
Dan kini mereka pun sedang makan bersama, menikmati masakan yang di buat Dira untuk pertama kalinya. Meskipun Abhi sempat memakan mie instan buatannya. Tapi dirinya lebih suka untuk makan masakan istrinya yang sekarang di buat nya.
Beberapa Minggu kemudian.
Kini Abhimanyu dan Indira berada di dalam kamar, Indira yang saat ini tidak malu malu lagi bermanja-manja dengan suaminya. Sedangkan Abhi sendiri menyukai akan kemanjaan dari istri kecilnya itu.
"Mas Abhi,"
"Heeemmm.... " Jawabannya Abhimanyu.
"Iiissshhh....! Apaan sih jawab nya hanya eeemmm aja.!" Protes Dira, Abhi justru tersenyum.
"Iya kenapa si sayang ku, ada apa, hemm...." Lagi lagi Abhi menatap Indira dengan tatapan hangat.
Indira tentunya tersenyum mendapatkan tatapan lembut dari Abhi. Kini keduanya saling berhadapan, Abhi dapat melihat wajah cantik Istrinya.
"Kamu mau bicara apa sih sayang,?"
"Mas setelah lulus sekolah, apa pernikahan kita akan di selenggarakan secepatnya."
Abhimanyu tersenyum mendengar pertanyaan Indira yang begitu dengan rasa penasaran.
"Iya, setelah kamu lulus pernikahan kita akan di lakukan. Walaupun pernikahan kita ini sebenarnya sudah SAH, tapi aku ingin menjadikan kamu istriku seutuhnya. Aku ingin membuktikan seluruh dunia kalau kamu itu istri SAH ku, tidak seperti sekarang setatus pernikahan kita yang di sembunyikan jika di luar,"
"Iya si pernikahan kita di sembunyikan, hanya keluarga dan orang terdekat saja yang tau. Tapi aku kan istri kamu seutuhnya kan?"
"Belum, kamu belum seutuhnya milik ku."
"Maksudnya, aku belum seutuhnya milik kamu itu apa,? Bukankah aku selama ini sudah berubah peran menjadi istri yang baik. Aku selalu mengurus keperluan kamu, bahkan aku sekarang sedikit demi sedikit bisa mengurus rumah, dan aku pun juga belajar masak untuk kamu. Apa itu masih kurang, untuk menjadi istri kamu seutuhnya.?"
"Iya aku senang, sekarang kamu sudah melakukan tugas kamu dengan baik sebagai seorang istri. Tapi selain dari itu semuanya, ada kewajiban yang harus di lakukan sebagai istri untuk suaminya, aku yakin kamu pasti tau 'kan ?" Jelas Abhi yang bertanya ke Indira. Abhi yakin Indira tau apa yang di maksud dari kewajiban dalam rumah tangga.
Indira mengangguk, dengan tersenyum malu. "Ya aku tau, yang di maksud kewajiban seorang istri, selain dari tugas mengurus pekerjaan rumah. Terus kenapa mas Abhi selama ini tidak pernah meminta hak Mas Abhi, selama ini kamu selalu menghindar dari aku," ucap Dira, sambil menuliskan sesuatu nama, di dada bidang suaminya, meskipun masih di lapisi oleh pakaian.
Abhimanyu menahan tangan Indira untuk tidak memainkan tangan di bagian itu, karena itu membuat otak nya terus bertraveling kemana mana.
"Kamu kenapa sih Mas, kamu selalu seperti ini. Selalu menahan tangan ku, bahkan kamu selalu menghindar dari aku, setiap kali aku dekat dengan kamu." Indira merasa, apa Abhi sudah berubah. "Bukankah kamu yang bilang, kamu suka dengan aku yang manja, tapi kenapa kamu sekarang menghindar.?"
Dengan cepat Indira segera mengubah posisi nya menjadi membelakangi Abhi. Abhimanyu merasa frustasi, dengan mengusap rambut ke belakang, lalu menarik rambut nya sendiri. Dirinya sadar Dira salah faham dan tersinggung dengan sikap nya itu.
Greeppp... Tiba-tiba Indira merasa ada tangan yang mendekapnya. Dengan hembusan nafas yang menyentuh lembut bagian belakang rambutnya.
"Maafkan aku sayang, bukan maksud aku menghindar dari kamu. Benar apa yang kamu katakan, jika aku menyukai kamu akan kemanjaan kamu dengan ku. Tapi di balik itu semua, aku harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasrat ku, untuk tidak melakukan nya." Indira berbalik menatap Abhimanyu.
"Bukankah kata kamu pernikahan kita itu SAH, terus kenapa kamu tidak melakukan nya. Sampai kapan dan harus berapa lama lagi, dan apa kamu tidak menginginkan itu,?" Indira menatap Abhi yang sedang tersenyum kecut.
"Sampai kapan?" kini mata mereka saling bertemu, Abhi melihat dari sorot mata Indira, entah kenapa kalau Dira menginginkan sesuatu darinya.
"Sampai kamu mengizinkan aku untuk menyentuh kamu," mata Abhi masih menatap wajah Indira dengan begitu dekat.
"Jika aku mengizinkan itu sekarang, apa kamu mau melakukan itu.?" Tanya Indira, dan tentunya membuat Abhi terkejut mendengarnya.
Abhimanyu mengubah posisi menjadi duduk, dan begitu pula Indira. Abhi bingung harus bagaimana, tapi dari lubuk hati nya, sebenarnya dirinya sangat menginginkan itu.
"Ma_ _ maksud kamu apa, bertanya seperti itu.? Dira, kamu tau pertanyaan itu nantinya akan menjebak diri kamu sendiri loh."
"Aku tau, mangkanya aku bertanya seperti itu ke kamu. Mas Abhi, aku bukan anak kecil lagi, dan aku tau kewajiban apa saja yang harus di lakukan dalam rumah tangga. Dan aku justru ingin melakukan hak ku sebagai seorang istri, termasuk .... " Indira tidak melanjutkan perkataannya, dan hanya menundukkan wajahnya yang nampak malu.
Abhimanyu tersenyum bahagia saat istrinya mengetahui tentang rumah tangga dan kewajibannya. Dan pastinya salah satunya, kalau istrinya itu mengerti akan masalah hasratnya yang selama ini dia pendam.
"Kamu yakin sayang.?" Tanya Abhimanyu sekali lagi untuk memastikan nya.
Indira mengangguk, "iya Mas, aku yakin. Aku juga ingin menjadi istri kamu seutuhnya, yang bisa kamu miliki. Aku ingin menjalani pernikahan kita ini menjadi keluarga bahagia, seperti pasangan lainnya. Aku juga ingin memberitahu kepada semua orang, dan dunia, kalau aku mempunyai suami yang baik, penyayang, dan tampan seperti kamu."
Abhimanyu pun terkekeh mendengar apa yang istrinya katakan. Indira pun tersenyum saat Abhi membawanya ke dalam pelukan. Memang inilah jawaban yang selama ini dirinya nantikan.
Kini keduanya saling menatap, Abhimanyu menatap Indira begitu dalam, seakan-akan penuh makna dari tatapan matanya itu. "Apa kamu yakin dengan perkataan kamu,?" Indira mengangguk. "Jika aku memintanya sekarang, apa kamu mau melakukannya.?"
Sebenarnya Abhimanyu tidak yakin, kalau Indira siap melakukan itu. Namun Abhi di buat tak percaya dengan jawaban Indira yang menganggukan kepalanya.
"Aku yakin, dan akan melakukannya itu untuk kamu. Aku sudah berpikir matang matang, untuk pernikahan kita Mas, aku ingin memulai nya dari sekarang." Indira berkata seperti itu penuh dengan keyakinan.
Abhi pun tersenyum, begitu pun juga Indira. "Kita mulai sekarang ya,! mungkin ini akan sedikit sakit, tapi aku akan melakukannya dengan hati hati.!" Indira pun tersenyum dan mengangguk.
Dengan lembut Abhimanyu mengecup kening, hidung dan terakhir bibir. Abhi membaringkan istri ke atas kasur. Abhi melakukan permainan yang selama ini dia inginkan. Mereka masih asyik bermain main di area itu, lalu tangan Abhi mengambil sesuatu di dalam laci samping tempat tidurnya. Sebuah benda berbentuk kotak kecil, dengan berwarna merah. Indira tau isi dari kotak itu, Dira hanya tersenyum melihatnya.
"Maaf, aku harus menggunakan ini. Aku lakukan untuk kebaikan kamu sayang."
"Ya aku mengerti, lakukan lah Mas.?" Abhimanyu pun mengangguk.
Malam itu, terjadilah sebuah pergulatan di antara mereka untuk pertama kalinya. Dengan permainan yang masih medium, dan dilakukan oleh mereka di balik selimut, dengan cahaya lampu tidur saja.
(Permainan itu pun hanya mereka saja yang tau author gak liat jadi gak tau loh.! hihihi....)
Akhirnya Abhi tidak harus menahan dan berpuasa lagi, untuk melakukan apa yang di inginkan setiap pasangan. Abhi bisa memintanya kapa pun mulai saat ini. Karena Abhi adalah suami yang sabar menahan hasratnya selama ini, dan untuk pertama kalinya Abhi pun berbuka dengan perasaan bahagia dan semangat yang menggebu-gebu.
Bersambung