
"Kamu mau tau gak apa yang ku sebut sepesial?" Indira mengangguk. "Boleh aku minta ceke nya!" pinta Abhi, Indira pun memberikan kue itu kepada Abhimanyu.
Abhimanyu meletakkan cake itu di atas meja, lalu tersenyum nakal ke arah Indira. Dira yang tak mengerti arti senyuman suaminya hanya mengerenyitkan matanya.
"Kamu kenapa senyum seperti itu Mas?" tanya Dira.
GREP!
Abhimanyu menarik Dira ke kasur, lalu tubuhnya berada di atas Indira.
"Aaaa ..." Indira berteriak, saat tiba-tiba Abhimanyu menariknya. Abhi justru terkekeh melihat istrinya yang terkejut.
"Mas Abhi!" Dengan rasa kesalnya, Dira memukul dada bidang suaminya.
"Ngagetin tau, gak!" Abhimanyu terkekeh melihat Indira yang terlihat malu-malu saat ini.
CUP!
Abhi mengecup bibirnya, dan Indira tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari Abhi. "Maaf ya, sudah membuat kamu terkejut. Kamu tau gak, aku ingin yang sepesial di ulang tahunku sekarang."
"Apa? jangan macam-macam ya Mas mintanya!" Ancam Dira .
"Aku gak macam-macam ko, aku hanya minta ...." Abhi menggantungkan ucapannya, lalu dia mengedipkan mata sebelahnya dengan genit.
"Aku menginginkan lagi sayang, boleh kan?" ucap Abhi dengan wajah memohon.
Huuufffhh!
"Memangnya kamu tidak capek apa Mas?" tanya Dira, Abhi menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, iya."
Tentunya itu jawaban yang Abhi ingin dengar, dengan cepat Abhimanyu sudah pasang kuda-kuda, untuk menyerang Indira. Sedangkan Dira sendiri hanya pasrah akan sikap suaminya itu.
Beginilah rasanya kalau sudah menikah, harus siap di terkam oleh pasangan kapanpun itu. Berasa seperti santapan, yang akan di makan oleh pemangsa.
Setelah selesai melakukan permainan mereka, kini keduanya masih berada di atas tempat tidur, itupun hanya menggunakan selimut sebagai penutup tubuhnya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini sih,Mas?" tanya Dira dengan bibir majunya.
"Begini gimana sih sayang, kayaknya aku biasa saja," jawab Abhi berusaha menahan senyumnya.
"Kenapa kamu agresif dan jadi liar. Padahal tadi aku sudah di sergap sama kamu, kenapa sekarang di terkam lagi. Huuuff!" gerutu Dira, dengan raut wajah pastinya membuat Abhi tak bisa untuk menahan tawanya.
"Hahaha .... Kamu itu lucu banget si sayang, kamu selalu bikin aku gemas tau gak? Dengarkan aku ya? Pria kalau sudah dewasa pasti agresif, bukan hanya laki-laki saja perempuan pun juga sama. Apalagi kalau sudah menikah, itu lumrah terjadi, namanya juga sudah SAH, bebas dong. Mencari pahala honey, dan itu wajib buat kamu sebagai istri aku," kata Abhi dengan penjelasannya.
"Dan satu lagi sayang, olahraga di pagi hari seperti yang kita lakukan tadi banyak manfaatnya. Kamu tau gak apa?" Indira menggelengkan kepalanya, Abhi kembali menahan tawanya, melihat kepolosan istrinya itu. "Salah satunya ya membuka pintu rezeki,"
"Oh ya? masa sih Mas, ko bisa membuka pintu rezeki," Abhi sedikit terkekeh mendengar jawaban Dira.
"Jangan takut kehabisan energi, memang gak capek habis melakukan itu, terus kerja? Bukannya habis olahraga itu, terasa lelah? Aku lihat di film, mereka kelelahan, hihihi ....!" Jawab Dira dengan terkikik geli, karena sudah keceplosan bicara.
Abhimanyu tercengang mendengar jawaban dari istrinya. "Kamu pernah nonton film seperti itu.?" Indira mengangguk dan terkekeh. "Nakal kamu ya! Kamu nonton di mana, dan dengan siapa kamu menontonnya, hah ....!" Ada ketakutan yang Abhi rasakan mendengar Dira pernah melihat film seperti itu.
"Apaan sih Mas! biasa aja dong ngomongnya. Hihihi ....!" Justru sekarang justru sekarang Indira yang meledek Abhi.
"Jawab pertanyaan aku, dengan siapa kamu nonton film blue!" wajah Abhi menunjukkan penuh dengan ancaman.
"Dengan siapa ya? Aldo!" Indira berusaha menahan tawanya saat melihat wajah suaminya yang terlihat marah.
Abhi, melototi Indira seakan-akan matanya hendak lepas dari kelopak.
"Dira!" nada suara Abhi mulai tak enak di dengar.
"Hahaha ...." Suara tawa Indira membuatnya sadar, kalau dirinya sedang dikerjai oleh istrinya.
"Astaga, bisa-bisanya kamu menjahili aku. Berani kamu ya! Membuat suamimu ini hampir saja marah!" kata Abhi dengan rasa geramnya.
"Hahaha ...." Abhi pun tersenyum melihat istrinya tertawaan bahagia, karena berhasil membuatnya marah.
GREP!
Dengan cepat, Abhi menarik Indira dan di menggelitik pinggangnya, hingga membuat Dira tertawa karena rasa geli
"Hahahaha ... Ampun Mas Abhi, sudah- sudah!" Indira berteriak karena merasa sudah tak kuat menahan rasa gelinya.
" Biarin! Suruh siapa suaminya diledek seperti itu." Ucap Abhi berlagak marah.
"Lagi kamu, percaya aja, sama omongan aku. Mas, aku bilangin ya, istri kamu ini gadis baik baik. Mana pernah aku menonton begituan, apalagi film apa tadi yang kamu katakan, blue? Astaga jauh-jauh deh dari tayangan gitu, kalau belum SAH." Indira tersenyum dan bergidik ngeri.
"Masa? aku gak percaya, pasti sesekali kamu pernah liat?" tebak Abhi dengan tatapan menyelidik.
Indira tersenyum, mendengar pertanyaan Abhi. "Hihihi ... Sebenarnya aku pernah satu kali lihat filmnya, itu juga yang ngajak , keponakan kamu." Abhimanyu terbelalak mendengarnya, kalau ternyata Gea.
"Apa! Gea yang ngajak kamu?" Indira mengangguk. "Benar-benar ya, keponakanku itu," Abhi menepuk keningnya sendiri.
"Iya kadang dia itu otaknya sedikit gesrek loh Mas. Aku melihat filmnya, sedikit takut, tapi penasaran. Hahahah ...." Kata Indira dengan tertawa terbahak-bahak.
"Maksudnya takut, tapi penasaran bagaimana tuh?" tanya Abhi dengan senyuman.
"Seperti ini, Mas." Posisi jari tangan, menutupi kedua mata, tapi di beri celah pada jari-jarinya. "Hahaha ...." Indira kembali tertawa, Abhi hanya menggelengkan kepalanya saja.
Bersambung