My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Membayar buku buku



"Iiih Pede banget si pak guru satu ini." Indira bergidik geli.


Abhimanyu pun tersenyum mendengar perkataan Indira.


"Lebih baik Pede kan dari pada minder,"


Indira pun tersenyum mendengar guru membalikkan perkataan Indira.


"Terimakasih pak sebelumnya sudah mengambilkan bukunya, kalau begitu saya permisi ingin membayar buku buku ini dulu," Abhimanyu pun mengangguk.


Namun saat melihat Indira melangkah untuk ke kasir, Abhimanyu melihat bercak merah di celana belakang Indira.


"Dira tunggu," panggil Abhimanyu.


Indira pun menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya untuk melihat Abhimanyu.


"Iya pak ada apa?"


"Maaf sebelumnya, tapi itu belakang kamu, maksud nya belakang celana kamu ada bercak merah," ucap Abhimanyu merasa tak enak untuk mengatakannya.


Indira pun melihat kebagian belakang nya dari kaca di sampingnya. Dan Indira pun terkejut, ternyata bener ada bercak merah di belakang celananya.


Indira pun terlihat panik, karena saat ini tidak ada penutup untuk menutupi belakang nya.


"Aduuh.... Gimana ya, kenapa waktunya gak tepat si datang nya. Nyebelin banget dah kalau begini," gerutu Indira.


Tiba tiba Abhimanyu membuka sweater bola yang dirinya pakai. "Kamu pakai ini saja buat menutupi bercak itu,"


"Tapi pak, itu kan bapak sedang pakai sweater nya. Masa saya pakai buat menutupi belakang saya,?"


"Tidak apa-apa, sini biar saya bantu pakaikan, maaf ya.?"


Abhimanyu pun melilit kan sweater nya ke pinggang Indira, lalu di ikatkan di bagian depan. Indira hanya diam melihat pria ini membantunya.


"Nah sudah beres, sekarang lebih baik kamu membeli sesuatu agar tidak melebar bercak merah itu.


"Ii____ Iya pak," jawab nya dengan gugup. Sebenarnya Indira merasa malu, jika sampai hal sensitif seperti ini gurunya tau. Apalagi gurunya itu laki laki, Indira sangatlah risih.


Greep.. Tangan Indira di tarik oleh Abhimanyu. Abhi membayar semua buku-buku, termasuk buku milik Indira.


"Biar saya saja yang membayar buku nya." Ucap Abhimanyu.


"Tapi pak, ini kan buku saya. Lumayan kan pak ada 3 buku,?"


"Sudah biarkan saja, biar saya yang bayar. Sekarang kamu urus masalah kamu,"


"Terimakasih pak,"


"Eeemmm..."


Selesai membayar, mereka pun keluar dari toko buku.


"Kalau begitu saya permisi lebih dulu ya pak, saya ingin ke toilet,"


"Eeemmmm....." Jawab nya lagi.


Tanpa memperdulikan ucapan gurunya, Indira pun mencari letak Toilet di Mall itu.


Setelah selesai dengan urusannya, Indira pun kembali keluar. Sebelum nya Indira bercermin lebih dulu.


"Ya ampun pucat banget si gue. Cuma karena tembus aja, sampai pucat." Indira merapikan penampilan nya, tak lupa Indira menggunakan lipstik dengan warna bibir. Agar tak terlihat pucat.


"Sudah cantik, cuss pulang aja lah. Udah gak asyik juga." Indira melihat sweater yang melingkar di pinggang nya. "Untung saja ada pak Abhimanyu, dengan sigap menolong gue. Astaga buku buku gue di mana ya." Indira pun menepuk keningnya sendiri. "Ya ampun, bukunya masih bersama pak Abhimanyu. Dia juga yang udah bayarin buku gue, tapi di mana dia ya?"


Indira pun berjalan meninggalkan toilet. Namun Indira di buat terkejut, saat hendak melangkah, ternyata ada Abhimanyu yang bersandar di tembok menunggu kedatangan Indira.


"Pak Abhimanyu, ko di sini pak,?"


"Eemmm saya ingin membeli semen 10 Sak," Dengan raut wajahnya yang datar.


"Idih pak guru satu ini, beneran gak jelas," Jawab Indira sekenanya.


"Kamu masih bilang saya gak jelas. Nih saya menunggu kamu, untuk kasih ini. Ini kan punya kamu, masa saya harus bawa novel percintaan ke rumah." Sambil menyerahkan buku bukunya kepada Indira.


"Loh memang nya kenapa, lagian besok kan bapak bisa kasih langsung di sekolah,"


"Malas saya membawa barang yang bukan milik saya, kalau begitu saya permisi," Abhimanyu pun melangkah meninggalkan Indira.


Namun Indira mengingat kalau dirinya mempunyai hutang, karena belum membayar bukunya. Indira pun berlari mencari Abhimanyu. Saat melihat, Indira pun berteriak memanggil Abhimanyu.


"Pak Abhi.... Pak Abhimanyu.." Panggil Indira.


Abhimanyu pun menghentikan langkahnya, dan menunggu Indira yang memanggilnya. Semua mata pengunjung mall memperhatikan Indira dan Abhimanyu. Mereka jadi pusat perhatian saat Indira berteriak memanggilnya.


"Bisa tidak, kamu itu tidak berteriak memanggil saya. Ini tuh di Mall, bukan di tengah hutan.!" Kata Abhimanyu dengan rasa kesalnya, Indira pun hanya cengengesan mendengar ucapan Abhimanyu. "Mau ngapain kamu berteriak seperti itu,?"


"Hehehe.... Maaf pak. Habis nya saya ingat, kalau saya belum mengganti uang bapak. Karena bapak yang sudah membayar semua buku-buku saya,"


"Pak Abhimanyu mau ke mana si pak saya kan lagi bicara?" Indira mengikuti langkahnya Abhimanyu.


"Lalu saya harus menerima uang dari kamu, yang hanya seorang murid," dengan santai Abhimanyu menjawabnya, sambil melangkah menuju halaman Mall.


Abhimanyu merasa di situ tempat yang aman. Abhimanyu pun menghentikan langkahnya.


"Apa salahnya pak, kan saya berniat membayar buku yang saya sudah beli,"


"Sudah tidak perlu membayar buku itu, kamu simpan saja uangnya untuk jajan kamu," mendengar itu wajah Indira berbinar, seperti memenangkan voucher belanja.


" Waaah.... Serius pak, ini gratis.?"


Abhimanyu pun mengangguk. Lalu Indira menatap nya dengan tatapan menyelidik. Abhimanyu menatap Indira dengan tatapan aneh. "Kenapa kamu menatap saya seperti itu?"


"Bapak sedang tidak punya niat buruk kan dengan saya, Karena bapak membayar semua buku-buku saya."


" Astaga anak ini." Gumam Abhimanyu.


Ctak... Abhimanyu pun terpaksa menyentil kening Indira. Dan Indira pun langsung mengusap kening nya, yang terkena sentilan dari gurunya.


"Bisa tidak setiap kebaikan seseorang jangan di nilai buruk sama kamu. Saya membayar buku itu tanpa maksud apapun, mengerti kamu?" Indira pun mengangguk, sambil memanyunkan bibirnya.


Iya pak maaf. Sebelum nya saya berterima kasih sama bapak, sudah membayar buku saya."


"Eem..."Jawabnya dengan singkat.


"Jawab nya gitu doang pak, memang kebiasaan bapak ya, kalau menjawab pertanyaan seseorang hanya dengan Eeemmm...." Protes Indira.


"Ya terus saya harus menjawab apa lagi?"


"Jawab apaan ke, ini pelit banget ngejawabnya. Yasudah kalau begitu saya balik dulu pak, terimakasih ya pak atas buku dan bantuannya,"


"Sama sama.."


Saat Indira hendak melangkah, Abhimanyu pun memanggil Indira kembali. "Tunggu.!"


Indira pun berbalik badan. "Ada apa pak?"


Abhimanyu pun sambil menggaruk kening nya yang tak gatal.


"Kamu ikut saya ya, temani saya makan sebentar. Saya jenuh saja jika makan seorang diri, karena tidak ada teman mengobrol. Setelah itu kamu boleh pulang. Anggap saja, itu pengganti uang buku buku kamu." Abhimanyu sebenarnya mengatakan itu merasa tidak enak, takut di nilai yang tidak tidak.


Sebenarnya niat Abhimanyu setelah membeli buku, dirinya ingin membeli makanan. Namun karena kejadian Indira, rasa laparnya pun menghilang, dan sekarang tiba tiba rasa lapar pun datang kembali.


Abhimanyu melihat Indira senyum senyum sendiri. "Kamu ngapain senyum senyum sendiri?"


"Enggak apa-apa pak. Hanya saja, ko bisa pas begitu ya."


"Maksud kamu apa bisa pas, memang nya pas apaan?"


"Iya pak, memang sebenarnya saya juga ingin membeli makanan. Sehabis dari toko buku. Ya karena insiden, TTB jadi tertunda," kata Indira dengan cengar-cengir.


" TTB, apaan itu.?"


Indira pun menyuruh Abhimanyu untuk mendekat ke arahnya. Seperti seorang teman, Abhimanyu pun mengikuti.


"TTB itu. Tembus tamu bulanan." Ucap Indira dengan berbisik.


Dan itu membuat Abhimanyu berusaha menahan tawanya, dengan menutup mulutnya dengan tangan nya yang di kepal.


Indira pun tersenyum setelah mengatakan itu. Abhimanyu hanya menggelengkan kepalanya melihat gadis yang ada di hadapannya ini.


' Benar benar ya gadis ini. Tidak ada yang perlu di tutupi tingkah nya yang pecicilan dan absurd nya itu. Semuanya itu di perlihatkan dengan apa adanya di dirinya.' Gumam Abhimanyu dalam hatinya.


"Ayo pak, jadi tidak. Saya juga sudah lapar, tapi tenang aja pak. Saya bayar sendiri ko, saya tidak minta bayarin sama bapak."


"Ya sudah ayo.!" Ajak Abhimanyu berusaha menahan senyumnya.


Indira berjalan di depan Abhimanyu, dan Abhimanyu mengikutinya dari belakang. Namun saat sampai di depan restauran. Abhi segera memegang tangan Indira, dan membawa Indira untuk masuk ke dalamnya. Indira pun terkejut saat Abhimanyu menggenggam tangan nya.


"Pak tunggu." Abhimanyu pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa lagi.?" Tanpa melihat wajah Indra.


"Maaf pak, ini tangan pak Abhi." Ucap Indira, dan Abhimanyu pun melihat ke arah tangan nya yang di mana sedang menggenggam tangan Indira.


Abhimanyu pun langsung secepat kilat melepaskan tangannya Indira dari tangannya. " Maaf." Ucap Abhimanyu merasa salah tingkah.


"Iya pak," Indira pun tersenyum .


Indira dan Abhimanyu pun segera mencari tempat duduk, dan mereka memilih menu pilihan mereka masing-masing.


Sambil menunggu makanan yang mereka pesan. Abhimanyu dan Indira pun hanya diam tak saling bicara. Indira menjadi tak nyaman dengan diam diaman mereka, Indira merasa seperti duduk bersama patung manekin.


Bersambung...