My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Sedih



Indira pun turun dari tempat tidur, dan hendak meninggalkan Abhimanyu. Namun dengan langkah cepat Abhi mencegahnya agar tidak pergi.


Abhimanyu kini berada di hadapan Indira, menatap istri kecilnya dengan tatapan lembut. Abhi sadar, gadis seusia Dira, masih belum bisa mengontrol emosi, terkadang dirinya lah yang terpancing menjadi marah.


Huuufffhh ..... Abhimanyu membuang, rasa sesaknya agar merasa lega. " Aku minta maaf, sudah membuat kamu kesal. Bukan maksudku mengacuhkan perkataan kamu, hanya saja aku bingung harus bagaimana agar aku bisa mengontrol emosi ku sendiri."


"Memangnya aku bikin salah ke Mas Abhi, sampai kamu harus menahan emosi seperti itu?"


"Bukan kamu yang membuat aku marah, tapi kejadian tadi. Apalagi saat dia memeluk kamu, dan main cium pipi kamu segala. Rasanya hatiku terbakar api, dan dia pun juga ikut dengan kamu kan tadi,?"


Indira tau kalau pria di hadapannya ini sedang merasakan cemburu. "Mas Abhi cemburu dengan sikap Aldo tadi?"


"Iya aku cemburu dengannya, aku gak suka caranya main peluk kamu. Kalau bukan di sekolah, sudah ku ....!" Abhi menahan ucapannya, karena rasa geramnya mengingat kejadian tadi.


"Aku tau sikap Aldo keterlaluan, dan aku juga gak suka caranya tadi. Mas, kamu jangan khawatir, hati aku sekarang hanya untuk kamu seorang." Sambil mendekatkan dirinya kepada Abhi, dan memeluknya. Abhimanyu tersenyum mendapatkan sikap Indira yang seperti itu.


"Maafkan aku yang selalu cemburu melihat kamu dengan pria yang begitu mencintai kamu. Aku merasa, kalau aku pria jahat yang menjadikan kamu istriku karena kejadian malam itu. Aku merasa, aku sudah merebut kamu dari fans kamu. Aku hanya takut, jika kamu pun masih menyimpan rasa kepada mereka semua. Sedangkan aku sendiri, menginginkan hubungan pernikahan kita itu untuk serius, bukan untuk main main.


"Iya aku pun juga seperti itu Mas, mangkanya aku pun juga ingin kamu bisa mengajarkan aku. Bukan hanya di sekolah saja kamu mengajar, tapi di rumah pun aku juga menginginkan kamu untuk mendidik aku menjadi istri yang baik. Kalau aku salah, tolong tegur aku dengan baik, bukan marah dan mendiami aku seperti tadi,"


"Ya sudah aku minta maaf," Indira pun mengangguk.


Namun tiba tiba saja, Abhi menyentuh bagian sikut Indira. Aaww... Indira merintih kesakitan, reflek Abhimanyu menjauhkan tangannya dari Dira.


"Kamu kenapa sayang?"


"Tangan dan kaki ku sakit, tadi di jalan depan pertigaan jalan aku terjatuh. Karena ibu ibu mengendarai motor salah kasih lampu Sen. Dia kasih lampu Sen nya ke kiri, saat aku masuk ke kanan, tau tau dia main banting setir ke kanan juga. Akhirnya aku yang terjatuh, ibu itu malah aman." Cerita Indira.


"Astaga, yasudah aku obati luka kamu dulu. Atau mau kita ke dokter aja, buat mengobati lukanya.?"


"Jangan ke dokter, kan sudah ada Mas Abhi, dokter spesialis aku," Abhimanyu pun tersenyum mendengarnya, dengan cepat Abhi menggendong Indira lalu membawanya ke sofa.


Abhimanyu membawa kotak obat, dan mengobati luka Dira dengan hati hati. Sesekali Indira meringis kesakitan, di saat luka nya tersentuh.


"Aaww... Sakit Mas Abhi, sakit tau.!"


"Iya ini sudah hati hati, aku juga gak berani menyentuh lukanya terlalu kencang,"


Namun saat sedang membersihkan, tiba tiba saja. Huuuuuaaaaaciiimm......Abhi bersin dan tidak sengaja menekan lukanya, dan itu membuat Indira berteriak karena kesaktian.


" Aaaww ......!" Teriak Dira, dan itu membuat Abhi tersentak. "Sakit Mas Abhi ....!" Kata Indira dengan memukul tangan Abhimanyu, karena kesakitan dengan mode bibir cemberutnya.


"Ya ampun, maaf sayang. Hidungku gatel, tidak sengaja menekan luka nya," ucap Abhi dengan melihat wajah Indira yang ngambek.


"Niat gak sih, ngobatin luka aku.?" Dengan nada jutek.


"Ya niat dong sayang, kan aku gak sengaja karena bersin. Masa iya aku tahan, kan gak mungkin. Kalau bersin nya gak keluar, nanti yang bunyi dari bawah bagaimana.?" Kata Abhimanyu menahan tawanya, justru Indira lah yang tertawa dengan sangat geli.


"Jorok kamu iiih,,,! Itu mah jadi kentut dong, dasar.!" Abhi pun ikut tertawa mendengar Indira bicara.


"Ya habis dari pada bersin nya ketahan lari nya nanti ke bawah, kan berabeh,"


"Idih, kacau juga ya kamu. Hahaha..." Indira tertawa.


Abhi yang sambil mengobati lukanya, ikut tertawa mendengar Indira yang tidak jadi marah.


"Kenapa, ko kacau sih?"


"Kacau lah, ternyata Mas Abhi itu koplak juga orangnya. Aku pikir kamu itu sedingin es segarang beruang kutub. Ternyata omongan kamu itu, sedikit receh."


Indira tersenyum. "Terimakasih suamiku yang tampan."


Abhimanyu kini duduk di sofa di samping Indira, dengan manjanya Dira pun bersandar di pundaknya. " Aku suka sama pria seperti kamu, kalau di lihat dari luar itu dingin. Tapi kalau sudah tau dalamnya, kamu itu hangat bikin aku meleleh, dan masih ada rasa humoris nya,"


"Ooh ya.! Dan aku juga suka dengan gadis seperti kamu. Lucu, manja, dan keren. Jika sedang di posisi seperti kemarin, berani melawan penjahat, dan begal. " Puji Abhi dengan membelai rambut Dira.


Begitu kehidupan rumah tangga Abhimanyu dan Indira, selalu ada saja pertengkaran antara mereka. Indira yang masih ke kanak Kanakkan, karena sudah menikah di usia 16 tahun. Begitu pun Abhi, harus menjadi peran suami, yang super ekstra menghadapi sikap Indira yang labil.


Abhimanyu tau, sikap Indira yang manja dan labil hanya sementara. Karena nantinya Dira lah yang akan menjadi wanita kuat dan sabar yang sebenarnya, untuk menjadi peran ibu untuk anak anak mereka dan peran istri untuk dirinya.


🌞


🌞


🌞


🌞


Hari hari bersama dengan Abhimanyu, Indira lalui bersama. Pertengkaran, senyuman, menangis, canda dan tawa ,sudah mereka rasakan.


(Yang belum hanya, ahho ahho ahho aja. wkwkwkwkw.... )


6 Bulan kemudian.


Hari ini Indira sedang libur sekolah, dan tepat hari ini Indira sibuk berkutat di dapur. Berniat Indira akan, belajar masak, dengan di ajarkan oleh Bu Sumiati. Sedangkan Abhimanyu sejak tadi pergi untuk ngecek beberapa restauran miliknya.


Meskipun suaminya pemilik restauran, tapi Indira ingin belajar memasak untuk suaminya.


"Bu, habis ayam dan jahenya di rebus bersama. Aku tumis bawang putih dan merah yang sudah halus ini ya Bu,?"


"Iya non, tumis nya sampai harum. Jangan sampai gosong Non.!"


"Siap Bu, biar aku saja yang masak. Bu Sumi ajarin aku, apa saja yang harus di masukkan."


"Siap Non,!"


Indira masih sibuk dengan memasak sayur SOP ayam. Setelah tumis bumbu halus tadi, lalu di masukkan ke dalam air rebusan ayam dan jahe. Tak lupa Indira memasukkan sayurannya, dan di tambahkan bumbu kaldu ayam, dan garam. Sambil menunggu sayur matang, Indira juga memasak tempe tahu goreng, ada perkedel juga. Tentunya karena Abhi suka pedas, Indira membuat sambal.


Kini sayur, tempe, tahu, perkedel, dan juga sambal pun sudah siap. Indira merasa senang, karena untuk pertama kalinya, dirinya memasak dengan menu yang cukup banyak. Biasanya Dira masak hanya mie instan pakai telor, itu pun kadang mie nya suka modrok kematangan. Dan sekarang hasil tangannya sudah jadi dengan sempurna.


Indira pun bersiap-siap mandi dan mengganti pakaiannya karena badannya sudah bau dengan keringat dan masakan.


Kini Indira sedang menunggu kedatangan suaminya pulang, namun ketika melihat notifikasi pesan masuk dan ternyata dari Abhi. Indira segera membuka pesan tersebut, namun wajahnya terlihat kecewa saat membaca isi pesannya.


Mas Abhi : Dira maaf, aku tidak jadi pulang sekarang. Aku sedang menemui teman lama ku, kemungkinan akan lama. Jika kamu lapar, kamu makan saja duluan. Maaf ya sayang.


Itulah isi pesan yang di kirim oleh Abhi, dan itu membuatnya sedih. Karena masakan yang sudah di buatnya susah payah,dan berniat ingin makan bersama dengan Abhi ternyata gagal.


Indira membalas pesannya.


Indira: Iya.


Hanya itulah balasan yang di berikan Indira, dengan memasang postingan masakan yang sudah di buat, dengan emot wajah sedih dan kecewa.


Bersambung