My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Kedatangan Gilang



Kini Gea dan Dira kini sudah menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka. Indira sendiri sebenarnya merasa tak tega, mendengar kalau sahabatnya terus merasa bersalah akan kejadian itu. Untung saja Abhi mengatakan yang sebenarnya, jadi hubungan mereka tetap baik-baik saja.


Tiga minggu kemudian, kondisi Indira terlihat semakin membaik. Apalagi para keluarga dan teman pun selalu datang menghibur Dira.


Sedangkan di tempat lain, Seseorang sedang menatap foto wanita yang sedang tersenyum.


"Memang tidak mudah untukku melupakan kamu Dir, seberapa jauhnya aku dari kamu, pikiran aku selalu ke kamu bahkan sampai saat ini. Terus aku harus bagaimana, jika aku bertemu denganmu esok," kata seorang laki-laki, yang menatap foto Indira saat bersama waktu liburan bersama.


Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya. "Mama yakin, kamu bisa melupakan gadis itu,"


"Mama," Ternyata saat di lihat wanita yang sudah dirinya anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.


Laki-laki itu rupanya Gilang yang datang dari Palembang, mendengar adiknya dan Indira kecelakaan dirinya mengambil cuti untuk menjenguknya.


"Entahlah Mah, sampai sekarang aku belum bisa melupakan Indira. Bahkan aku bingung harus seperti apa jika berada di dekat Dira dan om Abhi,"


"Biasa saja sayang. Mama yakin kamu pasti bisa melupakan Dira," Gilang pun mengangguk.


Keesokan harinya, Indira sedang belajar berjalan, akibat kakinya yang masih sulit untuk di gerakkan. Abhimanyu yang setia menemani istrinya tak pernah sedikitpun meninggalkan Dira.


"Ayo sayang, Mas yakin kamu bisa!" Abhimanyu terus menyemangati Indira.


Indira tersenyum, melihat bertapa antusias suaminya menyemangati dirinya.


"Mas, aku haus." ucap Dira, dengan terlihat lelah duduk disebuah kursi.


"Sebentar ya sayang," Abhi hendak menuangkan air, namun rupanya botol minumnya kosong. "Sayang, isinya habis, aku ambil dulu ya? Kamu aku tinggal ambilkan minum tidak apa-apa 'kan?"


"Iya aku Mas," jawab Dira.


"Ya sudah aku ambil minum sebentar, kamu tunggu sini!" pesan Abhi, dan Indira mengangguk.


Abhimanyu meninggalkan Indira di taman seorang diri.


"Gue akan terus belajar untuk berjalan. Gue gak bisa terus bergantung sama orang, yang ada gue nyusahin mereka semua!" Indira tersenyum, dengan perlahan bangun dari duduknya, dan berdiri.


Dira berdiri dengan tegap, dengan hati-hati dirinya melangkahkan kaki kirinya, setelah berhasil Indira mencoba menggerakkan yang sebelah kanan.


Karena terlalu bahagia, Indira sampai kehilangan keseimbangannya. Dira pun terjatuh sampai tertindih kursi, yang akan dijadikan penahanannya.


"Aaww ! Hiks, hiks." Indira menangis, karena masih belum bisa menggerakkan kakinya.


"Dira," kata suara pria yang dirinya kenal tapi bukan suara suaminya.


Saat Dira melihat ternyata itu Gilang yang ada di hadapannya. "Jangan seperti itu! Indira yang aku kenal bukan gadis yang mudah menyerah. Ayo aku bantu kamu duduk!"


"Kak Gilang," ucap Dira.


"Ayo ku bantu, jangan seperti ini, kasian Om Abhi melihat kamu sedih." Gilang pun membantu Dira untuk duduk, di kursi.


Abhimanyu yang mendengar suara rame di luar segera keluar, dan Abhi melihat ada Gea dan sekeluarga datang.


"Itu tadi Dira terjatuh, dan tertindih kursi." Abhimanyu menoleh alangkah terkejutnya, saat istrinya dibantu berjalan menuju kursi.


"Gilang," kata Abhi dengan pelan, kenapa rasanya melihat pemandangan seperti itu membuatnya tak nyaman.


Abhimanyu tersenyum mencoba mengalihkan pikiran buruknya. "Dira kenapa? aku ke sana dulu ya Kak?" mama Annisa mengangguk.


"Sayang," panggil Abhi menghampiri istrinya. "Kamu kenapa? Sudah Mas bilang, kamu diam-diam! Aku cuma ingin ambil minum saja, kenapa kamu ngeyel jalan sendiri!"


"Maaf, aku cuma tidak ingin merepotkan kamu dan yang lain. Setiap aku mau ke toilet tidak terus-menerus memanggil kalian." Nada bicara Indira membuat Abhi tak tega mendengarnya.


Gilang hanya memperhatikan Indira yang menundukkan kepalanya, terlihat sedih.


"Om. Tadi aku dan yang lain melihat Indira sudah berdiri dan mulai melangkahkan kakinya dua langkah. Mungkin Dira kurang menjaga keseimbanga itu lwnnya, mangkanya dia terjatuh dan tertindih kursi," timpal Gilang.


"Betulkah,jadi kamu sudah bisa melangkah sendiri?" tanya Abhi dan Dira pun mengangguk. "Yasudah untuk sekarang kamu latihannya cukup sampai di sini dulu ya?"


"Iya Mas, maafin Dira ya?"


"Iya sayang," Abhi mengecup kening Dira, dan Gilang menoleh ke arah lain.


Abhimanyu menoleh ke arah keponakannya. "Gilang terimakasih ya, sudah membantu Indira."


"Sama-sama Om," jawab Gilang dengan tersenyum.


"Kamu kapan sampai?" tanya Abhi lagi.


"Aku sampai semalam, di Jakarta. Aku melihat setatus Gea dia di rawat dirumah sakit, bukan hanya itu, mama juga katanya juga sedang kurang sehat. Yasudah aku jadi mengambil cuti untuk beberapa hari di sini." kata Gilang menjelaskan.


"Yasudah ayo masuk! Kenapa semuanya jadi di luar?"


Tidak lamanya, mama Diana datang melihat keramaian di halaman rumahnya.


"Loh ko ada tamu malahan di luar, ayo masuk. Anissa bukannya masuk!"


Mama Diana pun mengajak Anissa dan yang lainnya masuk. Sedangkan Indira menyusul di belakangnya menggunakan tongkatnya, dengan di bantu Abhimanyu, di sampingnya.


Kini semuanya keluarga berkumpul dengan menikmati cake buatan mama Diana. Semua berkumpul dan berbincang-bincang. Sesekali Gilang diam-diam melihat Indira, dan Abhi tau, kalau keponakannya sejak tadi memperhatikan istrinya.


"Bagaimana Lang, semenjak tinggal di sana? Apa ada gadis yang membuat kamu tertarik?" tanya Abhimanyu, membuat Gilang tersedak mendengarnya.


"Tenang saja Om, aku sudah mempunyai kekasih namanya Amelia," jawab Gilang dengan tersenyum.


"Oh ya! Kapan-kapan kenalkan kita ya dengan gadis itu!" timpal Dira, di angguki oleh Gea.


"Siap komandan," jawab Gilang, dengan tersenyum.


Mama Annisa dan Diana tertawa mendengarnya. Abhi sendiri belum yakin, dengan perkataan keponakannya itu. Karena sejak tadi Gilang diam-diam mempertahankan Indira, dan tatapannya masih ada rasa suka kepada istrinya.


Bersambung