My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Mama Anissa marah



Setelah pernikahan Gea saat itu, Indira setiap kali melihat Gilang selalu menghindar.


Hingga suatu hari, Gilang di panggil pak Fadil, dan mama Anissa, untuk menemui mereka.


"Pah, Mah. Kalian manggil aku, ada apa ya?" tanya Gilang yang sudah duduk di sofa bersama kedua orangtuanya.


"Maaf Lang! Mama, dan Papa ingin mengatakan sesuatu ke kamu Nak!" ucap Bu Anissa, sambil menatap wajah sang putra.


Gilang menatap wajah papa nya hanya menatapnya dengan ekspresi dingin.


Ada apa ini sebenarnya, kenapa perasaan ku tak enak ya?


"Lang, apa kamu sudah mempunyai kekasih?" tanya pak Fadil, dengan wajah tanpa ekspresi. "Kalau sudah kami ingin mengenal gadis pilihan kamu itu, kamu bawa dia kesini!"


Tak ada jawaban dari Gilang, dirinya bingung harus menjawab apa ke orang tuanya.


"Lang, mama minta kamu jangan berbohong lagi. Tentang gadis yang bernama Erika, itu tidak benar kan?" tanya Mama Anissa.


Gilang terkejut mendengarnya, dan melihat wajah keduanya menunjukkan ekspresi tak enak.


"Lang, mau sampai kapan kamu, masih menyukai istri om kamu!" tegur Mama Anissa. "Gilang kamu bisa mencari gadis lain!"


"Mungkin buat yang tidak merasakan mudah mengatakan itu. Tapi buat aku susah Mah!" jawab Gilang tanpa rasa bersalah.


"Tapi dia sekarang sudah menjadi tante kamu! Apa kamu masih mengharapkan dia!" papa Fadil sudah terlihat kesal.


"Gilang tidak sejahat itu Pah. aku masih punya hati, aku juga hanya butuh waktu untuk melupakannya." jawabnya.


"Lang, maafkan mamah, yang pernah berniat menjodohkan kalian. Tapi nyatanya takdir berkata lain, dia sudah berjodoh dengan om kamu," timpal Bu Anissa dengan wajah bersalah, membuat Gilang merasa tak tega.


"Ini bukan salah mama, ini salah ku. Aku belum bisa move on darinya. Aku juga sebenarnya merasa bersalah kepada dia dan om. Tapi semakin aku berusaha melupakannya, justru bayang-bayang Dira selalu hadir." Gilang dengan menundukkan kepalanya.


"Aku juga tidak ingin sampai Oma, dan opa tau. Pasti akan panjang urusannya, mangkanya aku berniat ingin pergi lebih jauh lagi darinya." Mama Anissa dan papa Fadil langsung tercengang mendengarnya.


"Mau seberapa jauh lagi kamu pergi dari dia. Kamu tidak memikirkan kami sebagai orang tuamu?" tanya papa Fadil.


Mama Anissa terlihat mulai kesal dengan putranya. "Biarkan saja Pah dia pergi! Tapi satu syarat, kamu jangan pernah datang lagi kesini, dan menganggap kami orang tuamu!"


Papa Fadil dan Gilang terkejut mendengar mama Anissa mengatakan seperti itu. Terlihat sekali wajah marah, dari wanita yang tak lagi muda di sebelahnya.


Bu Anissa menangis, sebenarnya dirinya tak kuasa mengatakan seperti itu kepada putranya. Namun apalah daya, dirinya tidak ingin menahan keinginan putranya. Namun dirinya juga tidak ingin jauh dari anaknya yang selama ini dia besarkan.


Pak Fadil tak dapat berkata apa-apa, karena istrinya itu wanita yang sabar. Tetapi sekalinya marah, dirinya pun juga sedikit ciut.


"Mah, jangan mengatakan seperti itu! Gilang anak kita," pak Fadil mencoba menenangkan istrinya.


"Dia sudah dewasa, bisa memilih jalannya sendiri. Mau seberapa jauh dia pergi dari kita, biarkan saja! Tetapi jangan pernah datang kesini lagi, dan menganggap kami keluarga kamu!" kata mama Anissa dengan penuh ancaman.


"Mah, jangan mengatakan itu. Aku mohon!" Gilang masih dengan posisi yang sama, berlutut di hadapan sang ibu.


"Hanya kalian orang tuaku. Meskipun aku tak mengalir darah kalian, tapi hanya kalian yang ku punya." Bu Anissa menangis tak kuat menahan perkataan putranya.


"Meskipun, aku tidak terlahir dari rahim mama. Tetapi kalian menyayangi aku begitu tulus. Maafkan aku Ma, Pa!"


Pak Fadil dan mama Anissa tak kuasa menahan air matanya, mendengar putranya untuk pertama kalinya memohon seperti itu.


Selama ini, mereka mengenal Gilang sosok putra yang pendiam tak pernah banyak nuntut, dan mandiri. Dirinya bahkan selalu ingin membuktikan, kalau dia bukanlah anak yang manja, atau selalu merengek setiap apa yang dia inginkan.


Tetapi untuk saat ini, dirinya baru pertama kali memohon kepada orang tuanya untuk tidak membuangnya dari mereka.


"Mah, jangan katakan itu. Kalian tau aku tidak pernah meminta apapun dari kalian. Tapi sekarang aku memohon, jangan pernah mengatakan kalian itu bukan orang tuaku." Mata Gilang sudah merah, begitu juga Pak Fadil dan Bu Anissa.


Gilang menghapus air matanya, lalu menatap kedua orang tuanya dengan sungguh-sungguh.


"Aku janji, tidak akan pergi jauh dari kalian! Aku akan menuruti apa yang mama, dan papah katakan. Aku juga akan berusaha melupakannya, dan belajar membuka lembar baru. Asalkan kalian tidak membenciku!" Gilang dengan wajah memohon di hadapan kedua orang tuanya.


Bu Anissa dan pak Fadil melihat putranya yang selama ini sudah mereka anggap seperti putranya sendiri. Merasa sangat tak tega, terlihat wajah penyesalannya. Mereka pun langsung memeluk Gilang yang saat ini sedang memohon sambil berlutut.


"Nak, kamu putra kami. Selamanya kamu itu anak Mama dan Papa. Kami ingin kamu menghadapi setiap permasalahan, bukan menghindar namun bayangannya selalu menghantui kamu." Kata papa Fadil menatap wajah putranya. " Jadilah laki-laki yang kuat, yang bisa menerima kenyataan. Agar nantinya kamu bisa menghadapi kerasnya hidup yang akan datang di kemudian hari."


"Gilang, kamu anak kami. Jadi sebisa mungkin kami yang menegur kamu, dengan cara kami. Mama dan papa tidak ingin, ada orang lain yang menegur dengan cara yang salah. Yang akan membuat kamu sedih dan terluka," ucap Bu Anissa dengan menatap wajah putranya dengan penuh kelembutan.


"Jika kamu sayang dengan kami, sebagai orang tuamu. Kamu mau kan, mengikuti apa yang mamah katakan? Kita hadapi sama-sama ya Nak. Ada kami keluarga kamu, kita semuanya keluarga, akan selalu support kamu." Bu Anissa memeluk putranya, dengan pelukan hangat seorang ibu yang menyayangi anaknya.


Ya begitulah Gilang, sifatnya yang keras kepala, untuk mengejar segala keinginannya. Namun dia akan kalah dan luluh, jika sudah bersangkutan dengan keluarga apalagi mamanya.


Bersambung....