
Abhimanyu pun akhirnya terpancing rasa kesalnya. Ternyata Indira hanya berniat menjahili, dengan pertanyaan yang gak jelas. Benar benar dirinya di buat gemas dengan sikap Indira yang receh.
Abhimanyu menunjukkan geramnya, sedangkan Indira hanya tersenyum melihat Abhimanyu yang terlihat kesal.
****
Kini waktu weekend. Indira dan Abhimanyu sedang mengunjungi rumah keluarga Indira. Benar saja mamah Diana dan papah Benny sudah menanti kedatangan anak dan menantunya. Terutama Adam dan Faisal, yang sangat menanti seseorang yang sering mereka jahili.
"Ayo sayang masuk yuk.!! Mamah sudah memasak masakan spesial untuk kalian berdua loh," Kata Mamah Diana yang begitu bersemangat saat Indira dan menantunya datang.
Kini Indira, Abhimanyu dan keluarga mamah Diana. Sedang menikmati makan siang bersama. Terlihat sekali Indira memakan masakan yang di buat oleh mamah Diana, dengan sangat lahap.
"Pelan pelan dong sayang, nanti kamu tersedak loh.?"
"Hahaha... Iya mah, habis nya aku kangen masakan yang di buat Mamah. Apalagi ini, beuuhh, mantab kali masakan mamah." Sambil mengacungkan dua jempolnya ke arah mamah Diana.
Mamah Diana hanya tersenyum melihat wajah putri nya, yang selalu menemani hari-hari nya penuh dengan kebahagiaan. Begitu pun juga Adam, Faisal dan papah Benny yang tersenyum melihat Indira.
Selama Indira menjadi istri dari Abhimanyu, mereka merasa kesepian dengan suaranya yang selalu membuat suasana menjadi ramai.
Selesai makan seluruh keluarga pun berkumpul bersama di ruang keluarga. Dengan keseriusan yang kebiasaan mereka lakukan. Abhimanyu hanya menjadi penontonnya melihat keseriusan antara Indira dan Adam. Apalagi jika Faisal sudah hadir di tengah tengah adik adiknya suasana keramaian pasar pun pindah kerumah mereka.
"Ka Dira, dapat salam tuh dari Yanto," Kata Adam dengan wajah di buat serius. Indira melototi ke arah Adam untuk berhenti bicara.
" Siapa Yanto.?" Tanya Abhimanyu yang menjawabnya tiba tiba, dan itu membuat semua mata tertuju padanya.
Adam menahan tawanya saat melihat raut wajah kakak iparnya. Adam di pelototi oleh Indira, sambil memberikan kode untuk tidak bercanda.
"Ka Abhi mau tau, Yanto itu siapa.?" Abhimanyu mengangguk.
"Kasih tau gak ya, Yanto itu siapa." Adam sengaja memutar bolak balik pertanyaan kepada kakak iparnya.
Sehingga Adam berusaha menahan rasa geramnya. "Jika dia keponakan ku, sudah pasti aku jitak kepalanya sampai peyang .Bisa bisanya ngejahili orang yang lebih tua darinya.!" Gerutu Abhimanyu dalam hatinya.
Papah Benny memberi kode dengan raut wajah yang memelototi kearah Adam, untuk tidak membuat ulah, atau menjahili Abhimanyu. Adam hanya terkekeh.
"Iya, iya maaf. Ka Abhi yang aku maksud Ka Dira dapat salam dari Yanto. Sebenarnya Yanto itu adalah penjual cilok bakso, yang berada di pertigaan jalan itu. Sebenarnya namanya Yanti, cuma ka Dira manggilnya Yanto. Karena orangnya sedikit gesrek otak nya, bukan sedikit si tapi emang udah gesrek. Aku dan Ka Dira setiap pulang sekolah, sering jajan di tempat dia. Karena Kak Dira sering tuh berdebat dengan ka Yanto, alias Yanti. Dan semenjak Ka Dira sudah tinggal sama Kak Abhi, dia terus aja nanyain Kak Dira. Bahkan setiap aku pulang dia selalu berteriak memanggil ku, hanya untuk nanya di mana Indro. Nah Indro itu, panggilan dia untuk kak Dira," Kata Adam yang menceritakan siapa Yanto itu. Dan ternyata Yanto itu seorang gadis bernama Yanti. Yang tak lain penjual cilok bakso. Abhimanyu tercengang dengan apa yang di ceritakan oleh Adam adik iparnya itu.
Sedangkan Indira dan Faisal hanya tersenyum melihat reaksi Abhimanyu saat mengetahui Yanto itu adalah Yanti.
Hari ini, Indira dan Abhimanyu menginap di kediaman papah Benny. Dan untuk pertama kalinya, Abhimanyu masuk ke kamar Indira. Abhimanyu nampak tercengang melihat isi kamar tidur Indira. Ada beberapa boneka, terpajang di lemari pajangan. Ada gitar, tertata rapih di atas mejanya, serta tumpukan buku, yang tak lain buku buku itu adalah novel kesukaan Indira. Semuanya tertata rapi, di pojokan kamar.
Tiba-tiba pandangan Abhimanyu tertuju ke arah foto foto yang terpajang di bingkai. Yang di mana, terlihat seorang gadis yang sedang tertawa ceria. Abhimanyu yakin kalau itu Indira, karena foto itu adalah foto keluarga yang di mana ada papah Benny, Mamah Diana, Faisal, Adam dan juga Indira. Seperti nya itu di ambil, saat keluarga sedang berlibur di suatu tempat. Abhimanyu tersenyum memperhatikan semua foto. Dan bukan hanya itu, Abhimanyu juga melihat foto Indira sedang berada di atas panggung sedang memainkan gitar. Ada rasa kagum pada Abhimanyu, saat melihat foto Indira, saat lagi perform.
"Memang dia sudah mempunyai bakat sejak lama, pantas saja rasa percaya dirinya itu besar sekali. Aku sudah bisa menebak, kalau dia itu gadis unik, dan istimewa." Sambil menatap foto Indira.
Ceklak... Suara pintu terbuka. Abhimanyu segera meletakkan foto nya di atas mejanya. Abhimanyu tersenyum menatap Indira, begitu pun juga Indira membalas senyumannya Abhi.
Indira melangkah mendekat ke arah Abhimanyu, dengan rasa gugup yang saat ini dia rasakan. Dan Abhimanyu dapat melihat raut wajah Indira yang terlihat gugup. "Kamu kenapa Dir. Ko wajah kamu terlihat gugup.?"
" Eeemmm.... Mas Abhi, apa kita harus tidur dengan satu ranjang?" Tanya Indira terlihat gugup.
"Memangnya masih ada kasur lagi.?"Indira menggelengkan kepalanya. " Hanya ada satu kasur ini kan.?" Indira hanya mengangguk. " Yasudah kita tidur satu ranjang. Memangnya kenapa, ada masalah ya.?" Tanya Abhimanyu dengan santainya.
" Eeemmm... Berarti kita harus berbagi tempat tidur.?" Tanya Indira yang nampak gugup.
"Kenapa memangnya, apa kasur segini kamu masih kurang. ?" Tanya Abhimanyu, yang sengaja memancing Indira. Abhimanyu tau kalau Indira saat ini tidak nyaman jika harus berbagi tempat tidur dengannya.
"Bukan seperti itu, maksud aku mas,"
"Lalu apa, atau justru kamu tidak memperbolehkan aku menginap. Kalau memang seperti itu, aku pulang saja ya.?" Tanya Abhimanyu yang hendak melangkahkan kakinya. Namun Indira justru menahan tangan nya.
Indira menggelengkan kepalanya. "Jangan mas, jangan pulang. Bukan maksud aku, tidak memperbolehkan mas menginap. Hanya saja aku bingung kalau..." Indira menggantung kan ucapan nya.
Abhimanyu justru tersenyum melihat Indira yang bersikap gugup seperti itu. " Kamu bingung kenapa si sayang.? Aku tau apa yang kamu pikirkan. Jangan khawatir, aku tidak akan macam macam sama kamu. Aku tidak akan menyentuh, seperti apa yang kamu pikirkan. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak minta hak ku, jika usiamu belum cukup. Sampai waktunya tiba, barulah aku akan meminta hak ku sama kamu," Sambil menggenggam tangan Indira.
"Benar mas, dengan kata kata kamu itu.?"Abhimanyu pun mengangguk.
"Dira, kamu tau setiap laki-laki itu harus bisa memegang perkataannya. Dan aku sebagai laki-laki, aku sudah berjanji untuk tidak melakukan atau pun memaksa kamu. Tapi jika kamu yang ingin memberikan itu, aku akan terima dengan lapang dada." Sambil mengedipkan sebelah matanya.
Indira pun tercengang dengan mulutnya yang terbuka, mendengar perkataan pria di hadapannya ini. Abhimanyu hanya tersenyum melihat ekspresi Indira. Abhimanyu justru melangkah menuju tempat tidur, dan duduk bersila sambil memegang handphone.
"Sudahlah tuh mulutnya jangan terbuka seperti itu. Nanti ada nyamuk masuk kedalam mulut kamu, bagaimana.?" Indira segera menutup mulutnya dengan rapat. Sedangkan Abhimanyu hanya berusaha menahan tawanya.
Indira menatap Abhimanyu dengan wajah bersungut-sungut. Sedangkan Abhimanyu seakan-akan tidak peduli dengan raut wajah Indira.