
Setelah pertengkaran, Abhi tak melepaskan Indira untuk jauh darinya.
"Saat Rudi memberitahu, kalau kamu di sana dan pergi begitu saja. Aku sangat khawatir, apalagi kamu pergi dengan keadaan emosi." Sambil menggenggam tangannya dan di kecup oleh Abhi.
"Maaf, aku cemburu melihat kalian berdua. Apalagi hubungan kalian itu terjalin cukup lama. Dari bicaranya dia lebih mengerti kamu, sedangkan aku apa? Aku hanya istri yang masih seperti anak kecil, aku hanya takut, kamu bosan dengan sikapku seperti ini."
Abhimanyu tersenyum, mendengar kejujuran dari istrinya. "Kenapa aku harus bosan dengan kamu. Justru aku bangga mempunyai istri cantik dan masih muda seperti kamu."
"Masa?" Indira mencebikkan bibirnya, sedangkan Abhi terkekeh melihatnya.
"Dengarkan suamimu ini ya cantik! Di luar sana, para pria yang beristri, dan usia pernikahan mereka sudah jauh. Mereka justru melirik gadis yang masih mudah, dan terlihat segar. Karena Gadis muda, cantik, dan menggemaskan, bisa membuat mereka terhibur. Mangkanya banyak para suami yang main mata dengan gadis muda, mereka sebut Baby sugar."
Dengan gemasnya, Abhi mencubit ujung hidungnya Dira. "Jadi untuk apa aku mengincar gadis lain! Sedangkan di sini, istriku lebih cantik, dan lebih menggoda." Indira tersipu malu, saat dirinya di rayu oleh suaminya.
"Mas Abhi gombal." Sambil mencebikkan bibirnya.
"Loh ... ko gombal sih? Itu kenyataannya sayang. Justru suamimu ini yang khawatir dengan kamu, pasti banyak pria di luar sana yang jatuh hati sama kamu. Saat mereka tau, akulah suami kamu, aku yakin mereka tak terima."
Mereka akhirnya tertawa bersama, salah paham pun sudah di jelaskan. Kemesraan kini hadir kembali.
Dua bulan kemudian, di mana di sekolah Puspita Pertiwi, sedang melakukan Ujian Sekolah. Kini adalah hari terakhir mereka melakukan ujian. Terdengar jam pelajaran sudah berakhir, seluruh murid keluar dari kelas dengan perasaan lega.
Sedangkan Indira dan tiga temannya masih di dalam kelas.
"Gaes, kalian mau kemana setelah dari sini?" tanya Alin.
"Gak kemana-mana, paling gue mau ke rumah Dira," jawab Gea dengan merangkul pundak sahabatnya.
"Gue ikut kalian ya? Gue bete di rumah,nyokap bokap lagi ke kampung jenguk nenek. Cuma gue dan ART aja," jawab Hanna.
"Ya sudah kalau elo bete main ke rumah gue aja." Ajak Dira, Hanna mengangguk.
"Ya sudah gue ikut kalian aja deh." Timpal Alin, yang tak mau kalah. Indira dan yang lainnya pun mengangguk.
Kini empat gadis, sedang bersiap-siap hendak keluar kelas. Saat sampai di lorong kelas, Indira berpapasan dengan Abhimanyu.
Pastinya, Abhi yang melihat istrinya langsung memberikan senyuman. Indira pun menghampirinya.
"Om, aku main kerumahnya Indira ya?" tanya Gea, karena melihat Fika dan Okta sedang memperhatikan mereka.
Abhimanyu yang paham mengerti kode dari Gea, mengikuti alur permainannya.
"Yasudah kalian hati-hati kalau naik motor." Yang lainnya mengangguk.
Saat Indira dan teman-temannya hendak mengeluarkan motor, dari parkiran. Gea melihat ada Aldo sedang menunggunya di depan pagar.
"Dira," panggil Gea, Indira pun melihat ke arah teman yang memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Gea.
"Itu lihat, ada Aldo di depan pagar sekolah." Gea menunjuk ke arah pagar.
Benar saja, saat Indira melihat ada Aldo sedang tersenyum dan melambaikan tangannya.
Karena di sekolah itu hanya ada mereka, tak ada yang lainnya. Aldo berjalan menghampiri Indira.
"Hai," sapa Aldo.
"Hai, juga," jawab Alin, Dira, Gea dan Hanna.
Indira nampak berpikir. "Bicara apa si, Do? Tidak bisakah bicara disini?" tanya Dira Aldo menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin bicara dengan kamu, hanya berdua saja. Please!" ucap Aldo memohon.
Sebenarnya Dira ingin sekali menolak ajakan Aldo, tapi dirinya tak tega melihat wajah pria di hadapannya dengan memohon.
Indira mengangguk. "Hanya sebentar saja ya, aku ada janji sama teman-teman yang lain," jawab Dira.
"Siap, aku hanya bicara di luar dan enggak lama." Jawab Aldo dengan tersenyum.
Indira dan Aldo bicara di depan gedung sekolah, sedangkan Alin Hanna dan Gea masih menunggu di kantin.
"Kamu ingin bicara apa sih, Do?" tanya Indira. Jujur saat ini dirinya tidak nyaman dekat dengan Aldo, karena takut Abhimanyu melihatnya.
"Aku ingin ngajak kamu, ke rumah? Ibu dan ayahku ingin bertemu dengan kamu!" ucap Aldo sambil menggenggam kedua tangan Dira.
Indira terkejut mendengarnya, ternyata ucapan Aldo benar-benar dibuktikan. Dira segera melepaskan tangannya dari pria di hadapannya.
"Kamu gak bercanda 'kan Do?" tanya Dira memastikan kembali perkataan Aldo.
"Aku enggak bercanda sayang, aku serius mengatakan ini! Seperti janji yang sudah aku katakan, aku ingin menjadikan kamu milikku." Sambil menggenggam tangannya dan hendak akan cium Aldo, namun Indira segera menarik tangannya.
"Aku tidak bisa menerima permintaan kamu Do, untuk menemui keluarga kamu, ataupun menikah dengan kamu."Jawab Dira, yang menolak perkataan Aldo.
Tentunya Aldo sedikit tak percaya dengan penolakan dari gadis yang amat dia cintai.
"Apa alasannya,kamu menolak aku? Bukankah dulu kamu berjanji akan siap jika aku mengajak kamu untuk menjalin hubungan serius. Terus kenapa sekarang kamu tidak menerimanya?" terlihat wajah kekecewaan pada Aldo, yang saat ini Dira lihat.
"Itu dulu, Do! Sekarang aku tidak bisa, aku harus menjaga banyak perasaan." Jawab Dira. "Aku sudah menjadi milik orang lain."
Aldo menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin! Siapa orang yang sudah miliki kamu,Dir?" tanya Aldo dengan nada tak terima.
Saat Indira ingin mengatakan, tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
"Sayang."
Indira dan Aldo menoleh kearah belakang, ternyata Abhimanyu sudah berdiri tak jauh dari Dira. Abhi melangkah mendekat kearah kedua orang yang kini sedang menatapnya.
Abhimanyu kini berdiri di samping Indira, sambil menggenggam tangan istrinya, tepat dihadapan Aldo.
Abhimanyu memberikan senyuman kepada Indira, Dira pun membalasnya. Itu membuat Aldo mengepalkan kedua tangannya.
"Apa maksudnya semua ini? Dira kamu bisa katakan ini, kenapa pak Abhi memanggil kamu dengan panggilan, sayang?"
"Biar saya jelaskan sama kamu! Kenapa saya bisa manggil dia seperti tadi." Jawab Abhimanyu dengan tatapan serius. "Sayalah orang yang di maksud Dira, saya suaminya." Pengakuan Abhimanyu justru membuat Aldo tertawa.
"Hahaha ... Pak Abhimanyu, kalau mau bercanda jangan sekarang, waktunya kurang pas. Bapak hanya ingin membantu Dira kan, dan pura-pura mengaku Indira sebagai pasangan anda." Ucap Aldo, dengan tawanya.
Indira dan Abhimanyu hanya menatap Aldo tanpa ekspresi. Karena Dira tak suka kalau Aldo menertawakan Abhi, dirinya pun langsung mendekapnya.
Aldo tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Dira, jadi kamu dan Pak Abhi?" Indira mengangguk.
"Iya aku dan Pak Abhimanyu sudah menikah, dan setelah aku lulus pernikahan kita akan di selenggarakan." Jawab Indira dengan jujur, dan Abhi pun langsung merangkul pundak Dira, sebagai tanda bukti kalau gadis di sampingnya itu miliknya.
Aldo dibuat lemas dengan apa yang dirinya lihat saat ini, gadis yang di cintainya, sudah menjadi milik orang lain. Sebuah kejujuran yang di katakan dari bibir Dira sendiri, dan itu sungguh sangat menyakitkan hatinya saat ini.
Bersambung