
Hanna sudah terlihat emosi, saat mengetahui Winda yang sudah melakukan perbuatan jahat kepada sahabatnya. Kalau tidak dipegangi Faisal, mungkin dirinya akan membuat gadis di hadapannya babak belur.
"Maafkan aku Sal, Ndra!" ucap Winda dalam tangisnya.
Hanna yang melihat Winda berlaga sedih, rasanya ingin sekali menyumpal mulutnya dengan cabai rawit 1kilo.
"Jangan di maafkan Om, orang seperti dia pasti akan berulah lagi." Hanna mengompori Abhi, agar tak terkena bujuk rayuan Winda.
"Maaf, untuk saat ini aku belum bisa memaafkan kamu. Bagaimanapun juga, aku masih belum rela kehilangan calon anakku karena ulah kamu!" jawab Abhi dengan nada suara yang dingin.
"Apalagi gue, karena obsesi elo ke Rendra. Elo tega mencelakai adik gue. Jadi maaf buat sekarang ,gue belum bisa maafin elo," Faisal terlihat mengepalkan tangannya, menahan emosinya kepada Winda.
Setelah itu, Winda di bawa dua orang berseragam coklat, lalu masuk kedalam mobil polisi.
Kini Abhimanyu sudah kembali ke rumah sakit. Karena Papa Benny memberitahu kalau Indira sudah di perbolehkan pulang.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, di rumah mama Diana, terlihat dua mobil memasuki halaman. Indira yang di bantu keluar, oleh papah Benny dan Abhimanyu mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil.
Di sana rupanya ada Hanna, Alin Adam, dan Faisal yang menyambut kedatangan Indira.
"Selamat datang adikku yang bawel, kakak senang melihat kamu sudah pulang," Faisal mengecup kening Dira.
"Cepat sehat ya Kakakku yang cerewet, kalau kakak sembuh nanti kita beli cilok nya si Yanto lagi!" timpal Adam membuat Indira tersenyum, dan mengangguk.
"Tapi kamu yang beliin ya," jawab Indira.
" Siap." Adam memberikan hormat kepada Kakaknya dengan senyuman, Dira pun membalas tersenyum, dengan bibir pucat.
Sebenarnya Adam ada rasa tak tega melihat wajah kakaknya yang seringkali dia jahili. Wajahnya pucat, dan terlihat lesu.
Terlihat Adam mengerjakan matanya, dan segera menghapus air matanya.
"Jangan nangis! kakakmu ini kuat. Cowok ko cengeng si,"
" Siapa yang nangis! aku cuma lihat, ko kakak jelek banget, kalau gak senyum." Ledek Adam.
"Biarin jelek, yang penting Kakak sudah laku," celetuk Dira, membuat Adam terkekeh.
Abhimanyu, Faisal dan kedua orangtuanya hanya tersenyum melihat dua bersaudara yang sering bertengkar, kini terlihat menunjukkan rasa sayangnya.
"Sehat-sehat ya Beb. Kangen gue sama elo dan Gea, jadi grup ceinis kita sepi," kata Alin dengan memeluk sahabatnya.
Karena Dira masih dalam keadaan penyembuhan, akhirnya Alin dan Hanna pun pulang.
Keesokan harinya seluruh keluarga Abhi menjenguk Dira. Bu Lidya dan pak Arif tentunya merasa rindu dengan menantu kecilnya.
"Sayang, Mama dan Papa bahagia benget kamu sudah di perbolehkan pulang. Kamu cepat pulih ya Nak!" Kata Bu Lidya dengan memberikan pelukan hangat kepada menantunya.
" Iya Mah! Maaf Dira tidak jadi memberikan cucu buat kalian. Hiks, hiks," ucap Dira disertai Isak tangisnya.
Seketika suasana menjadi sunyi, terdengar suara tangis dari Indira. Bu Lidya dan Pak Arif pun ikut menitikkan air matanya.
"Hei, Dira sayang. Dengar ya cantik, anak itu hanya titipan. Jika dia pergi, tanda Allah lebih sayang dari kamu nak. Tuhan pasti akan memberikan penggantinya yang lebih baik dan kuat dari yang kemarin," kata bu Lidya dengan memberikan sebuah pelukan hangat, untuk menantu kecilnya.
"Apa yang di katakan Mama benar Nak. Kami juga tidak menuntut kamu untuk kamu memberikan cucu. Yang terpenting, kamu dan Abhi hidup bahagia. Kalau untuk baby, itu sedikasihnya Tuhan saja." Ucap pak Arif menyentuh kepala menantunya.
Sebenarnya Abhimanyu tak kuat jika mendengar tangisan istrinya, ketika mengingat tentang janinnya. Papa Benny mengerti dan hanya menepuk pundak menantunya untuk kuat, Abhi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Kini Indira sudah mulai tenang, dan sudah kembali tersenyum di hadapan keluarga. Abhimanyu juga merasa sedikit tenang, jika istrinya sudah terlihat bahagia.
Sore harinya rumah mereka kedatangan tamu, yaitu keluarga mama Annisa. Yang di mana, pak Fadil mendorong Gea yang berada di kursi roda.
Indira memberikan senyuman kepada sahabatnya, namun Gea tersenyum kecut dan menunduk. Dira mengerti kenapa temannya yang biasa ceria kini nampak murung. Karena kata Abhi, keponakannya merasa bersalah dengan kejadian kecelakaan itu, yang membuat Indira mengalami keguguran.
Sekarang di kamar itu hanya ada mereka berdua, keluarga mengerti mungkin Gea ingin bicara sesuatu kepada Dira.
Gea menatap wajah Indira.
"Dira, gue minta maaf! Sejak kejadian kecelakaan itu, gue terus di hantui rasa bersalah gue, yang membuat elo harus kehilangan anak kalian!" Gea terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Ya ampun Ge, ini bukan salah elo. Semalam Mas Abhi bilang, ada orang yang sengaja menabrak kita. Dia memang udah mengicar gue, karena kebetulan posisinya kita berdua. Jadi gue minta elo, stop menyalahkan diri sendiri, oke!" pinta Dira, dia tidak ingin sahabatnya terus bersedih dan merasa bersalah.
"Betulkah! Jadi ada seseorang yang sudah membuat elo celaka?" tanya Gea dan Dira mengangguk. " Siapa apa elo tau?"
"Gue belum tau siapa? Yang jelas, kata Mas Abhi ini bukan salah elo, jadi stop menyalahkan diri sendiri!" jelas Dira.
Gea pun mengangguk. "Tapi elo harus kuat ya Dir, inget masih ada kita sahabat elo yang siap menghibur,"
Kini Gea dan Dira kini sudah menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka. Indira sendiri sebenarnya merasa tak tega, mendengar kalau sahabatnya terus merasa bersalah akan kejadian itu. Untung saja Abhi mengatakan yang sebenarnya, jadi hubungan mereka tetap baik-baik saja.
Bersambung..