My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Di arak warga



Setelah cukup lama mereka berkelahi, kini Indira berada di samping Abhimanyu. Namun tiba tiba saat Abhimanyu lengah, ada seorang pria mengeluarkan sebilah pisau, yang hendak di arahkan kepada Abhimanyu. Namun oleh Indira di tepis nya, memang tidak mengenai Abhimanyu. Namun mengenai lengan Indira yang tergores oleh pisau. Indira pun menyemprotkan parfum ke mata para begal itu. Dan akhirnya mereka pun melarikan diri dengan membawa hasil mereka. Membawa uang dan juga handphone milik Abhimanyu.


Abhimanyu melihat lengan Indira terluka segera membantu Indira untuk berdiri. Lalu Indira di bawa masuk oleh Abhimanyu ke dalam mobilnya.


Abhimanyu membersihkan dan mengobati lukanya yang berada di lengan Indira. Abhimanyu begitu khawatir dengan kondisi Indira yang terlihat pucat, apa yang harus dia katakan kepada keluarganya..


Untuk menahan pendarahan di lengan Indira yang cukup panjang lukanya. Akhirnya Abhimanyu merobek kemejanya nya, lalu sobekan nya di lilit di lengan Indira. Agar darah nya tidak mengalir deras.


Abhimanyu mengambil baju salinan yang memang dia bawa di kursi belakang. karena udaranya cukup dingin di sana, tidak mungkin Abhimanyu hanya memakai singlet saja.


Saat ini kondisi Indira dengan mata terpejam, mungkin Indira menahan rasa sakitnya. Indira pun kini memejamkan matanya, di saat Abhimanyu mengobati tangan nya. Sesekali Indira meringis menahannya karena sakit.


" Kenapa kamu sakit. Apa mau kita putar balik ke rumah sakit melihat kondisi kamu.?"


" Tidak perlu." Jawab Indira dengan mencoba tersenyum.


" Ternyata kamu bukan gadis manja ya. Ternyata kamu kuat, bahkan kamu bisa membuat mereka para begal kabur."


" Semuanya kan juga bantuan om juga. Aku tetaplah Indira yang manja dan bawel kalau di rumah. Itu akan aku lakukan jika mendesak seperti saat ini." Abhimanyu pun tersenyum mendengar perkataan Indira..


Saat Abhimanyu tersenyum dan menoleh ke arah Indira, tatapan mata mereka pun saling bertemu. Ada rasa yang berbeda yang saat ini Abhimanyu rasakan. Namun Abhimanyu berusaha menetralisir perasaannya.


" Om sini aku obati luka di wajah om."


" Tidak usah Dir, biarkan saja." Ucap Abhimanyu yang kembali menatap lurus ke depan.


" Enggak apa-apa om. Sini aku obati lukanya. Om kan sudah mengobati aku". Sambil mengambil kapas yang sudah di kasih antiseptik.


" Tidak usah Dira, kita harus segera pulang ya."


" Om kalau lukanya di lihat semua orang nanti pada khawatir dengan om. Sebentar saja sini aku obati lukanya." Akhirnya Abhimanyu pun pasrah, dan tak jadi untuk menyalakan mesin mobil.


Dengan pasrah Abhimanyu pun diam, dan lukanya di obati oleh Indira. Jarak mereka kini kian dekat. Abhimanyu dapat merasakan hembusan nafasnya Indira.


Namun saat Indira menyentuh tepat di bagian lukanya, Abhimanyu pun meringis dan menoleh kearah Indira. Alhasil jadilah wajah mereka begitu dekat sampai tidak ada jarak lagi. Bahkan jika Indira bergerak sedikit saja, maka bibir mereka akan saling bertemu.


Abhimanyu dapat merasakan hembusan nafas Indira yang menyentuh kulit wajahnya. Abhimanyu terpaku menatap akan kecantikan wajah Indira jika dilihat lebih dekat seperti ini.


Namun tiba-tiba saja terdengar suara bising, dan.


Duuuggg... Duuuggg... Duuuggg... Banyak orang di sekitar mobil Abhimanyu. Abhimanyu pun menjauh dari Indira.


Terlihat seperti nya warga sekitar menunjukkan wajah tak suka. Indira merasa tidak enak akan perasaan nya.


" Ada apa ya om. Ko banyak orang ya.?"


" Saya tidak tau Dir. Apa mungkin mereka melihat posisi kita seperti tadi."Jawab Abhimanyu yang merasa sedikit khawatir.


Duuuggg.... Duuuggg.. Duuuggg. Lagi lagi seseorang menggedor kaca mobil milik Abhimanyu dengan sangat keras.


" Keluar kalian berdua dari dalam mobil." Teriak seseorang yang menggedor kaca mobil.


" Iya keluar kalian, jangan berbuat me*um di sini ya."


Untuk kali ini Indira benar benar takut melihat banyaknya warga yang marah.


" Ya ampun om, bagaimana ini. Saya takut beneran ini." Terlihat tangan Indira yabg bergemetar ketakutan.


" Kita keluar saja ya, kita hadapi mereka. Dan mendengarkan penjelasan mereka semuanya."


" Tapi om.."


" Sudah jangan tapi tapian. Ayo turun."


Ceklak.. Indira dan Abhimanyu pun kini keluar dari dalam mobil.


" Maaf pak sebelumnya. Ada apa ya, ko mobil saya di gedor seperti tadi.?"


" Ada apa, ada apa. Enak saja kalian kalau ngomong. Kalian berduaan di tempat ini mau ngapain. Mau melakukan tidak senonoh ya di tempat ini.?"


" Astaghfirullah.. Pak, apa yang bapak katakan tidak benar."


" Tidak benar apa. Jelas jelas kami melihat kalian yang hampir saja berci*man. Kalian masih tidak mengakui nya.Dasar tampang saja pendiam, tapi kelakuan kalian me*um."


" Pak kami tidak melakukan apapun di dalam mobil. Kami habis di begal, dan kami di dalam saling mengobati luka luka kami." Ucap Indira yang membantu Abhimanyu membela diri.


" Hei pak, hati hati kalau bicara. Saya bukan gadis liar atau nakal. Saya memang masih bersekolah, dan kami tidak melakukan apapun seperti apa yang kalian katakan." Ucap Indira


" Dasar jelas jelas sudah kepergok, masih saja membela diri. Anak zaman sekarang bisa nya ngelawan saja."


" Sudah pak Asep, kita bawa saja 2 orang ini." Kata seseorang yang mencoba menghasutnya.


Pria yang bernama pak Asep menatap Indira dengan sangat marah.


" Yasudah ayo kita bawa mereka ke Balai rakyat. Kalian panggilkan RT dan RW. Kalau perlu kita arak saja pasangan yang ingin bikin malu kampung kita."


Mendengar itu Indira dan Abhimanyu, langsung terlihat panik.


" Hei apa apaan ini jangan main hakim sendiri ya." Ucap Abhimanyu dengan tak terima.


" Apa apaan ini, kami main di arak. Memang kami melakukan apa."


" Sudah jangan banyak omong, kita bawa mereka dengan paksa aja pak." Ucap pria yang menghasut tadi.


Grrreeeppp.... Tangan Indira yang terluka di cengkram sangat kuat, dan di tarik.


Aaaaaa..... "Sakit jangan tarik seperti ini." Indira berteriak kesakitan saat tangannya di tarik paksa.


Abhimanyu yang juga di tarik paksa pun, mendengar Indira berteriak. Abhimanyu pun langsung berontak berusaha melepaskan diri nya.


" Heeiiii..... Jangan tarik dia. Dia sedang terluka tangan nya." Ucapan Abhimanyu tak di hiraukan oleh mereka.


Indira masih di tarik paksa, begitu pun juga Abhimanyu. Mereka di tarik untuk ikut dengan warga. Entah lah Abhimanyu sendiri tak tau apa yang harus dia lakukan. Dirinya di pegangi oleh banyak orang, bahkan melepaskan dirinya sendiri begitu sulit.


Hiks.. Hiks... Hiks... Abhimanyu melihat Indira menangis, merasa bersalah kepada dirinya sendiri.


Lumayan jauh tempat balai rakyat, dari mobil mereka, sampai di dalam perkampungan.


Kini Abhimanyu dan Indira pun sudah berada di tempat yang para warga sebutkan..


Kini di tempat itu ternyata juga sudah banyak orang yang berkumpul. Indira hanya menunduk.


Kini Abhimanyu dan Indira duduk di kursi, yang di mana di depan meja mereka ada beberapa orang yang sepertinya memiliki jabatan.


" Apa benar ini Mas, kalau kalian melakukan hal yang melanggar aturan. Mereka katakan kalian melakukan me*um di dalam mobil?" Tanya seorang yang di panggil Pak RT.


" Tidak pak, kami tidak melakukan apapun di dalam mobil." Jawab Indira mencoba menjelaskan.


Namun percuma saja mau Indira atau Abhimanyu pun yang menjelaskan. Para warga tidak akan mau mendengar kan penjelasan dari mereka.


Indira dan Abhimanyu pun pasrah dengan posisi mereka saat ini. Yang sedang di pojokan dan di katakan melakukan me*um di dalam mobil. Abhimanyu dan Indira pun merasa tubuhnya sakit sakit, akibat perkelahian tadi.


" Begini saja pak, kami minta damai saja. Tapi saya mohon jangan arak kami, ke seluruh warga sini. Apa ada hal yang lain yang bisa kami lakukan. kasian pak, dia itu murid saya, dan masih berkerabat baik dengan keluarga saya. Kasian juga jika harus di bikin malu oleh kalian semuanya."


Ucap Abhimanyu yang bernegosiasi kepada seseorang di sebut pak RW Ma'mun.


" Jadi gadis ini murid anda.?" Abhimanyu pun mengangguk. Ditatapnya wajah Indira dan Abhimanyu sekali lagi. " Begini saja ya mas, jalan satu satunya. Agar kalian tidak ditahan di sini sampai besok pagi. Dan kalian juga akan di arak seluruh kampung sini. Bagaimana kalau kalian kami nikahkan saja. Soalnya bagaimana pun kalian akan kalah melawan mereka para saksi. Apalagi mereka katanya melihat sendiri jika kalian bercium*man di dalam mobil.."


Mendengar itu Indira kembali kesal.


" Pak sudah berapa kali saya bilang, kami tidak berci*man. Saya mengobati lukanya, kenapa kalian tidak percaya." Indira terlihat kesal dan begitu frustasi menjelaskan nya..


Abhimanyu pun bingung harus bagaimana mengambil keputusan nya. Satu sisi dia tidak mau jika di arak dan akan membuat malu keluarga nya. Di satu sisi lainnya, dia juga tidak mungkin menikahi Indira. Yang tak lain murid nya sendiri, dan masih berstatus pelajar.


Namun keputusan harus di pilih, kalau tidak dirinya tak tau apa yang akan mereka lakukan padanya dan Indira. Karena sejak tadi ada beberapa orang merekam kejadian tadi di handphone milik mereka. Abhimanyu tidak mau jika sampai dirinya atau keluarga nya di cap buruk. Apalagi Abhimanyu juga memikirkan nama baik sekolah yang di dirikan oleh papahnya .


Dari bernegosiasi tadi, jika Indira dan Abhimanyu di arak. Para warga pun juga akan menyebar kan videonya. Dan itu akan berdampak buruk untuk nama baik semua nya. Namun jika di nikah kan di situ. Maka urusan selesai, sampai di situ. Namun Abhimanyu berpikir, apa mungkin dirinya menikahi murid nya sendiri. Bahkan usia nya belum cukup untuk di nikahi.


Benar benar masalah ini mengenai mental, Abhimanyu dan Indira.


" Indira, apa kamu bawa handphone.?" Indira pun menggelengkan kepalanya.


" Tidak, handphone ku di cash tadi." Abhimanyu pun membuang nafasnya dengan kasar.


Lalu Abhimanyu mencoba berpikir. Abhimanyu meminjam handphone untuk menghubungi keluarga nya. Karena handphone miliknya sudah di ambil oleh para begal, jadi terpaksa Abhimanyu meminjamkan handphone milik pak RW.


Sedangkan Indira hanya diam menunduk, dan terisak tangis. Dirinya bingung bagaimana, apa mungkin dirinya harus menikah dengan keadaan seperti ini. Apalagi usianya yang belum genap 17 tahun.