
Dua bulan kemudian keluarga Indira sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan Faisal dan Hanna .
Pernikahan Faisal akan diselenggarakan dua minggu kemudian, seperti keinginan Hanna yang akan merancang sendiri, gaun pernikahannya yang akan ia gunakan nanti
Seluruh keluarga pak Arif, semua datang ke kediaman rumah Mama Anisa. Yang di mana mereka menyambut kedatangan Gilang, yang baru saja kembali dari Palembang.
Abimanyu membawa istri dan anaknya ke sana, tentunya seluruh keluarga semua terhibur dengan kedatangan baby Shira. Apalagi Bu Lidya dan pak Arif terlihat wajah mereka memancarkan kebahagiaan
Gilang pun yang memang sudah tahu, kalau Faisal akan menikah. Dia akan datang untuk mengambil cutinya, sekaligus rindu ingin berjumpa dengan keluarga di Jakarta.
"Aduh cucu Oma cantik banget, ini mirip sekali seperti ibunya. Uuuhh ... gemes deh lama-lama melihat kamu!" ucap bu Lidya saat melihat baby Shira berceloteh.
"Enda- enda, Pa-pa-pa ( bunda bunda Papa)," ucap baby Shira.
Karena itu saat pertama kali para keluarga baru mendengar baby Shira bicara, dan terlihat menggemaskan.
"Dira, Abhi, sekarang Shira bilang apa? Lucu banget ngomongnya tanya Bu Lidya
Indira hanya tersenyum mendengarnya putrinya makin pintar bicara
"Shira memanggil bunda- bunda Papa-Papa," jelas Abhi membuat seluruh keluarganya tertawa kembali
Gilang pun ikut tersenyum, saat mendengar baby Shira berceloteh. Entah kenapa hatinya masih belum bisa melupakan Indira. Padahal dirinya sudah menghindar cukup lama, tapi rasa itu masih hadir.
Apa mungkin Gilang pernah memendam perasaannya, dan mengungkapkan isi hatinya, disaat gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Terkadang semakin berusaha ingin melupakan Indira, tapi justru bayang-bayang nya selalu hadir.
Sore harinya.
Abhi berniat ingin datang ke resto miliknya, untuk menemui teman lamanya yang akan datang. Sedangkan Dira masih ingin tetap berada di rumah mama Anisa, yang tak lain rumah Gea sahabatnya.
Memang Indira tidak canggung jika main di rumah Gea. Karena saat masih bersekolah dan belum menikah dengan Abhi Dira sering sekali berkunjung ke sana dan bahkan sampai menginap. Keluarga mereka pun pastinya tak keberatan .
Setelah Abhi berangkat, Indira dan Gea, sedang mengajak baby Shira untuk ke taman. Yang di mana tempat itu banyak sekali burung, dan ikan peliharaan kak Gilang dan papa Fadil.
"Nah sekarang kita di sini saja ya Shira! Anak anak bunda yang cantik, tuh lihat ada burung kakak tua, lucu ya? Ada ikan juga di sana!" ucap Dira yang sambil menunjuk di mana terdapat akuarium yang cukup besar, dengan berisikan banyak ikan.
Baby Shira melihat bundanya bicara, hanya ditanggapi dengan senyuman dan bibirnya yang manyun. Terlihat Ashira menyukai saat melihat banyak ikan warna-warni di dalam akuarium.
Indira dan Gea sudah pasti tertawa melihat bayi mungil itu tertawa ceria sambil memainkan air liurnya yabg di sembur.
"Bhuu- bhuu- bhuu- eeeaaa enggeehh ..." kata-kata yang keluar dari mulut baby Shira yang mungil, menggemaskan.
"Iiihhh ya ampun kamu gemesin banget sih?" ucap Gea dengan gemas. "Boleh gak shira, aku gigit kamu sedikit aja. kletus enak kali ya?" sambil mencubit-cubit pipinya yang gemboy.
Gea dapat hadiah cubitan dari Dira, membuatnya terkekeh melihat ekspresi sahabatnya melototinya.
Baby Shira meskipun usianya masih bulan bulan. Namun penglihatannya sangat tajam bahkan dia sudah mengerti saat orang lain mengajaknya bicara. Maka dia akan merespon, walaupun membalasnya hanya dengan tertawa, tersenyum, memainkan bibirnya, yang menyemburkan ludah dan menangis. Semua itu adalah bentuk respon darinya
"Ada apa sayang? Banyak ikan ya nak?" Gea tersenyum saat melihat sahabatnya mengajak anaknya berbicara.
Gea menggelengkan kepalanya, dan tersenyum. "Gue cuma lihat gue lo kayanya lebih menikmati peran sebagai ibu ya? Elo juga beruntung, di saat usia lo tujuh belas tahun lo udah menikah, dan menjadi nyonya Abhimanyu. Di saat usia lo sembilan belas tahun sudah menjadi mama muda. Keren tau gak, gue iri sama lo Dir."
"Kenapa elo harus iri sama gue? Harusnya elo bisa menikmati masa muda yang masih bebas. Bisa kumpul dengan teman-teman dan melanjutkan kuliah," ucap Dira dengan tersenyum ke arah Gea.
"Oh iya Dira? Elo belum m ada niat gitu, ingin melanjutkan kuliah ?"
Indira tersenyum mendengarnya sambil mengajak putrinya bercanda dia menimpali pertanyaan Gea.
"Bukannya tidak ingin, gue pingin banget melanjutkan kuliah lagi. Karena jujur gue juga ingin mendapatkan gelar seperti apa yang elo katakan. Tapi pasti elo ngerti lah keadaan gue sekarang." Gea mengangguk, apa yang di katakan Indira.
"Iya gue tahu elo harus memilih antara pendidikan dan keluarga. Lagian Om Abhi itu pengertian, dan bukan suami yang yang mengekang hidup lo 'kan? Jadi elo masih bisa ko melanjutkan kuliah Lo kapan aja, dan jangan merasa terbebani hidup yang udah di jalani, timpal Gea.
"Gue nggak pernah merasa terbebani dengan kehidupan pernikahan dengan mas Abhi. Justru gue sangat beruntung, menjadi istrinya. Selain dia pria baik, dia juga sayang sama gue,"
"Iya om gue pria yang bucin," timpal Gea dengan terkekeh.
Indira pun tersenyum.
"Elo tau Gw, sebelum mengalami kecelakaan itu gue semangat sekali untuk kuliah. Mas Abhi, adalah orang yang pertama yang selalu support gue untuk masalah pendidikan. Karena musibah itu, hati gue hancur. Bahkan gue jadi sering melamun, dan dari sana keluarga gue lebih mengutamakan untuk penyembuhan gue terlebih dahulu.
Seketika mata Dira mulai basah, saat mengingat kecelakaan itu. Gea yang mendengarnya pun ikut merasakan kesedihan Indira.
"Iya gue mengerti maksud lo. Sudah jangan sedih lagi! Sorry gue udah ingat-ingetin lu akan kejadian pahit itu!" kata Gea merasa menyesal.
"Ini bukan salah elo kok Ge. Memang terkadang gue juga masih suka ingat kejadian itu," timpal Dira dengan tersenyum.
Saat itu sedang Indira dan Gea melihat baby Shira tersenyum. " Enda- enda
"Eeh ... anak bunda yang cantik manggil-manggil terus. Ada apa sayang?" ucap Dira mencubit pipi putrinya yang membuatnya gemas.
Tanpa mereka sadari, ada Gilang yang mendengar pembicaraan Indira dan Gea. Entah kenapa dirinya senang mendengar Dira merasa bahagia menikah dengan pria yang tak lain adalah Om nya sendiri.
'Dira aku ikut bahagia, melihat kamu yang sangat dicintai oleh Om Abhi. Kamu memang pantas bersanding dengannya. Dia pria yang sangat menyayangimu lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri' gumam Gilang dalam hatinya.
Gea yang melihat kakaknya, sedang berada di balik tembok terlihat dari pantulan kaca, akuarium tepat di hadapannya.
'Kak Gilang ngapain di situ? Apa dia mendengarkan ceritaku dan Dira.' gumam Gea dalam hatinya.
"Kak Gilang!" panggil Gea memecahkan lamunannya. "Kakak ngapain di situ? Sini lihat nih baby Shira lucu banget."
Gilang tersenyum malu mendengar suara adiknya, memergoki dirinya. Ia pun segera menghampiri Gea dan Dira berada.
Bersambung..
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak 👍 kalian semua terimakasih 🙏🙏🥰...