
Indira pun berusaha berlari, demi menghindar dari Abhimanyu. Suasana malam yang sunyi dan sepi, hanya terdengar suara Indira yang tertawa begitu riang.
Indira dan Abhimanyu pun hendak balik ke penginapan. Saat sampai depan pintu, ternyata di sana masih ada yang duduk di sofa sambil menikmati makanan, ada Faisal, Hanna, Alin, dan Gilang. Tentunya pandangan Abhimanyu dan Indira tertuju ke arah Gilang.
"Dira, Ndra, ini makanannya," kata Faisal yang menawarkan makanan ya g masih utuh 1 box.
"Sudah itu buat kalian saja, jangan pikirin kami. Aku juga sudah menyimpan makanan untuk kami berdua dalam kamar. Ow iya, kalau begitu kami istirahat dulu ya, kalian nikmati saja makanan itu." Kata Abhimanyu dengan nada bicara seperti biasanya seakan akan tidak terjadi apapun tadi.
"Ow iya kalau begitu, aku dan mas Abhi mau istirahat dulu ya. Kakak aku istirahat dulu ya, kepala ku sedikit pusing dan aku juga sudah mulai mengantuk," ucap Dira, pamitan kepada Faisal.
"Yasudah kalian istirahat saja!" Kata Faisal,
Karena Abhimanyu tidak ingin menunjukkan rasa marah nya, kepada Gilang di hadapan orang, Abhi pun bersikap biasa saja. Bukan hanya itu, Abhi sudah berjanji untuk tidak melakukan kekerasan apapun kepada Gilang. Yang terpenting bagi Abhimanyu adalah Indira, istri kecilnya itu dapat meyakinkan dirinya akan tetap menjaga hati dan kepercayaan nya itu. Abhimanyu sangat yakin Indira memang tidak mempunyai rasa apapun kepada Gilang.
****
Keesokan harinya.
Saat menjelang sore, Indira, Abhimanyu dan yang lainnya sedang berkemas. Karena mereka semuanya akan kembali ke Jakarta, Setelah puas berlibur selama 3 hari di sana.
Mereka menggunakan mobil pribadi, yang dimana masing masing mobil berisikan 5 orang. Gilang ikut di mobil Abhimanyu dengan duduk di kursi paling belakang, sedangkan Abhi yang menyetir dengan di kursi sampingnya ada Indira. Gilang sengaja mengambil kursi di belakang agar dirinya bisa tidur, tanpa melihat Indira dan Om nya sedang berduaan. Apalagi dengan kejadian semalam, membuat Gilang semakin ingin menghindar dari Om dan Tanteh kecil ya. Yang tak lain, wanita yang sudah membuatnya jatuh hati.
Next
Kini mereka sudah sampai di kediaman Mamah Anissa, yang tak lain rumah Gea. Mamah Anissa melihat Anak anak dan juga Adiknya sudah datang, menyambut nya dengan senyuman.
"Hai kalian, sudah pulang. Bagiamana liburan kalian seru?"
"Seru Mah. Ooh iya mah aku istirahat dulu ya, mata aku ngantuk berat," kata Gea yang terus menguap sejak di mobil tadi.
Mamah Anissa pun mengangguk dan membiarkan anak-anak yang habis liburan beristirahat dulu. Abhimanyu membawa Indira menuju kamarnya yang di mana kamar itu berada di rumah Gea, tempat biasa Abhi menginap.
Abhimanyu membukakan pintu kamarnya untuk Indira, yang di mana kamar itu tertata rapih. Indira melihat seluruh kamar tidur tempat Abhimanyu menginap di rumah Gea, ini pertama kalinya setelah Abhi menikah dengannya, baru kali ini Indira di ajak menginap di sini.
Tengah malam, Abhimanyu pun keluar kamar hendak mengambil minum. Sedangkan Indira tertidur sangat pulas. Semenjak liburan kemarin, Indira dan Abhimanyu sudah tidur 1 kamar. Hanya saja, di tengah tengah mereka di batasi oleh guling. Abhi pun mengerti kalau Indira masih khawatir jika tidur dengan 1 tempat tidur yang sama, mangkanya agar aman di batasi guling oleh Dira.
( Yah Dira di batasi guling saja percuma, Abhimanyu suatu saat akan melakukan aksinya, dan guling itu akan disingkirkan dari perbatasan. Wkwkwkw....)
Abhimanyu menuruni anak tangga, dan melangkah menuju dapur untuk mengambil minum di dalam botol. Setelah Abhi mengambil minum, lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Namun saat
sampai tangga terakhir, Abhi melihat Gilang yang keluar kamarnya, dan hendak menuruni anak tangganya. Dan mereka berdua pun berpapasan, ada perasaan canggung di antara mereka. Yang biasa nya mereka saling bertemu dan bercanda, kini mereka hanya saling terdiam.
Abhimanyu pun melangkah melewati Gilang dengan wajah datar nya, begitu pun juga Gilang. Namun saat Gilang hendak melangkah, Abhi mengatakan sesuatu yang membuat Gilang menghentikan langkahnya.
"Untuk apa minta maaf dengan ku Om. Kata maaf pun juga tidak akan buat Om melepaskan dia untuk ku lagi kan,?" Mendengar perkataan Gilang seperti itu, membuat Abhimanyu mengepalkan kedua tangannya. "Jadi kata maaf pun juga percuma saja, kalau Om mengucapkan kata maaf saat ini.!" Terlihat raut wajah Gilang yang berusaha menahan rasa kesalnya.
"Maksud dari kata percuma Om minta maaf, itu apa.?"Abhi menatap Gilang dengan tatapan tak ramah. " Apa mungkin, Om harus melepaskan Indira kembali, baru kamu maafkan. Tapi maaf, Om tidak akan melepaskan Indira untuk siapapun, termasuk pada kamu. Meskipun kamu itu keponakan ku sendiri, tapi untuk melepaskan dia dari aku, tidak akan pernah aku lakukan. Jadi kamu jangan berharap untuk merebut Indira kembali, mengerti kamu.!" Ancam Abhi, dan itu tidak membuat Gilang takut. Justru Gilang tersenyum mendengarnya, dan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangganya.
Abhimanyu menatap belakang Gilang yang berjalan menuruni anak tangganya, tanpa memedulikan ucapannya. Abhi pun akhirnya berjalan menuju kamarnya, dengan tangannya membawa botol berisikan air minum.
Seminggu kemudian, Abhimanyu dan Indira datang ke rumahnya Mama Anissa. Yang dimana mereka mengadakan makan bersama, dan seluruh keluarga pun sudah berkumpul di sana.
Untuk saat ini, Gilang yang biasa tidak hadir. Kini dia pun duduk di samping Gea.
"Kebetulan kita lagi kumpul di sini, aku ingin memberitahu kepada kalian semua. Kalau Gilang, Minggu besok sudah tidak tinggal di sini lagi." Kata Mamah Anissa, mendengar itu Indira dan Abhimanyu pun merasa terkejut, dengan perkataan kakak nya. Karena hanya mereka saja yang kaget mendapatkan kabar itu. Keluarga yang lain pun hanya menunjukan ekspresi biasa saja. "Oh iya kalian berdua belum tau ya?" sambil menunjuk ke arah Indira dan Abhi.
"Memangnya ada kabar apa, dan memang nya Gilang mau kemana ka?" Tanya Abhimanyu, justru Abhi melihat Gilang yang memberikan senyuman.
"Begini loh Om, maaf sebelumnya kalau berita ini membuat Om dan Dira terkejut. Tapi aku ingin beritahu, kalau aku di angkat jabatan menjadi Manager dari perusahaan tempat aku bekerja. Tapi aku harus di mutasi ke luar daerah terlebih dahulu, barulah jabatan itu aku dapatkan," Kata Gilang menjelaskan kepada Abhimanyu, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu kepadanya.
"Kamu di tempat kan di daerah mana memangnya,? dan kenapa bisa mendadak seperti ini.?" Lagi lagi Gilang tersenyum.
"Aku di tempatkan di daerah Palembang Om. Aku di percaya untuk memimpin perusahaan yang cukup besar di sana. Dan itu pun juga di beritahu 3 hari yang lalu. Mangkanya aku sengaja, minta Mamah untuk mengundang keluarga untuk makan malam di sini," Gilang mendengar nya merasa bahagia.
"Terus kapan kamu mulai berangkat ke sana?" Tanya Abhi kembali.
"Mungkin 4 atau 5 hari lagi aku berangkat. Aku juga kan harus mempersiapkan segala keperluan ku dulu, sebelum memulai aktivitas di sana." Jawab Gilang.
"Bagaimana Abhi, kamu bangga dengan keponakan kamu ini.?" Tanya Papah Fadil.
"Bangga dong mas, kamu hebat Lang. Om bangga dengan kamu. Semoga kamu sukses dan bisa memimpin perusahaan dengan baik. Semoga kamu bisa menjadi contoh yang baik untuk karyawan kamu, dengan kemampuan yang kamu miliki," Kata Abhimanyu dengan rasa bangga kepada keponakan nya itu.
"Terimakasih Om," jawab nya.
Selesai acara, Indira sedang berada di halaman bersama Gea. Menceritakan mereka akan masuk ke sekolah kembali.
"Enggak terasa ya, Senin depan kita sudah masuk sekolah?" Tanya Gea.
"Ho'oh, cepat banget ya. Gue gak sabar ingin masuk sekolah kangen suasana di sana,"
"Kangen suasana sekolah, apa memandangi guru olah raga yang bucin itu?" jawab Gea dengan mencebikkan bibir nya.
Indira pun hanya tertawa mendengar Gea bicara, karena meledek dirinya. Karena memang seperti itulah, setiap kali Abhimanyu mengajar Indira diam diam selalu menggoda nya.
Bersambung.