
Faisal mengingat-ingat kembali, apakah Hanna, atau dirinya pernah bercerita tentang masalah itu. Indira merasa geram dengan sikap kakaknya. Padahal tanpa Faisal memberitahu, Hanna sudah menceritakan, kebodohan kakaknya itu .
Faisal menceritakan semua, saat Hanna bertanya tentang kalau dia pernah melihatnya berboncengan dengan seorang gadis.
"Terus Kakak jawab apa, ke Hanna?"
"Ya Kakak bilang dengan jujur siapa gadis itu. Memang salah?" tanya Faisal, membuat Indira menepuk keningnya
Sikap nyebelin Faisal, membuat Indira geregetan ingin sekali memberikan tinjauan kepada kakaknya itu.
"Kenapa bilang ke dia?" Indira merasa geram dengan kakaknya itu. "Sudah pasti salah ka! Hanna pasti cemburu mendengarnya, secara dia itu terang-terangan suka dengan Kak Ical. Kenapa ya ko aku bisa punya seorang Kakak yang gak peka, sama cewek!" omel Dira.
"Gak peka gimana si Dir? Aku sama sekali menganggapnya sebagai adik, gak lebih," jawab Faisal.
Indira semakin merasa geram dengan Kakak ini.
" Iiihhh... !Ya sudah, kalau Kakak menganggap Hanna hanya sebatas adik, biarkan saja dia dekat dengan pria itu, kenapa kamu tidak suka melihat dia dekat dengan laki-laki lain? Bilang aja kamu cemburu, dan tidak suka 'kan! Jujur saja Ka Ical? Karena penyesalan datang diakhir loh!" ucap Dira seperti tanda peringatan.
"kenapa bicara kamu seperti kata peringatan, dan ancaman buat kakak?" tanya Faisal.
"Kak aku cuma ngingetin aja. Kalau seandainya Hanna tiba-tiba pergi bagaimana? Hayo!"
"Pergi!" Jawab Faisal kenapa seperti ada yang mengganjal mendengar kata pergi.
"Iya pergi, yang aku tau begitu,"
"Jangan sok tahu kamu, memangnya dia pergi ke mana? Keluarganya di sini, teman-temannya pun juga di sini,"
"Ka, dia itu Ingin melanjutkan kuliahnya. Agar tercapai cita-citanya, yaitu seorang desainer baju. Dia ingin mengikuti jejak bundanya, merancang baju pernikahan. Bisa aja 'kan dia mengambil keputusan untuk melanjutkan kuliahnya di Surabaya? Soalnya Hanna pernah mengatakan itu kepada kami,"
"Kakak pernah tau dia ingin mengikuti jejak bundanya, tetapi dia gak bilang ingin kuliah di Surabaya?"
"Bagaimana Hanna mau bilang ke Kakak. Dia mengatakan itu dua Minggu lalu, sebelum acara aku di mulai. Asal kamu tau, dia merasa sedikit kecewa dengan Kak Ical, dan dari situ dia mulai mengambil keputusan, kalau ingin melanjutkan kuliahnya di Surabaya." Cerita Dira dengan sedikit kesalnya.
'Apa sejak dari situ, Hanna menjaga jarak denganku. Dia selalu menghindari setiap kali aku dekat dengannya. Kenapa aku sedikit tak rela ya, kalau dia pergi ke Surabaya.' ucap Faisal dalam hati.
Setelah kepulangan Faisal dari rumah adiknya. Hatinya menjadi tak tenang, apalagi sejak Indira mengatakan kalau Hanna akan kuliah di Surabaya. Perasaan Faisal selalu gelisah, setiap malam yang dipikirkannya hanya ada Hanna.
Dua bulan kemudian, Indira sedang berada di rumah mama Diana. Pastinya para keluarga senang dengan kedatangan Indira datang ke rumah mereka .
Kini Indira dan keluarga sedang duduk di ruang keluarga, seperti biasa, Dira bermanja-manja kepada kedua orang tuanya.
"Ma, Pa! Jika aku kuliah lagi menurut kalian bagaimana? aku ingin lanjutin pendidikan aku, dan aku yakin mas Abhi juga nggak akan keberatan untuk urusan itu," tanya Indira di sela-sela obrolan.
"Mama, dan Papa juga tidak keberatan jika kamu ingin kuliah lagi. Iya 'kan Pa?" tanya Mama Diana.
"Iya nak, betul yang Mama katakan! Kami tidak akan melarang, jika kamu ingin melanjutkan kuliah lagi. Begitupun juga suami kamu, Papa yakin dia tidak akan keberatan jika kamu melanjutkan kuliah lagi! Memangnya kapan niat kamu mau melanjutkan kuliahnya sayang?" timpal Papa Benny
"Kapan ya pa? Bulan depan kali ya. Sepertinya teman-temanku yang lain, juga sudah pada mulai mendaftarkan dirinya untuk kuliah. Kemarin Hanna bilang dia sudah mulai mendaftarkan dirinya di Universitas di Surabaya, mungkin tidak lama lagi dia akan ke sana," ucap Dira dengan matanya melirik ke arah Faisal.
Mendengar nama Hanna, yang akan ke Surabaya. Faisal pun langsung bertanya. "Memangnya Hanna akan berangkat kapan, Dek?"
Papa Benny dan Mama Diana langsung menatap ke arah Faisal, yang bertanya tentang Hanna. Membuat Indira menahan senyumnya.
"Kemarin saat di grup dia bilang katanya lusa. Mangkanya aku kesini, aku ingin menemui dia besok, bareng teman-teman yang lain. Jujur kami semua sedih karena personil kami hilang, mungkin dia kesini kalau lagi liburan aja," ucap Dira dengan raut wajah sedihnya.
"Berarti Hanna bersungguh-sungguh untuk mengejar cita-citanya. Karena dia itu tidak peduli kuliahnya di mana, dan seberapa jauhnya jaraknya. Berarti memang teman kamu itu sudah bertekad ingin meraih agar bisa mencapai segala keinginannya," ucap Papa Benny.
"Sama juga tidak sih pah, dengan urusan perasaan?" tanya Dira dengan tatapan matanya melirik Faisal.
"Nah, begitu juga sama seperti perasaan! Jika ada pria, yang menyukai perempuan, jangan malu untuk mengatakan. Apalagi si pria itu tau, kalau wanita itu juga suka dengannya, jangan sampai pria itu pura-pura tidak tau. Laki-laki itu harus mengejarnya, sebelum gadis itu pergi dan dia menyesal. Bukankah perasaan itu harus di katakan, agar bisa terbalaskan.Betul gak kata Papa?" tanya papa Benny dengan terkekeh.
Papa Benny mengatakan itu, mengingat akan dirinya. Yang mengejar cintanya yaitu Mama Diana. Yang tidak pernah malu dan lelah untuk mengungkapkan perasaan dan niatnya untuk memperjuangkan istrinya.
"Betul banget! Papa keren," timpal Indira memberikan dua jempolnya untuk papa Benny.
Mendengar Papa Beni mengatakan itu, hatinya sedikit tercubit. Sebenarnya beberapa minggu ini, pikirannya sedang kalut akan bayang-bayang Hana, yang selalu hadir di dalam mimpinya, dan di pikirannya. Apa mungkin dirinya mulai menyukai Hana, Faisal masih nampak berpikir-pikir, kalau dirinya memang sudah menyukai Hanna.
Bersambung