
"Aku tau, Tante sulit buat melupakan om. Tante yang sabar ya, semoga nanti dapat mencari penggantinya, yang lebih baik darinya," ucap Dira.
"Aku menyesal Dir, aku pernah mencampakkannya. Sekarang giliran dia menjauh, aku takut kehilangannya," terlihat raut wajah menyedihkan dari Winda.
' Hufh! Heran deh, kemarin dia yang ninggalin mas Abhi, giliran udah begini oake acara nangis segala. Dasar cewek toxic.' gumam Dira dalam hati.
"Terimakasih ya Dir, aku sedikit lega curhat sama kamu. Abhimanyu saja justru meninggalkan ku begitu saja."
"Sama-sama Tante. Kita itu sesama perempuan,pasti mengerti satu sama lain." Kata Indira dengan tersenyum. "Meskipun aku lebih muda dari kamu, tapi setidaknya tidak ada salahnya saling menasehati. Kalau suatu saat ada pria yang akan melamar Tante, lebih baik jangan di tunda-tunda, apalagi Tante sudah berumur. Segeralah mencari pengganti om Abhi, agar tidak tersiksa!" ucap Indira.
"Iya kamu benar Dir, jika ada pria yang melamar ku, aku janji tidak akan menolaknya." Indira pun mengangguk, dan tersenyum saat mendengar Winda bicara.
"Aku senang Tante mulai sedikit tenang, kalau begitu aku langsung aja ya?" ucap Dira bersikap merapihkan penampilannya.
"Kamu mau kemana memangnya Dir?" tanya Winda, melihat Indira yang terlihat cantik.
"Seperti yang aku sudah bilang, aku mau kencan dengan calonku. Sebentar lagi kami akan mengadakan acara, jadi kami sibuk untuk acara kami," Indira mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Oh iya Tan, ini ada titipan dari calon istri Om Abhi." Dira memberikan selembar undangan.
Wajah Winda kembali nampak murung. "Kalau sempat datang ya! Kalau tidak juga gak apa-apa, ' kan Tante melihat sendiri siapa yang jadi calonnya om Abhi, pasti Tante akan terkejut." Ucap Dira membuat Winda memicingkan matanya.
"Maksud kamu?" tanya Winda.
"Nanti kami bisa lihat undangan itu, maaf ya aku gak bis lama, aku mau kencan." Saat Indira ingin membuka pintu, ternyata Abhimanyu datang.
Indira dan Abhi saling memberikan senyuman. "Sayang kamu sudah siap?" tanya Abhimanyu, sengaja memanggil Dira dengan panggilan itu.
"Sudah Mas, yuk kita berangkat." Jawab Dira, Abhi pun mengangguk.
Abhimanyu mengambil kunci, dan handphone miliknya di atas meja. Setelah itu, dia merangkul pinggang Dira. Winda terbelalak saat melihat sikap Abhi ke Indira, begitu juga sebaliknya.
"Sayang! Kamu memanggil keponakan kamu dengan panggilan itu, dan Kamu juga menyentuh Dira di bagian pinggang, seperti merangkul seseorang dengan kekasihnya?" tanya Winda dengan rasa tak percaya.
"Memang kenapa? Dira ini calon istriku, bebas dong aku mau menyentuhnya di mana, aku mau peluk pun juga boleh. Kami sebenarnya sudah menikah lebih dulu, hanya saja kita ingin merayakan resepsinya saja." Jelas Abhimanyu, membuat Winda merasa tak percaya dengan perkataan Abhi.
"Jangan bercanda kalian, ini gak lucu!" jawab Winda dengan sedikit emosi.
"Enggak ada yang lucu Tanteku, ini sungguhan! Kami sudah menikah lebih dulu, hanya saja kami merahasiakan dari semua orang. Acara pernikahan kita besok lah, yang akan membuka semua rahasia hubungan kita. Oh iya satu lagi, kamu ingat! Saat pertama kali kita bertemu, di mall itu, sebenarnya kami sudah menjadi pasangan suami-istri." Jelas Dira dan di angguki Abhi.
Winda mengepalkan kedua tangannya.
"Kalian!" sambil menunjuk ke arah Dira dan Abhimanyu, tatapan matanya menunjukan kemarahan kepada mereka berdua.
Abhimanyu memperhatikan Winda, takut dia menyakiti Indira.
"Rupanya kamu gadis licik!" benar saja tembakkan Abhi, Winda mengangkat tangannya, hendak menampar Dira.
Hap!
"Tante mau apa! Mau nampar aku?" Indira tersenyum meledek, dan tangan Winda masih berada di cengkraman tangannya.
Terlihat wajah Winda yang meringis kesakitan, saat Winda menahan tangannya dengan begitu kuat.
"Aww ... Sakit! Kasar banget si jadi cewek!" hardik Winda, membuat Indira semakin mencengkram nya degan sangat kuat. "Lepasin gak? Winda berontak, agar minta lepaskan.
"Sakit ya? Saya peringatkan ya ke kamu, saya bukan wanita licik! Tetapi kamu, sebagai wanita terlalu bodoh, apalagi untuk masalah seperti ini. Terlalu murahan, tidak bisa setia untuk satu pasangan, giliran pria itu menjauh baru kamu kembali, bukannya itu bodoh!" dengan ketus Indira mengatakan di hadapan Winda.
Abhimanyu yang melihat sikap Indira yang begitu kasar dengan Winda, ada rasa sedikit khawatir. Karena selama dia kenal, Winda sosok wanita yang tak bisa dikasari.
Dengan kasar, Winda di lepaskan begitu saja, sampai dirinya tersungkur ke lantai. Tidak lamanya datang dua orang keamanan datang masuk keruangan Abhimanyu, dan hendak membawa Winda keluar dari ruangan.
Sebelum di bawa keluar, Winda mengatakan sesuatu, penuh dengan ancaman. "Aku tak terima, dengan perlakuan kamu ini Dira. Ingat! Suatu saat kamu akan rasakan apa yang aku rasakan ini, bahkan lebih sakit dari ini!"
Indira tak merasa takut sedikitpun dengan ancaman dari Winda. Justru Dira tersenyum mendengarnya, sampai wanita itu keluar dari restauran milik Abhi.
Lain halnya dengan Abhimanyu, sedikit khawatir dengan ucapan yang di katakan oleh wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu. Kata-katanya penuh dengan ancaman, dirinya tidak ingin terjadi sesuatu oleh Indira.
"Huufh ... akhirnya gadis toxic itu keluar juga. Malas banget aku melihat dia di sini!" ucap Dira meras lega.
"Ya, dia sudah pergi. Aku khawatir dengan perkataannya." Ucap Abhi, yang mendekat ke arah Indira.
"Memang kenapa dengan ucapannya? Ancaman itu? Aku biasa saja, bukannya sok, hanya saja gadis seperti dia itu hanya bisa mengancam." Indira tersenyum sinis mengingat sosok Winda, lalu melihat ke arah suaminya dengan tatapan meledek. "Aku heran, kamu ko bisa kenal dengan gadis seperti dia? Sampai susah move on lagi?"
"Maksud kamu apa berkata seperti itu? Kamu ngeledek aku?" tanya Abhi dengan tatapan garang.
Indira justru terkekeh melihat wajah suaminya yang terlihat garang.
Cup
Indira mengecup bibir Abhimanyu, membuat Abhi tercengang mendapatkan perlakuan manis dari istrinya.
"Kamu, jangan coba-coba memancing hasrat ku ya! Kalau aku kepingin bagaimana?" tanya Abhi membuat Indira tertawa.
"Hihihi ... dasar kamu, Mas. Gak jauh omongannya dari situ terus." Jawab Dira dengan mencebikkan bibirnya.
"Terus mau omongin apalagi dong? 'kan aku sudah jadi suami kamu? Masa iya aku ngomongin perempuan lain ke kamu? Gak lucu dong." Abhimanyu menahan senyumnya saat melihat wajah istrinya melototi dirinya.
"Enggak apa-apa, aku gak keberatan. Asalkan selesai bicara, kamu tidur di luar kamar!" ancam Dira, membuat Abhi menelan Saliva nya.
"Hahaha ... jangan dong sayang! Masa aku di suruh tidur di luar." Kata Abhi dengan menunjukan dua jari seperti huruf V.
Indira justru dibuat tersenyum melihat sikap Abhi yang seperti ketakutan, ketika disuruh tidur diluar.
Bersambung