
Tanpa menunggu lama, pesanan mereka pun datang. Dengan semangat dan senang karena mendapatkan traktiran dari Indira.
Sedangkan di sekolah Puspita Pertiwi, entah kenapa perasaan Abhimanyu merasa tak tenang. Sejak selesai mengajak, untuk mengambil nilai kepada muridnya. Hatinya merasa tak nyaman, pikirannya saat ini memikirkan istrinya.
"Kenapa aku memikirkan Dira? Aku merasa tak tenang, tidak seperti biasanya. Apa aku merasa bersalah karena tidak bisa menemani dirinya?" Abhimanyu mengambil alat gawai nya, melihat setatus istrinya dan keponakannya. "Gea dan Indira sedang posting makanan. Apa ku telpon saja ya? Biar aku tenang,"
Abhimanyu menghubungi Indira, namun tak di angkat. Tidak lama kemudian ada panggilan telepon masuk, dan terlihat nama kesayangan di layar depannya.
Abhi tersenyum dan mengangkat panggilan telepon dari Dira.
Abhimanyu: "Hallo sayang. Kamu masih bersama teman kamu, ' kan?"
Indira: "Iya mas, aku masih di sini. Kenapa kamu telpon aku?"
Abhimanyu: "Enggak apa-apa, aku hanya ingin memastikan kamu sudah tidak merajuk lagi,"
Indira : "Aku gak marah ko! Sayang aku rindu sama kamu, maafkan aku ya, kalau aku selalu membuat kamu kesal dengan sikapku yang selalu manja,"
Abhimanyu: "Kamu bicara apa si sayang! aku tidak kesal ko, justru kemanjaan kamu itu yang aku suka. Ya sudah aku tutup! Nanti malam, aku ingin ajak kamu kencan."
Indira: "Aku mau sayang, ya sudah aku tutup telponnya. I love you my hubby."
Abhimanyu: "I love you more my wife."
Panggilan pun terputus, entah kenapa Abhi merasa sedih saat Indira mengucapkan kata itu. Tapi Abhimanyu menepis pikiran buruk pada istrinya.
Sedangkan Dira dan teman-temannya, selesai makan dan berbelanja. Mereka berniat ingin pulang, mereka berjalan menuju parkiran. Gea berboncengan dengan Indira, sedangkan Hanna dengan Alin.
Saat keluar dari parkiran motor, Gea mengendarai motornya dengan hati-hati. Namun saat itu, tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju kencang, mendekati ke arah mereka.
Gea yang hendak menghindar justru mobil itu seperti sengaja mendekati motor yang dinaiki Indira.
"Aaaaa .....
Brugh ...!
Gea dan Indira terjatuh, namun justru Dira terpental menjauh menghantam tertoar jalan, helem yang digunakan olehnya juga terlepas dari kepalanya.
"Dira ..." Teriak Hanna, Alin dan Gea.
Mobil yang menabrak mereka pun melarikan diri dengan cepat, sebelum menghilang, Hanna sempat mengambil foto plat mobilnya.
Gea, terjatuh dan tertindih motornya, langsung di bantu banyak orang untuk kepinggir. Sedangkan Alin dan Hanna berlari menolong Indira yang saat ini tidak sadarkan diri, dan mengalami luka serius.
"Dira ... bangun!" panggil Hanna disertai tangisan.
"Dira ... buka mata loe!" ucap Alin.
"Dira," kata Gea, yang segera melihat di mana sahabatnya itu.
Gea yang melihat dua temannya berteriak memanggil Dira, segera menghampiri mereka. Bertapa terkejutnya melihat Indira sudah terkapar di jalan, dengan bersimbah darah.
"Indiraa ..." Teriak Gea, berlutut di samping sahabatnya, dengan tangisnya. "Bangun Dira! Ya Allah selamatkan sahabat kami!"
Gea menyentuh tangan Dira, dan mencari denyut nadinya. "Dira berjanji elo harus kuat!" ada rasa takut yang saat ini dirinya rasakan.
🍂
🍂
🍂
🍂
Sedangkan di tempat lain, Abhimanyu semakin merasa gelisah. Abhi merasa saat ingin sangat tidak fokus untuk mengajar, saat ini hanya ada istrinya dalam di dalam pikirannya.
Saat sedang bersandar di sofa, dengan kakak iparnya yaitu pak Fadil. Tiba-tiba handphonenya berdering, dan Abhi tersenyum saat nama istrinya yang menelponnya.
Mata Abhi mengembun dan bibirnya pun juga bergetar.
"Sekarang dia dimana?" tanya Abhi dengan nada khawatir.
Pastinya, pak Fadil dan guru lainnya terkejut mendengar Abhi bicara dengan suara yang parau.
"Baik, saya akan kesana." Abhi menutup telponnya.
Pak Fadil yang penasaran segera bertanya. "Ada apa Abhi?"
"Indira, dan Gea mengalami kecelakaan. Sekarang mereka di larikan ke rumah sakit." Pak Fadil yang mendengar putrinya mengalami kecelakaan, langsung syok.
Kini, Indira dan Gea sedang ditangani oleh Dokter. Namun kondisi yang memprihatinkan Indira, karena tidak sadarkan diri sejak tadi.
20 menit kemudian, para keluarga datang menghampiri Hanna dan Alin, yang saat ini menunggu di depan pintu ruangan.
"Hanna, Alin. Sekarang Dira dan Gea di mana?" tanya Mama Anisa.
"Hanna dimana Indira?" tanya Abhimanyu, terlihat saat kusut penampilannya.
"Gea dan Indira berada di ruangan UGD Tante." Kata Alin, yang terlihat pucat, sedangkan Hanna menangis karena hatinya takut terjadi sesuatu pada sahabatnya.
Saat itu juga ada Dokter keluar dari ruangan. Para keluarga pun segera menghampiri Dokter itu .
"Dok, bagaimana kedua pasien di dalam? Kami keluarganya," tanya Faisal.
"Salah satu pasien sudah kami tangani, hanya luka luar saja. Tetapi pasien yang satunya, kami harus menanganinya dengan segera." Ucap Dokter itu dengan wajah serius.
"Pasien yang mana Dok, yang harus tangani segera?" tanya Abhimanyu.
"Salah satu pasien yang bernama Indira. Dia harus segera ditangani, karena kondisinya sangat kritis." Kata Dokter perempuan.
Mendengar itu, tubuh mama Diana lemas seketika, Faisal dan Papa Benny memeganginya.
"Pa, Dira anak kita! Ya ampun anak mama. Hiks ... hiks ... hiks!" Papa Benny menenangkan istrinya, sebenarnya dalam benaknya dirinya khawatir dengan kondisi putrinya.
"Dia istri saya, Dok! Ada apa dengannya? Saya mohon, lakukan yang terbaik untuknya!" pinta Abhimanyu, dengan wajah khawatir.
"Begini, sebelumnya saya pribadi meraya prihatin dengan kondisi pasien tersebut. Tetapi ini sebuah pilihan, untuk keselamatannya." Dokter itu berhenti bicara, dan melihat wajah Abhi yang terlihat sangat cemas. "Kami harus melakukan tindakan, dan itu harus dari persetujuan keluarga."
.
"Tindakan apa Dokter? Tolong katakan yang sebenarnya!" pinta Abhi, dengan kegelisahannya.
"Benturan yang di alami pasien cukup keras, dan itu mengakibatkan kandungannya tidak dapat kami selamatkan. Kami harus meminta persetujuan dari keluarga untuk mengambil tindakan," penjelasan Dokter.
Mendengar itu, para keluarga dan temannya terkejut mendengarnya. Terutama Abhimanyu, yang seketika tubuhnya lemas. Saat mendengar kalau istrinya sedang mengandung buah cinta mereka. Faisal menepuk pundak Abhi agar dia tenang dan ikhlas.
Seketika bulir air matanya lolos sempurna, mendengar kata mengandung.
"Is ... istri saya hamil Dok?" tanya Abhi, dan Dokter itu mengangguk. "Berapa usia kandungannya sekarang?" bibirnya bergetar saat menanyakan usia kehamilannya.
"Kandungannya masih muda, sekitar delapan minggu." Dokter yang bernama Rahma, terlihat di atributnya. Merasa tak tega mengatakan itu, kepada Abhi yang terlihat tak kuasa mendengarnya. "Kami harus segera melakukan tindakan, agar kami bisa menyelamatkan istri anda Pak!"
"Lakukan yang terbaik! Saya mohon, selamatkan istri saya. Setidaknya Dira bisa diselamatkan, Dok!" pinta Abhimanyu dengan wajah memohon.
"Semoga istri anda bisa kami selamatkan, tapi kami akan berusaha untuk menyelamatkan pasien. Untuk itu, kami minta keluarga untuk mengurus pendaftaran, agar kami bisa mengambil tindakan segera." Abhimanyu mengangguk.
"Abhi, kamu di sini saja. Biar papa yang mengurus pendaftaran Dira." Kata Pak Benny.
"Terimakasih Pa," pak Benny segera melangkah menuju ruang pendaftaran .
Sedangkan, Abhimanyu saat ini sedang ditenangkan oleh Mama Annisa. Abhi menangis, di hadapan kakaknya. Membuat Mama Diana tak tega melihat menantunya, terutama Faisal sebagai sahabat sekaligus kakak iparnya, ikut meras sedih melihat kondisinya.