
Sedangkan Abhimanyu sendiri, sejak meninggalkan restauran. Dirinya segera langsung pulang, dan mencari Indira di rumah, namun nyatanya tidak ada di kamar.
"Bu Sumi," panggil Abhi saat melihat Bu Sumiati kebetulan lewat.
"Iya Den, ada apa?" jawab Bu Sumi, sambil membawa sapu.
"Maaf Bu, mau tanya. Ibu liat istri saya?" tanya Abhi.
"Sejak tadi, katanya mau ke tempat Den Abhi, sampai sekarang ibu belum liat lagi Den." jawab Bu Sumi.
"Yasudah Bu, terimakasih,"
"Iya Den, kalau begitu ibu lanjutin pekerjaan lainnya ya?" Abhimanyu mengangguk.
Bu Sumiati pun kembali masuk keruangan setrika, dan melanjutkan pekerjaannya.
"Dira, kamu di mana?" ucap Abhi, sambil mengusap wajahnya merasa gusar.
Saat itu juga handphone miliknya berbunyi, terdapat nama Gea di layar depannya. Abhi menekan tanda warna hijau.
Abhimanyu: "Hallo Assalamualaikum,"
Gea: "Om, kalau mencari Dira, dia ada di sini.
Abhimanyu: "Kamu serius Ge, jadi Dira di sana?"
Gea: "Iya tapi, kondisinya sedang tidak baik. Semuanya itu karena dia melihat om dengan tante lenjeh.
Abhimanyu:"Terus bagaimana keadaannya, Dira sekarang? Om ke sana, kamu halangi dia jangan sampai pergi. Om akan jelaskan kalau itu hanya salah paham.
Gea: "Baik, aku akan bantu om, aku tidak ingin Indira menangis seperti tadi om. Aku akan kecewa, jika om menyakiti atau mengkhianati sahabatku!" nada bicara Gea penuh dengan ancaman
Abhimanyu: "Iya, om terimakasih sama kamu, dan om janji tidak akan menyakiti sahabat kamu itu. sekarang om tutup telponnya ya, om akan kemana.
Panggilan telpon terputus, Abhi yang sudah berada di dalam mobil segera mengendarai mobilnya menuju kediaman kakaknya. Hanya butuh waktu 15 menit, Abhi sampai di rumah Gea dan segera masuk ke dalam.
Gea, sejak mengantarkan minum untuk Indira, dan menunggu kedatangan om nya. Saat terdengar deru mesin mobil di halaman rumah, Gea segera menghampiri Abhi dihalaman.
"Ge, dimana Dira?" tanya Abhi.
"Dira sedang tidur Om, tadi aku lihat saat mengantarkan minum untuknya," jawab Gea. "Kalau begitu aku keluar ya, Om temui Dira. Aku gak mau sahabat aku nangis seperti tadi."
"Iya, om akan jelaskan ke dia. Kamu mau ke mana memangnya?"
"Ke mini market depan, membeli kebutuhan perempuan." Jawab Gea dengan terkekeh.
"Yasudah sana!" usir Abhi, membuat Gea, mengepalkan tangannya, seakan-akan ingin memukulnya.
Abhimanyu langsung masuk kedalam rumah Gea, mencari wanita yang dia sayangi. Abhi membuka kamar, dan terlihat Indira sedang tidak tidur. Justru Dira berada di depan lemari memegang sebuah kotak, dengan ekspresi wajah kembali sedih.
Flashback
Mendengar suara deru mesin mobil, Indira terbangun dan melihat siapa yang datang. Ternyata benar saja, suara itu dari mobil milik suaminya. Dira segera mencabut charger, dan segera meletakkannya di dalam laci. Dirinya melihat ada kotak, di bawah tumpukan selimut. Karena penasaran, di bukalah, dia kaget dengan isinya sebuah foto suaminya dengan seorang gadis yang tak lain adalah Winda.
Di dalam kotak itu, ada beberapa foto Abhi dan Winda, dengan wajah bahagia. Bahkan ada juga foto saat Winda mencium pipi Abhimanyu, begitu pun juga sebaliknya. Ada dua jam tangan, gantungan kunci dan juga buku novel, yang dimana terselip selembar foto Winda.
Indira melihatnya, terasa sesak dan sulit sekali untuk bernafas. Merasakan hawa panas di relung hati, untuk pertama kalinya, Dira merasa sesakit ini.
Flashback of.
"Dira," panggil Abhimanyu.
Praak ....
Suara kotak yang Dira pegang terlepas dari tangannya, dan semua isinya berjatuhan.
Abhimanyu dapat melihat wajah sedih istri. Abhi juga bingung harus bagaimana, karena Dira melihat semua barang-barang tentang dirinya dan Winda.
"Aku minta maaf, aku akan jelasin semuanya ke kamu." Ucap Abhi berusaha menjelaskan kepada Dira.
"Lepasin!" pinta Dira, untuk melepaskan tangannya.
"Kamu hanya salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Abhi, mencoba menjelaskan.
"Gak perlu! Buktinya sudah jelas, kamu masih menyimpan barang-barang kebersamaan kalian." Kata Dira sambil menunjuk sebuah kotak yang terjatuh di lantai.
"Barang itu aku ingin buang, hanya belum sempat aku membuangnya." Jelas Abhi.
"Kalau kamu niat mau buang, kenapa kamu simpan?"Celah Dira, yang baginya semua itu hanya alasan.
Indira berusaha mencoba melepaskan tangannya dari genggaman suaminya, dan akhirnya berhasil tangannya itu terlepas. Dira menggunakan tas selempang miliknya, dan hendak meninggalkan suaminya. Namun Abhimanyu berhasil mencegah agar Indira tidak pergi.
"Sayang!" cegah Abhi dengan memeluknya, agar Dira tidak pergi.
Indira berontak, sambil menangis." Hiks ... hiks ... lepasin!" Dira berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari Abhi
"Tidak! Kamu boleh marah, pukul aku juga tak apa, asal jangan kamu pergi dari Mas, dalam keadaan marah!" ucap Abhi, bicara dengan nada lembut, sambil memeluk istrinya.
"Kamu nyebelin! Iiihh ... " Seru Dira, sambil memukul dada bidang suaminya, tanpa rasa sakit bagi Abhi.
Indira meluapkan emosinya, karena merasa kesal. Sedangkan Abhimanyu sendiri pasrah mendengar istrinya terus meracau, meluapkan rasa kecewanya.
"Maaf sayang! Hanya itu yang bisa aku katakan! Aku akan menjelaskan ke kamu, kalau kamu sudah tenang. Sekarang kamu masih emosi." Sambil mendekap Dira.
Setelah Indira tenang, Abhi mengajak Indira untuk bersandar. Memberikan Dira minum, dan memenangkan istrinya. Indira masih diam, tak banyak bicara. Namun dirinya juga tak menolak perlakuan manis dari suaminya.
Memang seperti itulah yang di butuhkan wanita, kelembutan pasangan di saat emosinya sedang tak terkendali. Hanya kata maaf dan perubahan sikap manis, yang bisa meluluhkan hati seorang perempuan.
Indira, menatap arah lain, sedangkan Abhimanyu tersenyum melihat sikap istrinya yang sedang cemburu saat ini.
"Maaf, jika kamu melihat dan mendengar aku bicara dengan Winda. Jujur aku yakin kamu hanya salah paham."
"Salah paham apa! Kamu masih mencintainya 'kan?" tanya Dira dengan ketus. "Kamu yang bilang kamu tidak bisa melupakan dia, iya, 'kan?"
Abhimanyu tersenyum mendengarnya, benar dia salah paham mendengar percakapan antara dirinya dan Winda.
"Tuh! Kamu salah paham, aku sudah bisa tebak, kamu hanya mendengar sebagian apa yang aku katakan." Abhi membawa istrinya kedalam dekapannya. " Dengarkan aku ya sayang! Aku memang mengatakan aku tidak bisa melupakan dia, itu di saat aku belum mengenal kamu. Tetapi di saat aku dekat dengan kamu, bahkan kamu menjadi istriku, di hatiku saat ini ya cuma kamu, bukan dia."
"Bohong!" ucap Dira, tapi ada rasa bahagia saat suaminya mengatakan itu.
"Selama ini perhatian aku ke kamu bagaimana? Hemm ..." Sambil menatap wajah istrinya. " Apa masih kurang, memberikan rasa sayangku ke kamu? Kamu ingin aku melakukan apalagi untuk kamu, agar kamu yakin." Indira diam, tidak berani menjawab pertanyaan dari suaminya.
Soalnya semua yang di katakan oleh Abhi benar, dia akan melakukan apapun untuk dirinya. "Kamu ingin aku buang, atau bakar kenangan itu? Aku akan lakukan, untuk kamu! Agar kamu tidak ragu lagi denganku."
"Mas Abhi," panggil Dira, merasa dirinya memang bersalah. Kenapa harus ada keraguan disaat suaminya, benar- benar mencintainya.
"Kenapa sayang?" Abhimanyu memberikan senyuman kepada istrinya.
"Maaf," Dira menunduk, dengan rada penyesalan.
"Kenapa kamu minta maaf? Di sini akulah yang salah, masih menyimpan kenangan itu, disaat aku sudah memiliki kamu." Abhimanyu menghapus air mata Dira, di kecup bibirnya. "Aku terlanjur mencintaimu, aku sangat mencintai kamu."
Indira tersenyum mendengarnya. "Aku cinta kamu Mas, aku sayang sama kamu, Mas."
Abhi tersenyum mendengarnya.
"Kamu cinta aku, aku lebih mencintai kamu, sayang. Aku ingin menua bersama kamu, sampai akhir hayatku dan ingin bersamamu. Bahkan aku berharap biarkan aku lah yang pergi lebih dulu, agar aku tidak tersiksa akan kehilangan ..." Abhi berhenti bicara, karena Indira segera menutup mulutnya agar tidak melanjutkan perkataannya.
"Jangan bicara seperti itu! Aku tidak suka mendengarnya, tidak ada yang pergi di antara kita. Aku juga tidak mau sampai kamu pergi!" Abhi menganggukkan kepalanya.
Indira segera memeluk suaminya, dirinya tidak ingin mendengar kata pisah atau kehilangan. Meskipun dia tau, setiap makhluk pasti akan merasakan kehilangan. Tetapi untuk saat ini, dirinya tidak ingin mendengarnya.
Bersambung