My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Janji seorang pria



"Seperti ini, Mas." Posisi jari tangan, menutupi kedua mata, tapi di beri celah pada jari-jarinya. "Hahaha ..." Indira kembali tertawa, Abhi hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Sama saja, kamu masih bisa melihatnya." Sindir Abhimanyu, membuat Indira tertawa.


Kini Mera sedang berada diruang makan, Abhimanyu dengan paras wajah yang segar. Abhi terlihat bahagia, bagaimana tidak, hari ini menang banyak dari Indira. Di tambah lagi, sekarang istrinya membuat makanan kesukaannya.


"Wah! ini kamu yang masak?" tanya Abhi melihat menu masakan yang lumayan banyak.


"Iya, aku yang masak. Di bantu bu Sumi tadi, cobain Mas! enak atau tidak masakannya." Pinta Dira.


Abhimanyu pun tersenyum, sambil memegang sendok, lalu di ambil makanan yang dimasak istrinya itu.


Indira menatap Abhi yang sedang mencicipi masakan dengan sangat serius. Dira merasa dirinya sedang berada di


acara memasak, yang di mana chef Juna lah yang menjadi juri.


"Bagaimana, Mas?" tanya Dira dengan rasa penasaran


"Eeemm ... daging rendangnya sempurna. Kentang balado dan hati sapinya, juga enak. Kamu sekarang sudah pintar masak, ya." Abhi memberikan dua jempolnya, tanda hebat.


"Serius 'kah? Waah ... aku senang banget. Ternyata masakan ku enak," ucap Indira,sambil bertepuk tangan.


Kini keduanya sedang menikmati makan bersama. Indira sangat senang karena melihat suaminya yang makan dengan lahap.


Sore harinya, Abhimanyu dan Indira pergi mengunjungi rumah mama Lidya dan papa Arif. Di sana seluruh keluarga sudah berkumpul. Saat malam harinya, mama Diana dan papa Benny pun datang, mereka diundang oleh keluarga Abhi.


"Mama, Papa ..." panggil Dira dengan rasa bahagianya.


"Dira, jangan lari sayang!" kata papa Benny, saat melihat putrinya yang sedikit berlari.


Indira kini berada dihadapan kedua orang tuanya. Mama Diana hanya menggelengkan kepalanya saja melihat putrinya, yang sudah menjadi seorang istri, tapi masih bersikap seperti anak kecil.


"Sayang, kamu sekarang sudah menjadi istri. Kurangi sikap kamu yang seperti anak kecil! Apalagi sampai membahayakan kamu, jangan seperti itu ya!" kata mama Diana menasihati putrinya.


"Iya Mama, aku hanya merasa senang melihat kalian datang. Kemarin aku ke rumah, tapi kalian tidak ada," Kata Dira dengan cemberut.


"Iya, kemarin Papa dan Mama sedang menemui seseorang," sahut papa Benny.


Mama Diana sejak tadi memperhatikan putri kecilnya yang sekarang tambah cantik dan terlihat berisi. Bukan hanya mamah Diana, papa Benny dan keluarga yang lainnya pun juga melihat tumbuh Indira yang sedikit chubby.


"Mamah perhatikan, kamu semakin cantik loh. Apa sih rahasianya, bagi dong resep nya?" goda mama Diana.


"Masa sih, Mah? Aku merasa tubuhku sedikit gemuk," sahut Dira, saat ingin melanjutkan pembicaraannya, Abhi pun datang menghampiri mereka.


"Mah, Pah." Abhi mencium tangan mertuanya. "Ko di luar? Ayo masuk! kami semua menunggu kalian."


Abhimanyu membawa istri dan mertuanya, untuk masuk. Pak Arif, Bu Lidya dan keluarga sudah menunggu kedatangan pak Benny dan Bu Diana.


Bu Lidya menyambut kedatangan mereka, begitupun juga mama Anissa, melihat sahabatnya, yang tak lain mertua adik datang.


"Hallo ... Bu, bagaimana kabarnya?" tanya mama Anissa.


"Baik, bagaimana kabar kalian?" tanya mama Diana, sambil bercipika cipiki dengan mama Anissa.


"Alhamdulillah baik, setelah kepergian Gilang ke Palembang, aku sempat sakit. Mungkin karena belum terbiasa jauh dari dia." jelas mama Anissa, Diana mengusap pundaknya untuk menguatkan temannya.


Sedangkan yang lain pun hanya mendengarkan cerita Mama Anissa. Gea sendiri sebenarnya merasa tak tega melihat mamanya yang kemarin sempat kurang sehat, sejak kepergian kakaknya.


"Ma, sudah dong. Masih ada aku ' kan jangan sedih terus!" ucap Gea, dengan menyentuh lengan mama Anissa.


Mama Diana melihat Anissa merasa tak tega. Sebenarnya mereka pernah berniat, ingin menjodohkan Gilang dengan Indira. Namun karena insiden malam itu, yang mengharuskan, Dira dan Abhimanyu diharuskan menikah saat itu juga.


Kini Abhimanyu dan seluruh keluarga, sudah berada diruang makan, mereka sedang menikmati hidangan yang sudah tersedia.


Selesai makan bersama, mereka berkumpul dan mengobrol hangat di ruang keluarga. Abhimanyu yang terbiasa setelah makan dirinya lalu merokok, di kursi halaman.


"Ekhem ..." ada suara seseorang berdehem, saat Abhi menoleh, ternyata ayah mertuanya menghampiri dirinya.


"Papa, ko kesini? Maaf aku tinggal merokok, soalnya tidak biasa kalau habis makan tidak ngudud." Jawab Abhi dengan terkekeh.


"Santai aja Bhi, papa pun juga perokok." Abhimanyu pun mengangguk.


Abhimanyu dan pak Benny pun mereka merokok di luar rumah. Pak Benny menatap Abhi, dengan tersenyum.


"Bhi, papa boleh tanya sama kamu? Tapi ini bersifat pribadi sih?"


"Boleh dong Pa, mau tanya apa? Kalau Abhi bisa akan aku jawab." timpal Abhimanyu.


"Kamu sudah menyentuh anak papa?" pertanyaan pak Benny berhasil membuat dirinya terbatuk.


"Uhuk ... uhuk ..." Abhi terbatuk-batuk. Abhimanyu menepuk dadanya yang terasa sesak tiba-tiba. Pak Benny memberikan minum untuk menantunya.


"Maaf Bhi, kalau pertanyaan papa membuat kamu jadi seperti ini?" ucap pak Benny merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa Pa? Abhi hanya terkejut mendengar pertanyaan Papa?" Abhimanyu justru kembali merasa malu dengan tatapan ayah mertuanya.


"Boleh papa tanya lagi? Apa kamu sudah meng"auli anak papa?" tanya pak Benny dengan wajah serius.


Abhimanyu merasa tiba-tiba tenggorokan terasa kering, di tanya seperti itu oleh ayah mertuanya. Perasaan tak enak juga dirasakan olehnya.


Abhi menganggukkan kepalanya. "Sudah Pa, maaf."jawab Abhimanyu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kenapa kamu minta maaf? Dira itu istri kamu, jadi santai aja." Abhi pun terkejut mendengarnya.


"Mak-- maksud Papa?" tanya Abhi kembali.


"Gak usah merasa tak enak hati seperti itu? Dira itu istri kamu, dan sudah menjadi hak kamu. Papa tidak marah atau apapun yang kamu pikirkan." Kata pak Benny.


"Papa tidak marah?" tanya Abhi.


Pak Benny menggelengkan kepalanya. "Papa tidak marah, jika kamu sudah menyentuh putriku. Justru, saya hanya mengingatkan, jangan pernah membuat Dira sedih, atau menyakitinya!"


Abhi masih mendengar perkataan ayah mertuanya, kini mereka berdua mengobrol serius, sesama pria dewasa.


"Iya pah. Aku janji, sebagai seorang laki-laki sekaligus menantu papa. Aku tidak akan membuat putri Papa sedih, atau menyakitinya. Itu janji ku, aku akan menjaga melindungi Dira sampai kapanpun!" jawab Abhi dengan serius.


"Papa percaya sama kamu, kalau kamu pria baik, yang memang sudah ditakdirkan untuk putri saya." Kata pak Benny dengan menepuk pundak Abhi.


"Terimakasih pah." Abhi pun tersenyum.


"Sama-sama Bhi. Tetapi jika kamu sampai menyakiti hati putri saya! Papa, tidak akan segan-segan untuk mengambil Dira dari kamu! Meskipun kamu dan keluarga kamu berlutut di kaki kami sekalipun. Tetap, papah tidak akan memaafkan kesalahan kamu!" Ancam pak Benny.


Abhimanyu mendengar ada rasa takut dengan ancaman ayah mertuanya. "Iya Pa, Abhi berjanji tidak akan menyakiti atau membuat kecewa Indira ataupun kalian semua." Ucap Abhi dengan serius.


Pak Benny pun tersenyum melihat Abhimanyu mengatakan seperti itu. Dirinya yakin kalau menantunya itu bisa memegang janjinya.


Bersambung