My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Putus



Indira masih menatap belakang Abhimanyu saat mengendarai motor nya. Kemudian Indira pun melanjutkan mengendarai motor nya menuju rumahnya.


Saat malam harinya di kediaman rumah Gea. Di mana Gea sedang duduk bersama om nya yang tak lain Abhimanyu. Abhimanyu sebagai om yang baik, hanya bisa mendengar kan keponakannya bercerita. Seperti saat ini, keponakannya menceritakan soal asmara nya. Seorang pria yang di sukai nya, namun pria itu menyukai gadis lain.


"Memang nya mereka sudah berhubungan berapa tahun?"


"Ya sekarang dia sudah 1 tahun pacaran om, sama pacarnya,"


"Kamu belum move on dari pria itu, lagian ngapain si masih sekolah mikirin pacaran. Kamu itu harusnya belajar, setelah lulus sekolah kerja dan barulah pacaran."


"Alah, kaya sendiri nya gak aja. Sendiri nya, diam diam punya pacar, waktu SMA. Pake so menasehati aku," Gea mencebik kan bibirnya. "Dengerin ya om, itu dulu. Aku hanya sempet suka, tapi sekarang ya gak dong, karena dia itu pacaran sama sahabat aku. Justru aku tuh males ngeliat tuh dia sekarang Om, bagaimana ya kasian ngeliat sahabat aku sama Aldo,"


"Oooh jadi cowok itu, pacaran sama sahabat kamu. Dan kamu mengalah demi sahabat kamu itu ?" Gea mengangguk.


"Kamu kasian nya kenapa, dia galak memangnya?"


"Gak galak, hanya saja terlalu posesif dan terlalu harus menuruti kemauan nya.,"


"Maksud nya posesif gimana si Ge..?"


"Ya begini ya Om, di kelas kami saat ini sedang banyak tugas yang di berikan oleh setiap guru. Nah tuh cowok, dia itu gak ngerti banget kalau Indira itu banyak tugas. Tapi dia itu selalu ingin ngajak jalan, di bilang gak bisa jalan dia marah. Pokoknya harus mengikuti apa yang dia katakan. Bener bener kaya Kim Jong un, kalau kata Indira. Heheheh..." Gea terkekeh mengingat kata-kata Indira yang Absurd.


Mendengar Gea mengatakan Kim Jong un, Abhimanyu teringat dirinya di bilang seperti Kim Jong un. Abhimanyu pun sedikit tersenyum.


"Ge, om boleh tanya?"


"Of course, memang Om mau tanya apa,"


"Indira yang kamu maksud, teman sekelas dan sebangku sama kamu itu kan?"


"Iya om, kenapa memangnya. Dia cantik ya Om, ?"


"Cantikan kamu, tapi tingkah kamu receh," Abhi berusaha menahan senyum


"Idih receh, tapi enak loh nyaring nyaring gimana gitu Om. Hihihihi...."


"Eeh nyaring doang, tapi sekarang sudah tidak berlaku lagi tuh recehan."


"Yeee siapa bilang gak laku, masih kali Om. Tuh di Indomaret dan alfa, mereka masih membutuhkan receh. Dan terus juga kalau tuh receh di kumpulin jadi 10 ribu, kan lumayan loh Om, dapet Yakult 1 pack. Masih bisa beli minuman sehat, apalagi di campurkan es sirup dan susu UHT. Beeeuhhh manteb banget Om. Hahahaha...." Ucap Gea membuat Abhimanyu terkekeh mendengarnya.


"Dasar bener bener kamu ya, kamu itu kenapa jadi seperti ini si.? Padahal waktu SMP kamu sedikit pendiam loh."


"Hahahah.. Aku seperti ini, karena berteman dengan Indira, Alin dan si Hanna. Mereka itu teman teman yang asyik." Gea pun akhirnya menunjukkan wajah serius.


"Kenapa Om bertanya Indira.?"


Justru sekarang berganti menjadi Abhimanyu yang tersenyum. Dan di pelototi oleh Gea.


"Ekhem... Gak kenapa kenapa, hanya saja tadi pas Om lagi mengecek setiap kelas di sekolah. Ternyata ada teman kamu di perpustakaan, dia sedang tertidur di sana. Katanya dia habis baca buku. Tetapi pas saat Om suruh pulang, dia justru mengendap endap. Seperti mencari seseorang, dan dia terlihat sangat khawatir saat mengintip ke parkiran. Om gak ngerti kenapa dia mengumpat seperti itu ?"


"Ow jadi dia ke perpus, pantesan dia gak nongol nongol."


"Memang dia ada maslah sama orang?"


"Ya itu dia bertengkar dengan Aldo, cowok yang aku ceritakan tadi. Dia males berdebat panjang mangkanya Indira kabur ke sana Om." Abhimanyu pun hanya mengangguk kan kepalanya saja.


Selesai bercerita, Gea pun kembali ke kamarnya.


✨✨✨✨


Abhimanyu adalah anak bungsu dari pak Arif Hermawan, dan Bu Lidya. Seseorang yang mendirikan Sekolah SMK Puspita Pertiwi. Dan Abhimanyu pun juga memiliki 2 orang kakak. Yaitu kakak laki-laki bernama pak Arfiyanto Hermawan, dan kakak perempuan bernama Annisa Hermawati.


Sekolah yang di dirikan oleh pak Arif Hermawan ini, di rintis dari bawah. Dan sampai sekarang sekolah itu menjadi sekolah terfavorit di kalangan sekolah lainnya.


Selama ini Abhimanyu tinggal bersama kakak perempuan nya. Karena selain itu tempat tinggal kakaknya, dirinya merasa lebih nyaman tinggal di sana. Sebenarnya Abhimanyu juga memiliki rumah sendiri, tapi dirinya lebih suka di rumah Bu Anissa. Karena rumah itu ada 3 keponakan yang cerewet, yaitu Gea, kakak dan adiknya. Dan itu membuat Abhi merasakan tidak kesepian, dan merasa nyaman. Mereka pun juga tak keberatan, jika Abhi tinggal bersama mereka.


Toh juga Abhimanyu sering pulang ke rumah nya sendiri. Dan itu hanya di waktu weekend saja, Abhimanyu pulang kerumahnya.


Dan tidak ada yang tau, kalau Abhimanyu itu anak dari pemilik Sekolah Tunas Pertiwi. Karena memang sejak kecil, tidak pernah keluar rumah, sekolah pun selalu di antar jempu. Bahkan saat dewasa Abhi juga tidak pernah mau ikut campur untuk mengurus sekolah milik orang tua nya, Abhi lebih suka mengurus restauran miliknya.


Namun karena permintaan dari semua keluarga akhir Abhi mau membantunya. Jika dirinya menolak membantu keluarganya mengurus sekolah tersebut, maka Abhi harus mau di jodohkan dengan seorang wanita pilihan orang tua nya.


Tentunya Abhimanyu kenal siapa gadis itu, dia bukan gadis baik baik. Mereka bukan keluarga yang licik, yang hanya menginginkan harta saja, jika mereka berhasil menikahi putri nya dengannya.


Karena Abhimanyu tidak ingin di jodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya. Akhirnya Abhimanyu pun menerima tawaran nya untuk membantu untuk mengurus sekolah. Tetapi Abhimanyu meminta untuk mengajar saja, karena Abhi memang ingin mengajar di bidang olahraga. Dan keluarga pun akhirnya menyetujui permintaannya itu, setidaknya Abhi sudah mau membantu dan ikut adil di sekolah milik keluarga nya. Abhimanyu akan mencoba membantu apa yang sudah di rintis oleh keluarga nya.


****


Keesokan harinya


Di saat siang hari, pelajaran sekolah pun selesai. Indira, Alin, Fauzi, imam, dan Indra. Mereka berniat ingin latihan nge-band. Yang di mana, mereka yang akan mengisi acara di sekolah nya. Bukan hanya itu Gea dan Hanna pun ikut menemani latihan.


Namun ketika hendak berjalan menuju studio musik. Indira melihat Aldo sedang menunggunya. Alin dan teman teman lainnya menatap ke arah Indira.


"Kalian duluan aja ya, nanti gue nyusul kalian." Yang lain pun mengangguk dan meninggalkan Indira bersama Aldo.


Indira melangkah menjauh dari temat di mana teman temannya melihat Indira dan Aldo.


"Dira kamu kenapa kemarin aku WhatsApp kamu, tapi kamu gak bales, hanya dibaca aja?" Tidak ada jawaban dari Indira. "Kemarin juga aku nungguin kamu, tapi kamu malah menghindar, kamu masih marah sama aku Dir?"


"Kalau di bilang marah si enggak ya, hanya saja aku kesel sama kamu, yang egois. Kamu itu terlalu berlebihan tau gak Do, aku gak suka Do seperti itu, aku ingin bebas,"


"Kamu mau bebas bagaimana si yank. Dira, kita ini pacaran loh, masa kamu mau bebas?"


"Do, aku menerima perasaan kamu, karena aku menganggap hubungan kita itu untuk saling menyemangati. Penyemangat untuk rajin sekolah, belajar, untuk kita tetap berprestasi. Bukannya seperti hubungan yang sudah ketahap serius. Kalau sudah menikah, kamu posesif aku mengerti . Tapi bukan seperti sekarang ini, kita hanya pacaran saja. Aku ingin meraih impian ku Do, aku ingin menjadi kebanggaan papah dan mamah. Aku ingin menjadi murid yang berprestasi. Bukan untuk sekedar pacaran, jalan sana sini. Aku juga kan banyak tugas sekolah yang harus aku kerjakan, aku ingin kamu ngerti. Tapi kamu tidak mengerti, kamu hanya memikirkan diri kami sendiri. Seperti jalan, nonton ,sedangkan itu bisa di lakukan saat libur sekolah. Aku tidak mau Aldo, sampai mengecewakan orang tuaku. Aku takut nilai ku turun karena nilai ku turun, karena aku memikirkan masalah dan pertengkaran, yang sepele.


"Tapi Dira." Saat Aldo ingin mengatakan sesuatu, Indira menyelak pembicaraan Aldo.


"Dan kamu juga mengatakan ke Okta, kalau aku itu selalu saja alasan, setiap kali kamu ngajak jalan. Berarti selama ini, kita jalan, nonton itu tidak ada nilai untuk kamu." Indira tersenyum kecut. "Aku cape Do, aku ingin mengakhiri hubungan kita ini. Aku ingin putus sama kamu Do."


"Dira, aku gak mau putus. Aku bisa jelaskan kenapa aku mengatakan itu kepada Okta. Dira aku minta maaf, jangan mengakhiri hubungan kita ini."


"Aldo, maaf aku enggak bisa. Aku ingin mengakhiri hubungan kita, aku tidak ingin terlalu terikat dengan hubungan ini. Aku juga ingin fokus, sama sekolah ku. Dan aku berharap kamu juga fokus dengan pelajaran kamu. Do aku tau, beberapa bulan lagi, kamu juga harus Ujian, dan kamu juga harus fokus sama pelajaran kamu. Aku tidak ingin pelajaran kamu terganggu, begitu pun juga aku. Maaf Do, jika aku harus mengatakan ini ke kamu." Nampak kekecewaan di wajah Aldo.


"Baik kalau memang itu mau kamu, kita akhiri hubungan ini. Tapi aku ingin kita tetap berteman baik, aku tidak ingin kita saling bermusuhan," Indira pun tersenyum mendengarnya.


Indira mengangguk kan kepalanya.


"Kita akan tetap menjadi teman, bagaimana pun kamu itu tetap temanku. Banyak hal yang harus kamu jalanin untuk kedepannya. Jika kamu sukses, semuanya itu juga akan menjadi milik kamu Do. Dan orang tua kamu pun juga akan bangga kepada kamu, karena mereka memiliki seorang putra yang sukses seperti kamu. Dan selama ini, apa yang orang tua kamu berikan, dengan hasil keringat dan jeri payah mereka, pasti mereka ingin membuahkan hasil yang baik untuk kamu. Dan kedua orang tua kamu pasti nya akan merasa sangat bangga dengan kamu ."


Aldo merasa apa yang di katakan Indira itu benar adanya. Aldo pun menatap Indira, dan tersenyum.


"Iya Dira kamu benar, apa yang kamu katakan. Harusnya aku berpikir ke arah sana, Dira aku senang kamu bisa mengingat kan aku. Dan aku minta maaf selama ini aku egois sama kamu, tapi aku masih ingin berteman dengan baik dengan kamu, masih boleh, ' kan?"


Indira dan Aldo pun bersalaman untuk berakhir nya hubungan mereka. Jujur saja Indira juga merasa sedih mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi ini untuk kebaikan bersama.