My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Sarapan pagi bersama



Indira pun mengangguk, lalu Bu Lidya dan pak Arif pun memeluk Indira yang kini sudah berstatus menantunya. Ya menantu kecil, lucu dan manis. Gadis yang mereka kenal, gadis yang selalu ceria dan membuat mereka tertawa ketika sedang bermain kerumah bersama Gea dan teman temannya..


Sejak Indira dirawat, dan sudah di perbolehkan pulang. Saat kembali ke Jakarta, Abhimanyu segera memboyong Indira kerumah pribadinya. Keluarga Indira dan juga keluarga Abhimanyu ikut mengantar Indira untuk tinggal bersama suaminya. Indira nampak murung saat berkumpul dengan keluarganya.


Setelah mengobrol cukup lama. Para keluarga pun akhirnya berpamitan. Indira yang kini masih bersandar dengan papah Benny, masih nampak murung. Walaupun Indira begitu dekat dengan semua keluarga, tapi yang paling dekat dengannya adalah dengan Faisal dan papah Benny. Walaupun dengan mamah Diana juga sangat menyayangi, tetapi jika dengan papah Benny dan juga kakaknya. Indira akan terlihat lebih manja dengan mereka, walaupun terkadang Faisal sebagai kakak, suka nyebelin. Namun jika tidak ada kakak nya, tidak ada yang membuat nya emosi, terkadang selalu menjadi teman curhat nya..


Indira mengantarkan para keluarga sampai depan rumah, setelah para keluarga pun kini sudah meninggalkan rumah merek.


Abhimanyu yang saat itu sedang menutup pintu,lalu menoleh ke arah Indira.


" Kamu kenapa, apa masih ada yang kamu rasakan. Atau masih ada yang sakit kah.?" Abhimanyu menatap Indira. Indira pun menggelengkan kepalanya.


" Aku tidak merasakan apapun. Hanya saja, aku pasti akan sangat merindukan mamah papah, kakak dan Adam. Bagaimanapun aku tidak pernah bisa menjauh dari mereka. " Ucap Indira yang kini duduk di sofa ruang tamu.


Abhimanyu menatap Indira yang nampak murung.


' Apa seperti ini menikah dengan gadis yang masih belia, dan manja seperti Dira. Apa ini sikap aslinya Indira yang masih manjanya seperti ini. Huuufhhh.... Sabar Abhimanyu, sabar. Tapi kemarin saat ada begal, dia melawan para begal. Seakan akan dia tidak terlihat anak manja, justru terlihat gadis yang kuat. Dasar anak labil.' Abhimanyu berbicara dalam hati menilai istri nya yang manja..


Abhimanyu pun tersenyum. " Hei.. Aku tidak melarang kamu, untuk main kerumah mamah. Jika kamu mau menemui keluarga kamu, kamu bisa ke sana kapan pun itu."


Mendengar itu Indira langsung menunjukan wajah sumringah. " Serius om, aku boleh kerumah mamah kapan pun itu.?" Abhimanyu pun mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya kuping Abhimanyu terasa gatal mendengar Indira masih memanggil dirinya dengan om. Namun agar suasana hatinya baik, Abhimanyu pun tersenyum dengan terpaksa..


" Iya kamu boleh ke rumah mamah, kapan pun aku juga tidak melarang. Dan bukan hanya itu, aku juga tidak melarang kamu untuk melanjutkan pendidikan kamu. Dan untuk sekolah, kamu jangan khawatir kamu masih bisa bersekolah."


" Serius om aku masih bisa sekolah lagi.?"


" Iya, kamu masih bisa sekolah lagi." Indira pun tersenyum." Indira pun tersenyum bahagia." Dira, boleh aku minta sesuatu sama kamu.?"


" Apa.?"Tanya Indira yang terlihat sedikit khawatir dengan permintaan Abhimanyu.


Abhimanyu pun berusaha menahan tawanya, melihat ekspresi wajah Indira.


" Bisa tidak kamu panggil aku jangan panggil om. Karena saat ini setatus kita sudah berada. Kuping ku gatal setiap kali kamu selalu memanggil ku dengan panggilan om."


Indira merasa lega mendengar nya.


" Terus aku harus panggil apa.?"Tanya Indira, dengan wajah polosnya.


" Apa saja, asal jangan om."


Indira pun berpikir sejenak, dia akan memanggil dengan sebutan apa untuk pria di hadapannya ini. Yang tak lain gurunya, om temannya, dan sekarang sudah menjadi suaminya. Indira pun tersenyum saat mendapati panggilan untuk suaminya.


" Kenapa kamu tersenyum seperti itu.?" Tanya Abhimanyu.


" Eeemmm... Aku punya panggilan untuk om. Uups... Salah, maksud nya untuk kamu.." Indira terkekeh melihat ekspresi wajah Abhimanyu yang melotot kepada nya.


" Apa..?"


" Bagaimana kalau aku panggil pak deh. Atau Uncle aja gimana.? Hahahaha...." Indira tertawa terbahak-bahak, saat mengatakan itu.


Abhimanyu pun menunjukkan wajah marah, saat Indira ternyata mengerjainya. Sebenarnya Abhimanyu tidak marah, dirinya berusaha menahan senyumnya. Saat melihat Indira tertawa seperti itu.


" Bener bener kamu ya. Itu sama aja Dir?"


" Hahaahah..... Iya iya maaf, aku hanya bercanda. Boleh kan kalau aku panggil Mas Abhi.?" Tanya Indira dengan senyum manisnya.


Dan Abhimanyu pun membalas senyuman Indira, serta mengangguk kan kepalanya.


" Ya kamu bisa panggil aku dengan sebutan itu. Itu terdengar manis jika kamu yang memanggilnya.." Indira pun tersipu malu mendengar nya." Oh iya, kalau kamu mau istirahat. Letak kamar kamu ada di sebelah kiri ya, karena yang di sebelah kanan itu kamarku."


" Iya om.. Eh salah maksud nya, terimakasih mas. Maaf belum terbiasa."


" Tidak apa-apa. Yasudah sekarang kamu istirahat sana, kamu masih masa penyembuhan. Kamu butuh istirahat yang cukup."


" Iya mas, kalau begitu aku ke kamar dan istirahat dulu ya." Abhimanyu pun mengangguk.


Setelah Indira sudah masuk kamar, Abhimanyu pun masih duduk diam di sofa. Abhimanyu pun tersenyum seorang diri.


Ya Abhimanyu menertawakan nasib dirinya sendiri, menjalani hubungan rumah tangga dengan seorang gadis yang masih labil seperti Indira.


" Ya Tuhan. Di satu sisi aku bahagia dengan setatus ku saat ini. Karena aku sudah mewujudkan permintaan papah dan mamah, untuk menikah. Tapi pernikahan yang ku jalani, menikah dengan seorang gadis yang masih labil, dan belum cukup umur. Di tambah lagi pernikahan kami ini, pernikahan yang di terpaksa di lakukan karena keadaan. Ya Tuhan, berikan aku kesabaran, untuk menjalani pernikahan ini."


Keesokan paginya nya, Indira yang tertidur. Tiba tiba Indira mencium bau masakan.


" Eeemmm... Mamah masak apa ya, wangi masakan nya sampai ke dalam kamar."


Indira masih belum sadar, kalau dirinya di mana. Saat matanya terbuka, Indira terkejut melihat isi kamarnya itu, berbeda..


" Astaga aku lupa, sekarang kan aku sudah tidak tinggal di rumah. "


Indira pun segera bangun dari tempat tidur nya, dan berjalan dengan cepat menuju dapur nya. Indira melihat Abhimanyu yang saat ini sedang berkutat di dapur.


" Pagi mas Abhi." Sapa Indira dengan senyum kecilnya.


" Pagi Dira.."Abhi membalas sapaan Indira dengan senyum." Sudah bangun..?" Abhimanyu pun menghampiri Indira, lalu.


Cup


Abhimanyu memberikan kecupan hangat di kening Indira, untuk pertama kalinya. Indira pun terkejut mendapatkan kecupan manis di pagi hari dari seorang pria. Untuk pertama kalinya Indira merasa di perlakukan manis, selain keluarga nya.


Abhimanyu melihat Indira yang tersenyum. Tentu saja Abhimanyu ikut tersenyum melihat sikap manisnya Indira.


" Maaf ya mas, aku baru bangun?"


" Tidak apa-apa. kita sarapan bersama yuk. Aku buatkan nasi goreng untuk kamu. Kamu suka kan nasi goreng.?"


" Nasi, suka dong. Nasi goreng itu makanan kesukaan aku"


" Syukurlah, kalau kamu suka nasi goreng makanan untuk manusia ini." Indira tersenyum mendengar nya, karena itu sebuah sindiran dari Abhimanyu. Ketika dirinya pernah makan bersama di restauran..


" Memang mas Abhi kira aku bukan manusia apa." Indira memanyunkan bibirnya.


Dan itu justru membuat Abhimanyu terkekeh. Semenjak Indira kenal Abhimanyu lebih dekat. Indira semakin sering melihat Abhimanyu tersenyum dan tertawa. Tidak seperti awal pertemuan, mukanya dingin seperti es balok, dan selalu garang jika dengan diri nya..


" Yasudah di makan nasi goreng nya . Mumpung masih hangat. Kalau sudah dingin tidak akan enak rasanya." Indira pun mengangguk.


Dan mereka berdua pun kini sedang menikmati sarapan pagi bersama untuk pertama kalinya.


Abhimanyu merasa senang, dengan sikap Dira. Walaupun pernikahan mereka di lakukan dengan keadaan yang mendesak. Namun Indira menghargai pernikahan itu. Walaupun Abhimanyu nampak bingung dengan hubungan pernikahan ini. Tapi saat dirinya memberikan kecupan tadi untuk pertama kalinya, Indira tidak protes atau marah. Justru Indira tersenyum malu mendapatkan sebuah ciuman itu.


Selesai sarapan bersama, Abhimanyu pun mengajak Indira mengobrol di ruang tamunya.


" Dira, Lusa aku sudah harus masuk kerja. Apa kamu sudah sehat, jika mulai sekolah.?"


" Aku sehat ko om, Eeh maksud nya mas. Aku sudah bisa ko jika harus mulai sekolah." Jawab Indira dengan tersenyum.


Abhimanyu hanya menggelengkan kepalanya saja melihat Indira.


" Oh iya Dir, hari ini aku mau ngecek restauran milik ku. Kamu di rumah sendirian berani kan, atau kamu mau ikut.?"


" Memang boleh ya, kalau aku ikut. Nanti takut ganggu lagi."


Abhimanyu pun tersenyum mendengarnya.


" Ganggu kenapa.? Memangnya kamu ngapain di sana, pakai bilang ganggu segala. Justru mas yang khawatir, apa kamu sudah sehat, jika ikut mas ke sana.?"


Indira pun tersenyum mendengarnya.


" Memangnya aku Kenapa. Aku enggak kenapa kenapa ko. Lagian yang kemarin sakit itu tangannya, kaki aku gak kenapa kenapa ko."


" Yasudah kalau mau ikut kamu siap siap ya, nanti kita berangkat."


" Siap bos. Kalau begitu aku ke kamar ganti baju dulu ya.." Abhimanyu pun mengangguk dan tersenyum.


Dengan wajah sumringah, Indira pun segera bangun dari duduknya. Indira pun berjalan menaiki anak tangga, berjalan menuju kamarnya dengan riang.


Sedangkan Abhimanyu pun hanya tersenyum melihat sikap Indira yang kadang membuatnya merasa gemas...


"