. Kakak minta temani Hanna, untuk ngajak jalan sebentar. Barang kali kamu ingin mengobrol dengan suami kamu?"
Indira melihat Abhimanyu yang saat ini hanya diam tanpa menoleh sedikitpun. Indira merasa kalau dirinya memang harus bicara serius kepada Abhi saat ini.
"Yasudah, tapi kakak jangan macam-macam dengan Hanna ya. Dia teman baikku,!" Ancam Indira.
"Siap adikku yang cantik." Seraya memberikan hormat kepada Indira.
Hanna dan Indira pun tersenyum melihat sikap lucu Faisal. Dan saat itu juga Faisal menggenggam tangan Hanna, dan Hanna pun merasa terkejut mendapatkan perlakuan manis dari Faisal. Dan Faisal pun membawa Hanna berjalan menjauh dari Indira dengan tangan nya yang saling bergandengan tangan menyusuri bibir pantai. Tentunya perasaan Hanna saat ini, sedang berbunga bunga.
Indira menatap Abhimanyu yang masih memandangi air laut di tengah gelapnya malam.
"Mas Abhi tadi nyari aku ya? Soalnya tadi Gea dan Alin bilang, kalau mas Abhi dan Ka Ical, mencari aku keluar.?"
"Iya, tapi tidak jadi karena aku melihat kamu dan Gilang sedang bicara serius. Jadi aku mengurungkan niatku untuk memanggil kamu,"
Indira tercengang mendengarnya.
'Apa mas Abhi mendengar yang di katakan oleh Gilang.' Ucap Indira dalam hatinya.
"Kenapa mas Abhi tidak memanggil aku?"
"Untuk apa, memanggil kamu. Di saat seseorang yang sedang serius mengutarakan isi hatinya ke kamu." Jawaban yang keluar dari Abhimanyu membuat Indira terkejut mendengarnya, Indira tidak bisa berkata apa-apa, kalau suaminya itu mendengar pembicaraan antara Gilang dan dirinya.
'Astaga bener kan tebakan aku, mas Abhi melihat dan mendengar perkataan Gilang tadi.' Dira dalam hatinya.
"Mas, aku bisa jelaskan ke kamu,"
"Jelaskan apalagi si Dir, jelas jelas aku mendengar kata kata yang Gilang rasakan. Dan aku juga ingin tanyakan ke kamu, apa kamu juga memiliki rasa yang sama dengan Gilang?"
Indira tersenyum kecut, mendengar pertanyaan yang di berikan oleh Abhimanyu. "Maksud nya apa ya? apa kamu menyangka aku juga memiliki rasa yang sama dengan keponakan kamu itu?" Abhimanyu tidak menjawab pertanyaan Indira. " Baik, gak apa apa itu hak kamu, jika tidak percaya. Tapi yang harus kamu tau, jika aku memiliki rasa yang sama dengan Gilang. Mungkin malam ini, yang bersama aku itu bukan kamu tapi dia. Seperti nya memang aku harus kembali ke Jakarta, suasana di sini membuat aku tidak nyaman."
"Dira.!" Panggil Abhi dengan berteriak karena Indira tidak menoleh sama sekali.
Dan kini tangan Indira pun berhasil Abhi raih. Indira pun tak bisa melanjutkan langkahnya, karena Abhi memeluknya dengan erat. Indira berusaha berontak untuk melepaskan darinya dari Abhimanyu saat ini.
"Lepas.! Aku mau kembali saja, aku mau minta Ka Ical untuk antar ku pulang." Indira terus berontak, di sertai mata yang memerah. Walaupun gelapnya malam, namun Abhi dapat melihat Indira yang terlihat kesal.
"Aku minta maaf. Aku mohon sayang, maafkan mas. Sebenarnya aku sedikit terkejut karena aku mendengar Gilang sangat mencintai kamu. Aku sebagai suami kamu, sekaligus Om darinya. Aku merasa bingung, dan sangat marah. Jika keponakan mas sendiri juga mencintai kamu, sejak lama." Kini wajah keduanya saling menatap.
Indira dapat melihat wajah Abhimanyu yang terlihat sedang tidak baik baik saja.
"Mas Abhi," Sambil menyentuh wajahnya.
"Aku bingung Dir, saat tau Gilang memiliki rasa sama kamu. Bahkan sebelum aku kenal kamu, dan aku merebut kamu begitu saja. Pantas saja sikapnya sedikit berubah menjadi pendiam kata ka Anissa, terutama kepada ku dia selalu menghindar. Aku dilema, bingung harus bersikap seperti apa. Gilang di setiap kali ada acara makan, dialah yang begitu bersemangat, namun akhir akhir ini dia seperti menghindar dari aku. Mungkin kalau orang lain, aku tidak peduli dengan perasaan mereka. Tapi dia keponakan ku sendiri, aku bingung harus bagaimana."
"Mas Abhi, kamu jangan merasa bersalah. Memang sebenarnya akulah yang salah, aku tidak mempunyai rasa apapun dengan dia. Aku menganggap kedekatan nya dengan ku, tak lebih dari rasa teman dan dia ku anggap sebagai kakak. Dan memang jujur memang aku tidak merasakan apapun dengannya,"
"Benarkah, aku hanya takut kamu juga menyimpan rasa suka kepada nya.?" Indira hanya menggelengkan kepalanya, Abhimanyu pun tersenyum mendapatkan jawaban Indira.
"Iya mas, untuk apa aku berbohong. Aku pun juga tidak memiliki rasa apapun dengan nya. Apalagi saat itu aku juga menjalin hubungan dengan Aldo, dan dia juga tau aku berpacaran dengan Aldo. Jadi untuk apa sekarang aku diam diam menyimpan rasa kepadanya, sedangkan di depanku saja sudah ada pria baik yang bucin dengan ku. Apalagi pria ini sayang banget sama aku, bagaimana bisa aku tidak meleleh dengan sikap perhatian dari kamu mas."Kata Indira dengan mengedipkan sebelah matanya, yang menggoda Abhimanyu.
Bukan Abhi namanya yang tidak meleleh saat melihat sikap Indira yang menggemaskan itu.
Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Abhi menc*um bibi* Indira. Sekarang Abhimanyu menjadi candu dengan persatuan tersebut. Apalagi di tengah gelapnya malam, dengan angin yang bertiup membuat suasana dan keadaan mendukung. Yang terdengar hanya suara deburan ombak yang sedang menyaksikan sepasang pengantin baru, yang saling menikmati Fr*nch Ki*s.
Kini Abhimanyu dan Indira sedang duduk di pasir pantai, menikmati angin pantai di malam hari. Dengan duduk bersebelahan, Abhi menggenggam erat tangan Indira, sedangkan Dira menyandarkan kepalanya di bahu Abhi.
Mereka saling bercerita, dari cerita santai sampai perasaan. "Kenapa kamu bisa tidak tertarik dengan Gilang, secara dia itu ganteng, mandiri pula . Masa kamu tidak sedikit mengagumi dia,?"
"Sebenarnya aku mengagumi dia, hanya kagum saja dengan nya, bukan menyukainya. Karena ka Gilang itu pekerja keras dengan hasil dan kerja kerasnya sendiri, tanpa minta bantuan dari keluarga nya. Dia juga baik, tapi aku tidak tau kebaikannya itu ternyata dia menyimpan harapan ke aku,"
"Jadi selama ini kamu mengagumi dia?" tanya Abhimanyu dengan tatapan menyelidik. Indira pun mengangguk, sambil berusaha menahan tawanya. Dirinya ingin lihat sampai mana Abhi cemburu dengan pria lain, yaitu keponakan nya.
Raut wajah Abhimanyu pun kembali diam. Karena merasa tak tega, Indira pun tertawa kecil. Abhi pun tersadar kalau istri kecilnya itu sedang meledek nya, untuk memancing rasa cemburu nya.
"Astaga kamu sengaja ya bicara seperti itu?" Indira pun mengangguk dan terkekeh. Indira terlihat berdiri dan hendak berlari, namun Abhi menunjukkan wajah kesalnya. Seakan akan Abhi akan menerkam indra.
"Hahahaha... Ampun mas, aku hanya ingin lihat ekspresi kamu saja," Indira melangkah mundur, dengan menyatukan telapak tangannya.
"Keterlaluan kamu, awas kamu ya. Bisa bisanya bicara seperti itu, hanya bikin aku kesal.!" Ancam Abhi. Sebenarnya bukan marah, yang Abhi rasakan. Justru Abhi merasa gemas dengan istri kecilnya itu, karena berhasil membuat dirinya cemburu. "Awas kamu ya Dir.!" Abhimanyu pun berlari mengejar Indira.
Indira pun berusaha berlari, demi menghindar dari Abhimanyu. Suasana malam yang sunyi dan sepi, hanya terdengar suara Indira yang tertawa begitu riang.
Bersambung