
Kabar bahagia tentang kehamilan Indira, kini sudah terdengar oleh Bu Lidya dan pak Arif, dan itu membuat mereka sangat bahagia. Karena menantu kecilnya, cepat di berikan kepercayaan kembali oleh tuhan, setelah apa yang sudah terjadi kepadanya .
Kini usia kehamilan Indira sudah memasuki usia dua belas Minggu. Terlihat masa-masa di mana Dira sangat menikmati perannya sebagai ibu yang mengandung.
Hooeek ... hooeek ... hooeekk!
Abhimanyu mendengar Istrinya sedang di dalam kamar mandi, dan melihatnya yang sudah terlihat lemas. Abhi memijat leher belakang Dira, sampai reda rasa mualnya. "Sayang, kamu baik-baik saja?" Indira hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita ke Dokter ya sayang!" ajak Abhi dan Dira menggelengkan kepalanya.
Abhimanyu membantu memapah Indira untuk ke tempat tidur. Abhi juga memberikan istrinya minuman air hangat, untuk mengurangi rasa mualnya. Dira tersenyum saat mendapatkan perhatian dari suaminya.
"Mas, kamu libur ya? Aku lagi ingin kamu temani di rumah!" pinta Dira dengan merengek.
Entah kenapa Abhimanyu jadi mengingat kejadian sebelum musibah itu terjadi. Indira merengek untuk minta bersamanya, namun justru dirinya menolak. Jadi sampai saat ini permintaan istrinya itu terus saja melintas di pikirannya.
"Iya sayang, aku akan temani kamu hari ini di rumah untuk istriku." Sambil membelai pipi Dira.
Indira merasa sangat bahagia, mendengar suaminya mau libur untuk menemaninya.
"Mas Abhi. Eemm ... kita jalan-jalan pagi yuk!" ajak Dira.
"Jalan pagi?" Indira mengangguk. " Mau jalan kemana sih sayang? Hemm ..." tanya Abhi kembali.
"Aku ingin mencari jajanan pasar, sekaligus mecari buah rujakan. Aku lagi kebayang makan rujak!" Dira membayangkan makan rujak yang segar.
"Apa! Kamu pagi-pagi ingin ngerujak?" tanya Abhi dengan rasa terkejut.
"Kenapa kamu gak mau temani aku cari jajanan pasar dan rujak?" tanya Dira dengan cemberut. "Yasudah kalau tidak mau, aku bisa cari sendiri!" ancam Indira dengan rasa kesalnya.
"Kamu apa-apaan sih sayang! Memang aku bilang, kalau gak mau antar kamu kesana? Ingat kamu sedang hamil, aku tidak ingin terulang kedua kalinya sama kamu!" jawab Abhi dengan nada sedikit meninggi, dan itu membuat Indira mendengarnya sampai terkejut.
Mata Indira mengembun, tak berani menjawab, dan hanya menundukkan kepalanya. Entah kenapa hati menjadi sedih mendengar suaminya membentaknya.
Abhimanyu melihat istrinya hanya menundukkan wajahnya, serta pundaknya bergetar. Abhi yakin istrinya menangis, dan itu membuatnya menjadi merasa bersalah.
Abhi menunduk untuk menatap wajah istrinya, yang ternyata benar, mata Indira sudah basah, karena menangis.
"Sayang! Hei, kamu kenapa menangis?" tanya Abhi sambil menghapus air matanya.
"Maafin aku ya, bukan maksudku marah dengan kamu!"
Indira masih belum menjawab, matanya yang sudah basah dan merah, membuat Abhi semakin merasa bersalah dengan istrinya.
"Sudah dong jangan nangis lagi! Aku minta maaf! Ya sudah sekarang kita jalan ya, mencari jajanan pasar, seperti apa yang kamu inginkan!" Kata Abhi, namun Dira belum menjawab, hanya saja Isak tangisnya sudah berhenti.
Abhimanyu merasa heran dengan perubahan sikap istrinya. Biasanya Dira terkadang pintar menjawabnya, tapi kenapa sekarang hanya menangis.
Abhi baru melihat, perubahan wanita hamil. Apalagi sampai istrinya yang menangis karena perkataannya sedikit meninggi, dan membuatnya menyesal karena Dira bersedih.
"Aku di maafin gak?" tanya Abhi dengan menatap wajah istrinya yang saat ini memandangnya.
Indira mengangguk, Abhi pun tersenyum, melihat bibir istrinya terdapat sebuah senyuman.
"Terimakasih ya sayang, sudah mau maafin mas?" Abhi mengecup tangan Dira. "Sebelum berangkat, kamu minum susu dan sarapan dulu ya! Soalnya perut kamu belum terisi, kasian anak kita di dalam pasti lapar?"
"Iya, tapi kamu yang buatkan susu dan sarapannya ya!" pinta Dira dengan suara manja.
Abhimanyu tersenyum mendengarnya, ingin sekali dia menerkam istrinya sekarang juga. Tapi rasanya tak mungkin, itu di lakukan.
Selama Dira hamil, aura keibuannya terpancar. Wajah Indira terlihat nampak lebih cantik, manis dan menggemaskan. Bagaimana bisa dirinya marah sama wanita yang membuat gila hampir tiap hari.
Apalagi setiap kata-kata manjanya yang keluar dari bibir istrinya. Itu akan membuatnya Abhi merasa tak berdaya mendengarnya.
"Siap tuan putri, suamimu ini akan membuatkan susu dan sarapan untuk istrinya yang paling cantik!" jawab Abhi dengan merayunya.
Indira terkekeh mendengarnya, dan itu membuat Abhimanyu segera men**um bibir istrinya.
Indira tersenyum malu mendapatkan kecupan manis dari suaminya.
Kini Abhimanyu berada di dapur sedang membuatkan susu dan sarapan untuk istrinya.
Kebetulan, di sebelahnya ada Bu Sumi.
"Bu Sumi!" panggil Abhi.
"Iya Den Abhi ada apa?"
"Bu, saya mau tanya? Memang wanita hamil itu hormon nya suka berubah-ubah ya? Dari bahagia bisa langsung sedih, dan gak boleh salah dikit ya?" tanya Abhi dengan beruntun.
"Kalau wanita hamil itu memang suka berubah-ubah moodnya Den! Apa lagi kalau kita salah dikit, itu akan merubah suasana hatinya. Maklum bawaan baby di perutnya," jelas Bu Sumi.
"Memangnya begitu Bu?" tanya Abhi lagi.
"Iya, apalagi kalau ibu hamilnya lagi merasa sedih dan sampai menangis. Anaknya di dalam perut juga ikut nangis merasakan kesedihan ibunya." Jelas Bu Sumi.
"Masa sih Bu?" tanya Abhi dan diangguki ART yang sudah di anggap ibu oleh Abhimanyu.
"Memang seharusnya aku lebih mengenal jauh lagi, tentang wanita hamil. Agar aku bisa tau tentang kondisi istri ku yang sedang mengandung," ucap nya pada diri sendiri, membuat Bu Sumiati tersenyum mendengarnya.
"Iya Den, jangan cuma pelajaran olahraga dan bisnis restauran aja, yang Den Abhi kuasai! Tapi Istri yang lagi hamil pun juga harus di mengerti dan dipahami!" ledek Bu Sumi, membuat Abhimanyu tersenyum mendengarnya.
"Batul- betul- betul. Apa yang Bu Sumi katakan benar adanya," jawab Abhi. "Yasudah kalau begitu aku ke kamar dulu ya, mau antar susu bumil!"
"Iya Den,"
Kini Abhimanyu membawa nampan berisikan susu dan sarapan untuk Indira, yang dimana istrinya request minta dibuatkan roti sandwich buatan suaminya.
Pintu kamar terbuka, Indira tersenyum saat suaminya datang dengan wajah ceria.
"Assalamu'alaikum, bumil." dengan senyuman membawa nampan berisikan susu dan sarapan. "Roti dan susunya sudah datang!"
"Waalaikumsallam, my hubby." jawab Dira dengan senyuman. " Sini Mas, aku sudah lapar!"
"Di habiskan loh ya! Agar baby kita sehat!" Indira mengangguk.
Indira menikmati sarapan yang di buatkan oleh suaminya. Bahkan susu hamilnya pun di minum sampai tak tersisa. Abhi tersenyum melihat istrinya begitu sangat menggemaskan.
Next.
Kini Abhi dan Indira sudah berada di pasar. Terlihat wajah bahagia Dira saat melihat penjual kue dan buah yang akan di belinya.
"Mas, aku ingin membeli jajanan pasar!" ucap Dira saat melihat banyak makanan kue basah tradisional yang terlihat menggoda .
"Memang kamu ingin membeli kue apa sih sayang?" tanya Abhi yang menutupi mulutnya menggunakan masker.
"Aku ingin membeli, kue ini dan itu, sama yang warna-warni, Mas!" ucap Indira sambil menunjuk kue yang ditata di dalam kotak putih.
Dengan semangat Indira memilih macam-macam makanan. Ada kue ****, talam, cucur, bika Ambon dan lain-lainnya. Sedangkan Abhi terlihat menahan rasa mualnya saat berada di pasar, entah kenapa perut Abhimanyu terasa seperti di aduk-aduk.
"Sayang, sudah belum kamu memilih kue nya?" bisik Abhi.
"Sudah sayang, tinggal bayar aja ko," Abhi pun mengangguk.
Indira mengeluarkan selembar uang berwarna merah senilai 100 ribu. Dengan di kembalikan kembali dua puluh ribu.
"Terimakasih ya Bu," ucap Dira dan ibu penjualnya menganggukkan kepalanya dengan senyuman.
Setelah membayar, Indira dan Abhi keluar dari tempat jual kue. Dira terlihat senang melihat di tangannya terdapat banyak kue tradisional. Karena merasa ingin memakannya, akhirnya di saat itu juga satu kue pun di bukanya, lalu di cicipi.
Bersambung...