
Pak Benny pun tersenyum melihat Abhimanyu mengatakan seperti itu. Dirinya yakin kalau menantunya itu bisa memegang janjinya.
Keesokan harinya, Abhi yang habis pulang ngajar, Abhimanyu tak langsung pulang, dirinya langsung ke restauran miliknya. Sedangkan Indira sepulang sekolah, merasa bete di rumah. Berniat hati ingin ke restoran milik suaminya, Dira membayangkan menikmati semangkuk es krim, rasa vanila, coklat dan tiramisu, dengan banyak toping di atasnya.
"Aku mau ke tempat Mas Abhi aja, aah! Bete di rumah terus." Indira nampak berpikir. "Kira-kira aku hubungi mas Abhi tidak ya? Gak usah deh biar jadi kejutan untuknya." Dengan tersenyum Dira memakai tas selempang, lalu mengambil kunci motor.
Indira melaju kendaraan roda dua di jalan ibu kota, yang padat merayap.
"Jam berapa ya?" Indira melihat ke arah jam tangannya. "Pantas macet, jam pulang kerja. Huffhh ...."
Hampir satu jam, Indira baru sampai di restoran milik Abhi. Biasanya, dari rumah ke restauran hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit. Dengan semangat Dira turun dari motornya, dengan wajah ceria. Banyak karyawan yang menyapanya, dan Dira balas dengan ramah.
Saat hendak sampai di depan pintu ruangan, ada manager restauran, yang keluar dari ruangan Abhi. Dia keluar dengan wajah, kesal, dan terkejut saat melihat ada Indira yang datang.
"Ka Rudi," panggil Dira.
"Indira, ka-- kamu di sini?" tanya balik Rudi.
"Iya, aku kesini. Aku ingin makan es krim, yang biasa aku pesan, ada kan?"Tanya Indira, Rudi pun mengangguk. "Oh iya ka, mas Abhi ada kan di dalam?"
Rudi nampak bingung ingin menjawabnya, Indira mengerenyitkan matanya, merasa heran dengan ekspresi wajah Rudi.
"Hallo, Ka Rudi." Indira melambaikan tangannya di hadapan Rudi, karena pria itu diam tak menjawab pertanyaannya. "Ka Rudi, aku tanya loh. Mas Abhi ada tidak di dalam?"
"Eemm ... pak Abhimanyu ada di dalam, cuma kebetulan lagi ada tamu," jawab Rudi, dengan rasa tak enak hati. Indira hanya mengangguk. "Kamu duduk dulu aja Dira! Nanti saya pesankan es krim yang kamu suka. Sambil menunggu tamunya keluar." usul Rudi.
Indira pun mengangguk, menuruti perkataan Rudi. "Yasudah aku tunggu di sana ya Ka!" sambil menunjuk ke arah kursi.
"Yasudah kamu tunggu sana biar kak Rudi pesankan es krim untuk kamu dulu." Dira pun mengangguk.
Indira pun melangkah menuju kursi bertulis kan nomor 6. Sambil memainkan handphone nya, Dira berfoto-foto seorang diri. Tidak butuh waktu lama, es krim pesanan Dira pun datang, dengan ia pun. melahap es krim yang sejak tadi sudah terngiang di otaknya.
Kini es krim itu sudah ludes tak tersisa dari tempatnya ,oleh Dira. Sedangkan Rudi sibuk membantu karyawan nya, karena restauran itu, banyak pengunjung kuliner.
Karena merasa jenuh, Indira pun melangkah menuju ruangan Abhimanyu, tanpa sepengetahuan Rudi .
Kini Indira sudah berada di depan pintu ruangan Abhimanyu. Dira membuka sedikit pintunya, untuk mengintip apa tamunya masih ada atau tidak. Tak di sangka, dirinya dibuat terkejut saat mendengar suara perempuan yang sedang bicara dengan Abhi.
"Aku masih sayang kamu Ndra! Aku menyesal, aku ingin kembali dengan kamu. Aku tau, kamu belum bisa move on dari aku,"
"Cukup Winda! Kamu benar saat kamu pergi saat itu, aku sulit untuk melupakan kamu." Indira mendengar Abhi mengatakan itu, air matanya pun seketika menetes.
Indira pun segera menutup pintu itu kembali, dan itu membuat Abhi menoleh kearah pintu. Dira pun langsung pergi meninggalkan tempat itu, namun saat itu Rudi melihat istri bos nya itu keluar restauran dengan cepat menuju motornya.
Rudi curiga, kalau Indira pasti melihat atau mendengar dua orang di ruangan itu bicara.
"Astaga! Dira berlari dan mengendarai motornya dengan seperti itu. Apa dia tau kalau diruang pak Abhimanyu ada gadis." Rudi pun berjalan menuju ruangan Abhi.
Tepat saat itu, Abhimanyu keluar dari ruangan dengan wajah kesal.
"Rudi, kamu urus Winda. Usahakan dia pergi dari sini!" perintah Abhi, dan Rudi menganggukkan kepalanya.
"Pak Abhimanyu." Panggil Rudi saat abhi hendak melangkah.
"Ada apa?" tanya Abhi.
"Eemm ... sebenarnya tadi istri Pak Abhi kesini." Abhimanyu terkejut mendengarnya.
"Maaf pak, sebelumnya saya sudah mengirimkan pesan ke Pak Abhi, tapi sepertinya belum di buka."
Abhi segera melihat pesan dari Riko.
Riko : Pak Abhimanyu maaf, istri bapak datang kesini. Saya usahakan untuk mbak Indira agar tidak masuk ke ruangan bapak. Agar tidak melihat mba Winda di dalam. Sekarang mba Indira sedang makan eskrim, saya harap pesan saya anda langsung di lihat.
Rudi juga mengirimkan foto Dira dari belakang, dan itu membuat Abhimanyu merasa gusar.
"Maaf, saya belum lihat pesannya. Sekarang dia di mana?" tanya Abhi, yang saat ini pikirannya hanya ke Indira.
"Dia berlari, dan mengendarai kendaraannya cukup kencang." Adu Rudi, dan itu berhasil membuat kaki Abhi terasa lemas mendengarnya.
"Dira." Abhi segera menghubungi Indira, namun tak di angkat olehnya. "Angkat dong sayang, please!" Abhimanyu terus bergumam, dan bolak balik di depan ruangan Rudi. Dirinya benar-benar khawatir dengan istrinya
Sedangkan Indira sendiri kini sedang berada di rumah Gea. Dira menceritakan kejadian yang dia dengar, disertai Isak tangis.
Kebetulan rumah Gea sedang sepi, kedua orang tuanya sedang pergi, begitupun juga Sadam sedang keluar bersama Adam adiknya Indira.
"Gue harus bagaimana, Ge? Mas Abhi jahat sama gue, selama ini dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya."Kata Dira, sambil menangis memeluk sahabatnya.
"Sabar ya Dira, gue juga bingung harus bagaimana. Setahu gue, om Abhi sudah ngelupain tante Winda ko. Kaya nya gak mungkin deh, kalau om bilang begitu ke dia." Jawab Gea, dan itu membuat Indira berhenti menangis.
"Maksud elo, apa yang gue katakan gak benar?Gue bohong gitu, dan mengarang cerita!" Kata Indira dengan emosi.
"Bukan begitu. Maksud gue, elo bisa mendengarkan penjelasan suami lo! Kalau emang om Abhi yang salah, gue akan marah ke om gue, dan membela elo sebagai sahabat gue." Gea mencoba menenangkan Indira.
"Terimakasih Ge," ucap Indira, Gea pun mengangguk, lalu menghapus air mata sahabatnya itu.
"Sekarang elo istirahat di kamar ya! Setelah elo cukup tenang, elo bisa balik, dan menyelesaikan masalah kalian. Gue yakin, elo hanya dengar sedikit dialog dari mereka. Karena sudah emosi lebih dulu, dan elo main langsung cabut kesini. Iya 'kan, Dir?" tebak Gea, dan Indira mengangguk.
"Iya, elo benar. Gue langsung cabut Abhi mendengar pembicaraan mereka, gue udah terlanjur kesal Ge!" jawab Dira, masih tersisa nada kesalnya.
Gea, melihat wajah sahabatnya terlihat menyedihkan. Dia tidak pernah melihat wajah Dira seperti ini, dan itu membuatnya merasa tak tega.
"Sekarang elo istirahat di kamar om Abhi sana! Gue gak tega liat kondisi elo kaya gini. Elo pulang ke rumah nyokap Lo, pasti mereka juga tak tega, melihat elo begini. Sudah pasti masalah kalian akan panjang, kalau mereka ngeliat elo seperti ini. Gue yakin elo cuma salah paham, dan elo bisa atasin itu." Ucap Gea, mencoba menenangkan Indira, agar dapat berpikir dengan jernih, jangan dengan emosi.
Indira menganggukkan kepalanya, dan segera menghapus air matanya. Gea tersenyum melihat sahabatnya itu, bisa sedikit tenang.
"Sekarang elo istirahat ya, biar nanti gue ambilkan minuman kesukaan elo."Indira mengangguk.
Indira melangkah menuju kamar yang ditempati oleh Abhi. Sedangkan Gea sedang membuat minuman untuk Dira.
"Om Abhi keterlaluan, kenapa bisa sih tante lenjeh itu datang ke sana. Itu juga cewek gatel banget nyamperin cowok, semuanya ' kan gara-gara dia ninggalin, demi karirnya. Bahkan dia juga sudah dapat penggantinya, terus kenapa dia datang kesini!" Gea merasa geram dengan om nya.
Sedangkan di kamar, Indira mengeluarkan handphone dari tasnya, ternyata hape nya lowbet. Dira segera mencari cashan di dalam laci di ruangan itu.
Saat membuka laci, ternyata ada cashan. Dan Dira segera mencari lobang untuk charger. Indira melihat handphone saat sudah menyala, dan ternyata banyak pesan dan panggilan telepon dari Abhimanyu.
"Ngapain dia telpon terus, bukannya tadi lagi berduaan dengan dia!" dumel Dira seorang diri.
Indira tak berniat membalas chat dari Abhi, justru Indira kembali berbaring untuk istirahat. Sejak tadi kepalanya terasa berdenyut.
Bersambung