
Mendengar jawaban kakaknya, Indira terlihat bahagia, dan bertepuk tangan. Pastinya Faisal terkekeh melihat adiknya yang terlihat over, saat mendengar dirinya dan sahabat memiliki hubungan.
"Yeee ..." Indira bertepuk tangan. "Akhirnya perasaan Hanna pun terbalas sama Kakak. Cinta sudah tak bertepuk sebelah tangan lagi."
Faisal menggelengkan kepalanya melihat sikap adik perempuannya.
"Ya ini karena ulah kamu? Kalau kamu gak bilang Hanna akan ke Surabaya, mungkin kakak gak akan bilang ke dia." Kata Faisal, membuat Indira tertawa.
"Ya lagi jadi cowok gak peka banget, Hanna cantik loh! Mau dia di ambil orang sebelum Kakak!" kata Indira membuat Faisal gemas mendengarnya.
Karena merasa gemas dengan adiknya yang terus bicara, Faisal akhirnya menjewer telinga Dira.
"Berisik banget sih kamu! Abhi gak pusing apa ya dengerin kamu ngoceh?" Indira meringis.
"Sakit Kak!" ucap Indira saat Faisal melepaskan tangannya dari telinga. "Aku yakin, Kakak yang bakan bucin kepada Hanna. Liat aja nanti!"
"Biarin! Kaya suaminya tidak bucin aja sama kamu," jawab Faisal dengan mencebikkan bibirnya.
Karena sudah lelah meledek Kakaknya, Indira pun kembali ke kamarnya.
Hari-hari terus berganti, kini hubungan Faisal dan Hanna pun semakin dekat. Bahkan Faisal terang-terangan meminta izin kepada orang tua Hanna untuk berniat ingin menikahi gadis yang membuatnya semakin ingin memilikinya.
Terutama Indira dan Abhimanyu, rumah tangganya semakin harmonis. Bahkan tak malu juga mereka menunjukkan sikap romantis didepan orang.
Seperti hati ini, entah kenapa sikap Indira terlihat aneh. Setelah shalat subuh, Indira terlihat tak bersemangat, hanya meringkuk di atas kasur saja.
Sejak tadi pagi, Indira selalu merengek, meminta Abhimanyu untuk tetap di rumah.
"Mas, kamu libur ya? Aku ingin sama kamu saat ini!" pinta Dira, dengan merengek.
"Ya gak bisa dong sayang. Sabtu dan Minggu aku sudah libur, dan itu adalah khusus untuk kamu." Jawab Abhi, sambil membelai lembut rambut Dira.
"CK!" Indira berdecak. "Aku maunya hari ini! Aku bete, Mas," rengek Dira kembali.
"Ya ampun sayang, kamu lagi kenapa sih? Aku di sekolah lagi pengambilan nilai untuk murid kelas dua, mangkanya sekarang aku harus datang!" jawab Abhi, sambil menggunakan sepatu.
Tanpa menjawab, Indira mengalihkan pandangannya menatap kearah lain. Abhimanyu merasa bingung harus bagaimana, menanggapi istrinya yang sedang merajuk.
"Sayang, jangan marah dong! Aku gak bisa jika kamu merajuk seperti ini, aku harus mengambil nilai untuk murid-murid. Mas janji, nanti sore kita jalan ya? Please jangan marah!" pinta Abhi, dengan berlutut di hadapan Dira yang sedang cemberut.
"Bagaimana kalau mas suruh Gea, dan teman-teman kamu yang lain untuk menemani kamu!" usul Abhimanyu, namun tak ada jawaban dari Indira. "Nanti mas transferin untuk kamu belanja ya, kamu bebas pilih apa aja!" bisik Abhi
Mendengar kata transfer, telinga Dira langsung mendengar dengan jelas. (Memang ya, kaum hawa gak boleh dengar kata transferan. Bawaannya kuping terang bener dengernya. wkwkwkw...)
Abhimanyu dapat melihat, bibir istrinya sedikit terangkat seperti bentuk perahu. Abhi justru jadi tersenyum melihat sikap istrinya, namun dirinya berusaha menahannya agar Dira tidak merajuk kembali.
"Bagaimana mau gak? Aku minta Gea dan yang lain buat temani kamu?" tanya Abhi memastikan kembali istrinya.
"Yasudah! Gea dan yang lain saja, buat temani aku ," jawab Dira.
"Iya. Tapi beneran kamu transfer aku?" tanya Dira memastikan kembali.
"Iya kesayangannya mas Abhi," jawab Abhi dengan lembut. Membuat Indira tersenyum mendengarnya.
Abhimanyu akhirnya dapat berangkat kerja dengan tenang, tanpa memikirkan istrinya yang merajuk.
Tepat jam 10 pagi, Gea dan teman-temannya datang ke rumah Indira.
"Hallo, Tante kecil," sapa Gea. "Tadi gue di telpon sama om, katanya elo minta jalan?"
"Iya, gue bete di rumah. Sekolah udah lulus, malah bingung mau ngapain? Gue ajak mas Abhi dia malah gak bisa nemenin, katanya mau ngambil nilai murid-murid," cerita Dira.
"Bukannya elo kemarin weekend sudah liburan sama hubby loe?" tanya Hanna.
"Tapi 'kan gue maunya sekarang, cakapar ( calon kakak ipar),"jawab Dira.
"Ya sudah, kita cuss aja lah! Keburu panas kalau siang nanti!" timpal Alin, dan Hanna pun mengangguk.
"Yasudah, kita berangkat sekarang aja !" kata Gea. "Oh iya Dir! Elo gak usah bawa motor, biar elo gue boncengin!"
"Siap Beb!" jawab Dira dengan memberikan hormat.
Kini Indira dan kawan-kawan saling berboncengan,menuju ke salah satu Mall di Jakarta. Setiap langkah Dira dan temannya di sertai tawa dan canda. Bahkan sesekali mereka jadi pusat perhatian pengunjung karena lupa mengontrol tingkahnya.
"Jadi elo gak jadi merajuk, karena my hubby elo kasih transferan buat shopping?" Tanya Alin, mendengar cerita Dira di angguki olehnya.
"Enak loe dapet transferan dari om Abhi. Dasar istri gak boleh dengar transferan duit, hati lagi panas bisa jadi adem karena itu," cetus Gea, dengan terkekeh.
"Enak ya? Punya husband perhatian begitu! Jadi pengen cepet-cepet punya suami, hihihi ..." kata Hanna dengan cekikikan.
"Yee, elo mah enak dikit lagi juga jadi milik kak Ical. Lah gue, apa? Jangankan calon suami, calon pacar aja gak ada. Jones( jomblo ngenes)," ucap Alin dengan wajah sedih.
"Sabar beb, yang Jones bukan elo aja? Gue juga sama," timpal Gea, dan Alin saling merangkul pundak sahabatnya.
"Ya udah jangan sedih gaes! Mendingan kita makan yuk! Biar gue traktir kalian." Ajak Dira mengajak ketiga temannya.
"Beneran nih, Kita di traktir elo?" tanya Alin, di angguki oleh Dira. " Asyik-asyik, makan gratis." Kata Alin dengan girangnya, membuat teman-teman nya tertawa melihat tingkahnya.
Kini keempat sahabat itu, melangkah mencari tempat restauran siap saji, yang berada di Mall.
Setelah mendapat tempat yang di inginkan, mereka semua masuk dan mencari tempat duduk. Kemudian Dira dan temannya memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu makanan datang di selingi obrolan oleh Indira dan sahabatnya .
Tanpa menunggu lama, pesanan mereka pun datang. Dengan semangat dan senang karena mendapatkan traktiran dari Indira.
Bersambung