My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Isi hati Faisal



Mendengar Papa Beni mengatakan itu, hatinya sedikit tercubit. Sebenarnya beberapa minggu ini, pikirannya sedang kalut akan bayang-bayang Hana, yang selalu hadir di dalam mimpinya, dan di pikirannya. Apa mungkin dirinya mulai menyukai Hana, Faisal masih nampak berpikir-pikir, kalau dirinya memang sudah menyukai Hanna.


Perasaan Faisal sungguh dibuat kalut, dan tak tenang akan bayang-bayang Hanna. Apa yang dikatakan Papa dan adiknya itu sungguh terngiang di kepalanya, membuatnya menjadi tak tenang.


Malam harinya, Faisal keluar rumah mengendarai motor, entah kemana tujuan, para keluarga pun tak tahu. Karena Faisal terlihat tergesa-gesa bahkan dia juga menggunakan jaket dan helmet.


Tepat didepan rumah rumah, berpagar krem, motor Faisal pun berhenti. Dirinya menghubungi seseorang dengan pandangan ke arah lantai dua.


"Sekarang aku ada di depan rumah kamu, aku tunggu kamu keluar ya !" itu yang dikatakan Faisal, dan tidak lamanya keluarlah gadis yaitu Hanna.


Faisal tersenyum saat melihat Hanna keluar dari rumahnya.


"Kak Icha kakak ngapain malam-malam di sini? Terus pakai menyuruh aku keluar, ada apa memangnya?" jawab Hanna dengan ketus.


Mendengar Hanna berkata ketus seperti itu ada kesedihan yang dia rasakan. Namun Faisal tetap memberikan senyuman kepada gadis di hadapannya itu.


"Sudah, jangan banyak tanya, sekarang pakai ini!" Faisal memberikan helmet kepada Hanna.


"Mau ke mana Ka? menyuruhku pakai Helem segala." Hanna terlihat malas memakainya, namun dengan sigap Faisal memakaikan helem itu di kepala Hanna.


"Sudah ikut aja! Aku ingin ngajak kamu ke suatu tempat, untuk bicara hal penting berdua, hanya sama kamu. Tanpa ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita!" jawab Faisal dengan mencubit ujung hidung Hanna.


Faisal pun menyalakan mesin motornya, dan Hanna menuruti apa yang di katakan Faisal untuk baik di atas mesin beroda dua.


"Jangan lupa pegangan, kalau jatuh Kakak gak tanggung loh!Cuma bisa jawab aja," goda Faisal.


Akhirnya Hanna pun berpegangan di jaket yang dia gunakan. Saat itu juga Faisal menarik tangan Hanna, agar melingkar dan berpegangan di perutnya.


Faisal tersenyum saat gadis yang di boncengnya menurut tanpa protes dengan ucapannya. Begitupun juga Hanna, tersemat senyuman di bibirnya, dan pria di hadapannya pun tau.


"Kayanya ada yang tersenyum?" goda Faisal, membuat Hanna pun menghentikan senyumannya dan sekarang tanpa ekspresi.


40 menit perjalanan Faisal mengendarai motornya. Kini mereka sudah sampai di suatu tempat yang dimana Hanna pun tak tau tempat yang di bawa Faisal saat ini.


Hanna melihat sekeliling, tempat yang sepi, sunyi, hanya ada cahaya bintang dan bulan yang menerangi tempat itu. Bagi Hanna pemandangan itu cukup romantis untuknya.


'kenapa Ka Faisal mengajak tempat seperti ini? Apa yang ingin di katakan olehnya, sampai membawaku kesini.


Hanna dibuat terkejut, saat Faisal menggandeng tangannya, dan membawanya ke atas bukit. Lagi-lagi dirinya di buat takjub dengan apa yang di lihat dari tempat itu, lampu yang menerangi seluruh jalan ibu kota, nampak indah.


"Bagus Ka, ini pertama kalinya aku melihat pemandangan cantik dari atas bukit," jawab Hanna, Faisal pun kembali tersenyum mendengarnya.


Namun tiba-tiba Hanna mengingat kalau dirinya sedang mendiami pria di sampingnya.


" Sekarang apa yang ingin dikatakan Kakak, setelah sampai tempat ini?"


"Kakak dengar, kamu akan kuliah di Surabaya? Aku cuma ingin menunjukkan tempat ini, ke kamu sebelum kamu berangkat." Ucap Faisal, dan itu membuat Hanna tersenyum kecut.


Karena sebenarnya bukan kata ini, yang ingin Hanna dengar dari pria di sampingnya. Namun nyatanya dirinya terlalu berharap kepada laki-laki yang membuatnya jatuh hati, justru dia hanya memberikan sayatan dihatinya.


"Ya sudah, karena Kakak sudah mengajak aku kesini, dan aku juga suka dengan tempat ini. Sekarang kita pulang ya!" ajak Hanna, yang hendak membalikan badannya.


" Sebenarnya bukan hanya tempat ini yang ingin aku beritahu. Tetapi ada hal yang lainnya juga, yang ingin aku katakan sama kamu."Kata Faisal, membuat Hanna menghentikan langkahnya.


"Apa?" tanya hanya dengan singkat.


"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Saat ini aku sedang memikirkan seorang gadis yang membuatku akhir-akhir ini menjadi tak tenang. Aku sadar, kalau aku sudah membuatnya terluka. Tetapi aku juga tidak ingin dia pergi jauh, aku ingin dia tetap berada di sini!" ucap Faisal, membuat mata Hanna terpejam tak ingin mendengarnya.


Seketika bulir air mata pun berhasil lolos, dan Hana segera menghapusnya. Berusaha kuat untuk mendengar dan mencoba tersenyum.Karena posisi Hanna masih membelakangi Faisal jadi dia tak tahu kalau gadis di hadapannya menangis.


"Kalau seperti itu, Kakak harus perjuangkan, dan segera katakan perasaan Ka Ical dengan gadis itu! Sebelum gadis itu pergi, dan kamu tidak bisa mengutarakan isi hati sama dia." Kata Hanna, dengan sekuat tenaga, menahan rasa sakit yang dia rasakan.


"Sudah. Kakak sudah mengatakannya kepadanya, dan sekarang aku berharap gadis yang ada di hadapan aku , tidak pergi jauh meninggalkanku di sini seorang diri."


Hanna tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Faisal, kalau gadis yang dimaksud itu ternyata dirinya.


Hanna segera menoleh kearah Faisal, dan ternyata laki-laki itu berada di hadapannya, dan sedang memberikan senyuman.


"Mak_ _ maksud Kakak, gadis yang Kak Ical itu, aku?" tanya Hanna dengan tak percaya, Faisal mengangguk dan tersenyum.


"Gadis yang ku maksud itu, kamu Hanna! Kamulah yang akhir-akhir ini membuatku gelisah dan tak tenang. Aku sadar kalau memang kamu yang berhasil membuatku takut segalanya." Ungkap Faisal.


Ungkapan isi hati Faisal membuat Hanna tak percaya mendengarnya, disisi lain hati merasa bahagia. Ternyata cintanya terbalaskan.


Bersambung