My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Adik yang bawel



Hanna bahagia, karena saat ini cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Karena laki-laki yang dia sukai ternyata juga menyukainya.


Faisal dan Hana merasa bahagia, mereka saling berpegangan tangan, karena mewakili perasaan masing-masing.


Hanna melihat pria di hadapannya selalu tersenyum. Sejak Faisal mengajak pulang dari bukit yang memperlihatkan cantiknya cahaya lampu menerangi jalan.


Kini keduanya sedang berada di sebuah tempat jajanan lesehan. Hanna meminta Faisal untuk menghentikannya, untuk membeli sosis bakar, dan ada juga yang berbalut kentang yang di goreng, dengan di lumuri saos cabai dan mayones.


Faisal hanya tersenyum, saat melihat Hanna begitu menikmati makanannya yang kini sedang di makan.


"Kak Faisal mau?" tanya Hanna, Faisal hanya menggelengkan kepala.


"Buat kamu saja! Aku suka melihat kamu begitu menyukainya, memang segitu enaknya ya?" Hanna mengangguk.


" Iya kak, aku kalau lagi sama Dira dan teman-teman kamu memang sering jajan ini!" jawab Hanna, sambil memakan sosis itu.


"Sepertinya bukan sama teman-teman kamu saja. Kalau aku lagi ajak jalan kamu suka membeli ini?" tanya Faisal mencebikkan bibirnya, Hanna tersenyum.


Lalu Hana memberikan satu tusuk sosis, berselimut kentang, yang sudah di berikan saos cabai, untuk pria di hadapannya. Faisal tersenyum, lalu mengigit makanan itu, yang masih dipegangi olehnya.


Setelah makanannya sudah habis, mereka melanjutkan perjalanan untuk pulang. Faisal meminta Hanna untuk berpegangan dan melingkar di pinggangnya, Hanna hanya tersenyum saat tangannya di posisi seperti itu.


Kini Faisal sudah menghentikan motornya di depan rumah Hanna, dengan tangan mereka yang saling berpegangan, dan senyuman yang menghiasi wajahnya.


"Kamu mau mampir?" tanya Hanna.


Faisal menggelengkan kepala, dan tersenyum. "Aku langsung pulang saja ya? Besok saja aku kesini lagi! Sekalian minta izin bunda untuk ngajak kamu jalan." Hanna mengangguk. "Sekarang kamu masuk sana! Sudah malam."


Hanna terkekeh mendengarnya, Faisal yang menyuruhnya masuk. Tetapi tangannya tak dilepaskan dari genggamannya.


"Bagaimana aku mau masuk? Ini tanganku masih kamu pegang." Jawab Hanna, dengan pandangan mata ke tangan mereka.


Faisal menepuk jidatnya dengan tangan sebelahnya, membuat Hanna terkekeh.


"Iya, bagaimana kamu mau masuk? tangan kamu aja, aku pegangin terus." Lalu Faisal melepaskannya.


"Kamu masuk sana! Aku mau pulang. Jangan lupa mimpi indah yang sayang!" pamit Faisal, dan Hanna pun mengangguk.


"Kamu juga hati-hati ya!" pesan Hanna, Faisal tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Faisal menyalakan mesin motornya kembali, dan meninggalkan Hanna yang masih menatapnya.


Senyuman masih terpancar di bibirnya. Setelah sudah tak terlihat Faisal, Hanna kemudian masuk kedalam rumah.


Saat Hanna membuka pintu dan masuk kedalam, alangkah terkejutnya melihat ayah dan bundanya duduk di sofa di sertai senyuman di bibir mereka.


"Ayah, Bunda! Ko, kalian belum tidur?" tanya Hanna, yang ikut duduk di sofa satunya.


"Bagaimana mau tidur? Kalau putri kesayangannya diculik,dengan seorang pria, dimalam hari."Jawab bunda.


Hanna tersenyum malu, karena saat tadi keluar kamar hendak menemui Faisal. Dirinya berpapasan dengan kedua orang tuanya yang masih duduk di sofa sambil menonton TV.


"Maaf ya, Bunda, Ayah! Aku pergi gak izin lagi sama kalian," kata Hanna dengan menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah.


Bunda tersenyum, begitu juga Hanna tersipu malu mendengar kedua orang tuanya tidak marah.


"Bilangin ke Faisal, kalau ingin mengajak putri cantik ayah, harus izin dulu sebelum di bawa!" Kata ayah, membuat bunda tersenyum.


"Iya nanti aku bilangin," jawab Hanna, dengan tersenyum malu.


Sikap malu Hanna membuat kedua orang tuanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


POV Hanna


Hanna Azahra, anak kedua dari pasangan Dito, dan Kinan. Kakak Hanna yang bernama Fahri bekerja di Surabaya, itu membuat Hanna menjadi sosok yang manja. Ayah, bunda tau, kalau putrinya memang menyukai Faisal, dan meraka tak keberatan, memang masing-masing orang tua, sudah saling kenal sejak lama.


POV Hanna of


Kini Faisal sudah berada didalam kamar, sedang berbaring di tempat tidur, yabg tersenyum seorang diri. Indira yang memang kebetulan sedang menginap, langsung masuk kamar kakaknya tanpa mengetuk pintu.


"Cie ... cie ..." Suara Indira berhasil membuat Faisal terkejut mendengarnya.


Dira pun tertawa terbahak-bahak, melihat kakak yang kaget sampai loncat, seperti bayi yang sedang terkejut. Faisal sendiri menepuk dadanya, karena di buat kaget oleh adiknya.


"Bisa gak sih, kalau masuk kamar kakak ketuk pintu dulu, Dek!" cetus Faisal.


"Enggak ! Karena kalau gak begini, aku mana bisa melihat kakak kaget sampai loncat kaya orok seperti tadi. Hahahaha ..." Indira tertawa kembali dengan geli.


Faisal memelototi adiknya, lalu melengos menghindari rasa malunya. Indira pun duduk di samping kakaknya, lalu memberikan senyuman, serta kedua alisnya naik turun.


"Alis kamu kenapa? Naik turun seperti itu, gak takut keseleo tuh alis?" tanya Faisal, dengan tersenyum.


"Bagaimana Kak? Hem ...!" Indira tersenyum menggoda kakaknya.


"Bagaimana apanya? Gak jelas tau gak kamu!" jawab Faisal dengan nada pura-pura kesal.


"Alaaah ... jangan alasan Kak! aku tau kalau kalian sekarang sudah jadian, ya 'kan?" goda Dira, dengan kedua alisnya yang naik turun sambil tersenyum.


Faisal terkejut mendengar kalau adiknya tau hubungan baru dirinya dengan Hanna.


"Kenapa? Kakak bingung ya, bagaimana aku bisa tau hubungan kalian?" Indira membuka handphonenya, dan membuka pesan chat yang di berikan Hanna. "Nih lihat! ini tuh bukti, kalau kalian sudah jadian, iya 'kan?"


Faisal melihat, Hanna mengirimkan foto tangan mereka saling berpegangan tangan. Sedangkan dirinya hanya tersenyum melihat foto itu.


"Ciealah ... dia senyum-senyum sendiri. Bukannya menjawab pertanyaan aku!" cetus Indira dengan mencebikkan bibirnya.


"Terus kamu mau dengar Kakak mengatakan apa? Foto itu adalah bukti, hasil pertanyaan kamu bawel!" cetus Faisal membuat Indira terkekeh mendengarnya.


"Jadi benar, yang Hanna kirimkan foto ini. Kalau kalian sudah jadian?" tanya Dira dengan antusiasnya.


"Iya bawel ...."


Mendengar jawaban kakaknya, Indira terlihat bahagia, dan bertepuk tangan. Pastinya Faisal terkekeh melihat adiknya yang terlihat over, saat mendengar dirinya dan sahabat memiliki hubungan.