
Setelah selesai dengan urusan mencuci wajah, Abhimanyu pun keluar dari kamar mandi. Betapa terkejutnya Abhi saat melihat Indira yang sedang meringis kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?" Abhimanyu terlihat khawatir.
"Mas, perut aku sakit," ja qb Dira dengan meringis.
"Iisshhh ... Aaww ..." desis Dira merasa sakit, terutama bagian belakangnya terasa panas perutnya seperti ada yang ngajakin keluar.
"Kamu tunggu sebentar ya! Aku panggilkan Faisal untuk mengantar kerumah sakit,"
Abhi yang memang saat itu sedang menginap di rumah mertuanya, segera memanggil kakak iparnya yaitu Faisal.
Tok ... tok ... tok!
"Ical!" teriak Abhi memanggil Faisal.
Ceklak!
pintu terbuka, Faisal tercengang melihat penampilan Abhi yang diikat dua rambutnya, serta di berikan jepitan kupu-kupu.
"Jangan ketawain gue! Ini ulah Dira. Sekarang bantu gue, Indira mau melahirkan!" ucap Abhi dengan raut wajah panik, membuat Faisal terkejut mendengar.
"Apa! Dira mau melahirkan? Terus gue harus bantuin ngapain, gue gak tau?" tanya Faisal.
"Elo bawa mobil, masa bantuin Dira bersalin!" omel Abhi, membuat Faisal mengangguk.
Dengan tergesa-gesa Faisal mengambil kunci mobil yang di berikan Abhi, dan hoddie di dalam kamarnya.
Abhimanyu menggendong istrinya yang sudah terlihat lemas. Faisal juga membantu Abhi membawakan tas untuk persalinannya.
Tok ... tok ...tok!
Faisal mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.
"Mama, Papa!" panggil Faisal dari depan kamar.
Papa Benny membuka pintu, terlihat mata sayup-sayup dari waja orang tuanya.
"Ada apa Faisal, malam-malam ketok pintu, kaya orang kebakaran jenggot!" omel pak Benny.
"Ini lebih dari kebakaran jenggot atau buku ketek Pa. Indira mau di bawa ke rumah sakit, seperti dia akan melahirkan." Faisal memberitahu membuat mata pak Benny terbuka dengan sempurna.
"Apa! Dira mau melahirkan?" tanya pak Benny dengan terkejut, Faisal pun mengangguk.
Mama Diana yang mendengar kata melahirkan segera menghampiri suaminya.
"Ada apa Cal?Kamu bilang Dira ingin melahirkan?Dimana adikmu?" tanya beruntun Mama Diana.
"Di mobil Ma, sekarang Ical mau ke mobil mengantar Dira!"
"Mama ikut," Bu Diana mengikuti dari belakang.
Faisal kini sudah masuk, Abhi bersama Dira di kursi tengah, lalu mama Diana pun juga masuk du kursi tengah menemani mereka berdua.
Alangkah terkejutnya Mama Diana melihat penampilan menantunya dengan rambut diikat dan di beri jepitan kupu-kupu.
Mam Diana berusaha menahan tawanya, di hadapan menantunya. Apalagi sekarang Abhi sedang jadi amukan Indira, saat rasa mulasnya datang.
Sedangkan Abhimanyu sangat malu, kalau mertuanya melihat penampilan rambutnya dengan terpasang jepitan rambut kupu-kupu.
Kini mobil sudah melaju.
"Sakit mas, huuffhh!" ucap Erina seraya mencengkram lengan Abhi.
"I_ iya sayang, kamu tahan ya! Kita sedang di jalan, mau ke rumah sakit," Abhimanyu mencoba menenangkan Indira.
"Aaaaaa!" teriak Indira menjambak rambut Abhi. "Huufh ... huuufh ... huuufh ...!"
"Aaaww ..." Abhimanyu pu juga ikut berteriak, karena rambut di kepalanya terasa tercabut saat istrinya menariknya.
"Ya ampun macam kamu melahirkan, rambutku pitak sebelah sayang kamu jambak sampai rontok." Ucap Abhi mengusap kepalanya.
"Kenapa, kamu kesal aku tarik karena merasakan sakit. Ini 'kan ulah kamu. Nih coba rasain sakitnya bagaimana!" Dumel Dira memarahinya suaminya.
Faisal sendiri menahan senyumnya melihat betapa galaknya Indira saat ini. Merasa kasian melihat adik iparnya di marahi istrinya.
Kini Indira sudah berada di rumah sakit dan ditangani di ruangan persalinan. Para Dokter dan Perawat berusaha menahan senyumnya, karena melihat kondisi Abhi yang terlihat lucu dengan penampilannya. Apalagi saat melihat rambutnya diikat dan dipasangkan jepitan berbentuk kupu-kupu. Abhi hanya pasrah juga sudah menebalkan mukanya untuk menahan rasa malunya, karena ulah istrinya.
"Mas Abhi, kamu di sini aja? jangan tinggalin Dira sendiri, aku takut!" Rengek Indira, di sela-sela persalinan
"Iya sayang Mas, akan tungguin kamu di sini. kamu yang kuat ya!" ucap Abhi saat melihat bertatapan langsung dengan proses persalinannya.
Faisal dan Mama Diana mendengar dari luar suara Indira yang mengejan, sedangkan Abhi ikutan berteriak.
"Mah, apa setiap wanita harus merasakan sakit seperti ini saat melahirkan?" Faisal membayangkan betapa sakitnya yang di rasakan oleh adiknya. "Aku tak tega mendengarnya."
"Setiap wanita memang merasakan sakit bertubi-tubi, saat melahirkan. Tetapi mereka ikhlas melakukannya, demi memperjuangkan anaknya lahir ke dunia. Mangkanya kelak kamu sayangi istri kamu, jangan sekali-kali kamu menyakitinya. Sekarang kamu lihat saja kondisi adik kamu bagaimana! Dan itu juga akan di rasakan kepada wanita yang melahirkan, termasuk istri kamu nanti." Faisal mengangguk.
"Iya Mah, aku akan dengarkan dan simpan baik-baik nasihat Mama ini. Menjaga menyayangi istri serta anak-anakku nanti,"
Mendengar putra sulungnya mengatakan itu, mama Diana tersenyum.
Tidak lama kemudian Papa Benny datang dengan keluarga besannya. Pak Arif dan Bu Lidya menghampiri Diana, dengan wajah cemas.
" Diana bagaimana keadaan Indira?Apa bayi mereka sudah lahir?" tanya Bu Lidya dengan rasa cemasnya.
"Belum Bu! Sejak tadi saya dan Faisal juga sedang menunggunya. Belum terdengar suara bayinya." jawab Mama Diana.
Beberapa menit kemudian.
Oooeek ... oooeek ... terdengar suara bayi menangis. Bu Lidya dan Diana berpelukan, mendengar bayi Indira sudah terlahir. Papa Benny dan pak Arif pun juga merasa bahagia mendengar suara baby dari kamar persalinan. Faisal sendiri mengusap wajahnya bersyukur karena dia akan mempunyai keponakan.
Sedangkan di dalam ruangan persalinan.
Indira dan Abhimanyu menangis bahagia mendengar anak mereka sudah terlahir dengan jenis kelamin perempuan yang cantik seperti ibunya.
Abhimanyu memberikan kecupan hangat kepada istrinya. "Selamat ya sayang! Kamu ibu yang hebat dan kuat, kamu berhasil melahirkan bayi cantik kita," Indira mengangguk , dan tersenyum.
Meskipun ada drama dan air mata, saat melahirkan. Namun itulah bentuk rasa bahagia dan cinta mereka, sebagaimana mereka pernah merasakan kehilangan. Sekarang mereka di berikan malaikat kecil yang begitu sempurna.
Walaupun saat menemani istrinya melahirkan, kaki Abhi sempat gemetaran, dan rasa sakit yang di berikan Indira. Namun semuanya itu tak sebanding dengan apa yang di rasakan Dira. Apalagi untuk melahirkan Malaika kecil mereka, yang sudah di nantikan.
Kini Abhimanyu keluar dari ruang persalinan, dan melihat di luar sudah ada keluarganya menunggu.
Abhimanyu menghampiri keluarga dengan senyuman kebahagiaan. Bu Lidya dan pak Arif memeluk putranya.
"Selamat Pah, Mah! Cucu kalian nambah lagi, dan jenis kelamin perempuan cantik seperti ibunya." Ucap Abhi dengan wajah bahagia.
"Alhamdulillah! terus bagaimana Bhi? Kondisi Indira dan bayinya?" tanya Bu Lidya dengan tak sabar ingin mendengar kabar baik.
"Keduanya selamat, dan sehat. Hanya saja Dira terlihat lemah!" Mama Diana khawatir dengan kondisi putrinya. "Tapi jangan khawatir, Indira hanya butuh istirahat kata Dokter." jelas Abhi tidak ingin keluarga Istrinya jadi kepikiran.
Faisal dan Papa Benny menenangkan Mama Diana. Agar tidak berpikir macam-macam tentang putrinya.
Pak Arif dan Bu Lidya terkejut dengan apa yang di lihat, pada putranya.
"Bhi penampilan kamu bagaimana sih? Rambut diikat dan di jepit seperti itu?" ucap pak Arif menunjuk ke rambut Abhi.
Abhi terkekeh menjadi malu sendiri kepada orang tuanya. Yang selama ini Abhimanyu yang mereka kenal, adalah sosok pria dingin, tegas tertutup namun hangat. Tetapi melihat rambutnya terikat dengan jepitan kupu-kupu di kepalanya. Laki-laki yang di kenal santai, ternyata menjadi menggemaskan karena ulah istrinya.
"Ternyata anak Mama bisa menggemaskan seperti ini ya?" goda Bu Lidya kepada Abhi.
Abhi hanya tersenyum mendengarnya.
"Ini semua karena menantu kesayangan kalian. Aku hanya bisa pasrah saat dia merengek ingin makeover wajah ku, dan penampilanku. Kalau tak di turuti pasti dia akan merajuk nantinya." Membuat para keluarga tertawa mendengarnya.
"Ternyata memang hanya Indira yang bisa meluluhkan sikap ego dan dingin kamu Bhi," timpal pak Arif.
Perkataan pak Arif membuat Abhimanyu tersenyum mendengarnya, memang benar apa yang di katakan ayahnya itu. Kalau hanya Dira lah, yang mampu membuat Abhi bertekuk lutut. Bahkan kalau sudah mendengar istrinya yang sudah meminta sesuatu dengan sikap manjanya, dirinya sendiri tak mampu untuk menolaknya.
Sedangkan Faisal sebagai kakak iparnya beruntung, adiknya menikah dengan pria yang sangat mencintainya. Karena dia lihat sendiri, bertapa bucin si Abhi saat bersama Indira.
Faisal sendiri ingin sekali segera menikahi gadis yang sangat dia cintai saat ini, yaitu Hanna. Agar segera menjadi istrinya, dan mereka hidup bahagia memiliki keluarga sendiri.
Bersambung...