
Sedangkan Abhimanyu sejak tadi, entah kenapa merasa mual, apalagi mencium bau amis di pasar. Itu membuat perutnya seperti diaduk-aduk, dan Abhi merasa tak kuat menahan bau amis. Tubuhnya berkeringat dingin, kepalanya pun terasa berdenyut.
Indira tidak memperhatikan suaminya yang sedang menahan rasa mual dan semuanya. Padahal Abhi sudah memakai masker, tapi bau amisnya masih terasa menyengat.
"Dira sayang, habis ini kita mau ke mana lagi?" tanya Abhi
"Kita belum mencari buah, untuk rujak Mas. Sebentar aku cari buah rujakan dulu!" jawab Dira, dengan pasrah Abhi pun mengikuti istrinya.
"Ya sudah kita cari buah rujakannya, tapi setelah itu kita pulang! Soalnya aku sudah tidak kuat lagi sayang, aku rasanya mual atau bisa pingsan, jika kelamaan ada di pasar ini!" ucap Abhi yang sudah mulai terasa lemas nada bicaranya.
Mendengar suaminya bicara seperti itu, Indira menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Abhi. Terlihat wajah pria di sampingnya yang terlihat pucat.
"Astaga Mas Abhi! Kamu kenapa? Ko wajah kamu pucat begitu," Indira menelungkupkan kedua tangan di wajah suaminya.
"Aku juga gak tau, tiba-tiba kepalaku terasa pusing berada di sini. Biasanya aku tidak pernah seperti ini,"
"Terus bagaimana dong? Apa kita langsung pulang aja, gak usah cari rujakan?" tanya Indira terlihat khawatir melihat suaminya sudah keringat dingin.
"Aku masih kuat nahan ko. Sekarang kita cari buahnya, aku tidak mau anakku nantinya ngiler karena kemauannya enggak keturutan." ucap Abhi sambil membulatkan matanya agar kembali segar.
"Ow iya, aku punya minyak kayu putih." Indira mengambilnya dari dalam tas kecilnya, lalu di berikan ke suaminya.
"Sekarang kamu gunakan ini! Kamu hirup aromanya, agar kamu enakkan!" Suruh Dira, dan Abhi menurut apa yang di katakan istrinya.
Abhi meletakkan minyak kayu putih dekat lubang hidungnya, lalu di hirup dalam-dalam, sampai tiga kali.
"Bagaimana Mas?" tanya Dira . " Masih pusing?"
"Huuufh ... sudah lebih baik, tidak seperti tadi!" jawabnya Abhi.
"Terus bagaimana, lanjutin lagi jalannya?" tanya Dira kembali, dan Abhi mengangguk.
"Kita lanjutkan lagi mencari buah rujaknya. Sepertinya tadi aku melihat penjual buah, ada di depan sana. Kita cari di sana saja ya!" ajak Abhi dan Dira juga mengangguk.
Kini mereka melanjutkan perjalanan mencari buahan untuk rujakan.
Setelah keluar tempat tadi, lalu belok kanan, benar tebakkan Abhi, ada penjual buah rujak. Tanpa mengulur waktu, mereka pun segera ke sana.
"Pak, sebungkusnya berapa?" tanya Abhi memegang sebungkus buah yang sudah di campur isinya.
"Harganya 20 ribuan aja Mas," jawab bapak penjualnya.
"Kalau begitu saya pesan buahnya lengkap ya Pak, saya beli 50 ribu!"
"Lengkap isinya Mas, pakai pepaya juga?"
"Iya Pak, lengkap! Pakai pepaya, dan mangganya agak banyakkan. Yang lainnya terserah bapak," timpal Indira dengan terkekeh.
Penjual buahnya pun mengangguk dan tersenyum. Sedangkan Abhimanyu memperhatikan sikap Istrinya, hanya menggelengkan kepalanya saja.
Saat menunggu pesanannya, Abhi melihat ada penjual es cendol Bandung. Entah kenapa es cendol itu menarik perhatiannya. Bukan hanya itu, di sebelah es cendol ada penjual soto Bogor.
Abhimanyu tersenyum melihat kedua menu makanan dan minuman tersebut.
"Sayang, habis ini kita ke sana ya!" ucap Abhi, menunjuk ke arah gerobak cendol Bandung.
"Bukan hanya cendol Bandung sayang, tapi itu loh soto Bogor nya.Beuuh kayanya manteb tuh." Kata Abhi, membuat Indira terkekeh.
"Yasudah nanti kita ke sana!" jawab Dira, membuat Abhi tersenyum.
Indira melihat sikap suaminya yang tiba-tiba mendadak jadi aneh. Padahal tadi di rumah dia biasa saja. Kenapa di pasar jadi seperti itu.
'Sebenarnya yang hamil itu aku atau dia sih. Kenapa terlihat ngidamnya jadi Mas Abhi,' gumam Dira dalam hati.
Setelah buah rujaknya sudah di bungkus, dan di bayar. Kini Abhimanyu dan Dira melangkah menuju ke penjual soto Bogor dan juga es cendol Bandung.
Abhimanyu melihat tempat penjual soto nya, cukup ramai. Hanya ada satu tempat yang kosong, Abhi membawa istrinya untuk duduk di tempat yang kosong yaitu di pojokan. Tepat di sebelahnya penjual es cendol Bandung.
Setelah memesan soto, Abhi kini duduk dengan memandangi wajah istrinya.
"Kamu kenapa memandang aku sampai seperti itu? Tenang aku gak akan kabur jauh dari kamu ko. Hihihi ..." ucap Dira dengan terkekeh, Abhi tersenyum mendengarnya.
"Apa kamu sering pusing jika lagi datang mual?" tanya Abhi membuat Dira tersenyum.
"Iya aku terkadang suka pusing dan mual kalau lagi datang. Seperti kamu tadi Mas," jawab Dira.
"Aku senang, akhirnya aku dapat merasakan rasanya ngidam. Seperti apa yang kamu rasakan. Ternyata rasanya tidak nyaman ya? Apalagi kamu, yang hampir tiap hari, terus merasakan mual?"
"Aku senang ko, merasa nikmatnya masa kehamilan. Jadi aku tau rasanya mengandung itu seperti apa? Meskipun kehamilan yang kemarin aku belum sempat merasakan, tetapi dia sudah ...."
"Ssssttt ... jangan mengatakan itu lagi!" ucap Abhi sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir istrinya.
Indira pun mengangguk, Abhi menggenggam tangan Dira, lalu di kecup nya.
Saat sedang mengobrol soto yang mereka pesan pun datang. Abhi dan Dira pun mencampurkan sambal ke dalam mangkuk, lalu di berikan perasaan jeruk limau.
Abhimanyu mengaduk soto nya, lalu di santap dengan semangat. Dira melihat suaminya yang begitu lahap dan menikmati saat makan soto Bogor, hanya tersenyum memandangnya.
Kini soto di mangkuk Abhi sudah habis, tak tersisa. Abhimanyu lanjut memesan cendol Bandung, yang sejak tadi dia sudah incar.
"Bang cendolnya dua ya," pesan Abhi, dan Abang penjual cendol itu mengangguk
Cendol yang di pesan Abhi sedang di buatkan. Tidak butuh waktu lama, cendol itu pun sudah siap.
"Waah ... enak banget rasanya. Wih, aku langsung segar loh yank," ucap Abhi sambil melahap cendolnya.
"Memang cendolnya enak, Mas." Abhi mengangguk mendengar Dira bicara.
Kini keduanya menikmati cendol Bandung, Abhi entah kenapa, menikmati ngidamnya saatnya ini.
Bersambung.
...****************...
Assalamu'alaikum! Hai hai hai...terimakasih yang sudah setia membaca sampai hari ini. Senang banget rasanya kalian mau membacanya. Oh iya jangan lupa untuk tinggalkan jejak 👍 kalian ya 🤗.
Oh iya Karena besok sudah masuk bulan ramadhan, author mengucapkan mohon maaf lahir batin ya🙏 Kalau ada salah dan kurang berkenan dalam tulisan ku.
...Mari kita sambut bulan suci Ramadhan dengan semangat. Marhaban ya Ramadhan 🙏🙏🙏...