
Jika istrinya tinggal bersama keluarganya, sudah pasti ada yang menghiburnya, dan merawatnya. Bukan berarti Abhimanyu tidak ingin merawat Dira sakit, tetapi Abhi tidak ingin jika Indira kesepian dirumahnya, dan mengingat kembali kejadian yang telah membuat janinnya hilang, itu akan membuatnya sedih.
Kini, Indira sudah membuka matanya. Seluruh keluarga terlihat bahagia melihat putrinya sudah sadar. Faisal Adam dan Hanna juga berada di sana, menjenguk Dira.
Masih terlihat wajah Dira yang terkadang melamun, dan sesekali menitikkan air mata. Mama Diana merasa tak tega melihat putrinya sepeti itu.
"Mah, aku ingin pulang! Aku tidak betah disini," pinta Dira dengan tatapan sayup.
"Iya sayang, suamimu juga sedang bertanya ke Dokter. Apa kamu sudah boleh pulang atau belum?" ucap mama Diana, dan Dira mengangguk.
"Beb, elo jangan sedih terus dong! Gue jadi ikutan sedih," timpal Hanna dengan cemberut.
"Gue sedih, karena jika gue di sini, gue akan terus ingat kejadian itu yang menyebabkan gue harus kehilangan yang gue lagi tunggu." Indira kembali terisak.
"Sayang, sudah dong jangan seperti ini. Mamah semakin sedih nak melihat kamu menangis." Pinta Mama Diana yang ikut menitikkan air matanya.
Lalu datanglah Abimanyu, masuk ke ruangan, melihat istrinya yang sedang menangis. Bukan hanya itu, Hanna dan ibu mertuanya pun juga menghapus air matanya.
"Loh! Kok Mama Dira dan Hanna menangis, ada apa sayang?" tanya Abi yang merasa heran, lalu Abi mendekat ke arah istrinya. "Kamu kenapa? Kalau ada yang kamu rasakan bilang! Aku panggilkan dokter untuk memeriksa kamu."
Indira menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas, aku tidak merasakan sakit apa-apa. Hanya saja aku ingin pulang! Jika aku di sini, maka aku akan terus teringat dengan kejadian itu," Jawab Dira, membuat Abhi, semakin merasa tak tega melihat istrinya
"Ussssttt!" Abhimanyu meletakkan jari telunjuknya pada bibir Dira. " Aku sudah bilang ke Dokter, katanya Dokter sendiri yang akan memeriksa kamu kembali. Jika kamu sudah lebih baik, kamu boleh pulang secepatnya. Tapi jika sebaliknya, kamu harus tetap disini, Oke!" jelas Abhi, Indira mengangguk.
Terdengar panggil telpon masuk di handphone Abhimanyu, terlihat nomor tanpa nama yang menghubunginya.
Abhi menoleh ke arah istrinya. "Sebentar ya sayang! Aku angkat telpon sebentar," Indira mengangguk.
Kini Abhimanyu sedang menerima telpon di luar kamar Dira dirawat.
"Hallo. Bagaimana sudah dapat informasi siapa pemilik mobil itu?" tanya Abhi ke penelpon itu.
Setelah orang di sebrang mengatakan sesuatu tentang pemilik mobil yang menabrak Dira dan Gea. Wajah Abhimanyu seketika memerah tersulut emosi, tangannya terkepal.
"Sekarang kamu urus dia! Saya akan kesana secepatnya, pastikan dia jangan lolos. Terus awasi dia!" Abhimanyu dengan emosi segera menutup telponnya.
Saat Abhimanyu berbalik badan, bertapa terkejutnya saat melihat Faisal kini ada di hadapannya.
"Kenapa loe terkejut?" tanya Faisal. "Sepertinya elo sedang emosi? Terus, yang elo maksud terus awasi dia, siapa Ndra?" tanya Faisal menatap Abhimanyu dengan tatapan menyelidik.
Abhi bingung harus mengatakan apa, karena Faisal memberikan pertanyaan beruntun kepadanya.
"Apa yang loe maksud itu, orang yang menabrak adik gue?" Katakan Ndra, jangan diem aja!" Faisal melihat wajah Faisal yabg terlihat menahan emosinya.
Abhimanyu mengangguk. "Lebih tepatnya, seseorang yang di suruh menabrak Indira." Jawab Abhi.
"Apa! Jadi ada yang nyuruh nabrak Dira? Brengsek! Siapa yang melakukan hal seperti itu?" Faisal dengan terlihat emosi.
Tanpa mereka sadari Hanna mendengar pembicaraan Abhi dan Faisal.
"Jadi orang yang sudah menabrak Dira dan Gea sudah ditemukan Ka Ical?" tanya Hanna, dan itu membuat mereka terkejut mendengarnya.
Faisal menoleh, dan terkejut kalau kekasihnya mendengar pembicaraannya.
"Sayang. Kamu ngapain disini?" tanya Faisal, mendekati Hanna dengan perasaan bingung ingin menjawab apa.
Abhimanyu dan Faisal saling melihat satu sama lain, Hanna tau itu.
"Katakan, apa orang yang sudah menabrak Dira sudah di temukan?" tanya Hanna, dan Faisal hanya diam. "Kak Ical. Jawab dong jangan diam aja!"
"Iya Hanna, dan sekarang saya mau ke sana." Jawab Abhi,sambil memasukkan handphonenya ke dalan saku celananya.
"Gue ikut elo Ndra." Ucap Faisal, dan Abhi mengangguk.
"Hanna juga ikut dengan kalian!" pinta Hanna Abhi dan Faisal saling menatap.
"Tapi sayang, kamu temani Dira di sini saja!" jawab Faisal, yang tak memperbolehkan Hanna ikut.
"Gak mau! Aku mau tau siapa orang yang sudah membuat dua sahabatku terluka," kekeh Hanna.
Faisal menoleh ke arah Abhi, dan menganggukkan kepalanya sekali, bentuk isyarat. Abhimanyu yang mengerti, dan setuju.
"Yasudah kamu boleh ikut," jawab Abhi mengizinkan Hanna ikut.
Hanna tersenyum setelah di perbolehkan ikut dengan Faisal dan Abhi. Hanna sudah merasa geram ingin memberikan sedikit pelajaran kepada seseorang yang telah mencelakai sahabatnya.
Setelah berpamitan dengan Dira dan keluarganya kini mereka sudah berada di dalam mobil. Abhimanyu memberikan alasan ingin beristirahat sebentar, sedangkan Faisal bilang ingin mengantar Hanna.
Kini Abhimanyu menghentikan mobilnya di sebuah rumah, bercat abu-abu berpagarkan hitam. Saat mereka masuk, ada seorang perempuan diikatkan di kursi dengan tali di lilit di badannya, serta lakban hitam yang menutupi mulutnya.
Faisal tercengang melihat siapa yang ada dihadapannya itu ternyata Winda.
"Winda," ucap Faisal saat mengenalinya.
"Kamu, bukankah kamu yang waktu itu ikut gabung dengan aku dan Dira, 'kan?" tanya Hanna yang kenal dengan Winda.
Faisal dan Abhi terkejut mendengarnya, kalau Hanna juga kenal dengan Winda.
"Oh! Jadi elo, yang udah menyuruh seseorang untuk mencelakai dua sahabat gue! Dasar cewek gak punya perasaan!" maki Hanna, dengan tersulut emosi.
PLAAK!
Winda mendapatkan sebuah tamparan kencang dari Hanna, hingga meninggalkan tanda merah di wajahnya.
"Pantasnya cewek kaya elo, harus mendekam di penjara! Karena udah punya rencana mencelakai Sahabat gue. Gara-gara elo, Indira sampai kehilangan calon anaknya, dan Gea cidera!" Dengan emosi Hanna menjambak rambut Winda sampai berteriak kesakitan.
"Hanna sudah cukup! Jangan mengotori tangan kamu, dengan menyentuh dia!" kata Abhi dengan tatapan marah kepada Winda.
"Winda, kenapa elo lakuin itu ke adik gue? Dia adik kesayangan gue!" kata Faisal dengan merasa geramnya. "Winda yang gue kenal, dia baik, dewasa, menyelesaikan masalah dengan kepala dingin."
"Aku gak tau Sal, kalau dia itu adikmu. Yang ku kenal dia itu keponakan Rendra." Jawab Winda dengan jujur.
"Aku gak terima, kalau gadis itu menjadi milik kamu Ndra. Aku tidak rela, jika Dira jadi istri kamu." Teriak Winda dengan penuh emosi.
"Kamu gak rela, aku menikah dengannya. Alasan kamu apa, bisa mengatakan itu! Bukannya hubungan kita berakhir sudah lama, sebelum aku mengenal Dira. Dulu kamu hanya memikirkan diri sendiri, kamu meninggalkan aku, kamu juga selingkuh di belakangku. Untuk apa aku melanjutkan hubungan kita kembali, sedang Indira dia gadis baik yang bisa menghargai orang lain." Kata-kata yang di katakan Abhimanyu membuat Winda menangis.
"Aku sudah cukup sabar, dengan sikap kamu Winda. Aku sudah peringatkan kamu! Untuk tidak mengusik rumah tanggaku, ataupun melukainya. Tapi justru kamu membuatnya terluka, dan bahkan sampai kehilangan calon anak kami." Saat mengatakan itu, mata Abhi memerah.
"Ndra, maafkan aku!" Winda menangis meminta maaf.
"Penjahat kaya elo, gak pantas di maafkan!" teriak Hanna. " Orang jahat macam elo, nantinya akan meresahkan banyak orang. Penjara adalah tempat yang layak untuk elo, cewek licik.!" hardik Hanna.
Hanna sudah terlihat emosi, saat mengetahui Winda yang sudah melakukan perbuatan jahat kepada sahabatnya. Kalau tidak dipegangi Faisal, mungkin dirinya akan membuat gadis di hadapannya babak belur.
Bersambung
...Jangan lupa tinggalkan jejak 👍 kalian, terimakasih 🙏🙏...