
Tiga hari kemudian Hanna sudah di perbolehkan pulang dengan membawa putra mereka yang di beri nama Azzam Mahendra.
Rumah papa Benny menjadi ramai mendengar suara tangis bayi yang membuat suasana rumah menjadi berwarna.
Belum lagi di tambah anak Dira yang kini semakin pandai bicara, bertapa bahagianya mama Diana dan papa Benny berkumpul dengan dua cucunya.
Dua bulan kemudian, di kediaman mama Anissa dan papa Fadil mereka sedang menyiapkan untuk acara pernikahan Gea dan Yoga. Yang akan di selenggarakan tiga hari kemudian di gedung sekolah.
Di mana hari ini adalah acara yang di nantikan para keluarga khususnya calon pengantin yoga dan Gea. Terlihat gedung sekolah yang disulap menjadi istana, oleh tim Wedding organizer.
Pastinya kedua pengantin pun terlihat memancarkan wajah kebahagiaan. Seperti saat ini, Yoga dan Gea yang sudah Sah menjadi pasangan suami istri, sedang duduk di kursi pelaminan.
Yoga menggunakan setelan jas berwarna tosca, terlihat nampak gagah. Serta Gea nampak cantik dan anggun dengan gaun warna senada dengan pengantin pria. Membuat keduanya bagaikan pasangan putri dan raja.
Yoga sejak tadi menatap Gea yang seperti boneka Barbie.
"Kamu kenapa sih, ngeliatin terus?" tanya Gea, menjadi salah tingkah.
"Kamu cantik banget sayang. Aku jadi gak sabar menunggu acara ini selesai," gada Yoga, dengan senyum menggoda.
Gea melotot menetap Yoga, sedang pria di sampingnya hanya terkekeh.
Gilang yang memang mengambil cuti untuk acara pernikahan adiknya, terlihat bahagia. Namun tatapan matanya mengarah ke arah dua orang gadis di sebrang sana, yaitu Alin dan Dira.
Lalu Gilang juga nampak heran melihat seorang pria datang menghampiri Alin.
"Bukankah dia Aldo, yang pernah berpacaran dengan Dira saat itu? Terus apa dia sekarang bersama Alin?"
Gilang dapat melihat Alin begitu bahagia bersama Aldo, sedangkan Dira ikut berkumpul dan tertawa bersama mereka. Sedangkan dirinya melihat om nya tidak cemburu sama sekali melihat kedekatan istrinya dengan seorang yang pernah menjadi masalalu istrinya.
Gilang pun menghindar dan berjalan menuju belakang gedung, dan duduk di sana menenangkan pikirannya. Ia melihat foto di dalam galerinya, entah kenapa dirinya begitu sangat menyukainya.
"Mau sampai kapan sih memandangi wajahnya secara diam-diam seperti itu!" suara seseorang membuatnya terkejut mendengarnya, dan segera menutup handphonenya.
"Alin, kamu di sini?" tanya Gilang dengan gugup, dan tersenyum. Karena tertangkap basah.
"Mau sampai kapan kamu seperti itu, menyukai seseorang yang kini menjadi tante kamu sendiri?" tak ada jawaban dari Gilang. "Jujur aja, aku sebagai sahabat Dira gak suka sama cara kamu ini. Kalau bisa buang saja perasaan kamu ini Lang. Ini akan jadi racun untukmu sendiri, bahkan untuk semua orang."
"Ya kamu memang tidak menghalanginya, tetapi hati kamu Lang yang memberikan pagar untuk seseorang meletakkan hatinya. Itu yang membuat kamu sulit untuk move on darinya.
"Tenang saja aku akan berusaha melupakannya. Aku akan berusaha lebih menjauhkan diriku dari sini," gumam Gilang, membuat Alin terkekeh mendengarnya.
"Mau seberapa jauh lagi si Kak. Kayanya memang benar-benar kamu harus menutupi hati kamu dari Dira. Aku gak kebayang, jika mama Anissa atau Bu Lidya tau. Kalau kamu masih suka dengan wanita yang kini berstatus menjadi tante kamu!" terlihat Alin sudah mulai kesal. "Berhati-hatilah Kak, urusannya akan panjang dan kacau nantinya!"
Dengan nada ancaman, Alin meninggalkan Gilang yang masih duduk termenung. Tanpa Gilang sadari, Dira pun mendengar pembicaraan mereka.
'Ya Tuhan, ternyata dia masih menyimpan rasa kepadaku. Aku tidak ingin ini akan jadi Boomerang, nantinya untuk keluarga ku.'
Ada kekhawatiran di rasakan Dira. Saat Gilang hendak meninggalkan tempat itu, alangkah terkejutnya saat melihat Indira.
"Dira kamu di sini?" tanyanya dengan gugup.
"Mau sampai kapan? Kakak berbohong dan melukai hatimu sendiri seperti ini. Aku tidak ingin kalau sampai keluarga tau, akan perasaan kamu ini. Jadi selama ini apa yang kamu katakan tentang gadis bernama Erika itu tidak benar, jadi apa yang di katakan Alin betul, kalau kamu masih ..." Indira tak melanjutkan pembicaraannya.
"Aku sangat kecewa sama kamu Kak!"
Setelah mengatakan itu, Indira pergi entah kemana. Sedangkan Gilang termenung melihat Dira sudah kecewa kepadanya.
Flashback
Ketika Indira melihat Alin meninggalkan Aldo, Dira pun menghampiri keluarganya. Karena merasa tak nyaman jika masih mengobrol dengannya.
Karena kepalanya terasa pusing, sejak pagi banyak tamu yang mengajaknya mengobrol, sampai lupa harus mengisi perutnya. Akhirnya Indira memutuskan untuk mengambil makanan, namun saat itu, dirinya melihat Alin sedang berbicara dengan seseorang. Karena penasaran ia pun mengurungkan niatnya, dan menghampiri mereka berdua, secara diam-diam.
Bertapa terkejutnya, saat mendengar pembicaraan mereka berdua. Yang mengatakan Gilang masih menyukainya.
Flashback of.
Saat ini Indira sedang bersembunyi di suatu tempat.
"Aku tidak tau, kalau dia sebegitunya menyukaiku. Aku jadi merasa bersalah, karena aku dia sampai menutup hatinya untuk setiap gadis. Aku takut kalau sampai keluarga tau, ini juga akan berdampak untuk hubungan ku dan mas Abhi." Dira berbicara seorang diri, dengan meratapinya.
Kini di tempat acara, Abhimanyu mencari-cari istrinya, yang sejak tadi tak terlihat. Hampir satu jam, dirinya tidak melihat Dira, dirinya sangat khawatir. Karena sejak tadi, Dira bilang tubuhnya kurang sehat.