My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Makan malam



Sssrrruuupppp.... Indira melihat suaminya meminum kopi buatan nya, hatinya tiba-tiba menjadi was was. Abhimanyu menatap Indira, dengan ekspresi datar. Indira menatapnya dengan harapan penilaian kopi nya enak, namun kalau di lihat ekspresi Abhi, kalau itu menyatakan, kalau kopi buatannya rasanya buruk.


"Ini kopi beneran kamu yang buat,?" Tanya Abhimanyu, dan Indira mengangguk.


"Iya itu aku yang buat. Kenapa, rasanya tidak enak ya, atau pahit, kemanisan atau justru asin. Aduh asin ya mas, aku salah masukin gula, ternyata aku masukin garam. Ya ampun, maaf maaf ya, sini aku buang." Kata Indira yang menjawabnya secara beruntun. Dirinya takut di nilai buruk, oleh Abhimanyu justru dia sendiri yang pesimis.


Abhimanyu hanya menatap Indira dengan heran, lalu menjauhkan kopi nya. Karena Indira hendak mengambil kopi yang sudah di pegang. " Hey... Memang aku bilang ya, kopi ini tidak enak.? Kan aku hanya tanya, apa ini kopi beneran kamu yang buat.?"


"Aku hanya pesimis mas, tidak percaya diri dengan kopi buatan aku." Indira nampak cemberut.


"Ko cemberut si, kenapa hemm..? Dengerin mas ya, ini kopi buatan kamu justru rasa nya enak. Mangkanya aku tanya, ini kopi apa kamu yang buat.?" Seketika raut wajah Indira berubah bahagia saat mendengar kalau kopi buatannya enak.


"Beneran mas Abhi, kopi buatan aku enak.?" Abhimanyu pun mengangguk. "Mas Abhi sedang gak berbohong kan, atau mas Abhi hanya ingin membuat ku agar tidak sedih,?"


"Buat apa aku harus berbohong dan berpura pura. Ini tuh beneran enak, nih aku minum lagi ya," Sssrrruuupppp... Abhimanyu pun meminum kopi itu kembali. Indira pun begitu bahagia melihat kopi nya yang di minum oleh Abhi, bahkan sampai berkali-kali.


" Waah.. Berarti aku sudah bisa bikin kopi, dan untuk kali ini, aku baru pertama berhasil membuat kopi. Dan itu untuk kamu mas," Kata Indira sambil bertepuk tangan.


Abhimanyu pun terkekeh melihat Indira yang begitu senang karena berhasil membuat kopi untuknya.


Next


Siang harinya Indira dan Abhimanyu berada di dalam mobil, mereka berdua berpamitan untuk pulang. Karena tadi Abhi mendapat panggilan dari Mamah Lidya, untuk makan malam bersama keluarga besar.


Kini Indira sedang bermake-up, dengan menggunakan make-up yang natural, namun terlihat falwless, dan fresh. Indira senyum senyum di depan cermin melihat penampilan yang terlihat manis saat ini.


" Astaga ini beneran Indira. Ya ampun manis banget si gue," Ucap nya sambil memutar dirinya melihat penampilan nya sendiri.


Tok tok tok.. Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Indira.


"Dira, kamu sudah selesai belum.?" Tanya Abhimanyu dari luar kamar.


"Iya, aku sudah selesai mas." Teriak Indira dari dalam kamarnya.


Ceklak, saat Indira membuka pintu. Abhimanyu terdiam saat melihat Indira yang terlihat sangat cantik akan penampilan nya. Indira menggunakan dress selutut berwarna blue jeans, berpadu dengan warna putih untuk bagian atasnya. Indira pun menggunakan shoes flat, dengan rambut di Curly, dan di beri hiasan jepit ala ala kore membuat Indira terlihat semakin menawan.


"Mas," panggil Indira, membuat Abhimanyu tersadar.


" Iya Dira, bagaimana kamu sudah siap?"


" Sudah. Mas Abhi bagaimana penampilan aku, sudah cantik atau belum,?" Tanya Indira dengan senyum manisnya.


Abhimanyu pun mendekat ke arah Indira, lalu membalas senyuman nya.


" Cantik, kamu sangat cantik." Jawab Abhimanyu, dengan menyentuh tangannya Indira, lalu di ci*um tangannya. Indira terkejut mendapatkan perlakuan manis dari Abhimanyu.


"Terimakasih."


"Sama sama. Yasudah sekarang kita berangkat ya?" Indira pun mengangguk. Akhirnya mereka pun berjalan, dengan Abhimanyu menggenggam tangan Indira. Begitu pun juga Indira, yang yang tak keberatan tangan nya di genggam oleh Abhi.


Kini kedua pasangan pasutri itu sedang berada di dalam mobil. Abhi dapat melihat Indira terlihat gugup saat ini.


" Kamu kenapa Dir, ko dari tadi aku perhatiin kamu diam aja.?" Tanya Abhimanyu


"Mas, jujur aku gugup banget loh. Ini pertama kalinya aku ke sana sebagai seorang menantu," jawab Indira, yang nampak gugup.


Abhimanyu pun menghentikan mobilnya, lalu duduk menghadap Indira. Abhi langsung menyentuh tangan Indira, dan tersenyum. "Dira sayang, bukan kata nya kamu pernah main kerumah mamah ya, terus kenapa sekarang gugup. Dengar ya, kamu biasa aja, anggap aja kamu lagi main bersama Gea ke rumah mamah!"


"Dengarkan aku ya, kamu kenal mamah ku seperti apa. Jadi kamu bersikap biasa saja, seperti kamu ke sana bersama dengan Gea. Dan kamu tidak perlu panik, atau takut. Kita hanya makan malam biasa, paling hanya mengobrol saja. Dan kamu bicara seperti apa adanya kamu, mereka maklum ko usia kamu itu seperti Gea. Jadi aku yakin mereka mengerti, dan kamu tidak perlu khawatir, karena ada aku," Sambil menyentuh pipi Indira.


Kini Indira merasa lebih baik, karena ada Abhimanyu yang berhasil membuat rasa percaya dirinya kembali. "Terimakasih,"


"Sama sama. Terus sekarang gimana kita lanjutkan lagi perjalanan menuju rumah mamah?"


"Iya dong mas, masa aku sudah cantik begini, tidak jadi ke sana," Abhimanyu tersenyum mendengarnya.


Kini mereka berdua baru saja sampai di rumah Pak Arif dan Bu Lidya. Abhimanyu membukakan pintu mobil untuk Indira, dengan jalan bersamaan dan saling bergandengan tangan


" Assalamualaikum.." Ucap Indira dan Abhimanyu.


" Waalaikumsallam..." Jawab seluruh keluarga, dengan memberikan senyuman untuk pasangan pasutri.


Indira dan Abhimanyu pun memberikan senyuman kepada keluarga yang sudah menunggu kedatangan mereka di ruang keluarga.


"Ini dia pasangan pasutri, pasangan muda yang terhits di keluarga ini," Kata pak Arfianto, kakak tertua Abhimanyu.


"Iya menantu termuda, di sini."Goda pak Fadil yang tak lain papah nya Gea. Seluruh keluarga pun terkekeh mendengar pak Fadil meledek Indira.


"Sudah sudah jangan terus menggoda menantu kecil mamah. Sayang, kamu cantik banget hari ini. Mamah pangling loh melihat kamu seperti ini.?" Kata mamah Lidya menghampiri menantu nya.


Indira mencium tangan mamah Lidya, dan di beri pelukan hangat dari mamah Lidya. Begitu pun juga Abhimanyu, melakukan hal yang sama. Pak Arif pun juga menghampiri Indira dan Abhimanyu, anak bungsunya dan menantunya yang teramat manis. Mereka berdua bersalaman dengan pak Arif.


" Sudah jangan meledek menantu papah ini. Nanti dia merajuk dan minta pulang bagaimana.?" kata pak Arif yang menimpali menggoda Indira. " Papah hanya bercanda maafkan papah ya nak. Ayo masuk kami semua sedang menunggu kedatangan kalian.


Mamah Lidya membawa menantu kecilnya itu untuk masuk. Dan sekarang di mana seluruh keluarga besar pak Arif,sedang makan malam bersama. Ada sedikit obrolan hangat yang membuat keadaan menjadi cair. Dan Indira pun tidak nampak gugup seperti tadi, karena di sana ada Gea yang membuat suasana menjadi hangat.


"Tanteh kecil, bagaimana selama tinggal bersama om es itu. Apa dia suka bikin kesel tanteh,?" Tanya Gea, seketika Indira terkekeh, mendengar Gea memanggilnya dengan sebutan seperti itu. "Ko ketawa si, kan gue lagi nanya,?"


"Apaan si Ge, gelay tau gak denger nya. Panggil gue seperti biasa aja apa, gue berasa jadi tanteh tanteh," Jawab Indira di sertai tawa.


" Kan memang elo tanteh gue sekarang,?"


"Ya tapi gue risih tau gak, kalau di panggil seperti itu." Gea dan Indira pun akhirnya tertawa.


Karena Gea membawa Indira untuk mengobrol di taman. Jadi Indira dan Gea bisa tertawa berdua, untungnya para keluarga Abhimanyu mengerti dengan usia Indira yang masih Belia, dan mereka tidak ingin membuat Indira menjadi tidak nyaman.


Tiba-tiba saja Indira teringat akan gadis yang bernama Winda, Indira pun berniat mencari tau dari Gea.


"Gea,?" Panggil Indira, Gea pun menoleh.


"Kenapa," jawab nya.


"Gue, mau tanya sesuatu hal sama elo. Barang kali elo tau masalah ini?"


"Tanya apa, kayaknya serius banget beb?" Tanya balik Gea.


"Elo kenal, sama teman teman nya mas Abhi? Maksudnya sama cewe bernama Winda, Lo kenal gak?"


"Kenapa elo tanya cewek yang namanya Winda? Apa Lo pernah bertemu sama dia, atau Om yang kasih tau itu nama,"


Jujur untuk saat ini Gea sedikit takut untuk mengatakan tentang gadis bernama Winda kepada Indira. Karena sekarang setatus Indira sudah berbeda dengan kemarin, sekarang itu Indira itu istri dari om nya sendiri.