My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Curhatan Faisal



"Sayang, aku mau ke restoran dulu ya? Mau cek sebentar, sejak kita mengurus pernikahan, aku gak ke sana. Sekarang aku cek dulu ya, aku cuma sebentar ko." Ucap Abhi dan indira menganggukkan kepalanya.


"Ya udah sana loe, gue mau ngobrol sama adik gue. Semenjak dia sama elo, gak ada teman curhat gue dirumah!" dumel Faisal, membuat Indira mencubit tangan kakaknya.


"Aaww ... akit dek! enggak lakinya, enggak istrinya. Heran suka banget jitak sama cubit orang." Protes Faisal,membuat Abhimanyu dan Dira terkekeh mendengarnya.


"Mangkanya cari istri! Umur udah berapa woy!" Sindir Abhi, membuat Faisal malas mendengarnya.


Memang sebenarnya, Faisal ke rumah Indira, karena mamanya selalu menanyakan gadis mana yang akan dikenalkan untuk dijadikan istri. Setidaknya dengan Faisal melarikan diri, membuat otaknya bisa berpikir kembali.


"Berisik loe, dasa ipar gak punya akhlak. Kakak ipar masih bisa di ledek, kualat loe!" cerocos Faisal.


"Yasudah Mas, kamu hati-hati ya. Pulangnya jangan lupa bawakan makanan untuk aku!" pinta Dira, Abhi mengangguk. Sedangkan Faisal mencebikkan bibirnya dan memutar bola matanya, merasa jengah melihat sepasang pasutri itu menunjukan ke uwuhannya didepannya.


"Iya sayang, nanti akan bawakan makanan untuk kamu." Indira pun mengangguk. " Yasudah, Mas berangkat dulu ya?" Abhimanyu mencium pipi dan bibir Dira.


Sengaja dia melakukan itu di depan Faisal, biar jiwa jomblonya meronta-ronta. Abhi tersenyum melihat kakak iparnya, terlihat bete.


"Mangkanya Kakak ipar, selagi ada gadis baik, lucu, cantik, yang mengejar. Jangan pernah disia-siakan, harus di kejar, kalau dia pergi jangan sampai Kak Ical menyesal loh!" bisik Abhimanyu, yang sedikit menyindir Faisal.


"Apa maksud elo, pria bucin?" tanya Faisal.


"Sudah-sudah! Ka Ical, dan Mas Abhi kenapa kalian berdua jadi sering berdebat sih!" kata Indira dengan rasa kesalnya.


Abhi dan Faisal pun saling memberikan senyuman dan merangkul.


"Kami berdua sudah tidak berdebat lagi ko dek." Kata Faisal dengan tersenyum.


"Iya sayang, yasudah sekarang Mas berangkat dulu ya?" ucap Abhi mengakhiri meledek iparnya.


Cup!


Abhimanyu mengecup pipi istrinya.


"Gue titip Indira ya Kakak ipar yang jomblo." Setelah mengatakan itu, Abhi langsung berjalan meninggalkan Faisal tanpa rasa bersalah.


Sedangkan Faisal terlihat kesal, temannya yang kini menjadi ipar, berhasil mengejeknya.


Indira melirik kakaknya, dengan tersenyum.


"Kakak ada apa, tumben kesini gak bilang aku dulu?"tanya Dira,ke kakaknya.


"Bete di rumah!" jawabnya Faisal.


"Iih bete kenapa sih Ka ... ? tanya Indira kembali." Yuk masuk!" ajak Indira yang melangkah kedalam di ikuti oleh Faisal di belakang.


Faisal kini duduk di sofa, dengan bersandar. Indira membuatkan kopi, dan membawa cemilan untuk kakaknya.


"Ini untuk kakakku yang tersayang." Sambil meletakkan cangkir kopi dan cemilan.


"Terimakasih dek! Beruntungnya pria bucin itu menikahi kamu, selalu di buatkan kopi sama kamu." Kata Faisal,dengan cemberut.


"Sebulan ini sudah gak lagi Dek. Kata mama, kakak di suruh cepat mencari istri."Jawab Faisal, membuat Indira tersenyum, mendengarnya. "Mama kira mencari istri itu, seperti membeli permen kopi di warung. Beli 1000 dapat empat! Pusing kakak jadinya." Sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut.


"Mangkanya Ka, segera cari gadis yang kamu suka! Sekarang Kakak sudah punya gadis yang buat di kenalkan mama dan papa?" tanya Dira.


"Belum Dek! Waktu itu sempat dekat dengan seorang gadis yang di kenalkan teman kakak. Saat kami mulai dekat, gadis itu justru dimutasi dari kerjaannya, ke pulau Jawa. Ya ampun Dek, kesel gak sih!"


"Ya ampun Kak, sabar ya." Ucap Dira,sambil menepuk pundak kakaknya. " Sekarang belum ada lagi, yang dekat dengan Kakak?"


Faisal menggelengkan kepalanya. "Kamu tau Dek, Kakak mau di jodohkan sama mama. Kalau dalam waktu enam bulan ini, aku belum mendapatkan gadis yang bisa aku bawa dan aku kenalkan ke mama. Terpaksa kakak harus menerima kenyataan itu Dek." Terlihat wajah lesunya.


Indira merasa tak tega melihat Faisal yang dia kenal sosok kakak yang ceria, kini terlihat ketika kusut.


"Maaf ya Ka, bukanya aku memojokkan kakak. Tapi kenyataannya kamu itu, tidak peka dengan keadaan di sekitar kamu."


"Tidak peka gimana sih Dek? Kakak heran deh?"


"Begini Kak Ical sayang. Ada gadis yang jatuh cinta sama Kakak, tapi kamu gak sadar itu Ka." Kata Indira dengan gemasnya.


'Kenapa jiwa ngeselinnya gak ilang sih'. gumam Dira dalam hatinya.


"Kakak paham, yang kamu maksud itu siapa? Hanna, 'kan?" tebak Faisal, Indira mengerutkan keningnya. "Udahlah gak usah bohong! Justru itu yang membuat kakak datang kesini."


"Maksudnya Kakak?" tanya Indira


"Begini dek, kakak tuh ingin curhat sedikit sama kamu! Kakak paham dari ucapan kamu itu mengarah ke Hanna." Tebak Faisal


"Bagus deh, kalau Kakak paham!" jawab Dira dengan ketus.


"Tapi sekarang Kakak heran deh, dengan teman kamu itu! Agak sedikit berubah?"


"Berubah bagaimana maksud Kakak?"


"Yang kakak kenal, Hanna sosok gadis periang, dan selalu terlihat ceria. Bahkan jika setiap kali kakak ajak jalan, dia nggak pernah bilang tidak mau. Tetapi kenapa akhir-akhir ini, dia sedikit menjaga jarak ya dengan ku, ya?"


"Menjaga jarak? Mungkin itu hanya perasaan Kakak aja kali." Jawab Dira


" Bukan cuma perasaan aku aja Dir! Sekarang dia kalau bicara seperlunya, dan menjaga jarak dengan kakak. Selain itu, Hana yang aku kenal, tidak gampang untuk dekat dengan pria. Tetapi kemarin di pernikahan kamu, dia bicara dengan tamu undangan laki-laki yang baru di kenal." Terlihat ada wajah kekecewaan pada Faisal.


"Kakak cemburu, melihat Hanna dekat dengan laki-laki lain?' tanya Dira dengan tatapan menyelidik.


"Bukan cemburu, hanya sedikit heran aja." ucap Faisal mengelak kalau dirinya tak suka jika Hanna dengan pria lain.


Indira mencebikkan bibirnya, meledek Faisal. "Oh ya! Tadi Kakak bilang, kalau sering ngajak Hanna jalan. Kok aku nggak tahu ya, kalau kakak sering jalan sama dia, sejak kapan?" tanya Dira kembali.


Faisal tersenyum mendengar pertanyaan adiknya. "Hehehe ... sebenarnya kakak mulai dekat dengan Hana, semenjak kamu dibawa oleh suami kamu. Makanya setiap aku ingin jalan keluar, aku chat dia! Ternyata dia asik orangnya, kami sering berbagi cerita. Kakak juga sering ngajak dia jalan, nonton, makan bareng, kadang ngajak jogging. Ya ... seperti aku ngajak kamu Dir." Cerita Faisal, ada senyuman saat mengingat Hanna.


"Temanku itu asyik-asyik kalau di ajak cerita atau curhat. Oh iya? Kakak nggak cerita 'kan kalau Kak Ical sedang dekat dengan gadis lain. Cewek yang katanya di mutasi ke pulau Jawa itu?" tanya Dira dengan rasa kepo nya.


Faisal mengingat-ingat kembali, apakah Hanna, atau dirinya pernah bercerita tentang masalah itu. Indira merasa geram dengan sikap kakaknya. Padahal tanpa Faisal memberitahu, Hanna sudah menceritakan, kebodohan kakaknya itu .