
Indira menatap Abhimanyu dengan wajah bersungut-sungut. Sedangkan Abhimanyu seakan-akan tidak peduli dengan raut wajah Indira.
Abhimanyu kini telah bersandar, di ranjang tempat tidur Indira. Sambil memainkan alat gawai nya. "Sini Dir, jangan di situ saja. Memang gak cape apa, jangan malu-malu anggap aja tempat tidur sendiri." Celetuk Abhimanyu, sambil menahan tawanya.
"Hello... Mas Abhimanyu Virendra, ini itu memang tempat tidur aku. Kenapa pakai bilang anggap aja tempat tidur sendiri.?" Dengan nada jutek.
"Lah, kan tadi aku yang bilang, memang kamu gak dengar ya." Goda Abhi. Dirinya pun menggeser posisi duduknya, lalu menepuk sisi kanannya. "Dira, sini lah memang gak cape tuh berdiri di situ,?" Goda Abhimanyu. " Enggak usah punya pikiran yang negatif sama aku, suami mu ini masih punya perasaan dan bisa berpikir dengan jernih. Jika ingat," Di akhir kalimat nya dengan suara kecil, namun masih bisa di dengar oleh Indira.
" Tuh kan, apaan jika ingat. Bagaimana aku tidak berpikir negatif sama kamu mas.?" Indira kembali cemberut. Entah kenapa ada kesenangan pada Abhimanyu saat melihat Indira yang seperti itu.
( Iiihh... Jahat banget ya si Abhimanyu, rasanya pengen banget othor cabut bulu kakinya biar tau rasanya kesel bagaimana, kalau lagi di jahili. Wkwkwkw.)
Kini Indira sudah berada di 1 tempat yang sama dengan Abhimanyu. " Dira, Jumat dan Sabtu, kamu tanding kan sama SMAN***?"
" Iya, kan mas Abhi yang kasih tau jadwalnya, kenapa masih nanya.?" Dengan pandangan nya masih menatap ke layar gadget nya.
Abhimanyu mulai kesal, melihat Indira di ajak berbicara justru pandangannya masih menatap lurus ke layar gadget nya. Dengan perasaan gemas, Abhi menjewer telinga Indira. "Kebiasaan kalau orang ajak bicara, matanya bukan melihat yang di ajak ngomong, malah ngeliatin layar handphone aja," Indira justru terkekeh, mendengar Abhimanyu yang memarahi nya. Dan lagian Abhimanyu menjewer tidak ada rasa sakit sedikit pun. Karena Abhimanyu hanya gemas saja, tidak benar benar marah.
"Ya ampun, mas Abhi itu seperti kakek sihir, galak banget," Ucap Dira dengan terkekeh. " A Abhi, jangan galak galak atuh AA, nanti kasep na leungit." Goda Indira dengan logat Sunda.
"Ganteng aku gak akan hilang dan pudar sampai kapanpun," jawab Abhimanyu dengan rasa percaya dirinya. Dan itu membuat Indira mencebik kan bibirnya.
"Aku cuma ingin tanya, kamu mau tanding, memang gak latihan.?"
"Gak aah... Males aku nya, hihihi... Lagian ya mas, kalau aku mau tanding basket, ya udahlah biasa aja. Aku kalau terlalu di pikirin, karena mau tanding, yang ada aku stress dan ujung ujungnya, aku demam saat tanding. Jadi kalau aku, ya biasa aja. Latihan ya latihan seperti biasa, kalau menang syukur, kalah ya kebangetan. Hahaha... Ya biasa ajalah mas, lagian menang atau kalah sama aja kan, namanya juga permainan," Jelas Indira dengan santai, dari caranya bicara. Abhimanyu memperhatikan setiap Indira bicara, seakan-akan Indira itu tipe gadis yang tidak mau terlihat ribet.
Keesokan paginya
Alarm di handphone milik Abhimanyu pun berbunyi. Abhimanyu pun membuka matanya dengan mata yang sayup. Abhimanyu merasa tangannya ada yang menindih. Dan benar saja saat Abhimanyu menoleh, ternyata Indira yang menjadikan tangannya sebagai pengganti bantal. Dan bukan hanya itu, Indira menganggap dirinya seperti layaknya guling. Indira terus menggusel gusel di dada bidang Abhimanyu. Dirinya hanya tersenyum mendapatkan Indira tertidur seperti anak kucing.
Abhimanyu pun mengambil handphone miliknya dan mematikan alarm yang kembali berbunyi. Abhimanyu terus memandangi wajah cantik istri kecilnya itu, sambil membelai lembut wajah nya.
"Ternyata kamu gadis yang berbeda Dira. Kamu memang sepertinya sudah dikirimkan oleh Tuhan untuk menjadi milikku. Di awal perkenalan, aku di buat heran dengan sikap kamu yang nyeleneh dan absurd. Semakin kesini, aku semakin penasaran ingin mengenal kamu lebih jauh lagi. Kamu gadis yang unik, yang membuat hari hari ku yang biasa saja kini hidupku terasa lebih berwarna, karena kehadiran kamu,"
Waktu sudah menunjukkan jam 6 pagi. Kebiasaan baru Indira hari ini setelah shalat, kini Dira berada di dapur bersama mamah Diana berkutat di dapur. Walaupun Indira hanya membantu yang ringan ringan saja. Dan di luar terdengar suara Abhimanyu yang baru pulang habis joging bersama Faisal, Adam, dan papah Benny. Yang di mana para pria itu sedang beristirahat di halaman.
"Nak, seperti nya mereka sudah pulang habis joging.?" Tanya mamah Diana.
"Iya mah, seperti nya mereka baru kembali,"
"Kamu tidak membuat kopi untuk suami kamu.?" Indira hanya menggelengkan kepalanya saja. "Sayang, masa kamu tidak buatkan si. Ayo buatkan kopi untuk suami kamu,!" Suruh mamah Diana.
"Mamah, aku mana bisa bikinin kopi. Mamah ingat kan, waktu aku bikinin kopi untuk papah aja pahit. Lagian ya, setiap hari yang bikin kopi, ya selalu dia. Aku tidak pernah bikin kopi. Jangankan bikin kopi, aku bangun saja sarapan sudah tersedia di atas meja. Jadi untuk apa aku repot repot bikin kopi, dia sudah bisa semua nya mah," Kata Indira dengan bangganya, sedangkan mamah Diana hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar perkataan putri nya itu.
"Sayang nya mamah. Begini ya, jika suami kamu bisa melakukan itu semua nya. Bukan berarti kamu santai saja, itu salah sayang. Suami akan bahagia jika memakan atau minum yang di buatkan oleh istri nya sendiri. Jadi sekarang kamu belajar buatkan kopi untuknya, dan lihat reaksinya Abhimanyu seperti apa," Kata mamah Diana yang menasehati putri nya.
" Memang suami kamu itu monster apa.? kamu itu korban menonton film drama jadi seperti itu. Coba sekarang kamu buat, mamah kasih tau takaran kopi dan gula nya,!" Suruh mamah Diana.
" Iya mah," Jawab Indira dengan pasrah. Indira mengambil cangkir, di tuangkan takaran kopi dan gula yang mamah Diana sebutkan, ke dalam cangkir. Lalu Indira menuangkan air panas ke dalam cangkir, setelah itu Indira aduk aduk kopi itu, agar gula nya larut.
Kini Indira dan mamah Diana membawakan makanan dan minuman untuk 3 pria dewasa itu. karena Adam sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya. Abhimanyu tersenyum saat melihat Indira datang dengan membawa secangkir kopi, lalu di letakkan di atas meja di dekatnya.
" Terimakasih Dira," Kata Abhimanyu dengan tersenyum kepada Indira.
" Sama sama mas, ini kopi buatan aku sendiri. Kamu minum ya, tapi kalau gak enak buang aja.!" Kata Indira dengan bibir cemberutnya.
"Pasti aku minum ko sayang." Kata Abhimanyu. Membuat Indira malu mendengar nya, karena Abhimanyu mengatakan sayang di hadapan para keluarga.
Faisal yang mendengar Abhimanyu memanggil sayang, hanya tersenyum.
"Aduh manggil nya udah pake sayang, kalah cepat gue dari si bocil." Sindir Faisal, membuat Abhimanyu dan papah Benny terkekeh.
"Mangkanya kamu harus mencari dong, jangan sibuk cari cuan terus. Papah dan mamah kan juga ingin punya menantu dan cucu." Celetuk papah Benny.
"Sama Hanna aja ka, dia kan Fans berat kakak," Timpal Dira.
"Aah... Kalau kakak sama dia, yang ada tim hore hore nambah. Kamu saja sudah bikin rame kaya pasar malam, apalagi nambah dia. Tambah pusing kakak," Kata Faisal yang tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi.
"Kakak jangan bicara seperti itu, Hanna itu sahabat aku loh. " Protes Indira.
" Tau kamu Faisal, tidak boleh menilai seseorang seperti itu. Apalagi Hanna itu gadis lucu dan ceria loh, mamah saja suka kalau ada Hanna main ke Rumah kita." Ucap mamah Diana .
" Waduh waduh panjang nih urusan nya, kalau sudah berurusan dengan wanita wanita cantik ini. Apalagi ibu ratu yang mengatakan, sudah pasti kalah." Faisal pun berdiri dan tersenyum." Kalau begitu aku kedalam dulu ya, mau bersih bersih soalnya badan aku sudah lengket sama keringat."
"Kalah kan kalau berurusan dengan aku dan mamah, weee...." Sambil ngeledek ke arah Faisal.
" Bodo." Kata Faisal yang hendak melangkah, namun dengan jahil nya Faisal mencubit pipi Indira dengan gemas.
" Dasar anak kecil." Faisal pun langsung melenggang pergi meninggalkan Indira yang terlihat kesal.
Abhimanyu hanya tersenyum melihat dua adik kaka, yang saling menjahili itu. Tidak lamanya papah Benny pun juga berdiri.
"Abhi, kalau begitu papah masuk dulu ya, mau bersih bersih. Kamu lanjutin saja minum kopinya, hanya sebentar ko, nanti papah kesini lagi ,"
"Iya pah," jawab Abhi.
Kini hanya ada Indira dan Abhi di teras rumah. Abhi mengambil cangkir kopi yang di bawakan Indira, lalu Abi menyeruput kopi itu.
Sssrrruuupppp.... Indira melihat suaminya meminum kopi buatan nya, hatinya tiba-tiba menjadi was was. Abhimanyu menatap Indira, dengan ekspresi datar. Indira menatapnya dengan harapan penilaian kopi nya enak, namun kalau di lihat ekspresi Abhi, kalau itu menyatakan, kalau kopi buatannya rasanya buruk.