My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Apa yang sudah terjadi



Setelah berpamitan, mereka bertiga meninggalkan ruangan Dira, dan lanjut melihat kondisi Gea. Sesudah itu barulah mereka pulang meninggalkan rumah sakit.


Kini sudah tiga hari lamanya, Indira dirawat di rumah sakit. Tapi kondisinya masih belum sadarkan diri, Abimanyu yang masih setia menemani Dira, berharap agar istrinya bisa membuka matanya.


Abhi tak sedikitpun pergi meninggalkan Indira, para keluarga sudah meminta Abhimanyu untuk pulang beristirahat. Namun dia tidak mau, bersikeras ingin menjaga istrinya di rawat.


Seperti saat ini, Abhimanyu tertidur di di samping Dira berbaring. Sejak Indira dirawat Abhi sangat kurang tidur, beristirahat hanya sekedar memejamkan matanya sejenak saja.


Mata Indira terbuka, secara perlahan. Dirinya melihat sekitar ruangan serba putih, dia tau saat ini sedang berada dimana. Dira melihat ada suaminya sedang meletakkan kepalanya didekat tangannya.


Indira merasa tubuhnya sangat lemah, dan tenggorokannya pun terasa kering. Akhirnya Dira menggerakkan jarinya agar suami terbangun.


"Mas Abhi," Dira memanggil suaminya dengan sangat lemah.


Sedangkan Abhimanyu, merasa seperti mimpi, karena terdengar ada yang memanggil namanya. Suara seseorang yang dia rindukan, dan benar saja Abhi merasa tangannya di sentuh. Saat dilihat, ternyata tangan istrinya bergerak, dirinya langsung terbangun dan tersenyum saat tau wanita yang dia cintai membuka matanya.


"Sayang, Alhamdulillah kamu membuka mata kamu." Terlihat Abhi menitikkan air matanya, dan segera menghapusnya.


Abhimanyu melihat istrinya menggerakkan bibirnya, namun suaranya tak terdengar jelas. Abhi mendekatkan wajahnya, baru terdengar istrinya bicara.


"Haus, aku mau mi_ _ num," kata Dira dengan suaranya yang lemah.


Abhimanyu mengangguk, dan segera mengambil air, lalu membantu istrinya untuk minum.


Setelah Dokter datang, dan memeriksa keadaan Indira. Kini di kamar itu hanya ada mereka berdua.


Kondisi Indira yang masih terlihat memprihatinkan, dengan kaki dan tangannya yang masih sulit untuk di gerakkan.


Sesekali Indira melihat suaminya yang mengusap matanya, seperti ada yang ditutupi dari dirinya.


"Mas Abhi kamu kenapa? Ko dari tadi aku lihat, setiap kali kamu menatap aku, kamu sedih. Ada apa sebenarnya?" tanya Dira dengan suara lemahnya.


"Enggak ada kok sayang, tidak ada yang disembunyikan dari kamu." Abhi berusaha tersenyum, tapi Indira bisa merasakan kalau suaminya sedang berbohong.


"Aku yakin, pasti ada yang kamu sembunyikan dari aku, katakan Mas!" kata Dira dengan wajah memohon.


Abimanyu menggenggam tangan Dira dengan erat, lalu dikecupnya. Indira mendengar suara isak tangis dari suaminya


"Sayang, maafkan aku! Karena aku pernah menolak permintaan kamu, untuk menemani kamu dirumah. Kalau waktu itu aku menurutinya, mungkin kejadian pahit tidak akan terjadi, pasti dia tidak akan ..." Abhi tidak melanjutkan perkataannya.


"Kenapa kamu tidak melanjutkan perkataan kamu, Mas?" tanya Dira, merasa ada yang mengganjal di hatinya. "Dia siapa? Tidak akan, apa?" tanya Indira dengan beruntun.


Indira menahan tangan Abhi, agar tidak jadi melangkah. Abhimanyu masih enggan menatap wajah istrinya, merasa tak kuat untuk menceritakan semuanya.


"Mas Abhi ada apa? Katakan padaku jangan ada yang di sembunyikan!" pinta Dira.


Abhimanyu tersenyum, lalu mencoba melepaskan tangannya dari Dira. "Kamu jangan khawatir ya sayang! Tidak ada apa-apa. Sekarang aku mau ke toilet dulu ya," Abhi membelai rambut Indira, dan Dira diam tak menjawab.


Setelah mengatakan itu Abhimanyu meninggalkan Indira di ruangan seorang diri. Dira yakin kalau sesuatu sudah terjadi, menimpanya karena tadi Dokter mengatakan sesuatu.


"Kamu kuat ya, dan ikhlas. Untuk menerima kenyataan yang sudah terjadi,"


Itu menjadi tanda tanya untuk dirinya, kenapa Dokter mengatakan itu kepadanya.


Karena merasa haus, dan tidak ada orang. Indira, berusaha mengambil minuman di atas meja seorang diri. Dengan penuh tenaganya, Dira berusaha meraih gelas, namun bukan berhasil melainkan gelas itu terjatuh ke lantai.


Prank!


Abhimanyu mendengar bunyi gelas terjatuh, saat Abhi lihat ternyata istrinya udah merubah posisinya dan hampir terjatuh.


"Astaghfirullah, sayang!" Abhimanyu berlari menghampiri Indira yang sedikit lagi terjatuh dari tempat tidurnya.


"Kamu mau apa sayang, bilang sama Mas, jangan seperti ini!" Abhi melihat tangan Indira yang terpasang jarum infus mengeluarkan darah. "Ya ampun Dira, tangan kamu berdarah." Abhimanyu terlihat panik, dan segera menekan tombol untuk memanggil perawat.


Tidak lamanya, seorang perawat datang, dan mengobati tangan Indira. Setelah selesai mengobati luka bekas jarum infusnya, dan perawat itu ingin pergi, Indira menahan perawat itu.


"Suster. Saya mohon jangan pergi dulu! Saya ingin bertanya sama kamu?" tanya Dira dengan bibir yang terlihat pucat, Abhimanyu menatap wajah istrinya yang enggan untuk melihatnya.


Perawat itu tersenyum. "Mau tanya apa mbak,"


"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi pada diri saya. Selain dari kecelakaan itu?" tanya Dira, membuat perawat itu diam, tak berani mengatakan apapun.


"Katakan, apa yang terjadi. Saya mohon Suster!" ucap Dira dengan wajah memohon.


Abhimanyu memberikan isyarat kepada perawat untuk tidak menjawabnya. Karena Abhi mau, Dira harus mendengarnya sendiri darinya, bukan orang lain yang memberitahunya.


"Suster, biarkan saya yang mengatakan kepada istri saya. Suster bisa kembali bekerja, terimakasih sebelumnya," ucap Abhi dan diangguki oleh perawat itu.


Perawat itu kini sudah meninggalkan Indira dan Abhimanyu. Dira masih enggan melihat ke arah Abhi, yang saat ini sedang menatapnya. Dirinya tidak bisa jika istrinya mendiaminya, dan itu akan membuatnya menderita.


Bersambung.