My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Ulang tahun Abhi



"Maaf kalau mas boleh tau, apa yang Aldo katakan, sampai membawa dampak pada hubungan kita?" ucap Abhi, dapat melihat wajah istri yang sedikit takut untuk mengatakannya. "Sayang,"


"Sebenarnya Aldo mengatakan kalau dia bekerja di perusahaan tempat teman ayahnya," Indira mengatakan semuanya kepada Abhimanyu, tanpa ada yang di sembunyikan dari suaminya.


Entahlah Indira saat ini mengikuti isi hatinya saja, kalau dirinya sudah nyaman dengan hubungannya bersama suaminya. Apalagi dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Abhi, membuatnya semakin merasa jatuh hati dengan pria dihadapannya.


"Apa mas boleh tanya? ini menyangkut masalah perasaan kamu. Apa kamu masih memiliki rasa sama dia, aku ingin kamu jawab jujur?"


"Apa kamu merasa ada keraguan pada diriku? sampai kamu bertanya hal seperti itu ke aku," ucap Dira, dengan sedikit kesal.


"Bukan gitu sayang, kamu tau aku bagaimana ke kamu. Aku hanya takut, hati kamu masih memiliki rasa ...." Kata Abhi yang ucapannya di potong oleh Dira.


"Setelah aku memberikan itu ke kamu, sekarang kamu masih ragu?" Indira sedikit menjauh dari Abhi, karena merasa kecewa.


Abhimanyu menarik Indira agar didekatnya kembali. "Maaf, bukan maksudku seperti itu, atau ragu dengan kamu! aku hanya tidak ingin kehilanganmu, di saat pernikahan kita akan dilakukan setelah kamu lulus nanti."


Setelah mengatakan itu, hubungan mereka kembali membaik. Abhi maupun Indira, memang sering menyelesaikan masalah di kamar. Apalagi Abhimanyu, yang tidak bisa membawa masalahnya terlalu lama, jika bersama istrinya itu. Di usahakan masalah itu di bicarakan baik-baik, agar tidak berkepanjangan dan akan berdampak pada hubungan pernikahannya.


Satu bulan kemudian, pagi- pagi sekali Indira sudah berkutat di dapur untuk membuat masakan. Apalagi saat ini adalah hari sepesial buat Abhi, yang di mana adalah tanggal kelahirannya.


Abhimanyu yang sejak sholat subuh tadi, dan habis melakukan pertarungan dengan Indira, melanjutkan tidurnya kembali. Sedangkan Indira sudah terbiasa bangun pagi, sekarang sedang berkutat di dapur bersama Bu Sumiati.


Indira memasak makanan kesukaan Abhi, yaitu rendang daging. Dira baru tau, kalau suaminya sangat suka dengan rendang.


"Semoga saja enak ya Bu, soalnya aku baru pertama ini memasak rendang, hihihi ...." Kata Indira dengan tertawa.


"Pasti enak dong Non, kan sekarang sudah biasa di dapur. Buktinya, den Abhi kalau makan selalu habis," ucap Bu Sumi sambil mencuci perabotan yang sudah di gunakan.


"Oh iya Bu, aku tanya sedikit boleh?" tanya Dira.


"Tanya apa Non? tanya saja," jawab Bu Sumi dengan tersenyum.


"Eemm ... kalau anak ibu masih ada, kira-kira usianya sudah berapa tahun? kalau ibu tidak mau menjawabnya juga gak apa-apa!"


Bu Sumi tersenyum kecut mendengarnya, dan mengingat kembali wajah putranya yang selalu memberikan senyuman hangat kepadanya.


"Tidak apa-apa Non. Sebenarnya anak ibu, kalau masih ada, mungkin usianya sudah seperti den Abhi, " jawab Bu Sumi.


"Pasti Ibu kangen ya dengan almarhum suami dan anak Bu Sumi?" tanya Dira dengan rasa prihatin, melihat wajah Bu Sumi yang tak lagi muda.


"Kangen sudah pasti, hanya saja rasa rindu ibu, cuma bisa di sampaikan melalui doa saja," ucap Bu Sumi dengan senyuman.


"Ibu yang sabar ya, ibu boleh anggap aku seperti anak ibu sendiri. Apalagi dengan adanya Bu Sumi di rumah ini, membuat ku tidak kesepian lagi," kata Dira membuat ibu Sumiati, terkekeh mendengarnya.


Indira merasa senang karena hasil masakan sudah matang dengan sempurna. Rendang daging, dan kentang balado pakai hati sapi, semuanya makanan kesukaan Abhi. Semua masakan sudah tertata di atas meja, dengan rapih.


"Akhirnya sudah siap semuanya, sekarang aku ke kamar dulu ya," Bu Sumi pun mengangguk.


Indira melangkahkan kakinya menaiki anak tangga, dengan membawa kotak kecil, berisikan cake.


Kini Indira masuk kedalam kamarnya, suasana kamar masih gelap, karena gorden kamar belum di buka, namun masih mendapatkan cahaya lampu tidur. Dira tersenyum melihat Abhi yang begitu pulas.


Sreekk ... Indira membuka gorden kamarnya, dan cahaya matahari menerangi ruangan. Abhi yang sedang tertidur pun menyipitkan matanya karena silau.


Indira tersenyum dan menghampiri Abhimanyu, dengan membawa cake kecil terdapat lilin kecil.


"Selamat ulang tahun, Mas Abhi. Sehat selalu, dan semakin sayang sama aku," Abhimanyu terkekeh mendapatkan kejutan dari Indira untuk pertama kalinya.


Cup


Indira mengecup bibirnya, dan tersenyum manis. Abhimanyu merasa gemas, melihat wajah istri begitu amat lucu.


"Ya ampun sayang, kamu tau ulang tahunku? terimakasih loh atas surprise nya."


"Sama-sama sayang!" Indira tersenyum. "Sekarang kamu tiup lilinnya!" pinta Dira.


Abhi meniup lilinnya, setelah itu dengan jahilnya Abhimanyu, mengoleskan krim cake berwarna putih tepat di ujung hidung Dira


"Iihh ... Mas Abhi nakal!" Abhimanyu terkekeh melihat Indira yang cemberut, sambil membersihkan ujung hidungnya.


"Lagian kamu ngegemesin tau gak," Indira justru tersenyum mendengarnya.


"Mas, maaf ya aku kasih kejutan kamu hanya seperti ini. Tidak kaya kamu, yang romantis banget, untuk ulang tahunku,"


Abhi justru tersenyum, otak nakalnya mulai menjelajahi pemikirannya.


"Tidak mau tau, aku ingin kamu memberikan aku yang sepesial untukku!" pinta Abhi dengan menahan senyumnya.


"Apaan? aku sudah membuat masakan sepesial untuk kamu, makanan kesukaan kamu?" tanya Dira dengan bingung.


"Masa sih? kamu sudah masak makanan kesukaan aku. Tapi aku ingin yang lain sayang?" ucap Abhi berusaha menahan senyum nya, melihat wajah istrinya yang kebingungan.


Indira merasa bingung, karena kejutannya kurang berhasil. Abhi dapat melihat wajah kecewa pada istrinya.