
Jujur untuk saat ini Gea sedikit takut untuk mengatakan tentang gadis bernama Winda kepada Indira. Karena sekarang setatus Indira sudah berbeda dengan kemarin, sekarang itu Indira itu istri dari om nya sendiri.
Gea hanya diam tak menjawab pertanyaan Indira, dia paham kalau Gea tidak ingin menceritakan tentang siapa Winda.
" Elo enggak bisa ya cerita siapa Winda itu,?" Tanya Indira. " Enggak apa-apa gue mengerti ko.!"
"Bukan begitu Dir, gue cuma bingung harus cerita bagaimana sama elo," kata Gea, meras tak enak hati.
"Santai aja Ge. Sebenarnya ya, gue dan mas Abhi itu pernah ketemu dengan gadis itu. Dia juga bilang kalau mas abhi dan dia pernah punya hubungan. Yang jadi pertanyaan gue itu sampai mana hubungan mereka, dan seberapa dekatnya Winda dan keluarga kalian?"
"Jadi elo pernah ketemu sama tuh cewek,?" Indira mengangguk," Terus dia nanya kalau elo siapa nya om Abhi.?" Tanya Gea dengan penasaran.
"Gue bilang, gue keponakannya. Enggak mungkin kan gue bilang istrinya, sedang kan mas Abhi sendiri gak ngomong kalau gue itu siapa.?"
"Serius om Abhi gak bilang kalau elo itu istrinya." Indira mengangguk. "Terus bagaimana perasaan Lo, saat om Abhi seperti itu,?"
"Kesel pasti, tapi gue mau ikutin permainan selanjutnya sampai mana mas Abhi menganggap gue sebagai keponakan nya," Kata Indira, membuat Gea yang mendengar nya ikut merasa geram.
"Ko Om Abhi jahat banget si, dan elo juga, kenapa elo diam aja si, harusnya elo bilang kalau elo itu istrinya,!" Jawab Gea dengan rasa kesalnya.
" Kata Mas Abhi kalau sampai dia tau, dia bakal menyelidiki apa benar kita udah menikah. Kalau benar, bukan nya itu akan berdampak untuk masalah ke pendidikan ke gue nantinya. Ya gue gak tau itu benar atau hanya alesannya mas Abhi, tapi yang jelas gue cuma ikutin permainan nya sampai mana permainan ini akan berakhir. Tapi mas Abhi bilang, kalau dia akan mengakui hubungan kita, di hadapan Winda itu. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Dan satu lagi, mas Abhi bilang kalau dia akan mengurus secepatnya untuk pernikahan kita. Dia tidak mau, menjadikan pernikahan ini hanya permainan. Dia bilang pernikahan itu sakral, dan akan menjalankan nya dengan serius." Cerita Indira dengan wajah berbinar, Gea pun yang mendengarnya ikut bahagia.
"Gue senang Dir, kalau Om Abhi berkata seperti itu. Dan gue bilang seperti ini, bukan berarti karena om Abhi itu om gue. Kalau om Abhi salah gue juga akan marah, apalagi sampai nyakitin elo. Dan untuk masalah tanteh Winda elo gak usah khawatir, gue yakin elo bisa atasin itu. Kalau perlu gue akan membantu elo untuk ngejelasin ke dia. kalau elo itu istrinya om Abhi, tanteh kecil gue," Kata Gea.
"Uuuuhh... Gea, sweet banget si lo."
"Iya dong, bagaimana pun elo itu best friend gue. Apalagi sekarang elo itu istri dari om gue. Jadi kalau ada orang yang ingin mengganggu hubungan kalian, gue akan maju membantu lo, melawan kejahatan, membela ke Adilan." Kata Gea dengan berdiri tegak layaknya pahlawan. Dan kemudian mereka pun tertawa bersama, melihat sikap Gea yang terbilang receh. Suara tawa mereka terdengar sampai dalam, dan itu membuat para keluarga tersenyum mendengar suara dua ABG yang berada di halaman.
"Bagaimana Abhi, kamu menikah dengan gadis belia seperti Indira?" Tanya mamah Anissa, dengan menggoda Abhimanyu.
Ada senyuman yang Abhimanyu tunjukkan ketika mengingat seorang Indira, yang selalu ada aja tingkah lucu nya jika sedang bersama nya. " Bagaimana ya, kadang Indira itu gadis yang unik. Awalnya aku menilai dia, pasti gadis bawel, manja ke kanak Kanakkan. Tapi setelah aku dekat dan kenal dia, ternyata Indira itu gadis yang berbeda. Dia itu berhasil memberikan warna pada diriku, yang selama ini aku seperti apa, kalian tau. Dan sekarang gadis belia itu bikin hidupku lebih bahagia dari sebelumnya." Ada wajah kebahagiaan yang di tunjukkan oleh Abhimanyu.
"Itulah yang mamah lihat nak, saat di Vila itu. Mamah melihat ada wajah kebahagiaan pada kamu sayang, saat melihat Indira sedang bersama teman temannya. Kamu sering menatap Indira diam diam. Perasaan orang tua tidak bisa di bohongi, kalau putra mamah sedang menyukai seseorang," Kata mamah Lidya, membuat Abhimanyu tersenyum mendengar perkataan mamahnya.
Abhimanyu hanya menggaruk kening yang tak gatal. Mendapatkan ledekan dari kakaknya itu.
"Kakak, aku hanya belum sempat ke sana. Bagaimana pun juga Indira kemarin habis sakit, dan dia juga sekarang lagi sibuk dengan kegiatan di sekolah. Belum lagi Minggu besok dia tanding basket di sekolah lain bersama dengan Gea dan teman temannya juga," jelas Abhimanyu, membuat papah Fadil mengangguk kan kepalanya.
"Ya kamu benar, kegiatan di sekolah kita sedang padat. Abhi, kamu harus siap ya, jika Dira itu menjadi murid terpopuler. Kamu tau banyak murid yang meminta Dira menjadi ketua OSIS di sekolah. Bukan hanya itu, Dira akan menjadi primadona di sekolah karena bakatnya yang selama ini dia pendam." Timpal papah Fadil, yang selama ini mendapat kabar akan bakat bakat Indira.
Abhimanyu menanggapi nya dengan anggukan kepala dan senyuman. Karena Abhi tak mau memikirkan itu, yang hanya membuat pikiran menjadi ruyam. Untuk hubungannya dengan Dira, Abhi akan melakukan perannya sebagai seorang suami, kakak dan sahabat.
Setelah makan malam bersama, di kediaman papah Arif. Seminggu kemudian, Sekolah Puspita Pertiwi, yang tak lain adalah nama tempat Indira bersekolah. Kini sekolah mereka sedang bertanding basket di sekolah SMAN*** Jakarta.
Yang di mana saat ini, Fika, Okta, putri ,Hanna dan Gea. Kini mereka sedang bermain di tengah tengah lapangan, mereka melawan pemain dari tuan rumah yaitu Sekolah SMAN*** Jakarta. Indira dan Alin menjadi cadangan, berniat mereka berdua akan di masukkan di pertandingan berikutnya.
Indira sejak tadi diam dan fokus melihat taktik permainan lawan seperti apa. Sedangkan berbeda dengan Alin, merasa gusar karena Tim nya mendapatkan skor rendah.
Di saat jam istirahat, kini saatnya Indira dan Alin pun masuk, sedangkan putri dan Fika pun beristirahat. Suasana ramai untuk menyemangati Tim Indira pun penuh dengan sorak sorak penyemangat
Indira menjadi Forward, pemain yang tugas utamanya untuk mencetak poin dengan memasukkan bola ke keranjang lawan. Sedangkan Okta, Gea menjadi Defense, tugas nya menjaga pemain lawan agar pemain lawan kesulitan memasukkan bola. Sedangkan Hanna dan Alin, menjadi Playmaker, mereka tokoh kunci permainan dengan mengatur alur bola dan strategi yang dimainkan oleh rekan-rekan setimnya.
Mereka menjadi Tim yang kompak saat berada di tengah lapangan, dengan teknik dan strategi yang mereka miliki. Dengan kekompakan yang mereka lakukan, dan akhirnya mereka berhasil menambah poin. Sampai batas waktu habis. Dan kini permainan pun di menangkan dari sekolah Puspita Pertiwi.
Mereka memenangkan pertandingan yang mengharumkan nama sekolah mereka. Dengan semangat dan kebahagiaan, rasa lelah yang mereka rasakan pun hilang dengan hasil kemenangan. Terlihat wajah Indira, Gea, Alin, dan Hanna. Mereka begitu bahagia dan ceria karena berhasil menang dalam permainan tersebut.
"Saya bangga dengan kalian, walaupun kalian kadang jarang akur di sekolah. Tapi di lapangan, kalian semua kompak untuk bertanding. Kalian hebat, dan berhasil memenangkan dan mengharumkan nama sekolah kita. Maka dari itu kita harus SEMANGAT, untuk perjalanan hidup kita kedepannya." Semuanya pun tersenyum mendengar perkataan Abhimanyu yang menunjukkan bangga kepada para murid-muridnya. Abhimanyu memberikan semangat kepada muridnya, dengan memberikan semangat agar lebih semangat. Sambil mengepalkan tangannya, dan digerakkan ke atas penuh semangat. "PUSPITA PERTIWI...."
" HEBAT... HEBAT... HEBAT... Yeeeeee.......!!!!
Di jawab oleh anak didiknya dengan tangan terkepal dan di naikan keatas penuh dengan semangat.
Sorak dari murid murid nya dengan di sertai tepuk tangan yang membuat nya lebih bersemangat. Abhimanyu pun merasa bahagia saat melihat wajah muridnya penuh dengan kebahagiaan dan keberhasilan.
Banyak teman-teman dari sekolah Puspita Pertiwi yang turut hadir melihat pertandingan. Dan saat ini mereka pun memberikan selamat kepada para pemain.