My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Tak tega



Tepat di saat itu jam masuk sekolah pun di mulai. Saatnya seluruh murid pun sudah memulai pelajarannya..


Kini jam istirahat Indira dan teman temannya masih berada di dalam kelas. Seluruh murid pun sudah meninggalkan kelas mereka, hanya tinggal Indira dan teman temannya saja yang masih tertinggal di sana.


Mereka duduk rapat, dan saling berdekatan. Indira dan Gea menceritakan tentang yang pada Indira. Kalau Indira dan guru olahraga sudah menikah. Alin dan Hanna mendengar nya dengan sangat terkejut. Memang di kejadian itu mereka tidak mengetahui, karena mereka berdua sudah tertidur di vila saat itu.


Indira menceritakan tentang kejadian saat di begal dan kejadian malam itu. Sampai dia harus melakukan pernikahan dengan Abhimanyu, di saat yang mendesak. Dan di saat usianya belum genap 17 tahun . Alin dan Hanna mendengar cerita benar benar tak percaya dengan kejadian yang di alami temannya itu.


" Jadi di saat kami mendengar kalau Indira di begal dari om Arfianto. Berarti di saat itu juga Lo sama pak Abhimanyu...?" Tanya Alin dengan nada berbisik agar tak ada yang mendengarnya. Karena Gea sudah meletakan jati di bibirnya untuk bicara dengan volume kecil.


Indira pun mengangguk kan kepalanya. Alin dan Hanna menganga dengan anggukan kepalanya Indira dan Gea.


" Berarti kalian sekarang sudah ...?"Tanya Hanna namun segera Gea memberikan kode untuk berhenti. karena Gea melihat seorang sedang menuju ruangannya.


Benar saja yang Gea katakan, kalau ada seseorang yang datang dan ternyata itu Aldo yang datang dengan membawakan makanan dan minuman untuk Indira.


" Hai semuanya.." Sapa Aldo.


" Hai Aldo.. " Jawab semuanya.


Aldo pun tersenyum lalu duduk di dekat Indira.


" Dira kamu sudah makan.?" Tanya Aldo


" Dira doang yang di tanya.?" Celetuk Alin.


" Iya kalian gak istirahat memang nya. Jam istirahat sudah mau abis loh.? Oh iya Dir, ini aku bawa makanan dan minuman untuk kamu. Aku tau kamu belum makan, sekarang kamu makan ya.?"


" Ya udah deh Dir, kita ke kantin dulu ya. Benar kata Aldo jam istirahat sudah mau selesai.." Ucap Alin dan di angguki oleh yang lainnya.


Indira dan Aldo pun mengangguk kan kepalanya. Kemudian Indira masih bersama Aldo di dalam kelas.


" Sekarang kamu makan ya."


" Tapi Do aku..." Indira belum selesai bicara, Aldo menunjukkan muka memelas.


" Kenapa, kamu tidak mau ya makan makanan yang aku beli untuk kamu lagi.?"


" Bukan gitu. Kalau makanan ini aku makan, kamu bagaimana Do.?"


" Sudah tenang aja, aku sudah makan bakso di kantin. Ya sudah kalau begitu sekarang kamu makan ya." Aldo melihat jam tangannya." Dira, aku balik ya. Soalnya aku lagi ada janji sama Ferdi."


Indira pun mengangguk. Aldo pun tersenyum lalu mengacak-acak rambut Indira. " Jangan lupa kamu makan ya, itu makanan kesukaan kamu loh."


" Terimakasih ya Do."


" Iya. Yasudah aku balik ke kelas ya." Indira pun mengangguk.


Tanpa Indira sadari, Abhimanyu melihat perlakuan manis yang di berikan Aldo kepada Indira.


Sepulang dari sekolah Indira berada di kamar nya, sedang mengerjakan tugas sekolah nya. Abhimanyu pun yang baru pulang pun langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri. Indira yang hendak ingin menghampiri dan membuka pintu kamarnya pun percuma. Karena kamar Abhimanyu pun terkunci, dan tak ada jawaban dari dalam saat Indira mengetuk pintunya.


Kini Indira pun kembali ke dalam kamarnya, untuk tidur siang. Saat sore hari, Indira terbangun, Indira pun keluar kamar. Indira mengetuk pintu kamarnya Abhimanyu namun tak ada jawaban, di saat Indira membuka pintu nya, ternyata tidak di kunci. Indira melihat kamar Abhimanyu, ternyata kosong tak ada orang nya di dalam.


Indira mencoba menuruni anak tangga, dan melihat seisi ruangan. Namun tak ada siapapun. Karena di rumah itu belum ada ART untuk membantu pekerjaan mereka. Jadi di rumah itu hanya ada Abhimanyu dan Indira saja.Karena tidak ada Abhimanyu, Indira pun kembali ke kamarnya.


Saat pukul 7 malam, Indira merasa cacing di perut nya pada demo minta diisi makanan. Namun Indira kebingungan apa yang harus di makan, tidak ada makanan di rumah itu.


" Ya ampun tidak ada makanan, malah perut ku lapar banget lagi. Mas Abhi mana ya, ko tidak ada si. Dia kemana si ko gak bilang-bilang kalau mau keluar. Kan aku bisa nitip makanan." Indira pun berjalan ke arah kulkas.


" Ya ampun cuma ada ini. Ya udahlah ya masak ini aja. Heran deh padahal punya restauran, tapi isi kulkas sampai kosong melompong." Dumel Indira.


Karena hanya ada mie dan telor, Indira pun akhirnya memasak mie.


Indira pun menyalakan kompor gas, lalu Indira meletakkan panci kecil dengan berisikan air di dalamnya. Setelah airnya mendidih, Indira memecahkan telur di dalam air yang mendidih. Setelah itu Indira pun memasukkan mie instan nya kedalam panci. Sambil menuangkan bumbu ke dalam mangkok, Indira mengaduk mie nya. Setelah di lihat sudah cukup matang mie dan telur nya, Indira pun mengangkat panci kecilnya. Indira hendak menuangkan ke dalam mangkok. Namun tiba-tiba, ada seekor cicak terjatuh dan tepat di atas tangan Indira.


Aaaaa....Praaaang Praaaang....Karena terkejut dan takut Indira berteriak, dan melepaskan panci nya. Alhasil tangan Indira terkena tumpahan air panas.


" Aaaaaaaa..... Om Abhi. " Teriak Indira. Hiks hiks hiks.... Indira menangis.


" Indira.." Terdengar suara memanggil Indira, saat Indira menoleh ternyata Abhimanyu datang membawa bingkisan.


Abhimanyu berlari menghampiri Indira, dan melihat Indira sudah menangis memegangi tangannya. Abhimanyu melihat panci dan mangkok pun juga terjatuh, dan pecah ada tumpahan air dan mie.


" Astaga Indira kamu kenapa si.?" Abhimanyu menatapnya Indira dengan mata melotot


Indira sangat takut dengan tatapan itu. Indira kemudian kembali menangis.


" Aaaa.... Jangan melotot gitu dong om, tangan Dira sakit terkena air panas. Mamah, papah ka Ical." Ucap Dira yang memanggil keluarga nya, karena takut melihat ekspresi wajah Abhimanyu.


Seketika raut wajah Abhimanyu berubah menjadi khawatir mendengar Indira terkena air panas. Abhimanyu melihat tangan Indira, benar saja kalau tangan Indira memerah tersiram air panas.


" Ya ampun Dira, tangan kamu. Ayo sini aku obati.." Abhimanyu membawa Indira untuk ke wastafel, dan membantu membersihkan tangan Indira di bawah air yang mengalir. Abhimanyu melihat Indira yang meringis, saat luka nya terkena air. " Sakit ya.?" Indira mengangguk.


Abhimanyu membawa Indira ke ruang tamu dan duduk di sofa. " Kamu tunggu sini sebentar ya, aku ambil obat dulu." Indira hanya mengangguk. Indira masih merasa kesal dengan pria di hadapannya ini.


Abhimanyu pun menatap Indira, yang menatap arah lain. Abhimanyu tau Indira sedang kesal kepadanya. Abhimanyu pun akhirnya meninggalkan Indira untuk mengambil obat salep.


Setelah mengambil obat salep, Abhimanyu duduk kembali di dekat Indira. Lalu Abhimanyu menyentuh tangan Indira bagian kiri. Abhimanyu mengoleskan salep itu pada bagian yang luka di tangan Indira. Indira memandangi pria yang kini mengobati tangan nya dengan sangat lembut. Indira tersenyum saat menatap wajah Abhimanyu yang sedang serius mengobati tangan nya.


" Yang kiri sudah di obati. Sini yang kanan, aku lihat." Abhimanyu mengambil tangan Indira yang kanan, dengan hati hati." Yang ini tidak separah yang kiri. Tapi gak apa-apa, biar aku obati juga ya." Indira masih mengangguk tanpa ekspresi. Abhimanyu hanya tersenyum melihat Indira yang masih ngambek.


Selesai mengobati, Abhimanyu segera mencuci tangan nya . Lalu kemudian Abhimanyu duduk di dekat Indira. Abhimanyu masih menatap Indira yang masih cemberut.


" Kenapa bisa air panas itu sampai tumpah, sampai mengenai tangan kamu segala.?" Tanya Abhimanyu dengan lembut.


" Aku lapar, di kulkas tidak ada apa apa hanya ada telur. Dan aku lihat juga ada mie instan di kotak atas. Mangkaya aku coba memasak, karena aku lapar banget. Eehh udah mau matang, tiba tiba ada cicak jatuh di tangan aku. Alhasil aku kaget dan refleks menjatuhkan panci itu dan mengenai tangan aku."


" Mangkanya hati hati dong Dir. Yasudah sebagai permintaan maaf, aku bawakan ini dan ini untuk kamu." Abhimanyu menunjukkan dua kotak di atas mejanya.


Mata Indira berbinar saat melihat 1 box pizza, dan 1 kotak martabak. Seketika raut wajah Indira sudah tidak menunjukkan wajah cemberutnya karena kesal.


" wah, makanan. Berarti seorang Indira tidak akan mati kelaparan. Lihat aja ini, ada dua kotak makanan, hihihi." Kata Indira dengan terkekeh.


" Ngomong apaan si kamu, mati kelaparan. Mau di taro di mana muka aku. Suaminya punya restauran dan orang berada, istrinya bisa sampai mati kelaparan." Jawab Abhimanyu sambil menarik hidungnya Indira, karena merasa gemas.


" Hahaha.. Mukanya di taro di keresek aja." Kata Indira dengan asal. Saking gemasnya Abhimanyu sampai menjewer telinga Indira, lalu melepaskan dan terkekeh.


" Mangkanya jangan sembarang kalau ngomong. Dah di makan nih makanannya." Ucap Abhimanyu yang membuka box isi pizza dan martabak manis nya.


" Suapin dong, tangan Dira kan lagi sakit.." Kata Indira dengan manjanya, dan juga wajah melas.


Benar benar dirinya di buat tak berdaya oleh Indira, jika harus mendiaminya, dengan tingkah lucu dan kemanjaan itu.


Sebenarnya Abhimanyu berniat ingin mendiami Indira, karena merasa kesal melihat kejadian tadi pagi antara Indira dan Aldo. Namun tiba-tiba Abhimanyu tersadar kalau istri manjanya itu pasti belum makan, sedang kan di rumah nya belum ada bahan bahan untuk di masak. Karena kemarin pun mereka makan dengan memesan lewat aplikasi. Dan benar saja, perasaan nya tidak salah. Berniat ingin mendiami Indira, namun tak tega untuk mendiami nya. Apalagi dengan insiden tersiram air panas saat memasak


.