
Hanya itulah balasan yang di berikan Indira, dengan memasang postingan masakan yang sudah di buat, dengan emot wajah sedih dan kecewa.
Saat ini Abhimanyu sedang berada di sebuah cafe, sedang Reuni teman SMA. Awalnya hanya beberapa orang saja, namun kelamaan datang Winda dan Niko.
"Ndra, akhirnya kita ketemuan lagi."
"Ketemuan lah, elo kan masukin nomor gue ke grup."
"Habis nya hanya elo yang los kontak dengan kita. Lagian kan ada Winda mantan loe, kali aja kalian bis CLBK lagi.!"
"Hahaha... CLBK gimana si bro, terus do'i gue mau di kemanain.?" Kata Abhi, alhasil Winda menatap Abhi dengan tatapan sedikitnya kecewa,dan tersenyum kecut.
"Sorry, gue kira elo masih jomblo. Gue gak tau bro,"
"Santai bro," sengaja Abhi mengatakan itu di depan Winda, agar dia tidak berharap kepadanya.
Abhimanyu membuka pesan dari Indira, pandangan nya aneh saat melihat chat dari Dira.
'Dira kenapa ya, ko balas nya cuma iya saja.'
Saat melihat setatus nya, mata Abhi terbelalak, melihat postingan masakan dengan emoticon kesal dan sedih.
'Maksudnya apa ya, setatus nya seperti itu. Bibi masak SOP, atau apa.? Aduh kenapa perasaan gue gak enak gini ya,'
Niko melihat gerak-gerik Abhi yang sangat aneh pun lantas bertanya. " Elo kenapa Ndra?"
"Enggak ada apa apa ko, santai aja. Sorry ya, gue telpon orang rumah sebentar ya," Niko dan Winda pun mengangguk.
Abhimanyu saat menghubungi Indira, sedikit menjauh dari Niko dan Winda.
"Kenapa gak di angkat ya, kamu kenapa si sayang," Abhi terus menghubungi Indira, tapi Dira tak merespon panggilan dari Abhi.
"Coba ku telpon Bu Sumi, barang kali dia tau,"
Abhi pun akhirnya menghubungi bu Sumi.
Tuuut.... Tuuut.... Panggilan pun di angkat.
"Assalamualaikum Bu, maaf ganggu, mau tanya Indira dirumah tidak Bu,?"
"................
"Di kamar, oh ya sudah Bu. Ini saya cuma ingin tanya, kenapa Indira tidak angkat telpon saya. Apa Dira tidak keluar Bu, dengan teman temannya,?"
"............
"Apa, Indira belajar masak Bu. Dan sejak tadi tidak keluar kamar. Ya ampun, yasudah kalau begitu terimakasih ya Bu, atas infonya. Kalau begitu saya tutup telpon nya. Assalamualaikum ....."
Panggilan pun terputus, Abhi mengusap rambutnya ke belakang, dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Astaga, lagi lagi gue bikin dia kesal. Pantas aja dia hubungi gue terus, gue udah buat dia kecewa."
Abhi pun kembali ke tempat duduknya.
"Kenapa Ndra?" tanya Winda.
"Iya kenapa muka lo jadi bete gitu, ada masalah memangnya,?" timpal Niko.
"Sedikit, Eeh sorry banget ya, gue balik duluan. Sorry gue ada janji sama do'i, tapi gue lupa,"
"Enggak asyik loe, setiap gue datang elo pergi."
"Bukan gitu bro, gue udah datang dari tadi. Cuma kalian aja baru datang, dan gue baru ingat gue ada janji sama do'i.!" Jawab Abhi merasa tak enak hati.
"Yasudah sana, tapi kita foto-foto dulu dong, biar afdol bro.!" Abhimanyu pun mengangguk.
Abhimanyu akhirnya berfoto bersama teman-teman lamanya, untuk kenang-kenangan.
Sedangkan Indira di dalam kamar, sedang merasa sedih. Indira mendengar suara deru mesin mobil di halaman rumah, Indira pun menyelimuti badannya dan memejamkan mata.
Pintu kamar pun terbuka, dan Dira mendengar derap langkah seseorang mendekat kearahnya. Abhimanyu melihat mata Indira yang terpejam, tapi hanya berpura pura, Abhi tau itu.
Abhimanyu menyentuh bagian wajah Indira, dan terlihat air matanya masih mengalir. Abhi pun menghapus air matanya.
"Aku tau kamu belum tidur. Maaf, sudah membuat kamu sedih,"
"Mas Abhi," jawab Indira saat membuka matanya.
Indira mengubah posisi menjadi duduk, dan Abhi duduk di sampingnya. Sambil menggenggam tangannya, Abhi menatap Dira.
"Kamu masak ya, buat aku?" Indira hanya mengangguk, "kamu sudah makan?" Dira hanya menggelengkan kepalanya.
"Maaf ya, Mas lagi lagi membuat kamu kecewa. Aku lupa, kalau aku mau janjian dengan teman SMA, di cafe. Pas ingat saat mau pulang tadi, aku langsung ditelpon oleh anak-anak. Maaf banget ya, benar gak bermaksud buat bikin kamu kecewa."
"Iya mas, aku yang salah ingin masak tidak bilang kamu lebih dulu. Niatnya aku mau kasih kejutan ke kamu, kalau aku belajar masak, ingin masak buat kamu, agar kamu pulang bisa langsung makan masakan aku.!"
"Ya ampun, kasian banget istri aku. Udah capek-capek masak malah aku buat kecewa kamu," Abhi melihat tangan kiri Dira terpasang plaster di jari telunjuknya. "Ini tangan kamu kenapa, terkena pisau.?" Sambil menyentuh jari nya, Indira mengangguk.
Cup
Abhi mengecup jari telunjuknya, dan Indira pun tersenyum melihat sikap manis dari seorang Abhimanyu.
"Maaf ya, karena masak buat aku tangan kamu terluka. Harusnya kamu gak usah masak, biar Bu Sumi saja yang masak. Aku tidak ingin kamu terluka,"
"Aku hanya ingi memasak, agar kamu bisa makan masakan aku sesekali. Walaupun aku tau dan sadar diri, masakan kamu pasti lebih enak dari masakan aku,"
"Terimakasih kamu sudah mau berusaha buat aku. Sekarang kamu sudah makan belum? kita makan yuk, aku sudah minta Bu Sumi untuk memanaskan semua masakan kamu.!"
"Memang masih enak, kalau sudah di hangat kan masakan nya.?"
" Enak saja, kan makan nya bersama kamu.Yuk makan,!" ajak Abhi, dan Indira pun mengangguk.
Kini keduanya sedang duduk di kursi makan, melihat masakannya sudah di panaskan oleh Bu Sumiati membuat Abhi segera mengambil piring untuk menyendok nasi.
Abhimanyu melihat Indira yang hanya memperhatikan masakan nya saja.
"Ko diam, ayo makan.! Apa kamu mau aku suapi, kita makan berdua saja,?"
"Aku hanya takut masakannya tidak enak, Mas," rasa tidak percaya diri Indira kembali hadir.
"Ya sudah aku cicipi ya masakannya.?" Abhi mengambil Sop, tahu tempe dan perkedelnya ke atas piringnya, tak lupa dirinya mengambil sambelnya.
Abhimanyu menyendok nasi dan lauknya, lalu di masukkan ke dalam mulutnya. Saat suapan masuk kedalam mulutnya, Indira menunjukan wajah cemas bagaimana rasa masakan nya. Karena Abhi tidak menunjukkan ekspresi apapun saat makan, dan itu membuat penasaran.
"Mas bagaimana rasanya, enak atau tidak? pasti tidak enak ya,?" Pertanyaan beruntun Indira membuat nya seakan ingin tertawa, namun Abhi berusaha menahan tawanya. "Kenapa kamu diam saja, bagaimana rasanya. Kalau tidak enak aku buang saja ya.?" Indira hendak mengambil piring milik Abhi, namun di tahan olehnya.
Karena merasa gemas, Abhi mengecup bibi* nya, dan itu membuat Indira mematung dan tersenyum malu. "Memangnya aku bilang tidak enak ya masakan kamu,?"
"Habisnya kamu tidak jawab, pertanyaan aku,"
"Namanya memakan sesuatu itu harus di nikmati, kalau main lahap aja itu namanya kelaparan," Indira tersenyum mendengarnya. "Masakan kamu itu enak, tidak buruk. Sini aku suapi kamu ya.!" Indira mengangguk.
Abhimanyu menyendok nasi dan menyuapi untuk Indira. Indira mengunyah makanan dan merasakan masakannya. "Bagaimana rasanya enak, 'kan?" tanya Abhi dengan tersenyum.
"Iya masakan aku ternyata enak, waaah .... aku berhasil dong belajar masak nya," ucap Indira dengan bangganya.
"Iya kamu berhasil belajar masak nya, dan ini sambalnya pun enak. Kamu tau dari mana membuat sambal ini,?" tanya Abhi saat mengambil 2 sendok sambal, dan letakkan di atas nasi nya.
"Kalau sambal, aku pernah bantuin mamah buat sambal. Dan setiap aku membuat nya, papah dan ka Ical suka sambal buatan aku. Memangnya enak ya sambelnya,?"
"Enak, aku suka sayang." Abhimanyu memakan nasi dengan berwarna merah karena warna sambalnya. Abhi memakannya dengan begitu lahap, membuat Indira tersenyum senang melihatnya.
Dan kini mereka pun sedang makan bersama, menikmati masakan yang di buat Dira untuk pertama kalinya. Meskipun Abhi sempat memakan mie instan buatannya. Tapi dirinya lebih suka untuk makan masakan istrinya yang sekarang di buat nya.
Bersambung