
Abhimanyu pun terkekeh, saat Indira mencubitnya. "Aww,,, sakit Dir,"
"Biarin, " jawab Dira dengan senyum senyum.
Kini kedua pasangan itu sedang menikmati sarapannya, di dalam kamarnya.
"Kenapa harus di kamar si Mas sarapannya. Kenapa tidak di bawah saja?"
"Gak apa-apa, aku hanya ingin sarapan di kamar saja. Lagian bukankah kaki kamu masih sakit, karena pemanasan semalam," kata Abhi, dengan fulgar nya mengatakan itu.
"Itu karena ulah kamu, Mas," Abhimanyu terkekeh mendengarnya.
"Ya iyalah ulah aku, memang mau ulah siapa lag?"
Indira hanya tersenyum mendengar Abhi bicara seperti itu.
Keesokan harinya.
Abhi keluarga melihat restauran miliknya. Sedangkan Indira sudah janjian dengan ke 3 temannya, untuk nonton ke bioskop. Setelah menonton film, mereka pun mengelilingi Mall untuk berbelanja. Saat Hanna dan Gea sedang memilihkan pakaian, tiba tiba saja ada Aldo memanggil Indira.
"Aldo, kamu di sini?"
"Heeemmmmhhh... Aku habis pulang kerja, langsung kesini. Dan gak sengaja liat kalian, yasudah aku hampiri kamu deh. Kamu kesini beli apa?"
"Kita habis nonton Do, terus si Hanna dan Gea memilih itu." Aldo tersenyum kecil, Dira dapat melihat wajah Aldo yang sedang tidak baik baik saja. "Are you Oke, seperti nya kamu sedang ada masalah Do,"
"Ada Dir, aku sedang ada masalah. Aku bingung dengan masalah ku," Aldo menatap Indira. "Aku ingin bicara dengan kamu, apa kamu ada waktu buat kita bicara?"
"Sekarang,?" Aldo mengangguk. "Tapi yang lainnya bagaimana, aku tidak enak meninggalkan teman teman,"
"Gak apa apa mereka ikut, kita cari tempat buat mengobrol. Tapi aku ingin cerita dengan kamu saja Dir,"
"Bagaimana Lin, gak apa-apa kalau aku ngobrol sama Aldo?" Alin dan yang lainnya pun mengangguk.
Kini, Indira dan yang lainnya pun mengikuti langkah Aldo. Yang di mana Aldo membawa mereka ke sebuah kafe tidak jauh dari Mall. Aldo mencari tempat duduk di rooftop, agar dapat melihat pandangan kota. Sedangkan Alin, Hanna, dan Gea, duduk tak jauh dari Dira dengan meja penuh dengan makanan yang di pesan Aldo.
"Kamu kenapa si Do, bukan nya kamu senang sudah dapat pekerjaan di perkantoran. Tempat teman Ayah kamu,?" Aldo hanya tersenyum kecil.
"Aku memang kerja di kantor teman Ayah, dan aku juga melanjutkan kuliah ku untuk melanjutkan pendidikan ku. Tapi ...." Aldo tidak melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa Do,?"
"Aku bekerja dan aku ingin naik jabatan di sana, denhan melanjutkan pendidikan ku. Tapi aku bisa naik jabatan kapanpun itu asal aku bisa menerima tawaran yang di berikan oleh teman ayah, sebagai pemilik perusahaan,"
"Bagus dong kalau begitu, Aldo. Kenapa kamu tidak terima saja tawaran itu?" ucap Dira, dan itu justru membuat Aldo kembali lesu mendengar jawaban Indira
"Masalahnya bukan tawaran itu Dir, masalah nya ada di kamu!" Aldo mengatakan itu dengan serius.
Aldo mengusap rambut nya kebelakang, lalu menatap wajah Indira dalam dalam. Tiba-tiba Aldo menyentuh tangan Dira, dan di genggam nya dengan erat. Indira sendiri pun terkejut dengan sikap Aldo yang menggenggam tangannya.
"Aldo, kenapa harus seperti ini.?" Indira mencoba melepaskan tangan nya dari Aldo.
"Dir, ini yang aku bilang masalahnya ada di kamu. Memang karena kamu, yang membuat aku berat untuk menerima tawaran itu," Aldo masih menatap wajah Indira dengan tatapan sedihnya. "Dira, kamu tau tawaran apa yang di maksud aku tadi. Aku harus menerima perjodohan dengan anaknya teman ayah ku, yang tak lain anak pemilik berusaha di mana tempat ku bekerja."
"Apa, kamu di jodohkan dengan anaknya teman ayah kamu?" Aldo mengangguk, tangan Indira pun terlepas dari genggaman tangan Aldo.
"Iya, aku di jodohkan dengan gadis bernama Gendis. Selama aku bekerja di sana, dia begitu baik dengan ku, ternyata dia meminta ayahnya untuk menjodohkan aku dan dia," Aldo sambil memijat keningnya.
"Kenapa kamu tidak terima saja perjodohan itu Do?" usul Indira.
Aldo tersenyum kecut mendengar usul gadis di hadapannya ini. Aldo menggelengkan kepalanya.
"Susah Dir, di hati aku masih ada kamu." pengakuan Aldo. "Dira, bukankah aku sudah pernah bilang dan berjanji, aku akan mengikuti perkataan kamu untuk belajar sungguh sungguh, dan bekerja untuk masa depan ku. Bukannya aku juga mengatakan, setelah aku berhasil aku ingin melanjutkan hubungan kita. Kamu tau kenapa aku tidak menjawab tawaran mereka, semua itu karena aku ingin mengajak kamu untuk aku kenalkan dengan keluarga ku."
Jedeeerr.... Bagaikan suara petir yang menggelar, membuat Indira terkejut dengan pengakuan Aldo. Dira sendiri bingung harus bagaimana menjelaskan ke Aldo, kalau dirinya sudah menjadi milik orang lain.
"Tapi Aldo, aku ...." Dira sulit membuka suaranya untuk jujur.
"Tapi apa si Dir, aku akan memperkenalkan kamu kepada ayah dan ibuku. Kalau kita ini berpacaran dan aku akan menikahi kamu setelah kamu lulus. Dira aku sayang banget sama kamu, jujur aku bekerja yang membuat aku semangat setiap hari jika mengingat kamu. Indira, bahkan aku sudah bilang ke ayah dan ibu ku, jika aku sudah mempunyai kamu, aku ingin membawa kamu di hadapan mereka," Aldo mengatakan itu dengan menggenggam tangan Dira dan di kecup nya tangan itu.
Indira menggelengkan kepalanya, karena saat itu juga datang bayang bayang dirinya bersama Abhimanyu saat malam itu. Dengan cepat Indira menarik tangan dari genggaman Aldo.
"Maaf Do, aku gak bisa. Bukannya aku ingkar dengan janjiku, tapi aku tidak ingin menyakiti seseorang,"
"Kamu kenapa si Dir, heeemmm..." Sambil menggenggam tangan Dira kembali. "Dira aku hanya mencintai kamu,"
Indira menggelengkan kepalanya. "Maaf Do, aku gak bisa." Indira pun berdiri berusaha melepaskan tangan nya dari Aldo. "Lepasin tangan aku Do,!"
"Indira,,," Aldo masih enggan melepaskan tangan nya Dira.
Saat itu juga, Hanna, Alin, dan Gea menghampiri Indira. Gea melihat Indira yang menangis.
"Elo dengar Dira minta lepasin tangan nya, dan elo liat Dira sudah menangis. Bisa kan loe lepas tangan lo itu.!" Kata Gea dengan marah.
Benar saja Aldo melihat Indira menangis, saat itu Aldo melepaskan tangan nya. Dan saat itu juga, Indira pun langsung berlari meninggalkan Aldo dan teman temannya.
Alin dan Hanna yang manggil nya tak dihiraukan oleh nya. Indira mengendarai motor nya, di bawah rintikan hujan. Saat sampai rumah pun tubuh Indira sudah basah kuyup.
Karena Abhimanyu tidak ada di rumah Indira pun langsung masuk ke dalam dengan tubuh yang basah. Bu Sumi yang hendak ingin mengambil handuk untuk nya, dilarang. Dira pun langsung mengganti pakaian dan berbaring di tempat tidurnya.
Bersambung