My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Perasaannya terbalas



Ungkapan isi hati Faisal membuat Hanna tak percaya mendengarnya, disisi lain hati merasa bahagia. Ternyata cintanya terbalaskan.


Hanna tersenyum kecil, didalam benaknya ada rasa bahagia, sekaligus rasa takut. Dirinya hanya berharap kalau Faisal, hanya berpura-pura, untuk membuatnya tidka sedih.


"Kamu sedang tidak berbohong 'kan? Aku hanya tidak ingin terlalu berharap banyak kepada kamu Ka."


"Aku bersungguh-sungguh! Aku juga tidak berbohong ataupun memberi harapan palsu kepada kamu. Aku mengatakan ini, karena aku merasa tak tenang jika aku pendam sendiri!" saat Faisal mengatakan itu, sebenarnya Hanna merasa ada getaran aneh.


"Kakak pasti berbohong sama aku, bukankah kamu sudah pernah bilang, ada seorang gadis, yang siap kamu kenalkan ke keluarga kamu. Terus kenapa kamu mengatakan ini kepadaku?"


"Karena hatiku mengarah ke kamu." Faisal menyentuh dan menggenggam tangan Hanna. "Aku baru menyadari, perasaan ini. Aku gelisah tak tenang, dan bayang-bayang kamu selalu terlintas di pikiran aku. Kamu membuatku takut, itu yang ku rasakan,"


Hanna menatap mata Faisal untuk mencari kebohongan. Namun yang dia lihat, hanya ketulusan dan ketakutan.


"Hanna kamu berhasil membuatku takut kehilanganmu, aku tidak mau kamu pergi jauh, aku gak mau menyimpan perasaan ini terlalu lama, jika benar kamu di sana, berat rasanya memendam rasa rindu yang tak tersampaikan!"


Hanna menatap heran Faisal, kenapa dia bisa mengatakan, kata pergi jauh. Sebenarnya apa yang sudah terjadi, dirinya benar-benar tak mengerti.


"Maksud kamu apa? Siapa yang kamu maksud pergi jauh?" tanya Hanna tak mengerti.


"Kamu! Bukankah kamu yang akan pergi jauh, dan berkuliah di Surabaya?" kata Faisal, yang bertanya balik kepada Hanna.


Hanna pun tercengang mendengarnya, karena sebenarnya tidak ada niatan untuk berkuliah di Surabaya. Dirinya heran, kenapa Faisal bisa mengatakan itu kepadanya.


Hanna bisa menebak, kalau ini ulang Indira. Sahabatnya tau kalau, tentang masalah perasaan Hanna, yang begitu menyukai kakaknya.


Hanna menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, Faisal bisa melihat ada senyuman di bibir gadis yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa kamu tersenyum? Apa aku mengatakan sesuatu hal yang lucu?" tanya Faisal keheranan.


"Yang mengatakan aku akan kuliah di Surabaya itu siapa?" tanya Hanna balik.


"Indira," jawab Faisal, dan benar tebakannya kalau ini ulah Dira .


Hanna berusaha menahan tawanya, mendengar apa yang di katakan Faisal. Kalau semuanya ini ulah gadis yang di kenalnya rese, yaitu Dira.


"Kenapa kamu tersenyum, mendengar penjelasan aku?"Fasial menatap aneh.


"Jika aku tidak jadi ke Surabaya. Apa kamu akan menarik kata-kata yang tadi sudah di ungkapkan?" Hanna terlihat ada keraguan saat mengatakannya.


"Menarik bagaimana? Maksud kamu aku tidak jadi mengungkapkan perasaan aku yang sudah aku katakan tadi?" Hanna mengangguk. "Ya enggak dong, aku justru bahagia kalau kamu tidak jadi pergi. Mana ada mengutarakan perasaan bisa ditarik kembali, kecuali perjanjian," jelas Faisal.


Dirinya baru paham maksud dari pertanyaan Hanna apa. " Astaga! Jadi kamu tidak mendaftarkan kuliah kamu ke Surabaya?" tanya Faisal.


Pastinya ada kelegaan di benak Faisal, saat mendengar Hanna tidak jadi ke Surabaya.


Hanna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Surabaya! Siapa yang mau kuliah di sana? Aku tidak punya niat, untuk melanjutkan pendidikanku di kota itu." Jawab Hanna dengan senyuman.


"Jadi," ucap Faisal, dan Hanna mengangguk. "Indira berbohong, dia bilang kamu mau kuliah di Surabaya." Ical merasa kesal karena adiknya sudah membohonginya.


"Dasar anak itu, kakaknya sediri di kerjain. Awas aja nanti kalau ketemu di rumah!" ancam Faisal, lalu kembali tersenyum menatap Hanna. "Tapi tak apalah, yang penting perasaan aku sudah ku utarakan ke kamu,"


Hanna tersipu malu mendengarnya.


"Harusnya aku berterimakasih, berkat kejahilan Dira, mengatakan kalau kamu akan ke Surabaya, aku jadi bisa mengungkapkan ini ke kamu." Kata Faisal yang menggenggam tangan gadis yang sedang tersenyum manis.


"Terus bagaimana tanggapan kamu, untuk perasaanku ini. Apa jawabannya? Kamu terima aku atau tolak aku?" saat Hanna ingin menjawab pertanyaan, Faisal mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


Hanna menatapnya dengan heran, karena Faisal membuka gelang tali, yang dirinya pakai.


"Apa ini?" tanya Hanna dengan heran.


"Pilihan untuk kamu, menerima atau menolak," jawab Faisal, dia membuka kedua tangannya, masing-masing di telapak tangannya, ada kunci motor, dan ada gelang tali miliknya.


"Kenapa ada kunci motor segala?" tanya Hanna lagi.


Faisal tersenyum. "Jika kamu memilih kunci motor, tandanya kamu menolak aku, dan kamu bisa membuangnya ke sana!" Hanna tercengang mendengarnya. "Tapi jika kamu memilih gelang, tandanya kamu terima, dan gelang ini akan jadi milik kamu."


"Beneran jika aku pilih kunci motor, aku boleh buang?" tanya Hanna dengan satu alis yang terangkat.


"Eemm ..." jawab Faisal mengangguk, ada keraguan untuk menjawabnya.


Hanna mengambil benda yang ada di telapak tangan Faisal, menatap kearah pria itu "Maaf ya, sepertinya aku harus membuang ini. Karena kamu sudah pernah mengecewakan aku." Lalu dengan sigap Hanna melempar sesuatu dari tangannya.


Faisal memejamkan matanya tak ingin melihat, kalau kuncinya di buang. Hanna tersenyum melihat laki-laki itu nampak murung.


Hanna mengulurkan tangan satunya yang terkepal, dan di arahkan di hadapan Faisal.


"Taraa ... Kunci motor kamu masih ada."


Faisal melihat kunci motornya masih ada, hatinya merasa lega, ditambah lagi gadis di hadapannya itu tertawa dengan ceria.


"Kamu rese juga ya ternyata!" Hanna hanya tertawa melihat Faisal terlihat kesal.


"Mana mungkin aku buang, nanti kita pulangnya bagaimana? Terus ini jawaban aku, gelang milikmu." Jawab Hanna dengan meletakkan gelang itu di tangan Faisal.


"Terus jawaban kamu apa? Menerimaku atau menolak?"


"Karena aku pernah dibuat kecewa sama kamu? Aku tidak ingin memberikan jawaban yang akan membuat pria di hadapanku ini, merasakan apa yang ku rasakan. Aku menerima kamu." Jawab Hanna dengan senyuman manisnya.


Sudah pasti, itu membuat Faisal merasa bahagia. Akhirnya perasaannya terbalas, dan rasa takut kehilangan Hanna kini hilang begitu saja.


Hanna bahagia, karena saat ini cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Karena laki-laki yang dia sukai ternyata juga menyukainya.


Bersambung