
Sedangkan, Abhimanyu saat ini sedang ditenangkan oleh Mama Annisa. Abhi menangis, di hadapan kakaknya. Membuat Mama Diana tak tega melihat menantunya, terutama Faisal sebagai sahabat sekaligus kakak iparnya, ikut merasa sedih melihat kondisinya.
Faisal kini menghampiri Abhimanyu, yang kini nampak termenung, memikirkan kondisi adiknya didalam. Dirinya juga melihat kekasihnya yang menangis memikirkan sahabatnya.
"Ndra, elo yang sabar. Gue yakin adik gue kuat dan akan sehat kembali, elo ikhlaskan kejadian yang sudah terjadi. Kita support terus Dira, agar dia bisa kembali lagi ceria. Setelah dia tau, apa yang dialaminya." Kata Faisal menepuk bahu Abhi.
"Iya, gue akan selalu support dia. Saat ini, gue hanya merasa menyesal, karena gue gak bisa melindunginya. Seandainya waktu bisa di putar kembali, gue akan menemaninya dan menjaganya ," ada wajah penyesalan pada Abhi.
"Gue paham! Tetapi elo juga bukan Superman yang selalu melindungi Dira kapanpun. Jadi elo jangan menyesali diri sendiri seperti itu! Kita berdoa saja agar Indira cepat pulih, dan bisa tertawa di tengah-tengah kita." Kata Faisal, Abhi mengangguk.
Namun saat ini, Abhimanyu masih terngiang jelas saat istrinya merengek meminta ditemani olehnya.
'Mas, kamu libur ya hari ini! Aku lagi ingin sama kamu.'
Abhimanyu menutup wajahnya menggunakan telapak tangan, mengingat perkataan istrinya, dan dia menolak karena harus mengambil nilai murid-murid.
Faisal menghampiri kekasihnya dan juga teman adiknya, yang sejak tadi terlihat sedih.
Faisal duduk di samping Hanna, dan menggenggam tangannya.
"Sayang," panggilnya Faisal.
"Kak, maafkan kami membuat Indira seperti ini!" ucap Hanna dengan isak tangisnya.
"Uuussst ....! Tidak ada yang salah dalam musibah ini. Kamu jangan merasa bersalah, dan kamu juga Alin. Kita berdoa saja untuk kesehatan Indira, agar bisa berkumpul kembali dengan kita." Ucap Faisal dan di angguki oleh dua gadis yang di sampingnya.
"Lebih baik, kalian pulang dan istirahat!" kata Abhimanyu, yang tiba-tiba mengatakan itu kepada dua teman istrinya.
"Tidak Pak Abhi! Kami ingin di sini memastikan keadaan Indira baik-baik aja," tolak Alin, di angguki oleh Hanna.
"Izinkan kami untuk di sini Pak, kami khawatir dengan Indira sahabat kita," ucap Hanna.
"Ya sudah terserah kalian, tetapi ingat kalian juga harus beristirahat!" kata Abhimanyu, merasa tak tega melihat dua gadis itu yang juga mengkhawatirkan keadaan Indira.
"Pak Abhi," panggil Hanna, Abhimanyu pun menoleh ke arahnya. "Aku punya foto mobil, yang menabrak Indira dan melarikan diri."
Abhimanyu, Faisal dan Alin langsung menatap kearah Hanna.
"Kamu punya bukti foto mobil yang menabrak Dira, sayang?" tanya Faisal, Hanna mengangguk.
"Elo foto, plat nomornya mobilnya?" tanya Alin, dan di angguki Hanna kembali.
Saat itu juga Hanna memberitahu buktinya kepada Abhimanyu, dan mengirimkan fotonya untuk diselidiki.
Tidak lamanya pak Arif dan Bu Lidya datang dan menemui mereka. Abhimanyu langsung menghampiri kedua orang tuanya, terlihat Abhi memeluk mereka.
"Dimana menantu Mama Bhi?" terlihat wajah khawatir pada mereka.
"Dira didalam, sedang ditangani oleh Dokter. Ma, Pa! Abhi kehilangan calon anak kami." Ucap Abhimanyu, dengan bibir yang bergetar.
"Inalillahi!" Bu Lidya membawa Abhi kedalam pelukannya, menenangkan putra bungsunya yang terlihat rapuh.
Bu Lidya, dan pak Arif ikut bersedih, mendengar kondisi menantunya. Tetapi mereka harus kuat.
"Kamu yang sabar dan ikhlas ya sayang! Mama yakin, Allah akan memberikan penggantinya yang lebih baik. Kamu harus support dia, jangan biarkan dia sedih." Pesan Bu Lidya, Abhi mengangguk.
Lalu Bu Lidya menghampiri besannya.
"Diana," panggilnya.
Diana dan Benny terkejut kalau bu Lidya datang. "Maaf Bu! Kami tidak tau ibu datang,"
"Tidak apa. Kalian berdua yang sabar ya? Sekarang yang terpenting Indira bisa berkumpul di tengah-tengah kita kembali. Kita support dia, agar bangkit dan bisa ceria lagi." Ucap nya, sambil mendengarkan Diana dan Benny.
Tidak lamanya seorang Dokter keluar dari ruangan yang dimana Indira berada. Abhimanyu segera menghampiri untuk mengetahui keadaan istrinya.
"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanya Abhi.
"Syukurlah semuanya berjalan lancar." Ucap Dokter itu, Abhi dan keluarga pun merasa lega mendengarnya. "Kita hanya tinggal menunggu pasien sadar, karena benturan yang cukup kencang yang dialaminya, membuat kondisinya jadi lemah. Untuk itu, bagi keluarga jangan berhenti berdoa."
"Kalau begitu kami ucapkan terimakasih atas bantuan Dokter," ucap Abhi, dan Dokter itu mengangguk.
Setelah kepergian Dokter, Abhi mengintip Indira dari balik kaca. Karena mengingat keponakan, akhirnya Abhi menuju ruangan dimana Gea di rawat.
Ceklak!
pintu kamar terbuka, yang dimana Abhimanyu melihat keponakannya sedang berbaring dengan tangan yang terpasang jarum infus. Abhi melihat Gea yang menangis, dirinya langsung menghampiri gadis itu.
"Gea,"
"Om, hiks, hiks ..." Gea tambah menjadi Isak tangisnya, saat melihat Abhimanyu.
Abhimanyu segera menghampiri keponakannya itu, lalu memeluknya. "Kamu kenapa menangis?"
"Om, maafkan aku! Aku membuat Indira celaka, karena aku," ucap Gea menyalahkan dirinya sendiri.
"Uuussst! Ini bukan salah kamu, jangan menyalahkan diri sendiri ya? Om tidak menyalahkan diri kamu," kata Abhi sambil menghapus air mata Gea.
"Tapi, kata Mama, Dira kehilangan janinnya!Semua itu karena aku Om, aku sudah menyebabkan Indira kehilangan yang sangat berarti baginya." Gea terus menyalahkan dirinya sendiri.
Gea terus menangis, sampai suara parau. Mama Annisa khawatir dengan keadaan putri, pasti dirinya merasa terus bersalah dengan kondisi Indira.
"Gea, om minta kamu tenang. Dengarkan om! Ini bukan salah kamu, jadi stop menyalahkan diri kamu sendiri!" pinta Abhimanyu.
Gea mengangguk dan sedikit tenang. Abhimanyu membantu keponakannya untuk minum.
"Sekarang kamu harus istirahat, jangan terus menyalahkan diri kamu sendiri!" pesan Abhimanyu kepada keponakannya.
"Tapi aku ingin melihat kondisi Dira,Om." Wajah Gea kembali murung.
"Dira masih ditangani oleh Dokter, kita berdoa untuk kesehatannya. Kalau kamu sudah pulih, kamu bisa menemui Indira," ucap Abhi, dan Gea mengangguk.
"Iya Om,"
"Sekarang Om harus kembali keruangan Indira! Kamu istirahat saja, ada Oma dan opa, nanti mereka kesini!" Gea mengangguk.
Abhimanyu kini keluar dari kamar Gea di rawat, dan kembali ke ruangan Indira. Saat sampai Abhi melihat mama diana keluar kamar Indira di rawat.
"Ma, Indira boleh di lihat?" tanya Abhimanyu.
"Iya Bhi, perawat mengizinkan kita untuk melihat kondisi Dira, tapi bergantian!" jawab Mama Diana.
"Syukurlah," saat Abhi lihat, di dalam ada Hanna Alin dan Faisal.
Abhimanyu menunggu di kursi, menunggu bergiliran melihat kondisi Dira. Tidak lama, mereka bertiga keluar dari kamar Indira, dan menghampiri Abhi.
"Ndra, gue balik dulu ya. Mau antar Alin dan Hanna, kasian mereka juga harus istirahat. Tapi nanti gue kesini lagi ko, buat temenin elo disini!" ucap Faisal berpamitan ke Abhi.
"Yasudah. Kalian hati-hati ya! Alin Hanna, terimakasih untuk bantuan kalian, membawa Indira kesini." Ucap Abhi.
"Sama-sama Pak, kalau begitu kami pamit pulang !" pamit Alin.
Setelah berpamitan, mereka bertiga meninggalkan ruangan Dira, dan lanjut melihat kondisi Gea. Sesudah itu barulah mereka pulang meninggalkan rumah sakit.
Bersambung.