
Indira pun hanya tertawa mendengar Gea bicara, karena meledek dirinya. Karena memang seperti itulah, setiap kali Abhimanyu mengajar Indira diam diam selalu menggoda nya.
Saat sedang tertawa, Gea tiba tiba kebelet ingin biang air kecil. "Beb, gue tinggal sebentar ya. Gue mau pipis kebelet banget,!"
"Ya udah sana, kelamaan nanti elo beser do sini, gelay deh." Jawa Indira dengan kedua pundaknya bergidik geli.
"Rese Lo, ywdah gue masuk dulu ya ," Gea pun berlari masuk ke dalam, Indira hanya menggelengkan kepalanya saja.
Tiba tiba saja Indira mendengar suara seseorang berdehem. Ekhem... Indira pun menoleh dan melihat ternyata ada Gilang di belakangnya.
"Ka Gilang,"
Gilang pun tersenyum dan kini hanya ada Indira dan Gilang yang ada di halaman itu.
"Aku minta maaf ya, atas kejadian waktu hari itu di pantai." Gilang menunjukan rasa bersalahnya.
"Iya Ka, aku juga minta maaf sama kamu. Aku tidak tau akan perasaan kamu, aku merasa...." Indira menggantung kan pembicaraan nya.
"Uuuusssssttttt.... Jangan katakan lagi, kamu tidak salah ko, di sini akulah yang salah. Aku tidak mau melihat kamu sedih seperti kemarin, karena bagiku itu sangat menyakitkan"
"Tapi aku sudah membuat Kakak kecewa." Kata Indira dengan raut wajah karena merasa bersalah. "Apa Kakak menerima permintaan untuk di mutasi karena ingin menghindari aku dan Om Abhi.?"
Gilang diam, tak menjawab. Mungkin itulah salah satunya, kenapa Gilang menerima mutasinya untuk ke Palembang.
"Kenapa Kakak diam saja, berarti benar kan apa yang aku katakan. Kalau kamu hanya ingin menghindar dari keadaan?"
"Mungkin salah satunya itu benar. Tapi ada hal yang lain kenapa aku menerima itu," Indira menatap ke arah Gilang. "Dek, kamu tau aku di sini itu hanya apa.? Aku hanya anak yang bukan terlahir dari rahim mamah, meskipun begitu aku sangat sayang dengan mereka semua. Dan aku ingin membuktikan kepada mereka, kalau aku bisa sukses dengan kerja keras ku sendiri. Aku ingin membanggakan Papah, Mamah dan semuanya, tanpa mereka aku bukan apa-apa. Aku hanya ingin membuktikan kemampuan ku sekarang, ada peluang di depan mata untuk apa kalau tidak di ambil. Jadi bukan karena seutuhnya aku ingin menghindar dari kamu dan Om. Jujur dari lubuk hatiku, aku masih belum rela untuk melihat kalian berdua, dan aku merasa egois untuk itu semua. Mungkin saja dengan seiringnya waktu, aku bisa merelakan kalian bahagia. Dan menerima kamu sebagai Tanteh kecilku, jadi aku harap kamu jangan merasa bersalah ya. Maafkan aku yang harus menunjukan sikap buruk ku kemarin, di hadapan kamu. Jadi aku mohon kamu jangan menangis seperti ini, itu akan terlihat jelek kalau di lihat." Kata Gilang sambil menghapus air mata Indira . "Kakak janji, kita masih bisa temenan lagi. Jadi jangan merasa bersalah ya Tanteh kecilku." Sambil mengarahkan jari kelingking nya ke arah Indira, dengan senyuman khasnya Gilang.
"Janji ya Ka?" tanya Indira yang menyambut jari kelingkingnya, sebagai bentuk simbol perjanjian.
"Iya kakak janji. Satu lagi ya, Do'akan kakak di sana semoga bisa menjalankan aktivitas di sana dengan lancar. Do'akan aku juga semoga mendapatkan gadis baik, sebagai pengganti kamu ya?"
"Pasti Ka, semoga kakak mendapatkan gadis baik untuk menjadi kekasih kakak," jawab Dira dengan senyuman.
Tanpa mereka sadari sejak mereka berbicara ada orang lain mendengar nya, orang itu adalah Abhimanyu. Meskipun rasa cemburu yang saat ini dia rasakan, tapi Abhi berusaha tenang dan masih mendengar percakapan antara Gilang dan Indira.
'Kenapa aku merasa bersalah kepada Gilang,' Batin Abhimanyu.
Bukan hanya itu, Indira juga masuk ke dalam kamarnya sendiri bukan ke kamar Abhi, yang di mana kamar itu sudah menjadi milik mereka berdua. Abhimanyu pun juga tidak memperdulikan Indira untuk masuk ke kamar miliknya. Indira sedikit kesal dengan sikap Abhi yang mendiaminya sejak pulang dari rumah Gea.
Keesokan paginya.
Abhimanyu kini sedang berjoging di luar, yaitu sebuah taman yang cukup luas, yang di mana tempat itu biasa di jadikan tempat joging untuk semua orang. Abhimanyu berolahraga sampai lupa waktu, namun saat hendak pulang, tiba tiba ada yang memanggil dirinya. Abhimanyu pun menoleh, ternyata dia adalah Winda dan juga teman lamanya yang bernama Niko.
"Woy... Ndra. Akhirnya gue ketemu elo juga di sini?" Kata pria teman lama Abhi bernama Niko.
"Wahahaha... Niko sobat gue, udah lama banget gak ketemu. Kalian ko, bisa barengan. Kalian janjian ya?" Tanya Abhi menukik ke arah Winda dan Niko.
"Iya gue lain main ke rumah Om gue, dan kebetulan gue pernah ingat, kalau rumah saudara nya Winda masih di sekitar rumah Om gue. Yaudah gue telpon dia, ternyata pas banget dia lagi main di rumah saudara nya. Gue ajak aja joging pagi, dari pada dia tidur." Celetuk Niko, membuat Winda melototi Niko. Dan Abhimanyu pun tertawa melihat kelakuan Niko yang masih bertingkah receh.
"Ndra, Niko, kita ngobrol dulu yuk.! Mumpung kita lagi bertemu di sini. Kamu lagi gak sibuk kan Ndra?" Tanya Winda.
"Iya bro, gue pengen ngobrol sama elo nih. Kita ngopi-ngopi dulu yuk,! di mana ke ,warkop juga boleh. Tapi kira kira di sini ada warkop gak?" tanya Niko melihat keliling taman.
"Di sini gak ada, tapi di depan jalan sana biasanya ada mas bro. Tapi warkop biasa, bukan cafe tempat nongkrong ABG," jawab Abhi.
"Gak apalah lah, yang penting ngopi Kang, biar gak oleng. Hahahah...." Ucap Niko dengan tawa ngakak nya.
Abhi hanya tersenyum melihat kelakuan teman lamanya itu, yang receh.
Dan akhirnya mereka pun mengobrol di sebuah Warkop, yang tak jauh dari taman itu. Yang di mana Warkop itu memang biasa buka di pagi hari di waktu weekend saja, di hari biasa Warkop itu buka sore hari sampai malam.
Kini Abhimanyu pun asyik mengobrol dengan Winda dan Niko, sampai Abhi lupa waktu, kalau dirinya juga sedang di tunggu oleh seseorang di rumah nya. Sampai waktu pun menunjukan pukul setengah 11, dan itu pun Abhi melihat di handphone milik nya ketika ada pesan masuk dari Faisal.
✉️ "Ndra, hari ini ulang tahun pernikahan Papah dan Mamah. Elo sama Dira di suruh datang, kita ingin makan makan di luar. Kalau bisa kalian nginep ya, soalnya Papah ingin ngajak liburan ke suatu tempat. Mumpung masih liburan, kata nyokap bokap gue.
Abhimanyu teringat jika Indira di rumah sendirian. Abhi pun melihat jam di handphone nya.
'Astaga, Indira di rumah. Ya ampun masalah besar ini, Indira bisa bisa merajuk kaya gini.' Gumam Abhimanyu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..