My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Mengobati Luka



Indira tersenyum menyeringai melihat 2 laki-laki di hadapan itu.


"Kalau mau mulai permainan bilang dulu dong bang. Jangan nyokap gue Lo main tarik aja, reflek gue jadinya." Kata Indira dengan tersenyum seakan meledek, karena tak terima 2 orang itu pun memasang jurus kuda kuda.


Indira pun mengerti, melihat setiap gerakan 2 pria itu. Dira pun dengan sigap juga memasang badan untuk siap mengikuti permainan yang akan di berikan abang palak itu.


Kiiyyaaa... Buuugh... 2 orang itu melawan Indira dengan kasar, Indira pun juga memberikan serangan balik, dengan gerakan kaki yang memberikan tend*ngan ke orang tersebut. 2 pria melawan 1 perempuan, yang di mana tempat itu hanya jadi pusat tontonan beberapa orang tanpa ada yang ingin menolong Indira.


Mamah Diana berteriak meminta tolong, karena melihat putri nya kewalahan melawan 2 penodong itu.


Setiap gerakan tangan Dira selalu memberikan pukulan agar dirinya tidak di serang dari arah berlawanan. Karena sudah terasa lelah 2 penjahat itu berhenti sejenak, dan saling berpandangan, Indira pun dengan siap melihat gerak gerik penjahat itu. Saat orang itu ingin menyerang nya, Indira mem*kul bagian wajah salah satu pria itu, sampai mengeluarkan darah dari hidungnya. Dan tepat di belakang Indira, juga mendapat tendangan yang di layangkan oleh Dira, dan terjatuh.


Salah satu pria itu memegang pisau, lalu pisau itu mengenai lengan Indira.


Sssrrreeeet... Mamah Diana pun berteriak melihat lengan putri nya terkena pisau. Indira lalu memberikan layangkan ten*angan kepada pria itu.Sampai keduanya pun tersungkur ke tanah dengan kesakitan, Indira segera mendekati 2 orang itu, dan segera merebut tas milik Mamahnya.


"Kalau mau duit, kerja jangan menodongkan seperti ini. Kena sendiri kan, nodong ko di tempat hiburan kaya gini, salah sasaran juga lagi. Kasian banget si Lo berdua." Kata Indira dengan tatapan menakutkan.


Dan di saat itu ada 3 orang keamanan datang menghampiri Indira.


"Ada apa ini.?"


"Dia ini penjahat, yang menodong Mamah saya menggunakan senjata tajam. Tolong aman kan 2 orang ini pak, sebelum ada korban selanjutnya.!"


" Iya pak 2 orang ini meminta tas saya dengan membawa pisau. Bawa mereka pak jangan sampai mereka berkeliaran, masa di tempat seperti ini ada penjahat seperti mereka." Mamah Diana membantu bicara kepada 3 orang keamanan tersebut.


"Baik kalau begitu akan kami amankan mereka, sebelum nya kami mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya. Kami bangga kepada kamu, seorang anak yang bisa melawan penjahat seperti mereka untuk melindungi orang tua kamu. Tapi kamu juga harus lebih hati-hati, karena kejahatan akan datang dari mana saja."


"Siap pak." Kata Indira dengan sopan padahal saat ini nafasnya masih terengah-engah habis melawan penjahat itu .


"Baik kalau begitu kami permisi." 3 keamanan itu membawa penjahat itu. Dan suasana pun seketika menjadi sepi.


Mamah Diana merasa khawatir dengan putri kesayangannya itu, sekaligus bangga.


Mamah Diana memeluk putri nya yang selama ini dia kenal anak manja, ternyata di balik itu semua dia putri yang kuat bisa melawan penjahat.


"Indira sayangnya Mamah, kamu hebat sayang bisa melawan mereka. Bagaimana apa ada yang sakit,? bilang sama Mamah nak.?" Mamah Diana melihat wajah putri nya yang penuh dengan keringat dan wajah lelahnya.


Indira justru tersenyum, agar Mamahnya tidak khawatir. " Mah, Indira baik baik saja ko. Mungkin Mamah ada yang sakit, apa 2 orang itu menyakiti mamah menggunakan senjata tajam.?"


"Mamah baik baik saja sayang. Ayo kita istirahat dulu kamu pasti capek.?"Mamah Diana tak kuat menahan air matanya, melihat putri nya.


"Mah, kenapa menangis, aku baik baik aja ko. Ayo kita kembali ke sana, pasti mereka saat ini mencari kita. Aku tidak perlu istirahat, yang penting Papah dan yang lain tidak khawatir dengan kita." Mamah Diana pun mengangguk.


Kini Mamah Diana dan Indira berjalan menaiki jalan yang menanjak. Dengan membantu Indira berjalan, karena Indira merasa ada yang sakit di bagian kakinya.


Dari kejauhan terlihat Abhimanyu dan Faisal, seperti sedang mencari sesuatu.


" Abhi, Ical.!" Panggil Mamah Diana dengan berteriak.


Faisal dan Abhimanyu pun melihat mamah Diana segera berlari menghampiri nya. Faisal dan Abhi segera mengambil alih membantu memegangi Indira.


" Ada apa ini, Mamah dan kamu kenapa Dek.?" Tanya Faisal.


"Kamu kenapa sayang, kami mencari kamu dan Mama?" Tanya Abhi, yang melihat wajah Indira yang lelah.


" Kak, lebih baik pegangin Mamah. Aku tidak apa apa," kata Indira, tanpa Indira pinta Faisal sudah memegangi Mamah nya.


"Sebenarnya ada apa Mah, kenapa Mamah menangis?" Faisal merengkuh pundak Mamahnya.


Mamah Diana menceritakan yang terjadi padanya dan Indira. Faisal dan Abhimanyu mendengar nya sangat terkejut, dan juga khawatir dengan 2 wanita di dekat mereka. Abhi semakin mendekap erat Indira, dan melihat tangan Indira yang memerah karena sudah dengan penjahat.


"Aku gak apa-apa Mas?"


"Enggak apa-apa gimana si Dir, lihat tangan kamu." Melihat tangan Indira penuh dengan rasa khawatir.


"Dira gak apa apa ko, cuma lelah sedikit,"


"Beneran kamu gak apa-apa, kalau begitu nanti aku obati ya luka nya,?" Indira mengangguk. "Kamu capek kan, aku gendong ya?"


"Apaan si, gak mau aah..! Aku kaya anak kecil tau gak si mas.!" Protes Dira.


"Katanya lelah?"


"Aku masih bisa jalan, hanya tangan ku saja yang sedikit sakit. Jadi gak usah lah di gendong segala,"


Akhirnya Abhimanyu pun menuruti permintaan Indira, membiarkan Indira jalan, dengan di pegangi olehnya. Saat sampai di tempat istirahat di mana papah Benny begitu khawatir dengan putri dan istrinya.


"Ya ampun, ko bisa. Papah khawatir banget dari tadi. Ya sudah, kita pulang saja yuk.! Lagian sudah sore juga, keburu jalan macet?"


Akhirnya keluarga pun memutuskan untuk pulang dari wahana permainan itu. Kini mereka semua sudah sampai di rumah papah Benny, Abhimanyu membawa istrinya untuk beristirahat.


Saat di kamar, Abhimanyu membantu Indira untuk mengobati luka di punggung tangan Indira. Namun saat Abhi tidak sengaja menyentuh lengannya, Indira mengaduh kesakitan.


Aawww.. Abhi tentu terkejut. "Kamu kenapa Dir,?" Melihat Indira memegangi lengannya. "Apa masih ada yang sakit lagi, coba aku lihat.!"


Indira pun menggulung lengan baju, dan terlihat luka panjang di bagian lengangnya, yang mengeluarkan darah yang sudah kering. "Astaga Dira, luka begini kamu bilang gak apa-apa." Abhi membersihkan lukanya terlebih dahulu, menggunakan air hangat. Lalu di beri obat, setelah di obati luka pun di tutup agar tak terkena debu.


Bersambung