My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Gilang salah tingkah



Indira tersenyum melihat Gilang menjadi salah tingkah jika berhadapan dengannya.


"Ngapain di pojokan sana? Bukannya kesini aja langsung, pake ngintip segala. Mau bintitan mata kakak nanti," ledek Gea membuat dirinya terkekeh mendengarnya.


"Hushh! Sembarangan kamu kalau ngomong Dek!" jawab Gilang. "Kakak tadi mau kesini, tapi sepertinya kalian sedang bicara serius mangkanya mengurungkan niatku untuk kesini,"


Gea hanya mencebikkan bibirnya ngeledek Kakaknya.


Indira menatap Gilang yang masih salah tingkah jika tatapan mereka saling bertemu.


"Yasudah temani Indira dulu di sini! Aku mau ambil minum dulu." Gilang pun hanya mengangguk.


Setelah kepergian Gea, Gilang berdiri sedikit menjauh dari Indira.


"Kenapa masih belum nyaman, dekat dengan aku? Yasudah kalau begitu aku aja yang pergi masuk ke dalam," ucap Dira hendak bangun dari duduknya.


"Jangan pergi!" Gilang menahan tangan Dira dengan reflek. Membuat tangan segera melepaskan dari Indira. " Maaf,"


" Sombong iih ... sekarang kalau ada aku seperti menghindar. Masih marah sama Dira, sudah setahun loh, masa aku belum di maafin sih?" tanya Indira, dengan menyindir Gilang.


'Aku menghindar dari kamu bukan aku marah Dira. Mana bisa aku melakukan itu ke kamu. Aku hanya belum banyak bisa aja berbicara sama kamu biasa saja. Karena setiap kali melihat kamu rasa itu selalu hadir, dan aku bingung harus bersikap bagaimana jika berhadapan dengan kamu.' gumam Gilang dalam hatinya.


Indira masih menatap Gilang yang masih diam tak menjawab pertanyaan.


"Kak Gilang, hello! Ko diam aja sih?" panggil Dira lagi.


Gilang terkejut karena Dira menyentuh lengannya. "Aahh ... iya Dira kenapa? Maaf aku gak fokus kamu ajak bicara!"


"Gak fokus atau bingung ingin bicara apa dengan aku." Tebak Indira membuat Gilang terkejut mendengarnya kalau dia berhasil menebaknya.


"Iya kamu benar. Aku bingung sekarang kalau bicara sama kamu. Secara suami kamu itulah cemburuan orangnya, aku hanya takut dia salah paham kalau melihat kita mengobrol berdua," timpal Gilang.


Indira tersenyum, mendengarnya.


"Berdua bagaimana, lalu Shira tidak dihitung,"


"Kan Shira belum bisa bicara. Jadi belum masuk hitungan," jawab Gilang dengan tersenyum menatap putri Indira.


"Bagaimana selama di sana, apa ada gadis yang sudah kecantol sama ketampanan Kakak?" tanya Dira.


'Kenapa harus bicara seperti itu sih Dir? Jelas belum ada, di hatiku hanya ada kamu aja sampai sekarang. Mangkanya aku selalu menghindari kamu, agar rasa itu tidak hadir lagi,' gumam Gilang dengan tatapannya menatap baby Shira .


"Sudah," jawab Gilang dengan berbohong.


"Jangan kamu katakan itu!"


"Kenapa gitu, aku gak boleh tau gadisnya siapa? Pasti dia sangat cantik ya?"tanya Dira dengan senyuman manisnya.


Gilang yang melihat senyuman Dira tak sedikitpun mengedipkan matanya, dan merasa terkesima menatapnya.


"Iya dia sangat cantik, senyumnya pun juga manis," ucap nya dengan sadar membuat Gilang mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Mangkanya jangan kamu ingetin terus, karena aku pasti sangat merindukan dia di sana."


"Iya aku sangat merindukan dia apalagi melihat dia tertawa dan tersenyum. Itu sangatlah berat bagiku untuk jauh darinya," dengan tatapannya masih mengarah ke arah Indira.


"Cie ..." goda Dira, membuat Gilang tersenyum melihat sikap lucunya. "Siapa Kak nama gadis itu?"


Gilang menatap wajah Indira, terlihat semangat sekali ingin mengetahui siapa gadis yang sedang dekat dengannya.


"Namanya Erika," jawab Gilang.


"Kakak punya fotonya? Kasih liat dong aku ingin tau seperti apa dia . Bisa membuat seorang Gilang jatuh hati?"


'Yang jelas, gadis itu kamu Dira. Mana mungkin aku kasih unjuk foto kamu di handphone milikku.'


Gilang tersenyum lalu membuka handphonenya, dan memberitahu foto seorang gadi cantik dengan tersenyum manis menghadap kamera.


"Bagaimana menurut kamu cantik gak gadis itu?" tanya Gilang, dengan tersenyum.


"Iya gadis nya cantik, malah sepertinya dia lebih manis dari aku."


' Cantikan juga kamu Dir, dia itu hanya kenalan ku dunia maya.'


Tiba-tiba Gea datang dengan membawakan tiga gelas berisikan air berwarna merah dan putih susu. Yang di mana minuman itu kesukaan Dira Kakaknya dan Gea .


"Minuman datang," ucap Gea.


"Waah ... mantab tuh .Sini Ge!" Dira terlihat senang melihat minuman kesukaannya.


Gea meletakkan nampan itu di atas meja.


"Ini buat kakak, aku buatkan juga," sambil memberikan ke Gilang.


"Terimakasih Dek, baik banget sih kamu," Gilang dengan mengambil minuman itu lalu di aduknya.


"Iya dong baik, Gea gitu loh," semuanya terkekeh mendengarnya.


Indira mengaduk minumannya, dirinya sangat menyukai minuman yang berbahan susu UHT Yakult dan sirup itu, dengan di berikan biji selasih. Pass untuk di minum di udara yang haredang.


"Kak, bawa dong Erika kesini dan di kenalkan oleh kami semua."


Mendengar Indira mengatakan itu, Gilang pun tersedak saat sedang minum.


Ukhuk ... uhuk ... uhuk!


"Hati-hati dong Kak minumnya!" kata Gea dengan menepuk dada Kakaknya.


Gilang terkejut mendengar Indira mengatakan seperti itu.


Bersambung...