
Perawat itu kini sudah meninggalkan Indira dan Abhimanyu. Dira masih enggan melihat ke arah Abhi, yang saat ini sedang menatapnya. Dirinya tidak bisa jika istrinya mendiaminya, dan itu akan membuatnya menderita.
"Sayang," panggil Abhi dan menyentuh tangan Dira.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Kenapa setiap kali kamu melihatku, selalu menangis?" tanya Dira, dengan menatap wajah Abhimanyu. "Katakan Mas! Aku ingin tau!" pinta Indira.
"Kamu janji, harus kuat mendengarnya! Jujur aku sendiri juga tak kuat menerima kenyataannya." Pinta Abhimanyu, dan Indira mengangguk.
Abhi menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat, benar-benar merasa tak tega. Jika harus mengatakan kalau mereka telah kehilangan calon janinnya, yang terbilang muda.
"Hahh ..." Abhimanyu membuang nafasnya yang terasa sesak dia rasakan. "Kejadian kecelakaan yang kamu alami, selain kamu mengalami luka serius, kamu juga ...."
Abhi menggantungkan pembicaraan, karena tidak kuat mengatakannya, dan itu membuat Indira semakin penasaran.
"Aku juga kenapa, Mas?" tanya Dira dengan tak sabar.
"Kamu juga kehilangan calon baby kita," ucap Abhi.
Bagaikan sebuah balon yang tertusuk jarum, Indira terkejut mendengarnya, dan diam mematung.
"A_ _ aku hamil, dan sekarang aku sudah kehilangan calon anakku?" tanya Dira, dan Abhi mengangguk.
Dira menutup mulutnya dengan tangannya, dan tiba-tiba bulir bening keluar dari pelupuk matanya.
"Sayang, hei lihat aku sini!" Abhimanyu menelungkupkan kedua tangannya di wajah Dira. "Kita ikhlaskan saja dia pergi, tuhan lebih sayang dengannya, ketimbang dengan kita." Abhi menatap Indira dengan rasa tak tega.
Bulir bening itu terus mengalir, dan membuat Isak tangisnya membuat hati Abhimanyu sakit mendengarnya.
"Huuuu ..... kenapa dia pergi! Kamu tau, 'kan Mas, kalau aku ingin mempunyai dia secepatnya!" Kata indira, dengan emosi dan disertai tangisan.
"Aku tau sayang, aku juga mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi kita harus ikhlas, aku juga merasakan hal yang sama, saat tau pertama kali, kamu mengalami itu." Kata Abhi, yang ikut menangis saat mendengar istrinya menangis. "Tapi aku tidak punya pilihan lain, memang dia tidak dapat di selamatkan,"
Abhimanyu, mendekapnya begitu erat. Hatinya sakit mendengar Indira menangis sampai seperti itu, Abhi hanya bisa menahan sedihnya, setiap kali Dira terus menjerit atas kehilangan calon janinnya.
Cukup lama mereka saling berpelukan, dekapan Abhi, membuat Dira merasa nyaman dan tenang.
"Sekarang sudah tenang?" tanya Abhi dengan menatap wajah istrinya. Indira mengangguk, dengan sisa isak tangisnya.
"Sekarang tatap aku!" pinta Abhi dengan nada yang begitu lembut, sampai Dira menurut dengan apa yang suaminya katakan.
"Kita ikhlaskan kepergiannya, kita saling support, jangan ada penyesalan pada diri kita. Aku ingin kamu tersenyum seperti Indira yang aku kenal selalu ceria. Aku juga butuh kamu, di hari-hari ku. Kita mulai buka lembar baru lagi ya sayang, untuk rumah tangga kita!" kata Abhi dengan menatap wajah Indira dan menghapus air matanya.
Indira mengangguk dan terlihat sedikit senyuman di bibirnya yang terlihat pucat.
"Iya Mas," jawabnya Dira, Abhi langsung mengecup keningnya.
"Aku sayang kamu. Aku tidak sanggup kalau kamu sampai kenapa-kenapa, kamu menangis hatiku merasa sakit. Apalagi sampai kondisi kamu seperti kemarin, aku rapuh sayang. Aku ingin ada kamu yang selalu di sampingku." Ucap Abhi, dengan mata yang memerah karena menangis.
Kini Indira sudah di pindahkan ke kamar rawat inap, di ruang VIP. Seluruh keluarga pun juga sudah di kabari dengan kondisi Dira yang sudah sadar, dan itu adalah kabar baik untuk keluarga yang mengkhawatirkan kondisinya.
Kini Indira baru saja selesai makan, dengan dibantu Abhimanyu. Setelah itu Dira pun minum obat, dan beristirahat.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan saat pintu terbuka ternyata keluarga Indira yang datang. Abhimanyu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Bhi, bagaimana kondisi Dira?" tanya Papa Benny, melihat putrinya sedang tertidur.
"Kondisi Indira semakin membaik Pa. Tadi Dira habis selesai makan dan minum obat, dan beristirahat." Jawab Abhimanyu, pak Benny pun mengangguk .
"Terus apa Indira sudah tau? Musibah yang dia alami, sampai dia kehilangan ..." Mama Diana tak melanjutkan perkataannya karena takut Abhi kembali bersedih.
"Dira sudah tau, apa yang terjadi menimpanya," jelas Abhi
"Lalu, setelah dia tau, bagaimana? Mama tidak ngebayangin, bertapa hancur hatinya," ucap maka Diana khawatir dengan kondisi putrinya.
"Seperti yang aku rasakan, pertama kali dengar, sempat down juga. Gak terima, dan menangis sejadi-jadinya. Tetapi setelah aku berhasil menenangkan dirinya, Dira sudah kembali membaik. Ya meskipun kita harus sering menghiburnya, dan membuat dia tersenyum. Aku yakin dia akan kembali seperti Indira yang kita kenal," jelas Abhi.
"Iya Bhi kamu benar, kita harus hibur Dira selalu, dan terus kasih semangat untuknya lagi," timpal pak Benny.
Mamah Diana mengangguk dan mengatakan. "Mama hanya khawatir dengan Psikisnya Dira, takut mentalnya belum kuat menerima kenyataan," Papa Benny segera merangkul istrinya agar tenang.
"Bhi. Boleh Mama minta sesuatu sama kamu?" tanya Mama Diana.
"Boleh Mah," jawabnya dengan senyumnya, meskipun Abhi bingung apa yang ingin di katakan mama mertuanya.
"Mama minta, setelah Indira di perbolehkan pulang. Kalian tinggal dirumah ya, untuk sementara waktu!" dengan wajah memohon.
"Mungkin Mama ingin merawat Dira sampai benar-benar pulih Bhi. Mangkanya setelah pulang dari sini, kalian tinggal dirumah saja ya?" tanya papa Benny, yang menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.
Abhimanyu mengangguk dan tersenyum.
"Abhi mengerti Mah, justru aku senang mamah mengerti kesulitan ku. Aku tidak keberatan, jika memang Dira ingin tinggal di rumah kalian, aku akan ikut Indira."
"Syukurlah kamu mengerti sayang, Mama takut kamu marah," ucap Bu Diana.
"Ya ampun Ma, masa aku marah. Bagaimanapun kalian orang tau Abhi juga," jawab Abhimanyu.
Kini kesepakatan, untuk Indira tinggal bersama Mama Diana, untuk sementara pun sudah jelas. Abhimanyu pun merasa senang, karena ayah dan ibu mertuanya mengerti kondisinya. Tidak mungkin saat Dira masih sakit, Abhi tinggal kerja, dan istrinya hanya bersama Bu Sumi saja.
Jika istrinya tinggal bersama keluarganya, sudah pasti ada yang menghiburnya, dan merawatnya. Bukan berarti Abhimanyu tidak ingin merawat Dira sakit, tetapi Abhi tidak ingin jika Indira kesepian dirumahnya, dan mengingat kembali kejadian yang telah membuat janinnya hilang, itu akan membuatnya sedih.
Bersambung