
Indira dan Aldo pun bersalaman untuk berakhir nya hubungan mereka. Jujur saja Indira juga merasa sedih mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi ini untuk kebaikan bersama.
"Terimakasih selama ini kamu sudah menjadi penyemangat aku. Kamu gadis baik, dan sampai kapanpun kamu akan tetap istimewa di sini." Sambil menyentuh dadanya. "Aku akan belajar sungguh sungguh, dan akan membanggakan orang tua, termasuk kamu Dira."
Indira merasa terharu mendengarnya. Namun Indira hanya bisa tersenyum ketika di hadapan Aldo.
"Kalau begitu aku pulang ya, kamu yang semangat latihannya. Sekali lagi terimakasih Dir, kamu tetap sepesial untuk ku." Ucap Aldo dengan mata yang terlihat merah menahan rasa sedihnya.
"Sama sama Di, kamu juga yang semangat. Semoga kamu menjadi Aldo yang sukses dan bisa membanggakan orang tua kamu," Aldo pun mengangguk.
Kini Aldo pun meninggalkan Indira yang masih berada di halaman sekolah. Dengan setitik air mata, menetes di pipinya. Indira segera menghapus air matanya, agar teman-teman ya tidak melihatnya.
"Indira..." Panggil Alin.
Alin Hanna dan Gea pun menghampiri Indira. Indira pun berbalik arah melihat temannya, dirinya berusaha tersenyum agar teman-teman nya tidak khawatir.
"Yuk kita latihan."
"Lo enggak apa-apa kan Dir.?" Tanya Alin dengan tatapan menyelidik.
" Gue.... Emangnya gue kenapa.? Gue gak kenapa kenapa kali," Indira berusaha tersenyum.
"Yakin Lo gak kenapa kenapa, jangan ada yang di sembunyikan loh Dir.?" Ucap Gea dengan menatapnya penuh dengan selidik.
"Hubungan gue sama Aldo berakhir," kata Indira, dan seketika suasana pun menjadi hening dan para sahabatnya pun saling menatap.
"Lo serius Dir, elo sama Aldo berakhir ?" tanya Alin.
"Seperti nya gue udah jahat sama dia, karena gue putusin dia," Ucap Indira ada rasa penyesalan.
"Dira.... " Ucap Hanna, merasa ikut bersedih.
"Gue gak salah kan mutusin Aldo, agar dia fokus untuk belajar. Agar gue juga bisa fokus sama tugas tugas sekolah. Dan ini gue pikirin untuk masa depan kita, agar fokus untuk belajar."
"Elo gak salah Dir. Elo benar, ini demi kebaikan lo dan dia. Sekarang Lo jangan sedih lagi ya," Ucap Gea yang menghampiri Indira.
Gea memeluk sahabatnya itu, bukan hanya Gea, Hanna dan Alin pun juga sama. Mereka saling merangkul untuk menguatkan Indira yang saat ini sedang bersedih.
Kini di putuskan, Indira dan teman temannya untuk tidak jadi latihan Nge-band. Karena suasana hati Indira saat ini sedang tidak baik .
Sepulang sekolah setelah mengantarkan adiknya pulang, Indira bermain kerumah Gea. Indira pun menceritakan tentang hubungan nya yang berakhir dengan Aldo, Sebenarnya Gea senang Indira putus dari Aldo. Bukan karena Gea masih menyimpan rasa dengan Aldo, melainkan semenjak dengan Aldo, Indira jarang main seperti ini sehabis pulang sekolah. Biasanya Indira sering main dan belajar bareng bersama teman-teman nya dirumahnya. Namun semenjak dengan Aldo, Indira jadi jarang kumpul. Ya bertemu hanya di sekolah saja, itu pun Aldo kadang sering menemui Indira.
"Lo gak apa-apa kan Dir. Udahlah si onta Arab jangan di pikirin. Lagian apa yang elo bilang ke dia itu, ada benarnya juga ko,"
"Ya si, tapi gue tadi ngeliat dia itu seakan akan gue ngerasa bersalah banget sama dia."
"Udah aah, jangan terlalu di pikirin Dir. Lagian gue seneng elo putus sama onta Arab, elo bisa kumpul bareng sama kita, bisa belajar bersama kaya dulu."
"Lo bahagia bukan karena gue putusin dia karena yang dulu kan. Jangan bilang elo diam diam masih suka sama dia?" Indira menatap Gea dengan tatapan menyelidik.
"Ya ampun enggak Dir, gue udah enggak ada rasa sama dia serius sewer tekewer kewer." Sambil menunjukkan dua jari nya seperti huruf V. "Gue gak berpikir ke arah situ, jujur gue rela Aldo sama elo. Tapi semakin elo dekat sama dia, elo sadar gak, kalau kita jarang belajar bersama. Kita jarang kumpul bareng, bahkan saat di sekolah pun kita itu jarang gabung. Bukan hanya gue yang merasa kaya gitu, Alin dan Hanna pun juga merasa. Memang lo gak sadar ya selama ini kita jarang banget kumpul hangout bareng."
Indira diam, karena apa yang di katakan Gea benar ada nya. " Iya elo bener Ge, sorry gue berpikiran buruk sama elo. Maafin gue ya Ge.?"
"Iya selow aja apa Dir, jangan elo pikirin lagi ya.! Ow iya makan yuk,! terus nanti kita jalan, kita cuci mata. Tadi si niatnya dari sekolah mau ngajak nonton, cuma si Hanna, gak bisa. Kata nya mau kerumah neneknya, terus tuh juga si Alin, dia mau nemenin nyokap nya. Kita aja yuk berdua, bete kan lo di rumah?"
Indira nampak berpikir. "Ya udah ayo, gue juga bete di rumah,"
"Nah gitu dong, sekarang kita makan dulu yuk.! Setelah itu kita cuss berangkat."
Gea membawa Indira ke ruang makan. Yang di mana Keluarga Gea sudah menunggu, ada kak Gilang, Sadam, adiknya Gea, Mamah Anissa, dan papah Fadil. Dan alangkah terkejutnya ada seseorang yang Indira kenal. Yaitu Abhimanyu, yang kini juga duduk di ruang makan.
Indira menghentikan langkahnya, lalu berbisik kepada Gea.
"Ge, itu ko pak Abhimanyu di sini si ?"
"Lah emangnya kenapa, kalau pak Abhi di sini. Lebih tepatnya si om Abhi ya, soalnya dia itu om gue,"
"Apa serius Lo, kalau pak Abhimanyu itu om Lo?" Gea mengangguk. "Ko gue gak tau ya, kalau dia om elo?"
"Iya Dira. Pak Abhimanyu itu Om gue, dia itu adik dari nyokap gue. Kenapa Lo heran ya, memang si setiap kali kalian main, dia sedang tidak di sini. Nanti gue ceritain ke elo. Ya udah lah yuk, kita makan.!" Gea menarik tangan Indira untuk gabung makan bersama.
"Dira, yuk gabung makan.!"
"Iya Tante, maaf Dira jadi merepotkan,"
"Gak sama sekali. Yasudah yuk makan.!"
Indira pun duduk di sampingnya Mamah Gea. Sedangkan posisi Abhimanyu duduk berhadapan dengan Indira.
Abhimanyu duduk seakan acuh kepada Indira. Tapi sesekali Abhi melirik ke arah Indira. Sedangkan Indira tak mengetahui dirinya di perhatikan oleh Abhimanyu.
Selesai makan, mamah Anissa mengatakan sesuatu kepada Indira.
"Dira, bagaimana kabar mamah kamu,?"
"Kabar mamah baik Tanteh,"
"Syukurlah, salam ya sama mamah kamu,"
"Iya tanteh, nanti Dira sampai kan kepada mamah."
"Ooh iya Dira, kamu kenal kan sama Abhimanyu, dia itu guru olahraga kalian 'kan.?"
"Iya tanteh, Dira kenal," jawab Indira yang melihat Abhi sebentar, lalu kembali menatap mamah Anissa.
Abhimanyu dapat melihat bertapa akrab Indira dengan keluarga kakak nya itu. Setelah saling mengobrol, Gea dan Indira pun berpamitan kepada keluarga Gea. Indira dan Gea pun berjalan menuju salah satu Mall.
Indira pun terlihat lebih baik setelah menonton film, Indira dan Gea pun juga membeli sesuatu yang mereka suka.
Seminggu kemudian
Indira berada di sebuah toko buku, yang terletak di dalam salah satu Mall. Indira mencari sebuah novel yang di lihatnya cukup menarik. Setelah mendapatkan novel, Indira mencari kembali buku yang lainnya. Namun buku yang dia cari letak nya berada di atas, Indira berusaha bagaimana bisa mengambil bukunya. Indira pun berjinjit, namun nyatanya masih belum sampai juga.
"Ya ampun, itu buku kenapa di letakkan di paling atas sih.? Siapa yang lihat kalau posisi nya tinggi kaya gitu, gue aja yang gak terlalu pendek aja masih belum nyampe, apalagi yang tubuhnya tidak terlalu tinggi," Indira terus berjinjit, berusaha mengambil bukunya.
Greep.. Tiba tiba ada yang mengambilkan bukunya, saat Indira menoleh ternyata yang mengambil buku itu adalah Abhimanyu.
"Pak Abhimanyu," ucap Indira dengan tersenyum.
"Lain kali kalau dalam kesulitan, jangan pernah malu untuk meminta tolong." Sontak ucapan Abhimanyu membuat Indira terdiam. " Ini bukunya."
Indira pun mengambil bukunya dari tangan Abhimanyu." Terimakasih pak."
"Eemmm..."Abhimanyu melihat di sekitar, seperti mencari seseorang. " Kamu di sini bersama siapa?"
"Saya sendirian pak,"
"Tidak sama teman-teman kamu.?" Indira menggelengkan kepalanya. "Kenapa tidak sama teman-teman kamu?"
"Tidak pak, saya lagi ingin sendirian,"
"Kamu sedang tidak berantem kan sama teman kamu.?"
"Tidak pak, kami semua baik baik saja. Cuma kan saya juga butuh waktu Me time." Abhimanyu pun mengangguk. "Bapak sendiri di sini sedang mencari apa?"
"Saya mencari pasir, untuk bangun rumah," Jawab nya asal, dan itu membuat Indira merasa aneh.
"Pasir, ini kan toko buku pak. Gak jelas deh pak Abhi," Ada senyuman kecil di bibir Abhimanyu.
"Kamu yang gak jelas. Sudah tau ini toko buku, kamu pakai tanya saya cari apa?" Indira dapat melihat senyuman di bibir Abhimanyu.
'Ya ampun, ternyata kalau di lihat dari dekat seperti ini. Senyum nya manis banget, kalah dah biang gula cuma bikin eneg dan sakit tenggorokan aja. Kalau ini asli bikin hati gue lumer.' Indira pun ikut tersenyum melihat nya.
"Jangan melihat saya seperti itu. Nanti kamu bisa suka dengan saya." Celetuk Abhimanyu.
Indira yang mendengar nya langsung membelalakkan matanya, dan mulut yang menganga.
"Iiih Pede banget si pak guru satu ini." Indira bergidik geli.
Abhimanyu pun tersenyum mendengar perkataan Indira.