
Sekarang Abhimanyu tidur bersama dengan Indira di ranjang yang sama, dan lagi lagi di beri pembatas oleh Indira. Entah kenapa Indira begitu takut jika Abhi benar benar melakukan seperti di film-film.
( Yah elah, Dira film apa si yang di takutin, korban Drakor ya kaya Othor. wkwkwk.)
"Dir, kenapa masih di jaga seperti ini sih?" Tanya Abhi yang melihat Indira sibuk membereskan guling di tengah tengah mereka.
"Biar Mas Abhi tidak macam macam dengan aku.!" Dengan wajah tanda ancaman.
Justru itu membuat Abhimanyu tertawa, mendengar nya. Indira melototi suaminya dengan tatapan tajam, Abhi yang di tatap seperti itulah berusaha menahan tawanya.
"Sayang, kamu kebanyakan nonton drama percintaan di aplikasi handphone kamu nih. Aku melakukan macam-macam apa, 1 macam aja aku belum ngerasain, gimana rasanya. Apalagi macam-macam, ada ada aja kamu si?"
"Mas Abhi .!" Ucap Indira dengan kesal karena malu, mendengar kata-kata Abhi.
Abhimanyu mengembungkan pipinya, berusaha menahan tawanya, karena melihat Indira yang mulai menunjukkan raut wajah berbeda.
"Sini duduk samping aku.!" Kata Abhimanyu dengan menepuk sisi samping nya. Indira pun menurut dan duduk di samping Abhi. " Dengar kan aku ya istri ku, kenapa kamu harus takut dengan aku. Hubungan kita itu sudah SAH, jadi tidak ada tanda di larang untuk berhubungan. Hanya saja aku menghargai kamu, yang masih berstatus pelajar. Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri dan juga seluruh keluarga kita, untuk tidak menyentuh kamu yang lebih seperti hubungan lain nya. Kamu paham maksudnya apa.? Jadi kamu jangan takut untuk aku melakukan hubungan yang lebih in*I'm. Karena aku juga sudah berjanji untuk memegang semua perkataan aku."
"Tap --- tapi waktu itu Mas Abhi merebut ci*man pertama ku. Dan aku takut, kalau itu akan berlanjut suatu saat nanti?" Abhimanyu terkejut mendengar apa yang di katakan oleh istri kecilnya itu.
"Apa, jadi kamu baru pertama melakukan sebuah ci*man, dan itu baru dengan aku saja?" Pertanyaan Abhi berhasil membuat Indira mem *ku* Abhi menggunakan guling, karena merasa perkataan Abhi itu terlalu fulgar.
"Jadi Mas Abhi pikir, aku sering berci*man dengan mantanku, iya.? Mas Abhi jahat iih,, menilai aku seperti itu, sampai Mas Abhi mengatakan itu kepada aku. Nyebelin tau gak, iiihhh...!" Indira pun merajuk dengan ucapan Abhimanyu. Indira mem*kul Abhi dengan kesal, namun tak membuat Abhimanyu kesakitan.
Abhimanyu melihat mata Indira yang mengembun, dirinya segera menahan tangannya dan menarik membawa ke dalam pelukannya.
"Maaf, bukan maksud aku menilai kamu seperti itu."
"Buktinya itu Mas Abhi berkata seperti itu, nyebelin banget.!" Indira masih bernada merajuk.
Abhimanyu menyentuh wajah Indira, dan melihat matanya yang basah. Abhi menatap wajah Dira, lalu menghapus air matanya menggunakan ibu jarinya. Abhi sadar, ucapan nya begitu sensitif sampai membuat istrinya tersinggung.
"Sayang, maaf kalau perkataan aku membuat kamu tersinggung, aku gak bermaksud seperti itu."
"Maksud Mas Abhi apa.?"
"Sebenarnya aku jarang banget mendengar, kalau anak sekarang belum pernah berci*man dengan siapapun. Bahkan setiap kali aku mendengar anak anak kalau bicara, mereka mengatakan dengan bangganya kalau mereka itu habis berci*man. Katanya itu lumrah terjadi di perg*ulan sekarang, dan yang aku pernah mendengar sendiri yang mengatakan nya itu, anak masih pelajar Sekolah Dasar. Dengan percaya diri mereka mengatakan itu depan teman-teman nya. Dan mangkanya aku terkejut mendengarnya, kalau kamu belum pernah melakukan itu, dan Mas sangat bahagia karena akulah orang yang mendapatkan itu untuk yang pertama dari kamu." Abhi menyentuh wajah Indira dan mengecup keningnya. "Sekarang aku semakin sayang sama kamu, aku minta maaf ya, sudah membuat kamu marah.?"
Indira pun mengangguk kan kepalanya.
"Iya aku maafin, tapi Mas janji jangan seperti ini lagi. Karena memang kamu tau sendiri kita menikah kemarin usiaku berapa,"
"Iya sayang maaf ya, sekarang kita istirahat ya.!" Indira pun mengangguk lalu bersandar di dada bidang Abhimanyu.
Esok harinya, Papah Benny membawa sekeluarga untuk liburan. Ya pak Benny mengajak istri anak dan menantunya ke wahana permainan main, karena masih suasana liburan sekolah. Sekaligus membahagiakan Adam dan Indira, meskipun Indira sudah memiliki suami, tapi bagi papah Benny Indira adalah putri kesayangannya.
Indira dan Adam sangat menikmati liburan nya bersama keluarga. Abhimanyu melihat wajah kebahagiaan terpancar dari Indira, menikmati wahana permainan tanpa mengenal lelah. Abhi dan Faisal saja merasa mual saat menaiki roller coaster, tetapi Indira sangat menikmati.
Setelah puas bermain menikmati semua wahana, mereka pun semuanya beristirahat sejenak. Mencari tempat untuk duduk di taman taman hijau. Di tempat itu hanya ada Papah mamah dan Indira saja, sedangkan yang lain membeli sesuatu.
"Dira temani Mamah ke toilet yuk! kebelet banget soalnya," kata Mamah Diana berbisik kepada Indira
"Ayo mah, aku juga sama." Jawab Indira yang sudah bersiap berdiri.
"Kalian mau ke mana?" tanya papah Benny.
"Ke toilet kebelet p*pis, aku sama Dira ke sana dulu ya." Papah Benny pun mengangguk.
Faisal Gilang dan juga Adam yang sedang membeli sesuatu untuk semuanya, tidak tau kalau Indira dan Mamah Diana tidak ada tempat. Mata Abhimanyu melihat sekeliling, memang tidak ada Indira.
"Pah, Indira dan Mamah ke mana ya?" Tanya Abhimanyu
"Mereka ke toilet, entar juga balik," Abhi hanya mengangguk, entah kenapa perasaan Abhimanyu merasa gelisah.
Cukup lama Indira dan mamah Diana ke toilet, namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda mereka datang.
"Ngantri kali Bhi, maklum biasa toilet umum apalagi wanita, biasanya penuh," Abhimanyu mengangguk membenarkan perkataan Papah mertuanya.
Mereka masih menunggu, dan merasa gelisah Karena mamah Diana dan Indira belum kunjung datang.
"Pah, aku cari Indira dan mamah dulu ya?"
" Bhi, Papah ikut cari mereka. Papah khawatir dengan mamah juga,"
"Papah di sini saja ya, biar Ical dan Abhi yang mencari mamah dan Dira," kata Faisal.
"Iya Pah, kalau semuanya mencari kakak dan mamah, dan kalau mereka sampai di sini tidak ada siapapun. Pasti mereka juga bingung." Timpal Adam, dan papah Benny pun mengangguk dan duduk sambil menunggu kedatangan istri dan putrinya.
Sedangkan Indira dan Mamah Diana, sedang mencari toilet yang tidak terlalu ramai. Karena waktu weekend, banyak pengunjung dan banyak juga yang mengantri di toilet.
"Mah, itu ada bacaan toilet barang kali di sana tidak terlalu ngantri?"
"Iya Dir, kita coba ke sana yuk!" Mamah Diana dan Indira melangkah menuju bacaan toilet yang menuruni jalan.
Indira dan Mamah Diana. menemukan toilet yang tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa orang saja yang mengantri.
"Nah, benar kan Mah. Disini gak perlu ngantri panjang seperti tadi, hanya berapa orang saja,"
" Iya kamu benar sayang, tapi ini jauh dari Papah dan yang lain. Pasti mereka mencari cari kita,?"
" Yasudah kalau kita sudah selesai, kita segera kesana ya Mah." Ternyata orang yang di dalam toilet pun keluar, dan sekarang berganti dengan Mamah Diana yang masuk kedalam. Dan tidak lamanya, orang yang di dalam tempat Indira pun keluar, Indira pun langsung masuk.
Mamah Diana setelah selesai, menunggu di luar terlebih dahulu. "Sayang, Mamah tunggu di luar ya?"
"Iya Mah,"
Saat mamah Diana menunggu di luar, ada 2 orang pria menatap ke arah Mamah Diana, sambil berbisik ke temannya. Dan 2 orang itu menghampiri Mamah Diana, dengan senyuman menyeringai.
"Serahkan tas Ibu.!" Kata pria memakai jaket jeans, dan mengarahkan pisau ke arah Mamah Diana.
"Siapa kalian, bisa bisanya di tempat seperti ini kalian melakukan hal seperti ini." Mamah Diana sedikit takut menghadapi 2 pria di hadapannya.
"Jangan banyak ba*ot loe, sini tas Lo.!" Sambil menarik paksa tas Mamah Diana.
"Gak, saya gak akan lepasin tas saya. Tolong...!" Teriak Mamah Diana, dan itu di dengar oleh Indira saat baru keluar dari dalam toilet.
"Itu kan suara mamah, astaga ada apa dengan Mamah." Dengan cepat Indira mencari di mana suara mamahnya, dan benar saja Mamah Diana di todong oleh 2 orang pria menggunakan senjata tajam. Dira pun segera menghampiri mamahnya yang lagi menahan tas nya agar tidak di ambil oleh 2 pria itu.
"Dira..."
"Mamah," Indira menatap 2 pria yang berada di dekat mamahnya dengan tatapan marah. " Woy, lepasin nyokap gue.!"
"Hei anak kecil, jangan ikut campur. Kita tidak akan melukai kalian, asal tas Ibu loe di serahkan ke kita.!"
"Enak aja minta tas nyokap gue, kerja woy, kalau mau punya duit jangan begini caranya." 2 orang pria itu pun terpancing emosi dengan perkataan Indira.
"Alah banyak ba*ot Lo." Salah satu pria itu menarik tangan Mamah Diana yang di mana tas itu di pegang nya.
Aaaa... Teriak Mamah Diana, yang memang merasa sakit, saat tangan nya di tarik. Indira yang tak terima mendengar mamahnya kesakitan langsung melayang ten*angan ke orang tersebut sampai tersungkur ke tanah.
" Mah, menjauh dari orang ini.!" Kata Indira
Mamah Diana pun menjauh dari Indira dan 2 orang itu. " Nak hati hati sayang." Indira hanya memberikan senyuman kepada Mamah Diana.
"Kayaknya nih anak nantangin kita. Sebenarnya gue malas be*a*tem sama perempuan, tapi ...." Dengan cepat 2 orang itu melayangkan sebuah Bogeman ke arah Indira, Indira pun masih bisa mengeles.
Indira tersenyum menyeringai melihat 2 laki-laki di hadapan itu.
Bersambung..