My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Dira berkata jujur



Indira saat ini sedang berbaring, merasakan tubuhnya yang merasa menggigil. Abhimanyu membuka pintu, dan mendekati Dira yang sedang tertidur yang menggunakan selimut.


"Sayang, kamu kenapa? kata bu Sumi kamu sakit?" ucap Abhi, menyentuh kening Dira.


"Iya," jawab Dira.


Abhimanyu melihat ada sepiring nasi dan lauk di atas meja, belum tersentuh.


"Kamu belum makan, aku suapin ya?" Indira menggelengkan kepalanya. "Kenapa gak mau sih, bisa langsung minum obatnya." Dira masih belum menjawabnya.


Abhi bingung kenapa Indira tidak menjawab pertanyaannya, seharusnya yang marah itu dirinya bukan Dira.


"Indira." Suara Abhi mulai terdengar tegas.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, tok, tok, tok. "Den, saya Bu Sumi, ingin mengantarkan teh hangat untuk Non Dira,"


"Masuk Bu!" jawab Abhi dari dalam.


Bu Sumi datang dengan membawa segelas teh hangat, lalu di letakkan di atas meja.


"Terimakasih Bu," ucap Abhi.


"Iya Den," jawab Bu Sumi, mengangguk kepalanya satu kali.


"Bu Sumi terimakasih ya, maaf Dira jadi merepotkan ibu, dan mengganggu pekerjaannya. Untung saja ada ibu datang ke atas, kalau kalau tidak aku yang ke bawah, bisa saja aku terjatuh dari tangga," ucap Indira dengan lemas.


"Tidak apa-apa Non Dira, lain kali jangan sungkan-sungkan untuk menelpon ibu, kalau butuh bantuan. Ibu siap membantu, karena itu sudah tugas ibu," Indira mengangguk. "Kalau begitu ibu pamit melanjutkan pekerjaan lagi ya Non?"


"Iya Bu, terimakasih ya," Abhi yang justru menjawabnya.


Setelah ibu Sumiati keluar kamar, Abhimanyu menatap Indira. Sedangkan Dira tidak menatap balik wajah Abhi.


"Kamu kenapa sih? aku tanya, kamu menjawab hanya menggelengkan kepala saja,"


"Aku gak kenapa-kenapa, hanya saja aku lagi malas bicara," jawab Dira dengan nada lesu, namun pandangannya menatap arah lain.


"Kamu malas bicara dengan aku? aku sudah pernah bilang, kalau bicara liat ke wajah yang ngajak ngomong. Bukan seperti itu!" Nada bicara Abhi mulai tidak enak. "Di mana hape kamu? kenapa kamu tidak menelpon Bu Sumi untuk minta bantuan?"


"Gak tau, di mana hapeku," jawab Dira seperlunya.


"Astaghfirullah Dira, aku suami kamu loh, hargai aku sedikit aja saat bicara! lihat aku sini, jangan seperti itu. Aku berusaha sabar, menghadapi sikap kamu yang seperti itu, jangan seperti anak kecil." Abhimanyu diam sejenak melihat reaksi Indira, namun nyatanya Indira hanya diam tak meladeni ucapan suaminya. Abhi tersenyum kecut, melihat istrinya yang acuh. " Aku punya salah ya sama kamu? sampai aku tanya kamu tidak menjawabnya?"


"Aku gak tau hapeku dimana, sejak pulang tadi aku tidak lihat handphoneku," nada suara Indira mulai bergetar, mendengar Abhi mengatakan seperti itu. "Maaf jika memang selama ini, kamu selalu sabar dengan sikapku yang seperti anak kecil. Bukan maksudku tidak menghargai kamu sebagai suami, hanya saja saat ini aku ...." Indira tidak melanjutkan bicaranya, justru Abhi mendengar suara isak tangis dari Dira.


Abhimanyu pun khawatir, mendengar istrinya yang tiba-tiba menangis. Hiks, hiks, hiks, Dira menangis, membuatnya tak tega mendengarnya. Abhi sadar, nada bicaranya sedikit kasar kepada Indira.


Merasa tak tega, Abhi mendekap erat Indira, dari belakang."Hei, sayang kamu kenapa nangis? maaf ya, kalau bicaraku terdengar kasar sama kamu. Aku gak bermaksud seperti itu,"


"Hiks, aku kangen orang tuaku, kalau seperti ini mereka menjagaku. Huuuu ..." Indira menangis tersedu-sedu. "Maafin aku, jika selama ini, aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kamu. Tetapi setidaknya kamu jangan mengatakan kalau aku tidak menghargai kamu. Mas, aku beruntung mempunyai pria baik seperti kamu,menjadi suamiku. Kamu selalu sabar menghadapi sikapku yang seperti anak kecil," ucap Dira, dengan Isak tangis.


Karena posisi Indria hanya menghadap dada suaminya, akhirnya Dira menatap keatas. Abhimanyu menghapus air matanya, serta memberikan kecupan di keningnya.


"Maaf, sudah membuatmu kembali menangis. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, jadi kita sama-sama belajar untuk mengerti diri kita masing-masing. Aku minta maaf ya?" tanya Abhi dengan tatapan hangatnya, membuat hati Dira kembali luluh.


Indira menganggukkan kepalanya, "Iya mas, aku maafin kamu. Aku juga minta maaf, karena sikapku yang terkadang seperti anak kecil,"


"Iya sayang, aku akan selalu memaafkan kamu." Abhimanyu kembali membawa Indira kedalam dekapannya.


Akhirnya mereka berbaikan, dan Abhi sengaja tidak ingin membahas tentang Dira bertemu dengan Aldo, bahkan sampai terbawa sampai mimpinya.


Abhimanyu saat ini sedang menyuapi Indira, membantunya untuk minum teh hangat dan obat. Bukan hanya itu Abhi juga memijat kepala Dira. (Suami idaman banget itu ya?)


"Kepala kamu sakit? besok kita ke Dokter ya!" Pinta Abhi.


"Gak mau mas, aku hanya pusing sedikit habis terkena hujan tadi," jawab Dira, yang menolak ajakan Abhi untuk ke Dokter.


"Memangnya kamu tidak menggunakan jas hujan? sampai bisa kehujanan seperti tadi. Bukannya aku sudah belikan jas hujan untuk kamu?" Indira hanya menggelengkan kepalanya saja. "Kenapa, ko gak di pakai, sudah tau hujan!"


Dengan lembut Abhi membelai lembut rambut Indira, sambil di berikan pertanyaan agar Dira menceritakan tentang kejadian tadi.


"Mas," panggil Dira.


"Iya sayang, kenapa?" Abhi menggenggam tangan Dira, lalu di ciumnya.


"Maafin aku ya, tadi aku tidak sengaja bertemu Aldo di Mall, saat aku bersama teman-teman." Kata Dira yang berkata jujur kepada Abhimanyu, tentunya dirinya merasa senang istrinya mengatakan itu.


"Aldo? jadi Kalian tidak sengaja bertemu di sana?" Indira mengangguk, "terus kenapa memangnya, ko kamu mengatakan itu ke aku?"


"Aku cuma ingin jujur aja, kalau aku tadi bertemu Aldo di sana. Aku tidak mau kalau ada yang di sembunyikan dari kamu, Mas." Kata Dira, dengan memberikan senyuman kepada Abhi.


"Terimakasih kamu sudah jujur, aku senang. Kalian cuma bertemu aja kan, jadi buat aku tidak masalah," Abhimanyu sengaja memancing pembicaraan Dira.


Indira membuang nafasnya, yang membuat nya sesak. "Mas, sebenarnya kami bukan hanya bertemu, kami juga mengobrol."


"Iya sayang, gak masalah. Asal jangan obrolan kalian itu, membawa masalah untuk hubungan kita. Aku tidak mau, sampai dia mengatakan hal yang tidak aku suka!" kata Abhi dengan nada tegasnya


"Itu dia Mas, obrolannya itu yang membuatku tidak mungkin memilih. Aku takut kamu marah." Dira mengatakannya sedikit tak enak hati.


Abhimanyu sudah mengerti, pasti Aldo mengatakan yang membuat Dira tidak nyaman. Abhi juga yakin, ini akan bermasalah dengan hubungannya .


"Kenapa mesti takut aku marah, aku tergantung kamu sayang. Apa itu menyangkut dengan hubungan kita?" Indira menganggukkan kepalanya, dan itu membuat tangan Abhi mengepalkan tangannya yang satunya.


Abhi berusaha tenang dan tersenyum mendengarnya, sebenarnya dirinya merasa geram, apa yang sudah Aldo katakan pada Indira.


Bersambung