
Indira berbaring di tempat tidur, dengan isak tangis, karena teringat bayang- bayang saat bersama Aldo.
Flashback
"Jika sudah lulus, aku akan langsung kerja dengan giat. Agar aku bisa mengumpulkan uang agar bisa ditabung."Aldo dengan angan-angannya
"Bagus dong, memang seperti itu kan seharusnya. Bekerja dengan giat, agar bisa ditabung hasil kerja kamu, agar kamu bisa mendapatkan sesuatu dengan hasil kamu sendiri,"
"Iya tapi sesuatu yang aku inginkan itu kamu sayang. Aku ingin mengumpulkan uang, agar aku bisa menikahi kamu, setelah kamu lulus," Aldo menggenggam erat tangan Indira.
Indira pun tersenyum mendengarnya. "Amiiin, semoga ya. Aku senang kamu bisa berpikir seperti itu, kamu belajar yang rajin, agar nilai kamu bagus.! Semoga kamu mendapatkan pekerjaan sesuai yang kamu inginkan." Aldo mengangguk.
Flashback of
Indira mengingat kebersamaannya dengan Aldo, dan saling berjanji akan saling support. Namun kenyataannya semua berubah, janjinya pun kini sudah ingkar. Sekarang dirinya sudah menjadi milik orang lain.
Karena merasa lelah, dan terkena hujan. Indira akhirnya tertidur, dengan membawa permasalahan yang terngiang di otaknya.
Abhimanyu kini sudah kembali, melihat istri kecilnya itu sedang tertidur, dan Abhi menghampirinya.
"Dalam keadaan tidur saja kamu terlihat cantik. Sepertinya aku memang sudah gila dengan kamu sayang." Abhi menyentuh pipinya dengan lembut.
Abhimanyu melihat istri yang tertidur dengan gelisah, keningnya berkerut, bahkan mengeluarkan air mata.
"Aldo, maafin aku." Abhi terkejut, mendengar Indira menyebutkan nama mantannya saat tertidur. "Jangan lakukan ini Do, aku minta maaf. Aldo, Aldo ...!" Teriak Dira, dan terbangun.
Indira terkejut saat ini yang dilihatnya adalah Abhimanyu, dengan ekspresi wajah menahan kesalnya.
Sedangkan Abhimanyu sendiri, tersenyum kecut, merasa hatinya hancur saat mendengar istrinya menyebutkan nama pria lain dalam mimpinya.
"Mas Abhi," Indira menyentuh lengan suaminya.
"Kenapa aku tiba-tiba merasa sesak ya? mendengar kamu menyebutkan namanya, meskipun itu hanya dalam mimpi. Bahkan dia hadir di mimpimu saja, sudah membuatku sesakit ini." Abhi menjauhkan tangannya dari Dira.
Indira dapat melihat kekecewaan di wajah suaminya itu. "Mas,"
Pandangan Abhi menatap lurus ke depan tak sedikitpun menatap Indira, yang saat ini menatapnya. "Sekarang kamu tidur lagi ya! aku ingin keluar mencari udara segar, karena disini terasa sesak."
Abhimanyu meninggalkan Dira begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun atau mendengarkan penjelasan darinya.
"Mas Abhi," panggil Indira, saat dirinya ingin menyusul Abhi. Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut, membuat duduk kembali dan mengurungkan niatnya untuk menyusul suaminya.
Sedangkan Abhimanyu keluar dari rumah dengan mengendarai mobilnya. Abhi melaju kendaraan menuju kediaman Mama Anissa, yang tak lain rumah Gea.
"Om Abhi," panggil Gea.
"Ada apa Ge?"
"Om dari rumah ?" tanya Gea.
"Dari rumah, kenapa memangnya." Jawab Abhi, "Gea, Om mau ke kamar dulu ya! kalau kamu mau cerita nanti saja, Om ada urusan,"
"Tunggu Om, aku cuma ingin tanya, Indira di rumah tidak?" Abhi pun menghentikan niatnya untuk ke kamar. "Soalnya aku hubungi dia sejak tadi gak di angkat, Dira di rumah 'kan Om?"
"Dira sedang tidur, memangnya kenapa kamu hubungi dia terus? bukankah kalian tadi pergi keluar sama-sama?" tanya balik Abhi dengan rasa penasaran.
"Iya, kami memang pergi sama-sama. Hanya saja tadi selesai nonton, kami bertemu Aldo. Kami di ajak Aldo ke kafe, tapi Aldo dan Indira duduk pisah dengan kita."
"Aldo, jadi kalian bertemu pria itu. Indira duduk berdua dengannya, dan terpisah dengan kalian?" Gea pun mengangguk, "kenapa duduknya pisah 'kan kalian bisa barengan duduknya."
"Katanya ada yang ingin di bicarakan dengan Dira saja, mangkanya kami duduknya sedikit menjauh. Tetapi, tadi aku lihat Indira menangis, aku tidak tau apa yang Aldo katakan kepadanya. Saat aku ingin tanya dia langsung pergi meninggalkan kami, padahal hujan masih turun dengan derasnya," jelas Gea, membuat Abhimanyu memikirkan istrinya yang sedang di rumah.
"Lalu, apa Aldo mengatakan sesuatu kepada kalian?" Gea menggelengkan kepalanya.
"Yasudah kalau begitu Om mau ke kamar dulu ya.! Soalnya ada yang tertinggal, terimakasih atas infonya. Nanti akan Om tanya dengan Dira, apa yang terjadi, siapa tau dia mau cerita," Gea mengangguk.
Abhimanyu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, untuk mencari sesuatu. Setelah mendapatkan barang yang di cari, Abhi duduk di sofa mengingat apa yang di katakan oleh Gea.
Sedangkan di tempat lain, Indira merasa kepalanya terasa berat. Bahkan untuk melangkah menuju ke kamar mandi saja tidak bisa.
"Iiissshhh.!" Dira memegangi kepalanya, terasa sakit. "Gue harus kuat, gak boleh sakit.!"
Indira perlahan melangkah menuju kamar mandi, setelah sampai Dira menyelesaikan urusannya untuk buang air kecil, lalu kembali ke tempat tidur.
Tiba-tiba tenggorokan Dira terasa kering, saat melihat gelas di atas meja, kosong tidak ada air, begitupun di dalam botol, tak ada air untuk di minum.
"Ya ampun, ingin minum saja air di gelas dan botol juga habis. Lebih baik aku ambil sendiri saja minumnya." Indira teringat suaminya yang tadi sempat pergi karena kesal kepadanya. "Mas Abhi kemana sih? apa dia marah karena aku menyebut nama Aldo saat tidur. Dasar pemarah, harusnya dia tanya dulu, kenapa bisa aku menyebut nama dia."
Dira keluar kamar, dan mencoba memanggil Bu Sumiati. Karena tidak mungkin, dirinya berjalan menuruni anak tangga. Tubuhnya yang lemas, membuat dirinya tak berani untuk turun ke bawah.
"Bu Sumi ...." Panggil Dira dengan berteriak, "Bu Sumiati, uhuk ... uhuk .!" Indira terbatuk, membuat dirinya semakin lemas.
"Iya Non," suara Bu Sumi, "Astaghfirullah.! Non Dira kenapa.!" Bu Sumiati terkejut melihat Indira bersandar di tembok dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas.
Bu Sumi membantu memapah tubuh mungil majikannya itu ke kamar dan berbaring di kasurnya.
"Non kalau butuh apa-apa bisa hubungi ibu, kenapa harus keluar kamar!"
"Aku lupa Bu, dimana hapeku. Mangkanya biar cepat aku teriak saja, maaf ya Bu,"
"Tidak apa-apa Non, teriak saja. Maaf ibu tadi lagi setrika pakaian, jadi tidak begitu dengar Non manggil ibu." Indira mengangguk.
"Bu aku minta tolong ambilkan minum ya, aku tidak enak badan sepertinya!" pinta Dira.
"Iya Non, ibu akan ambilkan minum. Non sakit, mungkin karena tadi terkena hujan, dan belum makan juga sejak pulang. Apa mau sekalian ibu ambilkan makan, biar langsung minum obat?" Dira hanya bisa menganggukkan kepalanya saja.
Bu Sumi keluar, buat mengambil minum dan juga makanan untuk majikannya. Tidak butuh waktu lama, Bu Sumiati datang dengan membawa makan, minuman ke kamar.
Bu Sumi melihat wajah majikannya yang terlihat pucat, nampak tak tega. "Non Dira, mau minum teh hangat? biar ibu buatkan sekarang."
"Boleh Bu, maaf Dira sudah merepotkan Ibu Sumi,"
"Tidak apa-apa Non, yasudah kalau begitu ibu permisi kedapur untuk membuat teh hangatnya.!"
"Iya Bu," jawab Indira dengan lemas.
Bu Sumi keluar kamar dengan terburu-buru, hendak menuju dapur untuk membuatkan teh hangat. Saat ingin menuruni anak tangga, Bu Sumi berpapasan dengan datangnya Abhimanyu.
"Den Abhi,"
"Iya Bu, loh Ibu Sumi kenapa terburu-buru seperti itu?"
"Ini Den, ibu ingin kedapur membuat teh hangat untuk non Dira."
"Dira! memang istri saya kenapa Bu?"
"Tadi non Indira berteriak memanggil ibu, minta diambilkan minum. Saat ibu samperin, non Dira sudah duduk lemas di depan kamar.!"Jelas Bu Sumi, yang menunjukkan ekspresi khawatir.
"Astaga Dira.! Kalau begitu saya melihat Indira di kamar ya Bu, sebelumnya terimakasih sudah membantu istri saya."
"Iya Den," jawab Bu Sumi.
Bersambung